TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
KEMBALI JALAN-JALAN



Pagi hari datang. Lidya sudah bugar kembali. Gadis kecil itu terus mengulas senyum dipangkuan papanya. Ia bergayut manja di pelukan pria itu.


Darren juga dipangku Virgou. Pria itu memeluk gemas pria kecil yang kini sudah beranjak remaja itu.


"Sayang, apa sudah ada gadis yang kau incar?" tanya Virgou menggoda.


"Kak!" Terra memperingati Virgou.


"Jangan dengarkan pertanyaan Daddymu, sayang!" lanjutnya.


Virgou tertawa. Darren pun mengulas senyum. Ia senang pria yang dulu ia takuti itu, sekarang berubah. Malah, ia kini sayang dengan Virgou. Darren memeluk erat pria itu, dan mengecup pipinya.


"I love you, Daddy," ungkapnya tulus.


"I love you more and i'm sorry," balas Virgou tak kalah tulus.


Puspita tersenyum mengelus kepala pria kecil itu. Herman yang melihatnya pun iri.


"Kau tak sayangkah padaku, Dar?" Darren tertawa.


Ia pun menghampiri ayahnya. Duduk dipangkuan pria yang juga ia takuti dulu. Hanya porsi takutnya berbeda dengan Virgou.


"Darren juga sayang Ayah," sahut Darren mengecup pipi Herman.


Khasya pun mencium kening Darren sayang. Herman memeluknya gemas. Semua bahagia. Anak-anak bernyanyi sahut menyahut. Rion yang memulai.


"Pada hali senin putulut jalan ke kota. Naik bus besal ku duduk di belakang ... kududuk sama adik-adik yang bawelnya bukan main ... sambil kita goyang-goyang juga bernyanyi!"


Lagu naik delman berbuah total. Gomesh tertawa tertahan. Semua mengulum senyum lebar. Gisel gemas ia pun duduk dekat anak-anak. Mencium semua. Budiman memanyunkan bibirnya. Berharap Gisel menciumnya juga.


"Don't expect more, honey!" ujarnya sambil memalingkan wajah pria itu dengan tangannya.


Gomesh pun tertawa puas. Semua anak-anak memandangnya. Lalu ikutan tertawa. Bus pun sampai. Para bodyguard membuat jalan. Semua menyingkir. Kedatangan keluarga besar Dougher Young menjadi sorotan media.


Kawasan VVIP menjadi tujuan dari keluarga itu. Mereka kembali bermain semua wahana setelah kemarin batal, karena Lidya sakit. Tidak ada badut. Mereka memilih manusia memakai kostum robot atau princess.


Bart didatangi petugas. Ia mengatakan sesuatu dengan berbisik. Bart menyuruhnya menunggu. Pria renta itu pun mendatangi Terra.


"Terra, ada yang ingin menemui Lidya untuk meminta maaf. Pria yang menjadi badut kemarin datang tanpa riasannya," ujar Bart memberi tahu.


Terra pun mengatakan hal itu pada Lidya. Meminta persetujuan gadis kecilnya. Lidya pun mengangguk.


"Papa temenin?" tawar Haidar. Lidya berpikir lalu mengangguk.


Ternyata bukan hanya Haidar yang menemaninya. Herman dan Virgou juga ikut menemani. Sedang Bart hanya menghela napas panjang. Gisel geleng-geleng kepala. Frans dan Leon akan menyusul setelah meeting usai.


Seorang remaja tampan tersenyum pada Lidya. Gadis kecil itu sampai tersipu-sipu. Haidar, Herman dan Virgou memandang horor remaja itu. Tetapi, tak ditanggapi.


"Hi, girl. I'm sorry for yesterday. I don't know that you affraid of clown," ujarnya menyesal.


"it's okay, and i'm sorry I didn't mean to make you sad" ujar Lidya menyesal.


"It's okay. This is for you," ujar pria itu memberi satu tangkai bunga mawar pink.


Lidya menerimanya dengan malu-malu. Lalu sebuah balon berwarna sama diberikan pemuda itu. Lidya menerimanya dengan senang hati.


"if one day we meet again. I wish we weren't strangers. But love and care for each other" (jika suatu hari kita bertemu. aku harap kita bukan orang asing tetapi saling sayang dan saling melindungi satu sama lain.) ujarnya penuh harap.


Lidya mengangguk setuju. Pria itu pun membungkukkan badan.


"I'm Demian Starlight." ujarnya memperkenalkan diri.


"I'm Lidya," sahut Lidya.


"Okay, see next Lidya," ujarnya pamit.


"Ck, sepertinya dia bukan remaja sembarangan," sahut Herman kesal.


"Ya, ya. Dia begitu berani menatap kita yang sudah makan asam garam," timpal Virgou setuju.


"Sepertinya, nama belakang remaja itu aku tak asing lagi," sahut Virgou tiba-tiba merasa tak asing dengan nama starlight.


"Ah, tak peduli siapa dia. Jika menginginkan putri kita, dia harus lewat seleksi dulu," sanggah Herman cepat.


Virgou mengangguk setuju. Mereka berdua pun kembali pada rombongan. Balon Lidya sudah pecah ditangan Kean. Arimbi menjerit ketakutan mendengar letusan itu. Bayi perempuan itu memeluk Gomesh erat.


Bayi pria malah tertawa mendengar bunyi letusan. Rion hanya menggeleng kepala. Ia tak habis pikir kenapa anak kecil suka sekali bermain yang tak penting.


Mereka makan siang di sebuah restoran mewah. Bart memesan ruang VIP. Frans dan Leon sudah menunggunya. Terra menelan saliva kasar ketika memasuki restoran mewah tersebut.


Warna emas mendominasi. Wanita itu sampai pusing kepalanya melihat dekorasi yang begitu indah dan elegan.


Bart memanjakan lidah semuanya dengan makanan lezat dengan kualitas terbaik. Mereka semua pun menikmati santap siang itu termasuk para bayi.


"Te, akan bikin bangkrut Grandpa jika makan terus di sini," ujarnya terkekeh.


"Tidak masalah, sayang. Ini adalah salah satu inventaris kekayaan yang akan diwariskan kepadamu, termasuk wahana tempat kita bermain tadi," sahut Bart enteng.


Terra hanya membelalakan matanya. Ia akan tidak kekurangan entah sampai keturunan berapa. Haidar pun bahagia.


"Aku senang mendengarnya, Grandpa. Ternyata aku tak salah menikahi gadis yang ternyata kaya raya," sahutnya bercanda.


Terra mencebik. Haidar menyambar bibir mancung itu. Sedikit ciuman terjadi. Terra buru-buru melepas ciuman itu sebelum berlanjut lebih jauh.


Haidar terkekeh melihat tingkah istrinya yang masih malu-malu sampai sekarang. Virgou dan Herman mengecup bibir istri mereka. Hanya Frans, Leon, Bart, Budiman dan Gomesh memandang iri.


"Menikah lah lagi, Uncle Frans, Uncle Leon," saran Haidar.


Mereka berdua menolak. Keduanya trauma memilih wanita Eropa. Semua pasti akan berjejer mengantri jika keduanya ingin memiliki pasangan.


"Jangan cari cinta sejati, Uncle. Tapi, jadilah cinta sejati. Seperti aku ini," sahut Virgou. Pria itu mendapat cinta sejatinya.


Bart mengangguk. Ia membenarkan perkataan cucunya itu. Frans dan Leon hanya diam.


"Mungkin nanti," sahut keduanya.


Terra mendoakan kebahagiaan semuanya. Mereka adalah keluarga yang sangat berharga bagi dirinya.


"Anak-anak sudah mengantuk. Apa kita pulang?" tanya Herman melihat anak-anak sudah mulai menguap.


"Nanti malam.ada pesta kembang api. Kita menginap di cottage," ajak Bart.


Lagi-lagi Terra ternganga. Cottage bertulis namanya terpampang di pintu pagar. Ia baru tahu jika ada danau buatan berada di belakang cottage.


"Ah, aku sepertinya tak perlu bekerja lagi, istriku seorang biliyuner," seloroh Haidar.


"Ini titipan Allah, Mas. Suatu saat diambil oleh-Nya," peringat Terra.


"Iya, sayang. Aku tahu," sahut Haidar memeluk pinggang ramping istrinya.


Mereka semua masuk. ada dua puluh cottage di wilayah itu. Beberapa di antaranya bertulis semua nama anak-anak Terra, Virgou dan Herman.


Herman senang dengan hadiah fantastis itu. Khasya pun mengucap syukur.


bersambung.


dan othor kebagian apa Grandpa Bart?


next?