
Demian menatap kaca besar di depannya. Ia menatap pemandangan gedung-gedung bertingkat dan mobil berukuran kecil-kecil. Sebuah wajah cantik terukir di sana.
"Lidya ... aku rindu," ujar pria itu.
Jacob menatap langit-langit ruangan tuannya. Ia juga sama merindukan gadis yang sudah beberapa bulan lalu, ia nyatakan cintanya.
"Putri ... apa kabarmu. Apa kau merindukanku?" tanyanya bermonolog.
Kedua pria itu kini tengah berada di Eropa. Ada beberapa berkas yang mesti mereka selesaikan. Sudah nyaris empat bulan setelah pertemuan di klinik gadisnya. Lusanya, harus kembali ke negara mereka karena ada berkas penting yang harus diurus.
"Aku mengira pekerjaan ini selesai dalam waktu hitungan minggu. Tak menyangka jika harus lebih lama," ujar Demian.
"Ya, saya juga berpikir sama, Tuan," sahut Jacob.
"Kalau begitu. Ayo kita selesaikan lebih cepat. Agar kita bisa menemui pujaan hati kita masing-masing!" sahut Demian lalu kembali ke meja kerjanya.
"Ayo, Tuan!" sahut Jac semangat.
Keduanya pun kembali mengurus beberapa berkas. Begitu seriusnya. Hingga terlewat waktu makan siang.
Ting! Ponsel Jac berbunyi. Pria itu menatap layar benda pipih itu. Seketika matanya membelalak sempurna.
"Ada apa?" tanya Demian penasaran.
"Putri ...," jawab Jac begitu haru.
"Kenapa dengan Putri?" tanya Demian lagi makin penasaran.
"Dia mengirim pesan padaku, agar jangan lupa shalat dan makan yang teratur," jawab Jac lalu menciumi layar benda canggih itu.
"Padahal di negaranya sekarang sudah waktunya tidur, ia masih sempat mengirimkan aku pesan," lanjut Jac penuh haru.
Ia pun segera membalas pesan singkat itu. Memang Jac dan Putri salin berbalas pesan. Jac yang tak berhenti memberikan atau bertanya kabar dengan gadisnya. Sedang Demian. Ia bukannya tak pernah. Satu kali ia pernah memberi pesan singkat untuk Lidya. Lima hari baru dibalas oleh gadis itu. Itu pun hanya jawaban singkat dan datar. Demian yakin jika bukan Lidya yang menjawab pesannya. Semenjak itu ia pun tak lagi berusaha mengirim pesan pada gadisnya.
Keesokan harinya di benua lain. Tampak Lidya tengah berjalan tergesa. Ada satu pasien dengan gangguan kejiwaan menyasar ke ruang praktek bidan yang baru saja bekerja. Gio, Robert dan Felix yang menjadi pengawal gadis itu sekarang. Mereka juga menyibak beberapa orang yang berkumpul di salah satu ruang praktek.
Tampak bidan tengah bernegosiasi dengan pasien itu.
"Bu, jangan begitu, kasihan anaknya. Dia nggak salah apa-apa," ujarnya menenangkan.
"Trus itu salah gue gitu?" sentak wanita itu.
"Lo tau ini anak siapa?" sahutnya lagi.
"Dia perkosa gue! Lo tau! Gue diperkosa Paman gue sendiri!" pekiknya dengan mata merah.
Lidya yang baru sampai sedikit terhenyak mendengar teriakan itu. Semua orang diminta untuk menjauh bahan semua ponsel yang merekam kejadian direbut oleh Gio dan menghapus rekaman itu.
"Tolong hargai ya!" pintanya.
Ia menutup pintu. Terdengar keluhan dari mulut para penonton dadakan itu. Lidya sudah ada di dalam.
"Assalamualaikum," sapanya memberi salam.
"Wa'alaikumussalam," sahut bidan itu.
Sosok cantik dengan tubuh berisi. Lidya menatap takjub wanita yang tengah berlapis pakaian OK.
"Yang nganterin mana, Bu bidan?" tanya Lidya.
"Ibu ini datang ke sini tadi hendak diperiksa sendiri, tiba-tiba ia melamun kemudian terjadilah seperti ini," jawab bidan itu.
"Siapa kamu!" bentak pasien wanita itu.
"Saya bisa bantu kamu," ujar Lidya tiba-tiba bergerak cepat.
Satu totokan membuat pasien itu lemah. Bidan itu sigap membantu dan menaruh pasien di atas brankar. Memeriksa kandungannya.
"Astaghfirullah .. Ibu ini harus di operasi. Bayinya tak berdetak!" sahutnya dengan wajah terkejut.
"Ada pengenalnya?" tanya Lidya.
"Itu tas wanita itu!" jawab bidan bername-tag Safitri Aurelie.
Lidya membongkar tas itu satu kartu tanda penduduk, ponsel dan beberapa uang. Gadis itu melihat layar benda itu, tak terkunci. Menscroll layar mencari nama terakhir yang dihubungi. Ia pun. menekan buliran hijau. Ia mengaktifkan pengeras suara. Belum lah Lidya berbicara terdengar bentakan keras di seberang sana.
"Sudah paman bilang jangan hubungi Paman lagi!"
"Kau tau, kita melakukannya atas dasar suka sama suka! Jadi urus sendiri bayi itu!"
Sambungan terputus. Lidya geram sekali. Ia pun mencari lagi nama lain. Ada tulisan ibu. Ia pun menghubungi nomor itu. Panggilan tersambung. Lagi-lagi caci maki terlontar dari bibir seorang perempuan yang seharusnya melindungi putrinya.
"Sudah Mama bilang. Jangan lagi hubungi Mama! Dasar anak tak tau diri!"
"Kau tau, karena kelakuan bejadmu, Bibimu sekarang jatuh sakit! Kau sudah bukan anggota keluarga kami lagi!"
Sambungan kembali terputus. Lidya masih ingin menghubungi orang lain lagi di list kontak ponsel itu. Satu tulisan "Bapak". Lidya berdoa mudah-mudahan kali ini ia berhasil menghubungi dan mengatakan keadaan dari pasiennya.
Sementara Safitri memberi pemijatan khusus, tak lama ia kembali merasakan detakan lemah dari janin dalam perut wanita itu. Ia sedikit lega. Tetapi, melihat bercak merah di ************, ia harus bertindak cepat.
"Dok!" Lidya memberi isyarat menunggu.
Safitri terdiam. Ia menunggu. Lidya masih berusaha menghubungi nomor terakhir di ponsel tersebut.
"Halo ... Nak kau di mana?" sebuah nada khawatir di sana.
Lidya bernapas lega.
"Astaghfirullah .. ya ... tolong beri penanganan cepat, Dok! Saya akan ke sana segera!" pekik pria di seberang telepon.
"Baik, Pak!" ujar Lidya lalu memutus sambungan teleponnya.
"Aarrgh!" pekik sang pasien kesakitan.
Safitri nampak mengganti baju OK pada wanita tersebut. Lidya pun membantunya. Safitri kembali menekan beberapa titik. Lidya bisa tahu, jika yang dilakukan Safitri itu sama dengannya.
"Dok, saya masih ragu. Jika dioperasi. Pasien akan kehilangan segalanya, bisa jadi nyawa jadi taruhannya. Sedang jika kita melakukan persalinan normal, tenaga pasien tak akan cukup!" jelas nya.
"Kita bawa saja ke ruang persalinan!' ujar Lidya.
Keduanya pun mengangkat pasien di kursi roda. Satu, infus menggantung. Lidya membawanya sedang bidan Safitri mendorong kursi roda cepat.
Gio dan lainnya mengikuti. Semua dokter angkat tangan karena beresiko terlebih pasien tak memiliki wali yang bertanggung jawab.
"Tapi, nyawanya dalam ancaman, Dok!" pekik Lidya kesal.
"Maaf, kami tak mau ambil resiko tanpa tanda tangan wali!" ujar dokter kandungan.
"Jika kamu melakukan hal tersebut silahkan bertanggung jawab sendiri!" tekan dokter itu meninggalkan keduanya.
Safitri menatap Lidya. Tiba-tiba Aini datang, ia melihat calon adik iparnya yang tengah kebingungan.
"Ada apa Dok?" tanyanya.
Lidya menjelaskan. Aini juga sangat paham karena pasti tak ada satu pun dokter yang ingin ambil resiko.
"Dok, kita nggak punya waktu lagi!" sahut Safitri.
"Tadi saya lihat, Dokter bisa melakukan totokan pelemah syaraf. Saya yakin jika Dokter menguasai teknik akupuntur!" ujar Safitri.
"Apa anda bisa bantu saya, Dok?" pinta bidan itu.
Lidya sempat ragu. Lalu ia mendengar erangan kesakitan dari mulut wanita itu. Safitri tak mau ambil pusing. Ia masuk ke ruang persalinan. Ia mencuci tangannya hingga bersih di sana dan memakai sarung tangan karet. Lidya masuk begitu juga Aini.
"Bu, saya bantu ya," ujar Safitri meminta ijin.
Pasien hanya menatapnya lemah. Sebuah teknik totokan membuat wanita itu tiba-tiba mengejan. Lidya langsung menuju ke arah bidan itu mencuci tangannya dan memakai sarung tangan. Aini juga melakukan hal yang sama.
Kini, Aini melihat bagaimana seroang ibu berjuang melahirkan.
"Dok, tolong masukan jari anda dan ukur sudah berapa pembukaannya!" pinta Safitri.
Aini bukan tidak tahu, tapi ia begitu takut dan gemetaran ketika jarinya mendekati liang yang sama dengan miliknya.
"Dokter cepat!" sentak Safitri mulai tak sabaran.
Aini pun menghilangkan rasa groginya. Ia memasukan jarinya.
"Kepalanya sudah teraba!" sahutnya kemudian.
Safitri memandang Lidya. Gadis itu mengangguk. Lalu kembali memberi totokan dan tekanan pada perut wanita itu.
"Ya kepala sudah terlihat!" pekik Aini.
Safitri kembali memberi tekanan, pasien itu mengejan kuat-kuat.
"Jangan sampai ia mengangkat bokongnya!" ujar Safitri.
Aini menahan pangkal paha wanita itu agar tidak mengangkat. p
Perlahan kepala bayi itu keluar. Aini memegang kepala itu. Safitri menghentikan tekannya. Ia kini menggantikan posisi Aini.
"Dok!" pintanya pada Lidya.
Lidya melakukan penekan. Bayi itu keluar, Safitri meminta Lidya berhenti menekan. Safitri menarik perlahan bahu bayi yang masih diam itu.
Gadis itu mengangkat kaki bayi, dan menepuk bokong dan bahunya. Hingga sesuatu keluar dari mulut bayi itu dan terdengar lah tangisan kencang.
Safitri meletakan langsung bayi itu ke dada sang ibu yang setengah tak sadar. Wanita itu menangis.
"Selamat, Bu. Bayinya laki-laki, tampan dan sehat!' ujar Safitri penuh haru.
Ia membersihkan cepat. Bayi itu menghisap kuat sari kehidupannya. Hingga kekenyangan dan terlelap.
Safitri mengangkatnya dan memotong ari-arinya. Memandikannya dengan bersih, lalu diberi popok dan dikenakan baju.
Ayah dari pasien datang dengan wajah panik. Seorang pengusaha kaya raya. Ia begitu sangat berterima kasih pada dokter yang mau menolong putrinya. Padahal, sang putri sedang dalam guncangan jiwa berat. Ia sudah memberi laporan pada pihak kepolisian tentang kasus pemerkosaan putrinya.
"Sebenarnya, bukan saya yang begitu ingin menolong, putri bapak. Tapi, bidan Safitri lah yang begitu cepat memberi pertolongan," ujar Lidya menjelaskan.
"Siapa pun dia, saya mengucapkan banyak terima kasih," ujarnya.
Safitri diberi sanksi oleh pihak kebidanan karena menangani kasus kelahiran sendirian tanpa dibantu oleh dokter yang berkepentingan. Tetapi, berkat pertolongan dan sikap sigap. Ia berhasil menyelamatkan satu nyawa ibu berikut bayinya.
"Ibu saya meninggal di meja operasi ketika melahirkan adik saya, lalu disusul adik saya. Makanya, saya belajar penuh kenapa bisa ibu saya meninggal. Kasusnya sama dialami oleh pasien, anemia akut tapi gula sangat tinggi, itu berbahaya sekali bagi keduanya," jelas Safitri.
bersambung.
eng ing eng ... ada gadis baru yang sama hebat dengan Lidya nih?
next?