
Bart, Frans dan Leon, langsung iri melihat David dimanja oleh Terra. Wanita itu mencoba mengerti posisi adiknya. Bahkan, ia juga sangat yakin keputusan David memilih mengabdi pada negaranya menjadi salah satu kesatuan militer. Rambutnya sedikit gondrong, karena ia memilih menjadi Intel internasional.
David Leonidas Dougher Young ini memang sedikit nyentrik diantara semua keluarganya. Tentu saja, sebagai tentara yang menyamar ia harus berpenampilan apa saja.
"Kenapa kau membelanya sih?" seru Bart makin kesal.
"Grandpa, please. Dia punya pilihannya sendiri. Sebagai seorang kesatuan yang harus mengabdi pada negaranya," bela Terra.
David langsung memeluk kakak sepupunya itu. Pria itu langsung merengek seperti anak kecil.
"Terima kasih Kak. Kau memang pengertian," ujarnya tulus.
"Tapi tujuh tahun dia meninggalkan kita begitu saja, Te! Untung aku belum mati!' seru Bart kesal.
"Grandpa, please don't say that, proof that you are still alive today," ujarnya.
Terra memukul bahu pria itu hingga meringis. Leon dan Frans senang bukan main.
"Rasakan itu!" seru keduanya.
"Don't talk carelessly. Te, don't like it!" protes wanita itu.
David langsung meminta maaf. Ia pun memeluk kakeknya. Ia meminta maaf pada pria itu.
"Aku benar-benar tidak ingin ditugasi menjadi CEO. Tak kusangka, menjadi tentara malah membuat waktuku habis dan terkurung. Aku benar-benar tak bisa mengakses apa pun selama menempuh pendidikan ku," jelasnya dengan nada menyesal.
Tiba-tiba.
"David!"
Suara nyaring Gisel langsung memenuhi rumah. Dengan menggendong putranya, ia melangkah lebar lalu.
Bug! Bug! Bug! Tiga pukulan mendarat di tubuh kekar pria tampan itu. Samudera sampai menangis.
"Gisel, apa kau sudah tak waras memukuli Kakakmu di depan anakmu!" sentak Terra.
Terra langsung mengambil Samudera dari gendongan Gisel. Kini, gantian ia yang dimarahi oleh Terra. Haidar, Bart, Frans dan Leon hanya jadi penonton saja.
"Tidak bisakah kau tenang sedikit. Anakmu sampai kaget seperti ini!" omel Terra.
David senang dirinya dibela oleh kakak sepupunya itu.
"Kamu juga Dav. Sudah tahu jika kami semua merindukanmu. Kau sama sekali tak memberi kabar. Padahal kau sudah selesai masa pendidikan mu tiga hari lalu. Bahkan kau sudah ada di Indonesia selama dua bulan!" omel Terra panjang lebar memarahi David.
David memang merasa bersalah. Ia bukan lupa menghubungi keluarganya jika ia sudah ada di sini selama dua bulan. Sebuah kejutan ingin ia persembahkan pada keluarganya ketika kelahiran putri pertama Gabriel.
"Maafkan aku. Aku memang salah. Tapi mengertilah ini semua memang jalanku. Pilihanku membuatku jauh dari kalian untuk sementara," ujar David menyesal.
Gisel memeluk Kakaknya. Samudera sudah berhenti menangis. Kini, bayi itu asik memainkan bibir Terra.
"Hai, Sam. Ini aku Uncle Dav," ujar David pada Samudera.
"Pampel Bef?" ulang Sam dengan mimik lucu.
"Ah, the next Rion kah dia?" tanya Dav mengingat kelakuan salah satu putra Terra itu.
Semua mengangguk membenarkan. David pun terkekeh. Ia mengambil Samudera dari gendongan Terra. Tentu saja membuat bayi itu mengamuk karena ia tengah asik bermain.
"Bepastan atuh!"
"Bommy, spasa powang imi!"
"Aku pamanmu anak bayi!" sahut Dav gemas lalu menciumi Sam hingga tergelak.
Kini semuanya duduk di sofa ruang tengah. Samudera kembali tertidur setelah tadi dibawa paksa ibunya hingga terbangun. Mereka bercengkrama.
"Aku sengaja mengambil masa dinas dua tahun setelah masa pendidikanku. Begitu keluar, aku sudah menyelesaikan semua tugas negara. Bahkan sudah pergi ke Afganistan untuk menjadi tentara perdamaian di sana," jelasnya kemudian.
"Jadi, apa karirmu akan kau teruskan di militer?" Dav menggeleng.
"Aku kemarin mengajukan pensiun dini. Setelah berpikir masak-masak. Kalian butuh aku untuk menjalankan bisnis," jawabnya sombong.
Bart langsung memukul kuat-kuat lengan Dav hingga pria itu kesakitan. Terra sampai memarahi kakeknya itu.
"Grandpa, apa kau ingin mematahkan tangannya?"
"Sakit ... kak ... hiks," rengek Dav memang kesakitan.
Bart langsung merengkuh tubuh kekar cucunya. Ia mencium pucuk kepala Dav dengan penuh kerinduan.
David sangat tahu. Tetapi, ia sudah terlanjur masuk dan terikat. Maka ia tak bisa lagi mundur. Makanya ia bertekad untuk menghabiskan semua masa dinasnya tanpa mengambil cuti satu hari pun.
Gisel juga kini bergelayut manja pada kakak laki-lakinya itu. Dav mencium kening Gisel penuh kasih sayang seorang kakak pada adiknya.
"Maafkan aku tak menghadiri pernikahanmu. Juga tak hadir ketika kau melahirkan," pintanya tulus.
Gisel mengangguk. Rion sudah bangun, ia turun dari kamarnya. Menatap pria yang sudah dia lupakan.
"Ma, dia siapa?" tanya Rion.
"Hai baby tentu kau akan lupa padaku. Aku David pamanmu," jawab David langsung.
"Oh," sahut Rion acuh.
David langsung mengerucutkan bibirnya. Ia kesal dengan tanggapan bocah berusia sepuluh tahun itu. Ia pun langsung menarik Rion dan menggelitikinya hingga meminta ampun.
"Ampun ... hahahah ... iya Ion ingat kok Uncle Dav!"
Ternyata Rion hanya menggodanya. Dave pun menghentikan perbuatannya. Terra menyuruh Rion mandi begitu juga Dave.
"Ganti bajumu. Nanti anak-anak bangun, kau sudah segar," titah wanita itu.
Dav menurut. Ia pun pergi ke kamar ayahnya berada. Gisel menuju kamar tamu lain. Ia meletakkan Samudera di sana dan sedikit merebahkan badannya.
Hari mulai menjelang malam. Virgou pun datang langsung memiting leher Dav dan mengacak rambutnya. Hal itu membuat Lidya marah.
"Itu sakit Daddy!"
"Tidak Princess, Daddy hanya bercanda, iya kan Dav!" tekan Virgou gemas akan adiknya itu.
Dav mengangguk. Ia sangat bahagia karena semua menyayanginya.
"Daddy imi spasa?" tanya Affhan.
"Hai Affhan, aku Uncle Dav!"
"Pampel Baf!" ulang Affhan.
"Pambel Daf ... Pahu Tah entau beulbedaan lanit dan pumi?" tanya Maisya.
"Tidak Baby," jawab Dav bingung.
"Ah, Bampel Paf Bayah!" seru Dimas.
"Ah apa ... dia mengataiku payah?" tanya Dav tak percaya.
Herman juga datang bersama anak-anaknya. Ia mendengar jika David datang dan diundang untuk merayakan kepulangannya.
"Iya kau payah. Masa tidak tahu perbedaan langit dan bumi!" seru Herman menimpali.
"Ah, itu toh pertanyaan Maisya," sahut Dav yang tadi tak mengerti bahasa bayi.
"Kalau langit di atas bumi di bawah," jawab Dav pada Maisya.
Gadis kecil itu menggeleng menandakan jika jawabannya salah.
"Pidat lada beulpedaana," jawab Maisya.
"Kenapa bisa begitu?" tanya Dav tak mengerti.
"Tentu tak ada perbedaannya uncle," sahut Nai menimpali.
"Lalu apa persamaannya?" tanya Dav penasaran.
"Jawab baby Maisya," pinta Nai.
"Talo lanit ipu puntut memandan tamu, talo pumi itu puntut bendetatimu," jawab Maisya sambil tersenyum manis.
Dav melongo tak mengerti.
"Jika langit itu untuk memandangi. Sedangkan bumi itu untuk mendekatimu. Itu sebuah rayuan gombal, Uncle," ujar Nai mentranslate perkataan Maisya.
David meleleh. Ia pun mencium kemenakannya. Kini ia juga belajar menggombal seperti Maisya.
bersambung.
nah anak didik Nai ...
next?