TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
NGINAP DI RUMAH MERTUA



Ujian semester berakhir. Terra cukup puas dengan nilai yang nyaris sempurna. Darren naik kelas empat. Ia mendapat predikat juara dua. Terra dan Haidar bangga bukan main.


Seperti janjinya. Budiman membawa mereka di sebuah kedai es krim. Pria itu mentraktir keluarga kecil Terra.


"Wah, kita ditraktir sama Om Budi, nih!" seru Darren antusias.


Pria kecil itu memesan smooth Chocolate lava. Terra juga memesan yang sama. Sedang Lidya memesan strawberry. Rion makan bareng dengan Terra. Haidar hanya memesan satu cangkir kopi pahit saja. Karena ia yakin jika Darren dan Lidya tidak habis. Budiman sudah mengisyaratkan jika ia yang akan menghabiskan milik Lidya. Haidar tak terima. Ia sanggup menghabiskan es krim dua anaknya. Terra hanya memutar mata malas melihat persaingan dua pria itu.


"Kalian ini," gerutunya kesal.


Benar saja. Lidya tak bisa menghabiskan es krimnya. Ia pun menyuruh Budiman untuk menghabiskannya.


"Om, Iya eunda abis es tlimnya. Om abisyin ajha ya."


"Oteh, Nona," sahut Budiman sambil melirik Haidar penuh kemenangan.


Haidar langsung sedih. Tapi, sepertinya Lidya yang kekenyangan tidak memperhatikan ekspresi ayahnya itu. Dengan santai, Budiman memakan es krim sisa Lidya penuh penjiwaan.


"Pa, Darren nggak habis," ucap Darren menatap begah es krimnya.


Memang scoop es krim di tempat itu cukup besar. Untuk ukuran anak-anak tentu kesulitan menghabiskannya. Dengan senang hati Haidar memakan sisa es krim milik putranya itu.


Sedang Terra sudah habis, karena ia memilih ukuran medium. Usai makan es krim. Mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju mansion Bram.


"Sayang, apa benar Gisel, mau kuliah di sini?" tanya Haidar.


Telinga Budiman tiba-tiba bergerak ketika mendengar nama gadis yang sedang ia incar. Ia masih terus pada jalanan yang mulai tersendat karena macet.


"Iya, katanya dia mau ambil jurusan bisnis juga," jawab Terra.


"Hmmm ... berarti dia akan bertemu dengan aku sebagai dosennya. Jangan beritahu, jika aku doskill, ya," sahut Haidar pede.


"Wih, Papa pede abis, ya Baby?"


"Pete pa'a Ma?" tanya Rion dengan wajah polosnya.


"Percaya diri sayang. Kalo pete itu nama buah yang bikin mulut bau," jawab Haidar.


"Oh Papa bulutnya bawu?' Budiman nyaris tertawa.


Haidar menatap horor pengawal itu. Budiman hanya terkekeh sambil minta maaf melalui kode.


"Baby ngatain mulut Papa bau?" tanya Haidar dengan wajah sok garang.


"Emba ... butan Ion pan pidan ipu. Papa beuldili," elak Rion.


"Pete yang bau sayang, bukan mulut Papa. Kalau mulut Papa bau. Mana mau Mama ciuman sama Papa," sahut Haidar asal.


"Mas!" peringat Terra. Haidar hanya nyengir.


Rion kekenyangan hingga tertidur dipangkuan Terra. Begitu juga Lidya. Darren yang duduk di depan juga sudah menutup matanya. Jalan macet, membuat mereka lama sampai mansion.


"Kalian kemana dulu, sih. Jam segini baru datang!' protes Kanya dengan cemberut.


Melihat ketiga anak-anak tidur, Kanya langsung menutup mulutnya dengan tangan. Mereka bertiga langsung naik ke atas. Membaringkan anak-anak di tempat tidur. Budiman langsung turun. Bram memanggilnya.


"Budiman!"


"Saya, Tuan," sahut Budiman sambil menghentikan langkahnya.


"Kemarilah. Tolong bantu saya, mengangkat meja ini, kita tarik dalam hitungan ke tiga ya," pinta Bram.


Budiman memegang ujung meja lainnya. Bram mulai menghitung. Hingga pada hitungan ketiga, mereka berdua salin menarik meja hingga menjadi lebih lebar. Salah seorang maid langsung memberi taplak pada meja itu. Lalu menyusun piring-piring.


Budiman diajak Bram ke taman belakang. Mereka saling bercengkrama satu sama lain.


"Bagaimana perusahaanmu?' tanya Bram..


Budiman adalah seorang CEO. Hanya saja, ia lebih banyak dibelakang layar. Pria itu memberikan kepercayaan penuh pada salah satu sahabatnya.


Haidar datang ikut menimbrung. Membicarakan bisnis dan globalisasi. Serta beberapa issue yang berkembang di kalangan pebisnis.


Terra dan Kanya sedang menyiapkan makanan. Karina akan datang sebentar lagi bersama suami juga anaknya.


"Ma, Kak Karina nggak nginap ya?"


"Iya, mertuanya pengen ngajak mereka ke puncak besok. Mau bawa Raka metik strawberry di kebun mereka," jawab Kanya sedih.


"Jangan sedih, Ma," sahut Terra.


"Ya, bagaimana lagi. Kalian semua sudah berumah tangga. Mansion ini sepi. Mama hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian," ujar Kanya bijak.


Terra mencium pipi ibu mertuanya. Kanya hanya menatap sayang menantunya itu.


"Ah, ya. Mama dengar Bibimu ngidam masakan kamu, ya?" tanya Kanya.


"Iya, Ma. Tadi Bunda bilang bakal kesini minta makan masakan Mama," jawab Terra.


Kanya terkekeh. Walau dibilang telat ngidam. Tapi, ia jadi ingat ketika ngidam di trimester pertama kehamilannya dulu.


"Waktu pertama Mama tahu hamil. Mama nggak mau kena sinar matahari. Entah kenapa, Mama benci pagi hari," jelasnya sambil terkekeh.


"Kau tahu, Mama hamil Karina setelah tiga tahun pernikahan Mama. Karina lahir prematur, Mama sedih. Walau tiga tahun kemudian Mama hamil Haidar." lanjutnya.


"Pas Mama hamil suami mu. Mama benci banget sama Papa. Nggak mau lihat mukanya tapi harus denger suaranya. Aneh kan?" Terra terkekeh.


Karina datang bersama suami dan anaknya. Hanya sebentar, mereka sudah diteror oleh orang tua Zain.


"Maaf ya, Ma. Kita hanya setor muka aja nih," ujar Zain mencium punggung tangan Kanya.


Pria itu langsung berjalan menuju taman belakang. Hanya sekedar say hi pada mertuanya sekalian pamit. Lusa mereka harus kembali ke Eropa untuk melanjutkan therapy Raka.


"Oma," sapa Raka menggelayut pada tubuh Kanya.


Wanita itu menciumi pucuk kepala pria istimewa itu.


"Oma, kangen banget," sahut Kanya.


"Kita juga kangen Ma. Tapi mau gimana lagi. Harus berbagi waktu juga," ujar Karina dengan wajah penuh penyesalan.


"Iya, Mama ngerti," ujar Kanya mengerti.


"Makasih, Ma."


Akhirnya, Karina pun pergi menuju rumah mertuanya. Kanya hanya bisa menghela napas panjang. Ia pun kembali melakukan aktivitas masaknya.


Benar saja. Ketika waktu makan siang. Khasya datang bersama Herman. Anak-anak sudah duduk di kursi mereka.


"Mba Kanya. Aku minta maaf, pengen disuapin sama Mba," ucap Khasya malu-malu.


"Oh, nggak apa-apa. Sini biar Saya suapi," ucap Kanya memenuhi permintaan ibu hamil.


"Makasih, ya Mba," ungkap Khasya semangat.


Herman hanya bisa menghela napas panjang. Ia sebagai suami tentu menuruti apa kemauan istri selama itu tidak aneh-aneh.


bersambung.


duh ... readers ... mohon maaf ya... hari ini Othor kecapean. Baru tiba di rumah karena ada keperluan tadi. Jadi hari ini Othor up nya satu cerita aja ya.


besok othor janji up seperti biasa lagi. oke.


next?