TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
PALIDATO POSAIMAS



Hari ini Terra bersama Aden mengikuti rapat jurnal. Pria itu tadi malam tidak ikut jalan-jalan karena kepalanya sedikit pusing. Ia mengaku mabuk udara.


"Jadi tadi malam, anda baku hantam dengan Yakuza?" tanya Aden terkejut mendengarnya.


Rommy bertanya apakah Aden terluka atau tidak tentu saja tidak, ia bahkan bangun ketika subuh menjelang. Pria itu tidak tinggal satu unit bersama Terra melainkan beda unit.


Rapat jurnal kali ini berlangsung alot. Terra banyak mempermasalahkan divisi marketing yang menurutnya terlalu merendahkan wanita. Baju ketat dengan rok span mini. Ia keberatan dengan seragam yang digunakan para Customer service.


Setelah berbagai perdebatan. Akhirnya pihak Osaka menyetujui keinginan Terra. Nyaris empat puluh persen pekerja ahli berasal dari Indonesia bahkan mereka menepati kepala bagian divisi yang terkait. Viola menjadi tenaga ahli yang dikirim Terra ke perusahaan cabang miliknya di negeri sakura ini.


Semua poin-poin telah disepakati. Nilai saham pun merenjak drastis. Kedua belah pihak merasa senang bukan main. Pihak Osaka sangat beruntung dengan kerjasama ini.


Usai rapat. Terra mengajak Aden ke villa hadiah dari Kaisar. Aden hanya terbengong. Mereka berencana menginap dua hari di vila tersebut sebelum pulang kembali ke negara asal mereka.


"Mama ... Tapan pita puwang?' tanya Rion. Bayi itu sudah tidak betah.


"Kenapa Sayang?" tanya Terra.


Padahal Haidar dan Terra tengah bermesraan di sebuah kursi pantai. Rion datang dengan wajah muram. Ia tidak bisa menikmati liburan.


"Ion emba suta, Mama. Emba bica oke-oke," keluhnya.


Terra dan Haidar tertawa. Rion diciumi ayahnya. Balita itu merengek. Moodnya memang sedang tidak mau bercanda. Haidar hanya bisa membujuknya.


"Ya, sudah bagaimana kalau kita oke-oke di sini saja?' ajak Haidar.


"Memang ada karaokenya, Mas?" tanya Terra.


"Kita pake smartphone saja," lalu Haidar mencari di kanal Youbute. Rion tak bereaksi.


"Emba sewu ... emba lada mit-na," keluhnya lagi.


Rion turun dari pangkuan ayah ibunya. Terra pun ikut sedih. Memang di sini tidak ada hiburan kecuali untuk menenangkan diri. Suasana ini cocok sebenarnya bagi Terra dan Haidar. Tapi tidak untuk anak-anak.


"Bagaimana kalau kita ke mall terdekat saja. Ini hari libur di Jepang, biasanya ada banyak perlombaan ketangkasan untuk anak-anak. Terra mengangguk. Walau ia ragu jika balitanya tertarik. Karena wanita itu sangat tahu kemampuan Rion.


"Ya, sudah, ayo. Te juga mau belanja oleh-oleh," sahut Terra.


Mereka pun mengajak semuanya pergi ke mall. Benar saja di sana ada banyak perlombaan ketangkasan untuk anak-anak. Sayang, usia Rion yang masih terlalu kecil tidak boleh ikut bermain. Walau hanya meramaikan. Hanya Darren saja yang bisa ikut lomba.


Fendi, Aden dan Rudi tengah mengawasi Darren berlomba. Sedangkan Lidya digendong Dahlan. Gadis kecil itu minta naik kereta api mini. Terra membiarkan Dahlan mengajak putrinya berkeliling.


Rion merajuk. Nyaris semua panitia lomba menolaknya. Hingga balita itu sangat kesal. Tiba-tiba Rion menantang salah seorang peserta berusia lima tahun.


"He ... Pamu!" tunjuknya pada anak itu.


Si anak yang tidak mengerti bahasa Rion pun, mengernyit bingung. Menatap ke arah kanan kiri, lalu ia menunjuk dirinya.


"Biya, pamu tesini!' titah Rion.


Balita yang sudah pasti anak pribumi itu mendatangi Rion. Terra berdebar. Ia sangat takut sekali jika bayinya itu berbuat ulah. Haidar menahan istrinya untuk menahan Rion melakukan sesuatu sesuai keinginannya.


"Biarkan sayang. Kita lihat saja. Toh, orang tua dari anak itu juga hanya mengawasi saja," ujar Haidar.


Terra akhirnya membiarkan balitanya bertindak sesukanya. Gomesh dan Budiman hanya memantau situasi. Dahlan datang dengan Lidya. Pria itu tengah menyuapi gadis kecil itu kentang goreng.


"Sudah bilang terima kasih belum?'


"Matasyih Om Bahlan," ungkap Lidya dengan senyum manis.


"Syama-syama, Nona," sahut Dahlan ikut tersenyum.


Rion ternyata menantang balita untuk menancapkan bendera di atas bukit mainan yang tingginya sekitar dua meteran. Balita itu setuju. Kini keduanya bersiap.


Rion mengamati rintangan yang akan dilaluinya. Kemudian ia pun mengangguk meyakinkan diri.


"Ayo Baby, kamu bisa!' pekik Terra memberi semangat.


Sedang di seberang tempat pertandingan. Tampak kedua orang tua balita yang ditantang Rion ikut memberi semangat. Tempat tantangan memang bekas perlombaan yang sudah selesai.


Melihat ada dua balita lucu tengah bersiap untuk berlomba. Membuat suasana menjadi ramai. Tentu pihak lawan Rion banyak pendukungnya. Darren yang sudah selesai lomba dan meraih juara satu pun langsung mendatangi tempat pertandingan Rion dan lawannya.


"Piap ... go!' Rion berteriak memulai pertandingan.


Keduanya berlari. Rion dengan cepat melewati rintangan begitu juga lawannya. Riuh tepuk tangan juga semangat untuk lawannya, tidak membuat bayi itu gentar. Tentu saja. Rion tak tahu mereka meneriaki apa, karena balita itu tidak mengerti bahasanya.


Rion terus melewati rintangan jala-jala, yang mengharuskan ia merangkak. Rion dengan cepat merangkak melawati jala-jala itu. Lalu melompati ban kecil berwarna hijau. Ia telah memperhitungkan semuanya dengan tepat. Dari pada melewati lubang-lubang ban dengan dua kaki. Melompat adalah salah satu strategi tercepat. dan ban warna hijau jauh lebih banyak ketimbang warna lain dan paling dekat sampai pada tebing yang mesti ia panjat. Melihat strategi Rion. Lawannya mengikuti cara Rion. Sayang, karena memang tidak diperhitungkan dengan matang. Maka ia pun kesulitan melewati rintangan itu.


Terra menahan napas ketika Rion hendak memanjat tebing tiruan yang tingginya lumayan bagi balita sesusianya. Haidar merekam semua aksi putranya itu dengan kamera ponselnya.


Ketika di dekat tebing. Rion berhenti sejenak. Ia melihat tapak yang mesti dilewati. Lawannya pun mulai menyusul, bahkan sudah mulai memanjat tebing itu. Rion pun lalu memanjat. Ia sudah hapal batu pijakan mana yang harus ia injak dan harus ia genggam. Ia sangat tahu kapasitas genggamannya juga kekuatan juga besarnya kaki untuk memanjat. Perlahan ia mulai menyusul lawan. Lawannya menatap Rion yang sudah mulai mendekat ke atas tiba-tiba ayahnya berteriak.


"何かをしなさい!


Nanika o shi nasai!" (lakukan sesuatu!).


Orang-orang menatap ayah lawan dari Rion. Terra yang mengerti langsung berteriak.


"Baby hati-hati!'


Rion sangat tahu. Ia sudah memperhitungkan semua. Balita itu sudah menduga lawan akan bermain curang.


Balita itu hendak menjegal Rion. Sayang lagi-lagi kurangnya perhitungan. Lawan salah dalam mengambil batu cengkraman. Batu itu terlalu besar hingga balita itu tak bisa menggenggam sempurna. Bahkan kakinya tak mendapati pijakan. Maka balita itu terjatuh dari ketinggian seratus centimeter. Semua menahan napas. Beruntung alas tempat bermain sangat aman dan memang diperuntukkan bagi anak-anak. Rion melesat ke atas bukit tiruan. Ia menancapkan benderanya di sana. Semua bertepuk tangan meriah. Rion berdiri dengan angkuh di atas bukit tiruan. Semua berdecak kagum. Ia mencapai jarak tempuh hanya dalam waktu lima belas menit.


"Palidato posaimas ... palidato bosaimas!" ujarnya sambil membungkuk.


Ayah lawan mendatangi Haidar yang menggendong Rion. Pria itu membungkuk hormat, lalu memberikan topi dengan tulisan 1st. Rion tertawa.


Terra begitu bangga. Tidak ada yang bisa meremehkan anak-anaknya. Darren menjuarai beberapa lomba sesuai usianya. Rion menunjukan jika dirinya mampu bersaing bahkan mengalahkan anak yang jauh lebih besar darinya.


bersambung.


anaknya Terra mah beda ...


Palidato bosaimas.


next?