
Dua pasang mata penuh luka saling menatap. Netra keduanya saling mengunci. Lidya tersenyum manis pada sosok cantik yang menatapnya.
Demian sudah berdiri di belakang gadisnya Haidar, Herman dan Virgou mengikuti. Gio, Juan dan Hendra berjaga-jaga. Lady yang melihat adanya bahaya di sekitarnya mulai panik. Lidya melihat semua pria kesayangannya berdiri hanya bisa menggeleng. Ia pun berkacak pinggang pada pria-pria posesif itu.
"Bisa kalian tenang?" pinta Lidya datar.
"Sayang," panggil Herman.
"Kami begini karena pria ini tiba-tiba bersikap seolah-olah akan terjadi sesuatu yang buruk denganmu," ujar Virgou langsung memberitahu dan menunjuk Demian.
Demian yang ditunjuk jadi tergagap. Sedangkan Jacob hanya bisa menghela napas panjang.
"Duduk!" titah gadis itu galak.
Keempat pria beda usia itu menurut. Gio dan lainnya disuruh tenang oleh Lidya. Melihat tidak ada lagi bahaya yang mengancamnya,, Lady pun tenang kembali.
"Apa ada yang bisa kubantu, Nyonya?" tanya Lidya lembut.
Lady hanya diam. Ia menatap lama wajah mungil berbalut hijab. Lidya mendekat. Demian menegakkan kembali tubuhnya.
"Kamu kenapa sih?" tanya Haidar penasaran. "Kenapa kau selalu bersikap waspada ketika wanita itu mendekati putriku?"
"Tuan, sebenarnya, wanita yang berhadapan dengan Lidya adalah seorang berprilaku bipolar," jelas Demian akhirnya.
"Apa katamu?" desis Herman bertanya.
Demian pun menceritakan penyelidikannya ketika pertama kali, Lidya mendapat ancaman dari seorang wanita. Lalu penyelidikannya sudah menuai hasil jika ada seorang dokter yang melakukan konspirasi untuk menjatuhkan Lidya.
Mendengar hal itu Virgou langsung mengepalkan tangannya.
"Siapa nama Dokter itu?" tanyanya kemudian, "sepertinya aku mengenalnya."
Demian memberitahu siapa dokter yang memiliki penyakit hati pada gadisnya itu.
Virgou langsung melakukan panggilan telepon.
"Gomesh!"
Pria itu berjalan menjauh dari semuanya. Haidar dan Herman hanya santai saja. Ia membiarkan Virgou menyelesaikan semuanya.
"Dokter itu akan diberi kejutan setelah ini, Tuan," ujar Demian membeberkan rencananya.
"Semoga Lidya bisa menyembuhkan luka Lady," lanjutnya lirih.
Lidya mendekati Lady yang hanya bergeming. Secara perlahan, gadis itu menyentuh tangan wanita cantik itu.
Lady tiba-tiba merasakan sesuatu menjalankan di sekujur tubuhnya. Ia tiba-tiba pun duduk bersimpuh.
"Tolong ...," pintanya memohon.
Semua memandang tanpa berkedip. Semua perawat shock melihat kekuatan besar yang ada pada gadis itu. Seorang perawat pria mengepal tangan erat.
Ia harus membuat Lady berontak agar konseling Lidya patah seketika. Pria itu merogoh sakunya. Sebuah tombol ia tekan.
Tubuh Lady yang bersimpuh tiba-tiba terhentak. Ia menepis kuat-kuat tangan Lidya yang menggenggam. Sayang, genggaman Lidya sulit dilepaskan.
"Lepaskan aku!" pekik Lady.
Lidya bertahan. Sekali lagi pria itu menekan tombol. Lady kembali memekik kesakitan.
"Aarrghh!"
Lidya merasa aneh, kesakitan wanita ini bukanlah bagian dari trauma, tetapi memang sengaja disakiti. Pandangannya mengedar. Lady yang kembali tersetrum mendorong Lidya kuat-kuat.
Melihat pergerakan yang berbahaya pada nona mereka, membuat Gio bergerak cepat. Lidya langsung menepis pergerakan Gio hanya dengan satu gerakan tangannya.
Pria itu tiba-tiba lemas. Tenaganya seperti tersedot habis, padahal Lidya hanya menekan lengannya saja di satu titik. Lemasnya Gio bersamaan dengan Lady yang juga tiba-tiba lemas.
Lidya langsung menghampiri pria perawat itu, merampas benda yang ada di kantungnya. Sebuah tombol sensor yang mengaktifkan sesuatu.
Melihat tombol pengendali dirampas, membuat pria itu langsung menyerang Lidya. Sayang, serangannya tidak sempai karena Virgou sudah menangkapnya.
Tubuh perawat pria itu ia lempar ke arah Haidar, Herman dan Demian. Tentu saja ketiga pria itu menyambutnya dengan bogem mentah.
Virgou tak sabar. Pria itu meneriaki nama dokter yang melakukan konspirasi.
"Dokter Solomon Hernandez, keluar kau sebelum aku The BlackAngel memusnahkan seluruh keluargamu!" ancamnya.
Tiba-tiba ia menyambar Lady yang lemas, Gio tak sempat menahan karena dia belum pulih dari totokan yang diberikan Lidya.
"Jangan bergerak, atau wanita ini mati!" ancamnya.
Lidya datang menghampiri pria yang seusia Herman itu.
"Lepaskan wanita itu Tuan. Kau tau, kejahatanmu banyak sekali. Kau sengaja memperparah penyakit Nyonya Lady. Kau tak pernah mengobatinya, tetapi kau menikmati uang yang dikirimkan setiap tahun untuk pengobatannya!" ujar Lidya.
Semua terkejut mendengar tuduhan Lidya. Semua pasien diamankan oleh para asisten gadis itu dibantu oleh para pengawal yang lain.
"Jangan menuduh sembarangan!" sangkal pria itu murka.
Lidya mengeluarkan BraveSmart ponsel miliknya. Semua yang tahu langsung menepuk dahi mereka. Sedang yang tidak tahu hanya terbengong saja.
"Dokter Solomon Hernandez, pria kelahiran Venezuela ...," Lidya memaparkan semua data. pria itu.
"Kau memiliki dua istri dengan gelimang harta yang kau curi dari Nyonya ini. Bayangkan jika Tuan Antonius Gorgom mengetahuinya?" terang Lidya.
"Si-siapa Antonius Gorgom?" tanya Solomon.
"Wanita ini dibuang begitu saja oleh empat pria tak dikenal dalam keadaan terikat. Mungkin saja, pria itu menginginkan kematian wanita ini!" lanjutnya penuh keyakinan.
Lidya memang menyayangkan hal itu. Wanita itu menikahi pria berhati keras dan monster.
"Nyonya Valeria Andrea Luwinskie!" panggil Lidya pada wanita yang disandera oleh Solomon.
"Saya tau, anda hanya pura-pura tak waras karena anda terlalu lelah dengan siksaan dari suami anda!" ujar Lidya.
Perempuan yang berada dalam dekapan Solomon terkejut. Bagaimana bisa Gadis bertubuh mungil itu tau jika dia tak benar-benar gila.
"Lidya ...," panggilnya lemah.
Solomon yang kebingungan membuat ia lengah. Dengan cepat Lidya melakukan tindakan. Gadis itu menyerang Solomon hanya dengan tiga totokan dan membuat pria itu roboh seperti lumpuh layu.
Juan dan Hendra langsung segera bergerak. Sebelum Virgou yang membunuh pria itu.
"Aarrghh!' pekik pria beriris biru itu kesal karena keduluan pengawalnya.
Lady menangis dalam pelukan Lidya. Ia merasa gadis itu adalah penyelamatnya. Semua perawat yang terlibat penyiksaan wanita itu langsung dikeluarkan secara tidak hormat dari rumah sakit.
Sertifikasi keperawatan dan juga gelar dokter dicabut. Mereka diblacklist. Ada tiga puluh orang terlibat, bahkan bagian manajemen juga ikut andil. Ada perputaran uang di sana. Ternyata beberapa pihak menarif sejumlah uang pada keluarga pasien jika ingin diberi konsul healing dari Lidya.
"Kurang ajar!" Mali Herman.
Bug!
"Uugghh!" tiga pria ambruk karena pukulan pria tua itu.
Haidar juga tak ketinggalan memberi bogem mentah pada para perawat pria yang melakukan kekerasan pada pasien-pasien yang mestinya mendapat perhatian ekstra.
Hanya Virgou dan Demian juga Jacob yang menonton. Bart, Leon dan Frans mendatangi rumah sakit ketika mendengar kabar jika Lidya kembali diserang.
Melihat semuanya sudah ditangani oleh Demian bahkan Lidya ternyata juga melakukan penyelidikan sendiri melalui BraveSmart ponsel.
"Alhamdulillah, kau baik-baik saja, Nak," ujar Frans lega melihat gadis kecil itu baik-baik saja.
"Terima kasih Tuan Demian atas bantuannya," ujar Bart menyalami pria tampan itu.
Demian melirik Jacob yang malah memutar mata malas.
"Sama-sama Tuan. Saya juga terbantu dengan penyelidikan individu yang dilakukan oleh Nona Dougher Young," sahutnya.
"Nyonya Luwinskie!" panggil empat orang bertubuh besar.
Lady langsung berlari memeluk Lidya. Ia ketakutan pada pria-pria itu.
"Usir mereka. Tolong ... usir mereka!" pintanya memohon.
"Valerie!" sebuah suara yang malah membuat wanita itu makin ketakutan.
bersambung.
hayook siapa Yo!
next?