TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
PEMBELAAN KELUARGA 2



Setelah Herman mengemukakan sikap bisnisnya. Kini giliran Bram maju. Makin pucat lah para pebisnis. Bram merupakan pebisnis paling sukses perusahaannya adalah yang kini dipegang oleh Haidar PT Hovert Group. Perusahan Bermegah Pratama yang kini dikendalikan Rion merupakan anak perusahaan dari PT Hovert Group. Perusahaan besar itu masih banyak lagi anak perusahaan yang bisa dipimpin oleh seluruh keturunannya. Bahkan kurang.


"Saya adalah kakek dari Darren, Lidya dan Rion. Saya pastikan mereka tidak akan mengecewakan siapa pun terbukti mereka menyandang gelar sarjana di usia sangat muda. Bahkan Darren kini tengah mengambil program S3 nya!" seru pria itu.


Hanya itu saja yang pria itu utarakan. Kini giliran Bart maju.


"Halo selamat siang semuanya. Perkenalkan nama saya adalah Bart Dougher Young. Saya adalah kakek dan bibit langsung dari klan Dougher Young satu-satunya!"


Semua mata menatap pria dengan mata biru itu. Pria dengan aura tegas dan arogansi tinggi.


"Saya adalah raja bisnis di Eropa. Silahkan kalian cari siapa itu Bart Dougher Young di Google!" ujar pria itu sedikit sombong.


"Kalian tahu aku dijuluki raja bisnis Eropa. Nyaris semua bisnis aku kuasai di negara ku!" tekan pria itu.


"Aku pastikan Darren Hugrid Dougher Young, Lidya Hugrid Dougher Young dan Rion Hugrid Dougher Young tak akan merebut apa pun yang memang sudah pasti milik mereka. Aku kakeknya memastikan jika seluruh perusahaanku akan dipegang penuh oleh keturunanku!" tekan pria itu lagi.


"Bahkan cucuku Lidya menikahi seorang Starlight! Jika kalian tak mengenalnya, silahkan cari sendiri di Google!" teriak pria itu kesal bukan main.


"Bahkan jumlah mereka masih kurang dari jumlah semua perusahaan yang aku miliki!"


Semua pengusaha bisnis tertunduk malu. Mereka baru saja meributkan pepesan tahu dengan Bart raja bisnis dari Eropa.


"Saya tau sentimen bisnis juga segala intriknya. Tapi perihal pribadi seperti keturunan yang menjabat mestinya bukan masalah besar yang harus diributkan kecuali semua keturunan ku tak layak mendapatkan hal itu!" jelas pria gaek itu.


"Tuan boleh kami melakukan pembelaan!" seru salah satu wartawan.


"Tidak! Kalian salah jika membela diri menentang keputusan internal perusahaan terlebih tidak ada gesekan berarti kecuali terbongkarnya beberapa kecurangan oleh salah satu keturunan ku!" tekan Bart membungkam para wartawan.


Bart pun turun. Sofyan kembali maju dan menutup pertemuan dengan wartawan. Semua sudah jelas. Mereka memang tak memiliki hak untuk mencampuri masalah internal keluarga pemilik perusahaan. Bahkan kinerja semuanya patut diacungi jempol.


"Kak ... hancurkan mereka yang menyakiti semua putra kita!" pinta Terra pada Virgou.


Pria itu mengangguk. Ia sudah mengikat siapa saja yang berusaha ingin menyakiti anak-anaknya.


"Bawa semua anak laki-laki. Kita perlihatkan, siapa itu keluarga Dougher Young!" ujar wanita itu dengan kilatan sadis.


"Sayang," peringat Kanya.


Wanita itu ketakutan setengah mati. Ia baru menghadapi sosok yang begitu lembut kini terpancar aura membunuh yang begitu kejam.


"Sudah tidak apa-apa. Ini untuk keselamatan semuanya," ujar Bram menenangkan istrinya.


Bart menepuk punggung Virgou tanda direstui semua tindakannya.


"Demian, apa kau ingin bersimbah darah?" tanya Virgou dengan tatapan sadis.


Demian tersenyum miring. Ia bukan lah pebisnis baru. Ia sangat paham seluk beluk mafia. Ia dari dulu juga sudah memiliki back up penuh untuk melindungi perusahaannya dari mafia walau ia belum membuat klan khusus.


"Aku siap Daddy. Tadi Daddyku juga memintaku melindungi penuh keluarga ini!" jawab Demian dengan sorot mata tajam.


Virgou mengangguk. Lalu ia menatap Lidya yang menangis sedih. Gadis yang sudah menjadi seorang istri dan wanita itu tentu berat melepas semua saudaranya.


"Sayang," panggil Virgou.


Lidya mendatangi pria itu lalu memeluknya. Ketenangan langsung menyergap hati kelam pria itu.


"Tetaplah doakan kami. Kau tau kan siapa kami semua?" ujar pria itu menenangkan.


Lidya mengangguk. Ia menatap iris biru itu.


"Pulanglah dengan selamat Daddy. Jangan biarkan musuh melukai seujung kuku mu. Iya tak akan menerimanya!"


Virgou mengangguk. Ketika ia tertembak dulu. Memang Rion yang membangunkannya. Tapi, Lidya diam-diam menyembuhkan luka yang membuatnya nyaris kehilangan nyawa itu.


"Jangan khawatir sayang. Daddy minta doanya!" ujar pria itu.


Ia menatap semua putranya. Lalu Darren, Demian, Rion, Kean, Cal, Sean, Al, Daud dan Satrio mengikuti Daddy mereka. Haidar diminta menjaga semua wanita. Gabe dan David pun sama. Mereka diminta menjaga semuanya.


"Ah ... kenapa brother kita itu curang sekali. Bersenang-senang sendiri!" protes David.


"Jangan seperti itu. Apa kau keberatan melindungi dan menjaga kami di sini?" tanya Bart gusar.


Dav dan Gabe hanya tersenyum kikuk. Memang dari dulu tugas mereka adalah menjaga wanita dan seluruh keluarga di rumah.


Virgou membawa seluruh keturunannya ke daerah yang di mana hukum tak berlaku bahkan Budiman juga ikut. Ia sangat tau mafia mana yang bekerjasama untuk meneror keluarganya. Mobil Jeep putih miliknya masuk ke daerah itu. Semua anak buah Rion telah berkumpul di markas mereka.


Semua membungkuk hormat dengan kedatangan ketua mereka.


"Selamat datang Tuan BlackAngel senior dan Tuan BlackAngel Junior!" sambut mereka. Budiman sampai terkaget melihat penghormatan para anak buah Virgou pada tuan Baby nya.


"Tegakkan tubuh. Apa kalian telah mengunci markas BlueStar?"


"Sudah Tuan. Kami mengunci mereka. Kiera adalah anak kemarin sore. Ia terlalu buta jika melawan Klan BlackAngel!" jawab Krenz.


Virgou mengangguk.


"Keluarkan senjata!" titahnya.


Satu boks basoka ukuran sedang dan senjata revolver diserahkan.


"Ambil ini dan aktifkan pelurunya!" titah pria itu lagi pada anak-anak.


Semua mengambil senjata itu. Demian berbinar melihat tangannya memegang senjata. Rion mengambil dua pucuk pistol dan juga tiga boks selongsong peluru aktif.


"Kita berpesta?" ajak Virgou.


Gomesh sudah siap dengan senjata basokanya. Pria itu menaiki Jeep terbuka. Semua anak sudah ada di sana dengan memakai rompi anti peluru.


Setelah di depan markas Klan BlueStar. Gomesh berteriak.


"Hai, Kiera Savias... perkenalkan inilah keluarga Hudoyo yang ingin kau bunuh!"


Gomesh memegang basoka lalu meluncurkannya.


Siiutt ... booom!


Terdengar ledakan keras. Semua yang di dalam berteriak ketakutan. Gomesh dan anak-anak turun mereka membidik dan menghajar siapa pun yang maju menyerang mereka. Virgou dan Budiman hanya memandangi saja sambil bersiap dengan senjata di tangan keduanya.


Satrio menghajar orang-orang yang hendak menyerangnya. Remaja itu sudah terlatih baik bahkan menguasai lima bela diri. Sean juga tak berhenti melayangkan pukulan dan tendangan. Daud pun sama. Justru remaja kalem itu sangat sadis dengan memberondong peluru pada semua musuhnya. Demian, Darren, Kean dan Calvin juga sama. Mereka tertawa-tawa dengan semua sepak terjang mereka. Menghajar dan menembak musuh yang menyerang.


Satrio melumpuhkan setidaknya dua puluh orang. Ia mulai bingung karena semua musuh sudah habis dituntaskan.


"Daddy, apa masih ada lagi?" tanya remaja itu mulai kesal.


"Seret perempuan itu!" teriak Virgou dingin tak menanggapi kekesalan putranya.


Sosok wanita cantik diseret oleh Rion. Remaja itu menjambak rambut panjang Kiera tanpa ampun.


"Kau kasar sekali sebagai laki-laki!" protes wanita cantik itu.


"Aku tak peduli!" sahut Rion.


"Halo Kiera!" panggil Virgou.


Kiera menatap pria dengan sejuta pesona itu. Ia langsung terpukau. Ia hanya mendengar selingan tentang dedengkot klan BlackAngel. Ia tak menyangka jika pria itu sangat tampan.


"Kau tau siapa yang ingin kau bunuh itu atas perintah pria tengik bernama Bruno Volks?"


Kiera menelan saliva kasar. Ia menatap semua anak buahnya yang sudah tewas di tangan pria dingin itu.


"Kau anak kemarin sore. Ayahmu pasti kecewa dengan dirimu ini!" sesal Virgou.


bersambung.


kan ... yang dilawan Monster ... ya gitu deh.


next?