
"Sorry Mister. Here is the daughter of Mr. Ben," (Maaf Tuan, di sini ada putri dari Tuan Ben.) ucap Sofyan memberi tahu.
"What! So I have a granddaughter from Ben?" (apa! jadi aku punya cucu perempuan dari Ben?) tanyanya tak percaya.
Terra tak heran jika keluarga mendiang ayahnya tak mengetahui dirinya. Ayahnya dulu juga tak pernah menceritakan siapa keluarganya. Ia hanya bercerita tentang Nenek Alya, ibu dari bibi Fatma. Nenek Alya adalah ibu angkat ayahnya.
"That's right, Mr. Ben has a daughter named Terra Arimbi Hudoyo!" (iya benar, Tuan Ben memiliki seorang putri bernama Terra Arimbi Hudoyo.) jelas Sofyan lagi.
"Can I talk to her?" (bolehkah aku bicara dengannya?) pintanya memohon.
"Oh no. I want to make a video call!"(oh tidak. Saya ingin melakukan video call!" ralatnya.
Sebuah panggilan video call berdering. Sofyan langsung menerima sambungan video itu. Jantung Terra berdegup kencang. Ia benar-benar gugup.
Seraut wajah pria renta yang masih tampan dengan rambut putih keemasan. Pria itu mirip dengan Ben.
Terra menitikkan air matanya. Di sana tampak senyum lebar. Banyak kehebohan terjadi, hingga tak ayal membuat pria tua renta itu marah.
Terra sedikit tersenyum, ia mengingat rupa Rion ketika marah. Persis dengan pria tua itu.
"Hi, Dear. how are you?" (hai sayang. apa kabarmu?) tanyanya dengan senyuman cerah.
"You are so beautiful!" (kamu sangat cantik) pujinya dengan binaran rindu dimatanya yang biru.
"I'm fine, how are you there?" (aku baik-baik saja, apa kabar kalian di sana?)
"we're fine dear ... hiks ... hiks ... oh my God, you look like him!" (kami baik-baik saja, sayang ... hiks ... hiks ... oh Tuhan kau sangat mirip dengannya!) sautnya dengan suara parau.
Terra juga ikut menangis.
"How cruel it was for us not to know of your existence to this extent!" (betapa kejamnya kami tidak mengetahui keberadaanmu sampai sebesar ini!). ucapnya penuh penyesalan.
Terra menutup mulutnya dengan telapak tangan. Gadis itu berusaha menetralkan isaknya. Nafasnya sesak. Ia tersedu-sedu.
"How we want to hug you now girl!" (betapa kami ingin memelukmu sekarang, Nak!) ungkapnya penuh harap.
"Terra also wants to hug you now!" (Terra juga ingin memelukmu sekarang!).
"Besides what else, honey. You didn't call us all of a sudden like this!" (jadi apa lagi sayang. Kau tak mungkin menghubungi kami mendadak seperti ini?) tanyanya.
"Te will marry soon grandpa," (Te akan menikah segera, Kek!) jawab Terra sambil menghapus air mata dan ingusnya.
"What! who did you marry?" (apa! dengan siapa kau menikah?) tanyanya dengan mimik terkejut. "How old are you?" (berapa usiamu sekarang?)
"Eighteen years," jawab Terra enteng masih menyisakan sedikit sesenggukan.
"You're still so young. You're not pregnant out of wedlock are you??" (kamu terlalu muda. Kau sedang tidak hamil di luar nikah kan?) tanyanya gusar.
"No, Te not pregnant!" (tidak, Te tidak hamil!)
""But grandpa wants to lead you down the altar to the priest!" (Tapi kakek mau menggiringmu ke altar menuju pendeta?). teriaknya tak mau kalah.
"But Te is a Muslim," (tapi,.Te muslim!) jelas Terra.
" I do not believe it. Your father used to be a priestess school here too!" (aku tak percaya, ayahmu dulu sekolah pendeta di sini!) ucap Bart tidak percaya.
"Give this phone to the lawyer!" (berikan telepon ini pada pengacara!)
"Yes sir!' saut Sofyan mengalihkan kamera pada dirinya.
"Is it true that Ben is already a Muslim?" (apa benar ,Ben sudah muslim?) tanya Bart serius.
"Yes sir. Ben Islam when he met me to propose to the mother of your granddaughter!" (benar Tuan. Ben sudah Islam ketika bertemu saya untuk melamar ibu dari cucu anda.) jawab Sofyan tenang.
"That means I can't marry her. All of Ben's brothers are Catholic!" (berarti aku tidak bisa menikahkannya. Semua saudara laki-laki Ben beragam Katolik!). jawab Bart dengan wajah sedih.
"But I want to meet her future husband and attend her wedding," (tapi aku ingin bertemu dengan calon suaminya dan menghadiri pernikahannya!). ucap Bart lagi.
"Can you guys wait, I beg you!" (bisakah kau menunggu. Aku mohon!) pintanya memelas.
Terra mengangguk, Sofyan pun mengatakan persetujuan Terra.
"I also want to tell you about his father. she certainly wants to know right?" (aku juga ingin menceritakan perihal Ayahnya, tentu dia ingin tau kan?) ucap Bart lagi.
Sofyan mengangguk. Tak lama sambungan pun berakhir. Bart akan mengurus paspor juga visa keluarganya untuk berkunjung ke sini. Mereka juga menanyakan adakah bandara khusus untuk dua buah jet pribadi untuk mendarat. Tentu Bram menjawab ada.
Setelah meyakini kedatangan mereka. Haidar hanya tertunduk pasrah. Ia harus menunggu paling cepat satu minggu, agar bisa menikahi gadis pujaannya.
"Yang sabar ya, Mas," ucap Terra menyabarkan Haidar.
Pria itu mengangguk. Ia akan bersabar selamanya jika perlu, untuk menunggu gadis sesempurna Terra.
Bram langsung mengetahui siapa itu Bart Dougher Young. Dia adalah raja bisnis di benua Eropa. Kekayaannya ada di seluruh benua itu.
Bisa bayangkan betapa kayanya Terra ketika mengetahui jika ia adalah turunan dari raja bisnis Dougher Young.
Tiba-tiba telepon dari Aden. Darren mendadak demam setelah berjalan-jalan dengannya ketika mengunjungi perusahaan cyber tech.
Gadis itu langsung panik. Ia yakin jika putranya telah melihat sesuatu yang mengingatkan traumanya.
bersambung.
wah apa yang terjadi yaa ...
next?