TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
SEBUAH UNGKAPAN



Sosok pria tersenyum penuh arti. Jac mendatangi rumah sakit. Ia mengetahui keadaan ayah gadis itu karena tadi ia sedang melakukan sambungan telepon.


"Hai, assalamualaikum!" sapanya kala itu.


".....!"


"Kau sedang apa? Sudah makan?" tanya Jac perhatian.


Demian berada di ruang tamu bersama Dominic, ayahnya. Sedang Jac ada di kamarnya.


"Aku juga sudah makan," jawab pria itu, sambil bergulingan di kasur.


"Hei ... ada apa? Kenapa kau berteriak?" tanya Jac kemudian ketika ia mendengar keributan di sana.


"......!"


"Apa?"


Jac tak dapat lagi melakukan perbincangan karena Putri telah mematikan sambungan teleponnya. Pria itu bergegas ke luar kamar.


"Hei, ada apa?" tanya Demian kaget.


"Ayah Putri dilarikan ke rumah sakit, aku ke sana sekarang!" ujar Jac lalu meraih kunci mobil.


"Hei kau belum boleh stir mobil!" teriak Dominic mengingatkan.


Tetapi, Jac tak mendengar pria itu. Ia sudah melarikan mobilnya. Jam baru menunjukkan pukul 24.00.


"Syukurlah, masih terlalu pagi untuk berurusan dengan polisi lalulintas," ujarnya lega.


Demian hanya diam saja. Ia pun duduk. Mulai memikirkan bagaimana ia bisa mendekati Lidya. Ia seperti bermain catur dengan langkah terjepit. Jika ia menghindar, maka ratunya mati. Jika ia ke kiri, bentengnya hancur dan jika ia maju maka kudanya pasti tumbang. Demian benar-benar mati langkah.


"Siapa yang kukorbankan?" tanyanya dalam hati.


Ia harus mengarahkan luncurnya agar bisa mendobrak pertahanan lawan.


Sementara di rumah sakit. Setelah bertanya pada pihak resepsionis. Pira tampan itu melangkah lebar menuju ruang. Pintu sedikit terbuka. Makanya ia bisa mendengar dengan jelas percakapan mereka. Jac sudah bisa dan mahir bahasa Indonesia. Begitu juga Demian. Hanya butuh satu tahun mereka mempelajari bahasa.


"Assalamualaikum!" pria itu masuk dan memberi salam.


Semua menoleh, dan menjawab salam. Nania tersenyum ketika melihat pria yang menolong nyawa putrinya.


"Nak, kau ada di sini?" sambutnya semringah.


Jac masuk. Putri gugup bukan main. Ia sangat takut jika pria itu datang melamar dirinya. Walau, sejurus kemudian, ia pun lega karena bukan itu perkataan Jac.


"Saya mendengar keluhan Septian. Kebetulan, saya lah yang mewawancarai kemarin," jelas pria itu.


"Kau lawan saja, dia Sep. Aku yakin, dia nggak punya bukti untuk mendakwa kamu, terlebih ia meminta mahar terlalu tinggi. Kau bisa memakai itu sebagai alasan keberatan dan tidak ingin melanjutkan hubungan," ujar Jac.


"Kau harus banyak membaca undang-undang hukum negaramu sendiri, Sep!" jelas Jac. "Karena jika kau diam saja. Ia mengira bisa menguasaimu dan terus mengganggumu!"


Septian terdiam. Ia memang harus melawan mantan kekasihnya itu.


"Kapan, dia meminta bertemu lagi?" tanya Jac.


"Tiga hari lagi, Tuan," jawab Septian.


"Minta dia temui dirimu besok. Aku akan meminta pengacara membantu mendampingimu. Rekam semua perkataannya, pancing dia dan jadikan itu bukti nanti di pengadilan!" ujar Jac memberi solusi pada Septian.


Pemuda itu tercerahkan. Putri tersenyum. Lagi-lagi pria itu menolong keluarganya. Nania tersenyum lega. Dipto mengucap hamdalah.


"Terima kasih, Nak ... terima kasih!" ujar pria itu tulus.


"Sama-sama Pak," ujar Jac tak kalah tulus.


Pria itu berdiri. Sebenarnya, ingin sekali ia melamar putri saat ini juga. Tetapi, melihat kondisi yang tidak memungkinkan, pria itu urung meneruskan niatnya.


Jac pamit untuk pulang. Septian mengucap beribu terima kasih pada salah satu atasannya itu.


Putri mengantar pria itu. Jac tiba-tiba membalik badannya hingga Putri menubruk tubuh pria itu. Gadis itu hanya setinggi dada Jac.


"Aduh!" Putri mengaduh karena keningnya menabrak dada keras berotot milik Jac.


"Ah ... apakah sakit?" tanya Jacob khawatir.


Pria itu ikut mengusap kening, Putri. Kedua tangan saling menggenggam. Gadis itu mendongak memandang netra kelam di depannya.


Blush! Putri merona, ia menunduk malu. Jac mengangkat dagu gadis itu. Dua netra kembali saling memandang dan mengunci. Napas keduanya menerpa wajah masing-masing. Terasa panas dan menderu.


"Sayang," panggil Jacob mesra.


Makin meronalah wajah sang gadis.


"Semampu Bang Jac aja," jawab Putri lirih.


Jacob tersenyum. Ia yakin akan keputusannya.


"Kapan aku bisa melamarmu, sayang?" tanya Jac lagi serius.


"Terserah, minggu ini juga bisa," jawab Putri.


"Kau yakin, sayang?" tanya Jac memastikan. "Jangan sampai ketika aku datang, kau tiba-tiba membatalkan semuanya?"


Putri terdiam. Jac sangat mengerti. Gadis itu memang harus membicarakan semuanya pada keluarga, terlebih ia adalah warga negara asing.


"Aku tak menjanjikan apa-apa padamu, tapi aku yakinkan, jika denganku, kau akan bahagia, inshaallah!" tekan Jac yakin.


Putri terharu. Baru kali ini ada pria yang sangat menginginkan dirinya. Ia mengira kemiskinan membuat dia jauh dari jodoh. Siapa pria yang mau dengan gadis miskin seperti dia.


"Bolehkah, aku istikharah?" pinta Putri.


Jac mengangguk cepat. Pria itu juga akan melakukannya. Ia pun memeluk gadis yang sangat ia sukai. Lalu mengecup keningnya.


Putri seketika kaku. Ini pertama kali dirinya dicium oleh lelaki lain. Jac yang kelepasan langsung meminta maaf.


"Aku akan ke orang tuamu sekarang dan meminangmu!" ujar Jac tegas.


"Jangan ... sudah tidak apa-apa," ujar Putri lalu menunduk dengan pipi memerah.


"Tidak, sayang ... aku harus melamarmu, sekarang," ujar Jac lalu melangkahkan kakinya menuju ruang inap ayah gadis itu.


Putri berlari menyusulnya dan hendak menahan pria itu. Tetapi, ia kalah cepat.


Beruntung, sang ayah dan ibu sudah tertidur. Septian pun telah merebahkan dirinya di sofa. Jac urung mengutarakan niatnya.


"Ah, tau tadi aku lamar kamu langsung!" keluh Jac kesal.


Putri terkekeh. Ia menarik pria itu menjauh agar tak mengganggu. Ia juga sudah lelah, gadis itu menguap lebar.


"Kau lelah, sayang?'' Putri mengangguk.


Tangannya belum lepas mengait lengan pria itu. Jac senang bukan main. Ia seperti berangkulan mesra dengan Putri.


"Abang, pulang ya. Hati-hati di jalan," ujar gadis itu.


"Baik, sayang. Terima kasih. I love you," ujar Jac lalu masuk ke mobilnya.


Putri tersenyum malu. Ia tak menjawab pernyataan Jacob. Pria itu menahan dengan menggenggam jemari gadisnya.


"Sayang!" pinta Jac.


"I love you too," jawab gadis itu malu-malu.


Jac tersenyum. Putri melepas genggaman pria itu. ia membalik badannya. Putri meraba dadanya yang berdetak begitu cepat. Tiba-tiba tubuhnya ditarik hingga ia berputar dan dipeluk erat. Pelakunya adalah Jac.


"Abang," panggil Putri.


"Panggil aku, sayang ... please," pinta pria itu.


Lagi-lagi Putri merona. Ia setengah mati menahan malunya. Tapi, bibirnya mengucap kata yang diminta pria itu.


"Sayang."


Jac akhirnya mau melepaskan Putri. Ia pun melesatkan kendaraannya. Gadis itu meraba lagi jantungnya. Bunyi dentuman keras teraba. Menutup matanya, wajah pria yang memeluknya tadi terlintas dengan senyum indahnya.


"Ba bowu, Abang Jacob!" ungkapnya jujur.


bersambung.


aaaahhh ... othor baper!


next?