
Meninggalnya Romlah, menjadi berita duka paling menyedihkan. Semua memiliki kenangan dengan perempuan bersuara lembut itu.
Terra langsung tak sadarkan diri setelah mengatakan kepergian Romlah. Wanita itu terlalu shock, ia baru saja menggiring Romlah ke alam keabadiannya. Wanita itu berhasil mengucap kalimat syahadat sebelum napas penghabisan.
Haidar menggendong istrinya ke kamar, diikuti Lidya. Darren langsung masuk kamar Romlah, Wanita itu sudah pucat dengan senyum di bibir. Darren meminta Ani mengambil kain panjang, untuk menutupi jenazah perempuan baik itu.
Darren juga menangis tertahan begitu juga Rion. Mereka berdua begitu ingat kebersamaan dengan wanita yang sudah terbujur kaku itu. Rion mengusap wajah Romlah, Rion menangis dan di memeluk Kakaknya.
"Terima kasih Bik ... huuuu ... uuu ... terima kasih, atas semua kebaikanmu. Terima kasih ... hiks ... hiks!"
Sedangkan Darren mengucap doa untuk kepulangan Romlah selamanya.
"Allaahummaghfir laha warham ha wa'aafi ha wa'fu anha wa akrim nuzula ha wa wassi' madkhola ha waghsil ha bil maa-i wats-tsalji wal barodi wa naqqi ha minal khothooyaa kamaa yunaqqots tsaubul abyadlu minad danasi wa abdil ha daaron khoiron min daari ha wa ahlan khoiron min ahli ha wazaujan khoiron min zaoji ha wa adkhil hal jannata wa 'aidz ha min 'adzaabil qobri wafitnati hi wa min 'adzaabin naar"
Artinya:
"Ya Allah, ampunilah, rahmatilah, bebaskanlah dan lepaskanlah dia. Dan muliakanlah tempat tinggalnya, luaskanlah dia. Dan muliakanlah tempat tinggalnya, luaskanlah jalan masuknya, cucilah dia dengan air yang jernih lagi sejuk, dan bersihkanlah dia dari segala kesalahan bagaikan baju putih yang bersih dari kotoran, dan gantilan rumahnya dengan rumah yang lebih baik daripada yang ditinggalkannya, dan keluarga yang lebih baik, dari yang ditinggalkan, serta suami yang lebih baik dari yang ditinggalkannya pula. Masukkanlah dia ke dalam surga, dan lindungilah dari siksanya kubur serta fitnah nya, dan dari siksa api neraka." (sumber. wolipop,com).
Pagi menjelang. Terra memanggil ibu-ibu pengajian yang biasa memandikan jenazah. Terra ikut memandikan Romlah. Ia berusaha tegar ketika mengusap tubuh dingin dan kaku itu.
"Pa, Bik Romlah udah pergi ya?" tanya Nai sedih.
Semua anak-anak.menangis dan memanggil nama bibik baik hati itu. Virgou dan Herman datang. Bart juga datang bersama Budiman, pria itu menginap di rumah cucu menantunya dua hari lalu.
"Bagaimana keluarganya, biar bagaimanapun Romlah punya keluarga kan?" tanya Herman dengan wajah sendu.
"Keluarganya tinggal Ani. Romlah adalah janda tanpa anak. Ia memang hanya berdua saja," jawab Haidar dengan wajah sendu.
Air mata pria itu juga tak berhenti mengalir. Ia sangat tahu, siapa Romlah bagi istrinya. Ia pun ingat pertama kali melihat perempuan itu yang selalu bersama Terra di mana pun. Bahkan, kegundahan gadis itu Romlah adalah wanita yang sangat dekat dengannya.
Bart jadi sangat sedih. Selama ia hidup bersama dengan Terra. Ia tak begitu banyak mengenal perempuan yang mengasuh cucunya itu.
"Kau adalah wanita baik, Romlah. Aku yakin, surga adalah tempatmu," sahut Bart.
"Aamiin," ucap, Khasya, Gisel dan Puspita..
Terra lagi-lagi terduduk lemas. Ia berusaha untuk ikhlas akan kepergian Romlah. Ia sungguh berat, melepas kepergian dari Romlah..
Terra akhirnya beristighfar. Wanita itu mulai menenangkan hatinya.
"Bunda benar, Bik Romlah sudah ada di tangan yang benar," sahut Terra lalu mengusap air matanya.
Perjalanan hidup manusia memang akan ada akhirnya. Kematian lah yang mengakhiri hidup dan semua urusannya di dunia.
Romlah di antar ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Sebuah pemakaman umum yang sama dengan makam di mana ayah dan ibu dari Terra dimakamkan.
"Selamat jalan Bi. Allaahummaghfir laha warham ha wa'aafi ha wa'fu anha wa akrim nuzula ha wa wassi' madkhola ha waghsil ha bil maa-i wats-tsalji wal barodi wa naqqi ha minal khothooyaa kamaa yunaqqots tsaubul abyadlu minad danasi wa abdil ha daaron khoiron min daari ha wa ahlan khoiron min ahli ha wazaujan khoiron min zaoji ha wa adkhil hal jannata wa 'aidz ha min 'adzaabil qobri wafitnati hi wa min 'adzaabin naar!"
Terra berdoa ketika liang lahat tertimbun dengan tanah. Semua pengawal memberi penghormatan terakhir pada wanita baik itu. Romlah selalu bertanya tentang kesehatan dan keperluan para pengawal itu.
"Beliau orang yang sangat baik, semoga Tuhan menempatkannya di tempat paling baik," ujar Robert mendoakan.
Pria itu juga sangat dekat dengan Romlah. Wanita itu akan terus bertanya dan melihat keadaan semua pengawal. Bahkan tak segan merawat jika salah satu dari mereka sakit.
Usai memakamkan. Semua keluarga Terra mampir sebentar ke makam kedua orang tuanya. Setelah itu baru lah mereka pulang.
Rumah Terra masih penuh dengan orang berdzikir. Dav yang mengatur semuanya. Beberapa pengawal juga membantu atasan mereka.
"Assalamualaikum," ujar Terra memberi salam.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh!" sahut semua ibu-ibu yang mengaji.
Terra, Lidya, Nai, Arimbi, Maisya, Kaila ikut serta dalam pengajian. Anak-anak Terra dan Virgou bisa mengaji. Bahkan Kean dan Cal sedang melatih diri menjadi qori. Sean, Daud dan Al mengikuti jejak kakak mereka, penghafal Al-Qur'an.
Sedang Satrio dan Dimas, juga memiliki suara merdu dalam mengaji. Semua larut dalam lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an.
Bart memilih pergi ke kamarnya. Ia akan berdoa menurut agama dan kepercayaannya sendiri. Sedang David ikut duduk bersama Haidar dan Virgou. Pria berusia tiga puluh tahun itu tampak khusyuk mendengar lantunan itu.
Bersambung.
ah ...
next?