TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
APA YANG KAU TABUR ITU YANG KAU TUAI 4



Entah berapa lama, Selena terbujur di brangkarnya. Wanita itu langsung dibawa oleh keluarganya pergi ke luar negeri, untuk pengobatan maksimal.


"Ughh!" Selena bangun dengan tubuh serasa remuk.


Perlahan matanya mengerjap. Suasana putih menyeruak dalam pandangan. Secara samar ia melihat sekelilingnya.


"Sayang, kau sadar!" pekik kegirangan sosok wanita paruh baya yang ia kenali.


"Mommy," panggilnya dengan suara pelan.


Brigitta Wijaya langsung memencet bel. Tak lama, beberapa petugas medis dengan postur tubuh tinggi dan rambut agak kemerahan. Ia menyadari jika ini bukan rumah sakit di Indonesia.


Dokter memeriksanya. Wanita itu seperti kaku di wajahnya. Ia mencoba merabanya. Belum tangannya menyentuh. Dokter menahannya.


"Don't touch it. The wound is still wet. A few more surgeries are needed." (jangan menyentuhnya. Lukanya masih basah. perlu beberapa treatment operasi keseluruhan) jelas dokter.


Selena membaca name tag dokter Richard Kevin. Pria itu memakai masker, jadi Selena tak mengetahui secara menyeluruh wajah dokter itu. Tapi, nampak wajahnya mengulas senyum. Terlihat dari matanya yang menyipit.


"What's with my face?" (ada apa dengan wajahku?) tanya Selena.


"You have twenty percent burns on your left eye and a quarter of your head, Miss!" (wajah anda mengalami luka bakar dua puluh persen dari mata kiri anda hingga seperempat kepala anda, Nona) jawab dokter Richard.


""Can it be fixed?" (apa bisa diperbaiki?) tanya Selena dengan suara tercekat.


"We and the team will try, Miss. Calm yourself!" (kami dan tim akan mengupayakan, Nona. Tenangkan diri anda?) jelas dokter Richard.


"Sayang, Mommy akan berusaha semaksimal mungkin agar kau kembali seperti semula," ujar Brigitta menenangkan putrinya.


Selena terdiam. Ia masih merasakan seluruh tubuhnya sakit. Beberapa bekas luka, di tangan dan kaki masih terlihat memar. Bahkan kakinya mengalami tulang retak.


"Ah, there is one more thing I must explain,"


(Ah, ada satu lagi yang harus saya jelaskan,) saut dokter Richard lagi.


"What else, Dok. Is there even worse news?" (apa lagi Dok? Apa masih ada berita yang lebih buruk lagi?) tanya Selena kini mulai menangis.


"Sorry, Miss. But I have to say this." (maaf Nona, tapi hal ini harus saya sampaikan) jelas dokter Richard dengan nada menyesal.


""You probably won't be able to have children. Your uterus is ninety percent damaged!" (Kemungkinan anda tidak bisa memiliki anak. Rahim anda rusak sebesar sembilan puluh persen!).


Deg!


Penjelasan dari dokter membuat Brigitta menangis. Ia memeluk putrinya. Selena hanya diam. Tubuhnya bergetar hebat ketika mengetahui kenyataan, ia tak akan bisa punya anak.


Satu jam berlalu. Kini ia terbaring sendirian. Ibunya pergi menyusul sang ayah yang sedang pergi ke Manhattan , Amerika.


Ya, Selena kini berada di rumah sakit besar di Newcastle, Amerika. Ibunya membawanya langsung dari Indonesia ke negara adikuasa ini, agar mendapat pengobatan yang terbaik.


Tiba-tiba, Selena tertawa miris dan berakhir dengan menangis. Kelebatan-kelebatan kejadian melintas dalam ingatannya.


Wanita itu ingat. Betapa ia begitu cemburu terhadap Firsha yang selalu berhasil membuat, pria yang ia cintai berpaling darinya.


Selena mengenal Firsha sebagai kekasih gelap Virgou, pria idamannya. Ketika dengan wanita lain. Pria itu masih mau bercinta dengan Selena, kapan pun ia mau.


Namun ketika bersama Firsha. Virgou tak menggubris wanita itu. Ia selalu mengabaikan Selena.


Selena berusaha menjalin persahabatan dengan Firsha. Setiap hari ia mulai mengajak Firsha bersenang-senang. Menghamburkan uang. Ke klub dan mengkonsumsi shabu atau heroin.


Selena mendesak kekasih gelap Virgou itu untuk bercerita. Firsha menceritakan semuanya.


Saat itu ia melihat Darren. Firsha selalu membentak pria kecil itu. Dari kata-kata kasar, juga ancaman pukulan.


"Kenapa kau tidak menyiksanya. Dengan anaknya sakit, tentu suamimu sering pulang kan?' saran Selena.


Firsha pun mengikuti saran sahabatnya. Bertujuan agar Ben selalu pulang dan tak pernah kembali ke rumah istri pertamanya.


Waktu berlalu. Setelah dua tahun, tidak ada yang berubah dari Ben. Pria itu bahkan mulai tak peduli akan kondisi putranya yang disiksa. Selena menyarankan agar Firsha hamil lagi.


"Bagaimana aku bisa hamil?" pekik Firsha waktu itu putus asa. "Dia tak mau menyentuhku!"


"Jebak seperti pertama kau bisa hamil Darren," usul Selena.


Jebakan berhasil. Sayang, Virgou sedang di negara asalnya, Eropa. Pria itu juga seorang CEO.


Nyaris setiap hari, Firsha mencari Selena karena menginginkan barang haram yang selalu Selena terkadang gunakan.


"Aku tak mau hamil atau punya anak. Sepertinya akan merepotkan!" sungut Selena.


"Aku ingin bercinta hingga tua. Itu lebih mengasyikkan," seloroh Selena lagi.


Firsha terkekeh. Ia juga sebenarnya tidak ingin hamil. Tapi apa mau dikata. Jika tidak hamil, Ben tak mau menikahi dan bertahan dengannya hingga saat itu.


Selena kembali menangis tersedu mengingat perkataannya dulu. Tuhan langsung mengabulkan apa yang ia mau.


Bahkan ketika Virgou kembali. Ia sangat marah karena laki-laki itu tak mencarinya, melainkan Firsha.


Hingga suatu pagi, ia membuat Firsha nge-fly. Saat itu lah ia menyuruh seorang montir untuk menyabotase mobil Firsha.


Ben membawa mobil kantor jika pulang ke rumah istri sahnya. Pria itu menaruh mobil sedannya di sini, untuk keperluan Firsha mengantar jemput Darren dari sekolah.


Siapa sangka. Pria kecil itu tak pernah diantar ibunya. Ia harus berjalan kaki. Untung jarak sekolahnya tak begitu jauh. Hanya 300 meter dari rumah.


Sehari setelahnya, ia mendengar kabar jika Firsha tewas dalam kecelakaan itu. Selena senang bukan main.


"Akhirnya. Virgou menjadi milikku!' pekiknya kegirangan.


Selena menangis mengingat semuanya. Ia kemudian histeris. Para medis berdatangan ketika mendengar Selena histeris.


Melihat Selena mengamuk dan mulai mencelakakan diri. Mereka terpaksa menyuntikkan penenang.


Perlahan. Selena mulai tenang dan tertidur lelap.


bersambung.


ah ... Selena ...


next?


buat Readers ... makasih Hadiahnya ... othor jadi terharu