TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
INTERMEZO



Hari ini Lidya sedang berbelanja di sebuah Mall terbesar di kota itu. Ia akan membeli beberapa baju sepatu dan tas yang akan ia berikan pada orang-orang terkasihnya di rumah.


Penampilan sederhana dan berhijab menjadi sorotan. Mengira ia orang papa. Sosok gadis memandanginya dengan pandangan merendahkan. Lidya tak peduli. Terlebih ketika ia melihat salah satu sepatu branded ternama ia letakkan kembali ke tempatnya.


"Jika tak mampu beli. Jangan sok-sokan memegang benda mahal. Harga sepatu itu jadi jatuh karena dipegang orang miskin seperti dirimu," sindir sosok cantik itu menghina.


"Benarkah begitu?" tanya Lidya bingung.


"Miss kemari lah!" panggil Lidya pada salah satu pelayan di tempat itu.


"Ya, Nona?"


"Berapa harga sepatu itu?" tanya Lidya.


Pelayan itu mengambil sepatu dan melihat harga yang terletak di pinggir sepatu. Ia pun menyebut harganya.


"Sekarang katakan padaku. Apa harga sepatu itu turun atau tidak setelah dipegang oleh dia?" tanya Lidya pada sosok cantik itu.


Deborah mengepalkan tangannya. Ia kalah telak. Gadis itu mengambil sepatu yang dipegang pelayan dan memakainya. Tiba-tiba ia terjatuh.


"Aduh!" pekiknya kesakitan.


Sepatu itu rusak dan haknya terlepas akibat kecelakaan itu.


"Lihatlah, kau merusak sepatu mahal ini. Semua ini karena kau menyentuhnya!" tuduh Deborah berang.


Lidya menggeleng. Manager toko meminta ganti rugi pada Debbie karena merusak sepatu itu. Gadis itu menolak, ia mengatakan jika Lidya yang telah merusak sepatunya.


"Nona, anda yang terakhir memakai benda itu. Jadi andalah yang merusaknya. Kami memiliki bukti kuat jika Anda sengaja menjatuhkan diri anda!" ujar manager langsung.


"Sekarang bayar sepatu ini sesuai harganya jika anda tidak ingin berurusan dengan yang berwajib!" tekan manager toko itu lagi.


Mau tak mau Deborah membayar sepatu yang dirusaknya itu. Hal memalukan baginya. Bermaksud untuk menjatuhkan orang lain, malah dia yang jatuh sendiri.


Deborah melempar sepatu seharga dua ratus euro itu ke tong sampah. Dia sangat kesal dengan gadis berhijab itu. Semua mata memandangnya aneh karena ia berjalan sambil menghentakkan kakinya. Kini ia melihat gadis yang sama di toko dasi.


Di sana ia membeli delapan lusin dasi berbagai series. Bahkan ia membeli tiga dasi dan ia hadiahkan pada manager di toko itu dan dua pelayan prianya.


"Terima kasih, Nona. Anda baik sekali," sahut manager itu semringah ketika dihadiahi dasi seharga tiga puluh euro yang ia idam-idamkan.


Deborah cukup terkejut dengan kartu hitam dengan list emas di pinggirannya. Hanya ada beberapa orang yang memakai kartu itu termasuk kekasihnya, Demian. Gadis ini memang tak begitu menyimak ketika perkenalan kemarin, karena Lidya yang tiba-tiba pergi dari tempat mereka duduk dan memilih berbaur bersama. teman-teman seminarnya.


Gadis itu sibuk berbalas pesan dengan seseorang, menjelaskan sesuatu. Makanya ia tak memperhatikan Lidya, begitu juga Lidya. Ia hanya tau jika Demian memiliki kekasih dan kemarin ia memperkenalkan sosok yang cantik dan murah senyum.


"Sepertinya dia orang kaya?" gumamnya melirik kartu itu.


Deborah masuk dan melihat beberapa dasi. Tiba-tiba, sosok pelayan terlihat kejang. Ia sangat terkejut dan keluar langsung dari tempat itu. Sedang Lidya lalu mendatangi orang kejang tadi. Meminta manager memanggil ambulance dan menyuruh yang lainnya menyingkirkan semua benda tajam.


Lidya pun langsung membaringkan pria yang tubuhnya dua kali lipat besarnya dari dirinya. Melonggarkan dasi dan membuka mulut dan meminta sendok lalu menekan lidah agar tak tergigit pria malang itu.


"Tuan ... Anda tidak apa-apa Tuan?" tanyanya.


Pria itu merespon cepat. Ia mulai tersadar dari kejangnya. Pelayan itu hendak bangkit tetapi Lidya menahannya.


"Tenangkan diri anda Tuan, sebentar lagi ambulan akan datang dan menangani kesehatan anda selanjutnya di rumah sakit," ujar Lidya.


Beberapa petugas medis datang dan langsung bertanya. Secara ilmu Lidya bisa menjelaskan apa yang terjadi pada pelayan itu. Tapi, untuk selanjutnya managers toko yang mengantar pekerjanya ke rumah sakit.


Tindakan heroik Lidya menjadi sorotan pengunjung di mall tersebut. Mereka mengucap pujian dan tak sedikit yang menyayangkan tindakan langsung gadis itu.


"Saya seorang dokter. Jadi saya tau apa yang harus saya lakukan untuk memberikan pertolongan pertama!" ujarnya menjelaskan.


Setelah pelayan mengembalikan kartu miliknya ia dibantu beberapa pelayan laki-laki untuk membawa semua belanjaannya. Lidya hanya ditemani oleh seorang supir, jadi supirnya juga membawa belanjaan gadis itu.


Ketika dalam perjalanan pulang. Ia mendapati satu kecelakaan beruntun. Gadis itu meminta supir untuk berhenti.


"Tuan Geo, telepon polisi jika ada kecelakaan dan butuh bantuan cepat!"


Geo menurut titah nona mudanya. Beberapa orang tak berani mengambil tindakan karena adanya percikan api dan kepulan asap.


"Apa ada yang punya air banyak dan karpet tebal?' tanyanya berteriak pada orang di sekitar.


Beberapa orang mengambil air dari toko dan keset mereka. Lidya menyelupkan keset itu di air dan meredakan asap yang mengepul di bagian mobil yang bertabrakan. Melihat itu orang-orang pun melakukan hal yang sama. Korban-korban yang terjepit dikeluarkan dengan alat-alat seadanya. Semua orang yang terjebak dalam mobil yang ringsek berhasil keluar.


Pemadam kebakaran pun datang langsung mengatasi situasi. Semua orang lagi-lagi mengelukan kecepatan gadis itu. Bahkan melihat dengan jelas bagaimana Lidya mampu menghentikan pendarahan hanya menggunakan tangannya saja.


"Tanganmu, tangan Tuhan, Nak," ujar salah seorang.


"Tidak, itu semua memakai teknik yang diajarkan guru bela diri saya, Tuan," sahut Lidya meralat ucapan orang itu.


Ia pun kembali ke mobil. Berita tindakan cepat dan pertolongan pertama itu menjadi viral. Videonya beredar di mana-mana. Bart sampai harus mengerahkan salah satu IT nya untuk memblok semua siaran itu. Ia takut cucunya dalam bahaya.


Bart langsung mengerahkan beberapa bodyguard untuk melindungi keamanan gadis itu.


"Aku bisa dimarahi Gomesh jika membiarkan nona mudanya berjalan sendiri," gumamnya sedikit ngeri.


Setiap ada waktu. Baik, Frans, Leon, Gabe akan menemani Lidya. Sedangkan Widya tentu tak bisa karena ke tiga anaknya yang butuh perhatian ekstra terlebih kini ia mengandung tujuh bulan.


Ella kini berusia empat tahun, Sebastian berusia dua tahun sedang Bill berusia satu tahun tiga bulan. Mereka sama usilnya dengan adik-adik Lidya yang lainnya.


Gabe lebih menyukai anak-anak menggunakan bahasa Indonesia dibanding bahasa Inggris.


"Ata'Iya ... palinama aja?" tanya Ella cerewet.


"Kakak beli oleh-oleh untuk semua om bodyguard, Baby," jawab Lidya.


"Oh bedithu!' sahut Ella mengangguk.


Lidya gemas bukan main. Makanya gadis itu jarang sekali ke luar rumah karena ada yang lebih menyenangkan di rumah.


Sedangkan Demian tampak termenung. Ia menatap kaca besar di depannya. Ia sangat yakin jika ia telah jatuh hati dengan Lidya. Tetapi, ia tak ingin menyakiti perasaan kekasihnya Deborah jika tiba-tiba ia minta putus tanpa sebab.


"Tapi, aku akan membuatnya menderita jika tidak jujur sekarang!' sahutnya putus asa.


"Tuan," panggil Jacob.


"Ada apa?"


"Ssya memiliki ini Tuan," ujarnya menyerahkan satu amplop coklat besar.


"Apa ini?" Jacob hanya diam.


Demian menuangkannya di meja, lalu ia tampak mengerutkan keningnya.


bersambung.


eng ing eng ... kira-kira apa yaaa?


next?