
Menjelang hari kelahiran. Gisel semakin manja pada ibu mertuanya atau pada Terra. Hanya pada dua wanita itu Gisel ingin perutnya dielus.
Hingga ketika ia merasa kontraksi hebat pada perutnya. Ia merintih kesakitan. Budiman terus menyemangatinya berada di sisi sang istri. Entah berapa kali cengkraman dan cakaran berlabuh di tangan pria itu. Budiman merelakannya.
Sebenarnya pria itu sangat takut dengan kelahiran putranya itu. Budiman meminta Virgou yang menemani Gisel bersalin nanti.
"Saya nggak kuat, tuan. Tolong saya!" pintanya memohon.
Virgou akhirnya tak tega karena melihat pria tegap itu nyaris pingsan dengan wajah pucat.
Bart, Frans dan Leon juga sudah ada di rumah sakit. Jika Gisel bosan melihat suaminya. Ia meminta Bart yang menemaninya, atau Frans, bahkan ayahnya juga ikut andil menemani. Virgou masih terus bersama adik sepupunya itu
Semakin lama kontraksi makin cepat datang. Gisel semakin mengerang kesakitan. Dokter yang ada di sana langsung mengetahui jika pasiennya akan melahirkan. Ia pun menyuruh Gisel untuk berbaring.
"Coba Bunda, kita periksa dulu ya," ujar dokter kandungan wanita yang menangani Gisel pertama kali mengandung.
Dokter meraba letak bayi dalam kandungan Gisel. Ia mengangguk puas. Lalu meletakan kakinya dalam posisi mengangkang. Air ketuban sudah pecah. Dokter menyuruh Gisel melakukan olah napas embus dan dorong. Virgou ada di sisinya menyemangati Gisel.
"Ayo sayang atur napas, tarik ... dorong yang kuat!"
Hanya butuh waktu sepuluh menit, bayi laki-laki lahir dengan selamat. Virgou terharu. Budiman dan Gisel sah menjadi orang tua. Keduanya menangis bahagia. Budiman mengadzani putra pertamanya setelah dibersihkan.
Sedang di ruang tunggu nampak semua orang berteriak penuh kelegaan ketika mendengar suara bayi menangis.
"Aku sudah menjadi buyut!" pekik Bart dengan suara tercekat.
Leon pun menangis haru. Ia memberi kabar pada mantan istrinya jika ia sudah menjadi seorang nenek. David yang tengah bekerja di perusahaan Virgou pun merasa bahagia dirinya menjadi seorang paman.
Bart memeluk Fery dengan tangis haru. Sedang Mia tak berhenti mengucap syukur. Terlebih dokter tadi keluar menyatakan ibu dan bayi dalam keadaan sehat.
Kini, ibu dan bayi sudah ada di ruang perawatan. Gisel tengah menyusui putranya dengan penuh kasih sayang. Usai menyusui. Budiman meletakkan bayi itu dalam boxnya.
Ruangan ekslusif menjadi ruang rawat inap beberapa hari ke depan Gisela dan putranya. Semua keluar masuk untuk menengok putra pertama Budiman itu.
"Wah, alhamdulilah, putranya mirip Gisel," ujar Haidar bercanda.
"Apanya, bayi itu mirip denganku," sengit Budiman.
"Ck ... kasihan sekali putramu jika mirip denganmu," ledek Haidar.
"Hei ... aku ganteng ya!" elak Budiman kesal.
"Ck ... ya ... ya, jika tidak mana mau adikku menikah denganmu," sahut Haidar lagi.
"Mana kulihat jagoanku?" ujar Virgou kini. "Ah, kau benar Dar. Jagoan ini lebih mirip Gisel dibanding Budiman!"
"Aku rasa pria itu hanya menyumbang benih nya saja, untuk menghadirkan jagoan ini," sindir Virgou sengit.
Dua lawan satu. Budiman tentu tak mau kalah. Ia hendak menyaut ledekan dua pria menyebalkan itu.
"Yang penting itu hasil kreasiku berdua dengan Gisel," sahutnya bangga.
Sedang yang lain hanya memutar mata malas mendengar perdebatan tiga pria itu. Ponsel Terra berdering. Sebuah permintaan video call dari Lidya.
Terra langsung membulirkan gambar kamera di layarnya. Seraut wajah dengan senyum manis menyapa.
"Assalamualaikum, Ma. Apa baby-nya sudah lahir?" tanya Lidya dengan mata berbinar.
"Sudah, sayang," jawab Terra. "Mau lihat?"
"Mau, Ma!" pekik Lidya di sana.
Terra mengarahkan ponselnya pada bayi yang masih merah. Seakan merespon siapa yang ingin melihatnya. Bayi itu membuka mata.
"Hai!" sahut bayi itu.
Semua terpana mendengar suara bayi itu. Suara pertama yang ia perdengarkan ketika melihat Lidya.
"Hai Baby, I love you!" pekik Lidya dengan raut wajah gembira dan mata berkaca-kaca.
"Hai Baby, ini Kakak Rion!"
"Ba ... bowu!"
Lagi-lagi semua terkejut. Kata-kata pertama untuk Rion. Sedang di sana Rion bersorak kegirangan.
"Baby, nanti Kakak Rion ajarin ngomong ya!" sahutnya antusias.
"Om Pudi mana, Ma?" tanya Rion.
Terra mengarahkan kamera pada ibu dan ayah baru. Wajah Lidya dan Rion saling berhimpitan di layar. Rion tentu tak mau kalah dengan Kakaknya. Belum lagi terdengar suara adik-adik mereka yang berteriak ingin juga melihat bayi.
"Al mawu pihat payi!'
"Nai judha!"
"Sean pulu!"
"Paud!"
Budiman dan Gisel terkikik geli melihat keributan di layar. Semuanya ingin melihat bayi. Hingga kamera pun mati. Terra menggeleng, ia yakin di sana Rion yang akan marah pada adik-adiknya yang tidak sabaran.
Terra menyimpan lagi ponselnya. Jam besuk sudah usai. Semuanya pun pulang dengan perasaan bahagia. Kedua orang tua Budiman masih di sana, menemani anak, menantu dan cucu mereka.
Bart, Leon dan Frans pulang ke rumah Gabe. Sedang Virgou pulang bersama Terra dan Haidar. Pria itu tadi datang dengan taksi daring ketika Budiman memintanya datang untuk menemani adiknya melahirkan.
"Kak, apa benar Kak Puspita hamil lagi?" tanya Terra penasaran.
"Iya, kemarin kami baru saja melakukan cek. Ternyata, istriku sudah hamil tiga bulan," jawab Virgou bangga.
"Iya, bukan hanya kamu yang akan memiliki anak. Ayah Herman juga," sahut Haidar.
"Kalian itu ternyata saling bersaing dalam memiliki anak," ledek Haidar.
"Ya, kami tak mau kalah dengan jumlah pasukanmu," sahut Virgou lagi.
Haidar pun mencebik. Tak akan ada yang bisa mengalahkan pasukannya. Anaknya ada tujuh.
Ketika sampai rumah, Virgou minta makan, ia lapar.
"Aku tadi tidak sempat makan siang. Buru-buru Budiman ngabarin aku kek aku ini punya pintu Doraemon " begitu alasannya dengan nada sedikit kesal.
Tentu saja dengan senang hati, Terra melayani kakaknya makan. Haidar pun menemaninya makan.
Ting! Sebuah notifikasi chat di grup family. Herman memposting foto USG dua janin. Terra langsung mengucap syukur.
"Mashaallah ... ayah akan memiliki anak kembar lagi. Kemungkinan bayinya sepasang lagi," jelas Terra dengan wajah penuh syukur.
Virgou dan Haidar pun tertawa lepas. Mereka benar-benar akan memenuhi dunia dengan keturunan mereka. Terra mengusap perutnya yang rata. Sudah empat tahun ia melahirkan. Tetapi, ia belum lagi dikarunia anak lagi.
"Sabar, sayang. Mungkin anakmu memang hanya segini," ujar Virgou menenangkan.
Terra hanya tersenyum. Ia pun tak mempermasalahkan. Hanya saja, mungkin akan seru jika ia diberi kepercayaan lagi memiliki anak.
"Nanti kita buat ya, yang dalam. Biar jadinya langsung dua," sahut Haidar dengan senyum mesumnya.
"Aamiin!" Virgou langsung mengamini perkataan Haidar.
Terra hanya bisa mengamini dalam hati, sambil mengusap perutnya.
bersambung.
aamiin mudah-mudahan dikabulkan ...
next?