
"Berbagilah,. Sayang. Aku selalu ada di sisimu," ujar Haidar menenangkan gadisnya.
Terra mengangguk. Gadis itu masih menangis dan meminta maaf pada ketiga anaknya. Ia merasa bersalah karena membuat semuanya khawatir.
"Maafin Mama ya. Mama membuat kalian khawatir."
"Mama Dotel bilan, talo Mama musyti libuyan. Mama suteles ... hiks ... Mama suteles tenapa? Apa talna Iya? Iya danji eundak Natal ladhi ... hiks ... hiks!"
"Enggak sayang. Mama hanya kecapekan. Mama minta maaf, ya," ucap Terra mencium kening Lidya.
Darren masih setia sesengukan. Dipeluknya erat tubuh malaikat pelindungnya itu. Pria kecil itu ketakutan setengah mati ketika melihat napas Terra sesaat berhenti.
"Mama ... jangan tinggalin Darren, Ma. Darren sayang Mama. Kalo Mama pergi, ajak Darren sama adik-adik ya, Ma. Darren nggak mau hidup tanpa Mama ... huuuu ... uuu!"
"Sayang ... hiks ... hiks ... maafkan Mama. Mama, hanya kecapean tadi. Maaf ... hiks ... hiks ...!"
Semua yang ada di situ menitikkan air mata. Mereka sangat paham betapa berat beban Terra.
"Kalian sudah makan?" tanya Haidar pada anak-anak.
"Sudah semua Tuan muda," jawab Romlah sambil mengusap air matanya dengan baju.
"Ya, sudah kalian kerjakan pekerjaan lainnya. Biar anak-anak di sini sama saya," titah Haidar.
Tiba-tiba Deno penjaga gerbang datang menyerahkan sebungkus obat-obatan yang ditebus Rommy dari apotek.
"Maaf, Tuan. Tadi Den Rommy ngasih ini ke saya, beliau nggak bisa mampir, karena ada pekerjaan yang mesti diselesaikan," ujar Deno sambil menyerahkan sebungkus obat-obatan pada Haidar.
"Baiklah, makasih ya Pak Deno!' ujar Haidar menerima bungkusan itu.
Deno kembali menjaga keluar melanjutkan pekerjaannya. Haidar masih setia menunggu Terra pulih.
"Mama ... Ion mo cucu," pinta Rion.
Darren bangkit sambil sesekali mengusap air matanya.
"Kakak yang bikinin ya. Biar Mama istirahat dulu. Hiks ... hiks," Rion mengangguk.
"Sayang ... biar Om saja yang buat," pinta Haidar.
Darren menggeleng. Pria kecil itu bersikeras untuk membuatkan susu adiknya. Sifat keras kepala Darren sama persis dengan Terra. Haidar hanya bisa menghela napas tak berdaya.
"Mas ... Te, boleh minta tolong?"
"Apa sayang. Katakan, jika aku bisa bantu, aku akan bantu," ujar Haidar.
"Te berencana mau memindahkan makam ayah ke sebelah makam Ibu. Tadi, pihak kepolisian sudah menghubungi Terra untuk membantu," jelas Terra. "Sekalian tanyakan perihal jenazah ibu mereka, Firsha."
"Lalu?" Haidar belum paham.
"Bisa Mas, hubungi pihak kepolisian untuk menanyakan kelanjutan pemindahan pemakaman?" pinta Terra dengan nada memohon.
"Tentu sayang. Apa nomor teleponnya ada di kamu?" Terra mengangguk.
"Itu lihat di kolom panggilan masuk."
Haidar mengambil ponsel Terra di atas nakas. Pria itu hafal kata sandi ponsel kekasihnya itu. Setelah menekan sandi. Haidar menekan bulir tanda telepon mencari nomor yang tadi menelpon Terra.
Pihak kepolisian mengatakan, jika pemindahan makam harus dilakukan secepatnya, agar lahan kosong yang ada tidak terisi dengan yang lain. Haidar menyanggupi berapa pun biaya pemindahan tersebut.
"Bapak booking dulu tanah makam itu, biar nggak di-keep orang, Pak!" saran AKP Agus.
Setelah memberi nomor ponsel pihak makam. Haidar memutus sambungan telepon dan menelpon pengelola pemakaman.
Setelah menyelesaikan transaksi via transfer. Haidar kembali menghubungi AKP Agus. Jika Makam sudah digali dan bisa ditempati sore ini juga.
"Baik Pak. Saat ini juga, makam saudara Ben Hudoyo kami bongkar, dan siap dipindahkan!"
"Terima kasih Pak, atas bantuannya. Soal biaya biar kami yang tanggung," ujar Haidar mengucap terima kasih.
"Oh ya Pak. Terra bertanya perihal jenazah wanita yang satu kendaraan bersama dengan korban?"
"Oh masalah itu, bisa nanti kita bicarakan lagi, Pak?"
"Kita urus pemindahan jenazah Ben Hudoyo dulu," lanjut AKP Agus.
"Baik kalau begitu, saya akan minta konfirmasi lanjutan dari Bapak, perihal jenazah Firsha. Terima kasih sekali lagi, Pak. Selamat siang!"
Sambungan telepon berakhir. Haidar mengatakan apa saja yang akan di lakukan nanti. Bahkan, tentang jenazah Firsha yang belum dituntaskan oleh pihak kepolisian.
"Ya sudah ... makasih ya, Mas. Nanti soal biaya yang sudah dikeluarkan, Mas bilang aja berapa, biar Te ganti," ujar Terra masih dengan nada lemah.
"Sudah, kamu nggak usah mikir macam-macam. Yang penting sekarang kamu fit dulu ya, sayang."
Lidya sudah terlelap di sisi Terra. Mata gadis kecil itu basah, bahkan isakan masih terdengar pelan. Terra mengusap genangan air yang ada di pelupuk mata Lidya. Mengecupnya penuh kasih sayang.
"Maafin Mama, sayang" ujarnya lirih.
Darren datang membawa botol susu lalu memberikannya pada Rion. Bayi satu tahun itu langsung menghisap kuat susu yang ada di tangannya. Matanya ikut terpejam. Tak lama, bayi montok dan lucu itu ikut terlelap di sisi Lidya.
Darren merebahkan tubuhnya di sisi Terra. Memeluk erat gadis itu, seakan takut ditinggalkan.
"Istirahat lah. Aku akan menjagamu dan anak-anak," ujar Haidar mengelus kepala Terra.
Terra mengangguk. Tak lama, ia pun memejamkan matanya. Sekedar menghilangkan penat yang melanda. Hatinya berada lega ketika satu permasalahan telah selesai. Gadis itu bersyukur, masih ada orang-orang baik di sekelilingnya.
bersambung.
ah ... mewek lagi dah ...
masih 2 up kisah yaa hehehe ..
Jan lupa kasih like, and komen biar seru ...
kenapa Haidar nggak dinikahin aja sama Terra.
tidak semudah itu Esmeralda!
novel ini bukan novel yang sama dengan yang lainnya... jadi sabar aja dulu oke ....
heeheehehe....