TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
WANDA DAN KELUARGA



Ditangkapnya Sesil, membuat kedua orang tuanya, langsung mendatangi Haidar. Mereka ingin memakai jalur damai.


"Pak, saya mohon pertimbangkan. Tolong, Pak. Saya akan menjaminkan diri saya, jika Sesil tidak akan melakukan hal itu lagi," ujar Ibundanya Sesil memohon.


Wanita bernama Samidah ini terus mengusap air mata. Jika perlu ia berlutut di hadapan pria yang menatapnya datar. Sedangkan Bambang, suaminya hanya bisa menunduk pasrah.


"Maaf, Bu. Anak ibu sudah melakukan tindakan kriminal yang bisa diganjar pasal berlapis. Ia berencana membunuh istri saya!" seru Haidar keras. Ia menolak keinginan damai dari perempuan tua itu.


"Tapi, saya mohon Pak. Kan selama ini putri saya Wanda tidak pernah mengecewakan Bapak. Bahkan ia sudah bekerja selama lima tahun dengan Bapak," Samidah terus membujuk Haidar.


"Loh, Wanda tidak ada sangkut pautnya dengan Sesil ya. Dia gadis berkompeten. Kinerjanya sangat baik!" sela Haidar tidak suka.


"Ibu, saya masih baik menerima ibu menghadap saya. Sekarang silahkan keluar dari ruangan saya. Anda tahu, gara-gara anak ibu sekarang istri saya demam!" usir Haidar tegas.


"Pak, saya mohon. Jika perlu saya menyembah Bapak!"


Wanita itu ingin bersimpuh. Bobby datang bersama para sekuriti wanita. Membopong tubuh wanita tua itu. Sedangkan Bambang menghormati keputusan Haidar. Ia pun membungkuk hormat ketika meninggalkan ruangan.


Haidar duduk.dengan mata terpejam. Akhir-akhir ini para audit menemukan kecurangan beberapa divisi. Padahal ia baru saja menandatangani deklarasi Anti korupsi. Ada dua ratus perusahaan mendukung deklarasi tersebut. Bahkan semua perusahaan mau di data seluruh kekayaan divisi mereka. Beberapa dana keluar masuk proyek mereka jabarkan ke publik. Pajak yang dibayar juga menjadi sorotan mereka.


Para pengusaha membentuk Auditor khusus yang independen. Dan tidak pandang bulu dalam mengerjakan sesuatu. Kini, giliran perusahan Haidar yang bermasalah.


Bobby datang menghadap.


"Apa mereka sudah pergi?"


"Sudah Tuan," jawab Bobby.


"Bagaimana perkembangan penyelidikan audit?" tanya Haidar datar.


"Masih berjalan, Tuan. Para audit sudah mengumpulkan bukti sebanyak dua puluh persen. Mereka menuju sosok yang mencurangi pemindahan data dan pembengkakan nilai beli," jawab Bobby.


"Bagaimana dengan Wanda? Apa dia masih mau bergabung di perusahaan ini? Sungguh, aku tidak bisa percaya dengan siapapun saat ini," ujar Haidar lagi.


"Maaf, Tuan. Kita kalah cepat dengan anak perusahaan Big Gold. Mereka langsung menyambar gadis berpotensi itu," jelas Bobby dengan raut wajah menyesal.


"Ah, pantas dia akan menolak gajinya di sini. Ia pasti mendapat lebih jika bekerja di sana. Ya, sudah. Kau buka lagi lapangan kerja untuk posisi sekretaris," ujar Haidar lagi.


"Baik, Tuan." sahut Bobby.


"Oh ya, pihak kepolisian akan melakukan serangkaian Olah Tempat Kejadian Perkara di tempat ini. Apa diijinkan?" Haidar mengangguk.


Tentu saja, Haidar harus mengijinkannya. Pria itu ingin menghukum berat wanita yang melukai istrinya.


Sedang di sebuah tahanan kota. Wanda menemani kedua orang tuanya. Ia menatap sesal. Adik yang ia sayangi melebihi dirinya sendiri. Ia telah banyak mengorbankan dirinya. Bahkan ia rela memberikan rekomendasi yang baik juga kariernya pada Sesil.


Sang ibu menatap putri sulungnya dengan pasangan memohon. Ia meminta putrinya itu mendatangi kembali mantan bossnya itu.


"Ibu mohon Nak. Ibu yakin jika mantan boss mu pasti mau mendengarkanmu," rayu Samidah.


Wanda menatap ibunya nanar. Selama ini ia menurut apa kata ibunya. Mengorbankan semua cintanya untuk kebahagiaan sang ibu. Dan pengobatan itu untuk kesuksesan adiknya yang kini merengek pada ayah dan ibunya.


"Bu, keluarin Sesil dari sini, Bu. Sesil janji nggak akan berbuat lagi," begitu rengeknya.


Wanda sudah tidak bisa tahan lagi. Gadis itu sudah cukup bersabar selama ini. Menjadi tulang punggung keluarga. Memberi tempat yang layak untuk kedua orang tuanya. Menyekolahkan adiknya dan memberi pakaian keluaran branded ternama, yang bahkan dirinya tidak pernah membelinya.


Semua gaji ia serahkan pada ibunya. Beruntung, ia mendapat transportasi antar jemput karyawan. Juga makan siang gratis dan kadang ia makan bersama atasannya jika sedang melakukan pertemuan di restoran.


"Nak, jangan keras gitu sama adikmu," peringat ibu.


"Sampai kapan Bu? Apa ibu tahu jika perbuatannya bisa mendapat hukuman mati atau paling ringan seumur hidup?!" teriak Wanda tak habis pikir.


"Jangan mendoakan yang tidak-tidak, pada adikmu, Wanda!" peringat Samidah lagi.


"Siapa yang mendoakan yang tidak-tidak, Bu. Anak kesayangan Ibu sendiri yang melakukan itu!' teriak Wanda tak habis pikir.


"Wanda jangan berteriak pada Ibumu!" peringat Bambang, ayahnya.


"Aku harus ngomong gimana, Yah? Aku sudah bilang dari awal ketika Sesil kemarin dipecat. Aku sudah bilang apa?" tanya Wanda tak habis pikir.


"Kenapa kalian malah sepertinya membiarkan ia melakukan kebodohan, hingga membuat semua keluarga terseret seperti ini. Untung aku masih bisa dapat kerja. Perusahaan tidak mempermasalahkan salah satu anggota keluarganya penjahat!'


"Wanda, adikmu bukan penjahat!" seru Samidah membela putri bungsunya.


"Apa namanya Bu, kalau bukan penjahat? Pembunuh?"


"Tapi wanita nggak berperasaan itu kan nggak mati!' sela Sesil. "Lagian ngapain dia datang ke kantor Boss. Keganjenan banget!"


"Sesil, kau tau wanita yang kau serang itu siapa, hah!' sentak Wanda kesal, mukanya memerah karena amarah.


"Ibu ... Kak Wanda marahin Sesil, Bu," rengek gadis itu.


"Wanda!" peringat Samidah lagi.


"Ibu tau siapa yang diserang anak kesayangan Ibu ini? Dia adalah Terra Arimbi Hugrid Dougher Young. Pemilik perusahaan Hudoyo Group dan pendiri Hudoyo Cyber Tech!"


"Boong!" seru Sesil tak percaya.


"Dan perempuan yang kau serang itu adalah istri dari Pak Haidar, mantan Boss ku!" terang Wanda lagi.


"Kau tahu siapa itu keluarga Pratama?" tanya Wanda.


Sesil hanya mengendikkan bahu. Ia terus merengek meminta pulang. Ia mengira apa yang ia perbuat itu bukanlah perbuatan yang berat. Toh, Terra tak terluka. Malah sekarang tangannya yang sakit akibat kemarin dipelintir oleh pria pengawal wanita itu, pikirnya.


"Kalau begitu, aku mau buat laporan penyiksaan. Lihat nih tanganku memar!" ujarnya asal.


Wanda sudah kehabisan akal. Ia tidak tahu kemana otak adiknya selama ini. Sesil bukan lah gadis tang bodoh. Ia lumayan cakap dalam bidang tertentu. Wajahnya juga cantik, lebih cantik dari Wanda.


"Silahkan saja buat laporan. Yang ada kau bertambah hukuman. Masih untung bodyguard itu tak mematahkan tanganmu. Ia punya hak untuk melindungi kliennya. Bahkan ia boleh membunuh orang jika kliennya dalam bahaya!" jelas Wanda hilang kesabaran.


"Aku pulang. Terserah Ibu sama Bapak, mau terus di sini atau ikut aku!" seru Wanda lagi.


"Bapak, ikut!" ujar Bambang berdiri. Ia juga lelah memberi peringatan pada istri juga anak bungsunya itu.


Samidah tak punya pilihan lain selain mengikuti putri sulung juga suaminya. Sesil terus merengek minta ikut.


Sayang, gadis itu diseret berapa sipir wanita untuk kembali ke dalam selnya. Ia akan berencana untuk kabur ketika keluar nanti.


bersambung.


ah ...


next?