TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
MENDADAK ISTRI 2



Dengan berani Darren mencium bibir istrinya. Saf terkejut bukan main. Ia berusaha melepas ciuman pria itu.


"Mas ...!" peringat Saf menghentikan ciuman.


Napas pria itu menderu. Sungguh insting pria Darren bangkit. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Tubuh Saf kini sudah ada di bawahnya. Darren mengusap wajah istrinya. Dua iris berbeda saling tatap. Saf benar-benar tak percaya jika ia sudah menjadi seorang istri dari pria yang memang sudah memenuhi mimpinya.


"Padahal, baru kemarin aku shalat dan memintamu jadi pendamping hidupku. Siapa sangka jika Allah langsung mengabulkan doaku," ungkap Saf jujur.


Darren mengecup lembut kening istrinya.


"Ketika pertama kali bertemu, aku pastikan diriku memang jatuh cinta padamu, sayang," akunya.


"Padahal aku sudah terikat pertunangan dengan Aini. Tapi, memang bukan jodoh bahkan kami tak mendapat kuota tanggal untuk menikah. Malah dia berjodoh dengan pengawal terbaik. Aini lebih pantas dengan Kak Gio," jelas Darren panjang lebar.


Saf mengusap rahang kokoh pria di atasnya. Dada keduanya saling menempel hingga detaknya terasa. Napas keduanya saling menyapu wajah masing-masing. Kembali, Darren mencium bibir istrinya, kali ini lebih dalam bahkan lidahnya menerobos masuk dan mengabsen rongga mulut gadis itu. Darren tak pernah berciuman sebelumnya, pria itu hanya mengikuti naluri kelelakiannya. Saf hanya pasrah, ia juga tak tau harus apa, gadis itu mengikuti suaminya. Tangan pria itu mulai bergerak menyusup.


"Ata'Babitli!"


Teriak Sky di luar kamar Darren. Saf langsung menghentikan aksi suaminya. Napas keduanya menderu.


"Ata'Babitli!" pekik Sky lalu menangis.


Darren cepat-cepat turun dari ranjangnya. Sedang Saf lalu membenahi pakaiannya. Ia juga turun dari ranjang.


"Baby!" panggil Darren pada Sky.


Bayi itu langsung menatap pria yang menjulang di depannya. Sky langsung masuk dan minta gendong kakak perempuan kesayangannya.


"Ata' hiks ... hiks ... tenapa eundat bobo syama Spy?!" tanya bayi itu sambil terisak.


Darren garuk-garuk pelipisnya. Budiman datang menghampiri. Menepuk bahu tuan mudanya.


"Makanya tunggu malam," ledek pria itu.


"Baba," cicit Darren kesal.


"Cuci mukamu, celanamu mengembung," bisik Budiman sambil terkekeh dan meninggalkan Darren yang malu bukan main.


Saf memilih meninggalkan kamar sambil menggendong Sky. Darren hanya bisa menghela napas panjang. Mungkin benar kata Baba nya. Ia harus menunggu malam.


"Spy mawu bandi syama Ata' Babitli!" pinta bayi itu.


Mereka masih di mansion Bram. Saf memandikan semua anak balita. Bahkan juga Kaila, Maisya, Arimbi dan Nai.


"Arimbi sama Nai juga mau dimandikan Kak Saf?" tanya Khasya tak percaya.


"Iya Bunda, kita mau dimandikan sama Kakak. Udah lama kan Bunda nggak mau mandikan kita," jawab Maisya.


Saf pun dengan senang hati memandikan para anak gadis. Kaila si cantik bermata biru juga senang bahkan minta gendong gadis itu. Saf yang memang penyayang menciumi Kaila.


Semua sudah wangi. Baju Saf yang basah tak bawa salin. Gadis itu meminta pulang ke rumahnya.


"Saf pulang ya. Mau nyalain lampu juga trus ganti baju juga," pamitnya.


"Ya, sudah sekalian kita pulang juga," ujar Virgou.


Semua akhirnya pamit ke rumah masing-masing. Sky, Benua, Bomesh dan Domesh sedih karena berpisah dengan Saf.


"Nanti, kita sering main Baby," janji Saf.


Tentu saja, Saf sudah menjadi bagian keluarga mereka sekarang. Terlebih gadis itu juga harus membuat laporan jika dirinya sudah menikah dan meminta berkas kepengurusan untuk pernikahan.


Darren menyetir mobil gadis itu dan langsung pergi ke rumah RT dan RW setempat untuk melaporkan mereka sudah menikah.


"Jadi kalian sudah menikah tadi siang?" tanya Pak RW ketika menulis data laporan.


"Benar, Pak. Ini buktinya kalau kami sudah menikah," ujar Darren memberi bukti surat tanda menikah dari petugas KUA.


"Wah, selamat ya, Nak Saf dan Nak Darren. Semoga pernikahan kalian sakinah mawadah warahmah," ujar pria itu memberi selamat.


Pria itu pun bersalaman dengan dua pengantin. Darren dan Saf pun pamit setelah memberi laporan.


"Mas, udah adzan, kita shalat dulu yuk," ajak Saf ketika keluar dari kamar mandi.


Darren mengangguk. Usai berwudhu, mereka pun shalat. Saf mencium punggung tangan suaminya setelah mengucap salam terakhir.


"Sayang, aku lapar," ujar Darren.


Saf merona dipanggil sedemikian mesra oleh suaminya. Gadis yang telah menjadi istri dadakan itu pun bersiap memasak makan malam.


Sementara di rumah. Terra menatap kursi di mana Darren selalu duduk. Kini bangku itu kosong. Lalu ia menatap Lidya di sebelah bangku kosong itu. Ada rasa sedih pada wanita itu. Satu persatu anaknya pergi karena telah memiliki keluarga baru.


"Sayang," panggil Haidar..


"Nanti hanya tinggal kita berdua saja," cicit wanita itu.


"Kita akan berkumpul lagi nanti di Jannah, inshaallah," sahut Haidar..


"Mama, kenapa sedih?" tanya Rasya.


"Tidak ada sayang," jawab Terra lalu menyuruh semuanya makan.


Usai makan semua kembali masuk kamar masing-masing. Bart kini menginap di rumah Terra. Pria itu sedari tadi diam. Ia juga kehilangan Darren di meja makan.


"Kenapa begitu cepat mereka besar Te?" tanya Bart ketika melihat album foto.


Terra duduk di sebelah kakeknya itu. Ia juga menatap foto-foto itu. Rion ketika baru berusia satu tahun. Terra tersenyum melihat kenangan itu. Waktu awal-awal pernikahannya, tidak begitu berat dan rumit selama mau berdiskusi. Lagi pula Terra bukan lah wanita yang manja dan bergantung pada laki-laki.


"Aku jadi semakin tua, Terra," ujar Bart lalu menutup album.


Terra menenggelamkan dirinya dalam dada pria tua itu. Bart masih gagah diusianya yang mau ke delapan puluh.


"Aku ingin menyaksikan pernikahan cucu-cucu ku. Tapi, aku yakin perjalanan hidupku sebentar lagi," ujarnya dengan suara berat.


"Grandpa," rengek Terra.


Haidar pun duduk di sisi pria tua itu. Ia juga ikut merebahkan dirinya pada Bart.


"Tolong jaga semuanya. Tetaplah seperti ini ketika aku pergi nanti," ujar Bart sendu.


"Kau akan sehat terus, Grandpa!" sahut Haidar berat.


"Jangan bergurau sayang. Aku sudah mau delapan puluh tahun. Sebentar lagi waktuku. Aku hanya meminta pada Allah agar tak menyusahkan kalian dengan segala penyakit tuaku," kekeh pria itu.


"Jika aku pergi nanti. Tolong makamkan aku satu liang dengan ayahmu, Terra," pinta Bart lagi.


"Grandpa ...."


Bart mencium dua manusia yang menyandar manja padanya. Pria itu sudah yakin jika dirinya akan berpulang sebentar lagi.


"Aku ingin mati dipangkuan Virgou," pinta pria tua itu.


"Aku ingin dia tahu kalau aku sangat menyayanginya dan begitu menyesal telah menyengsarakannya dulu," ujar pria itu lagi.


"Grandpa, please ... sebentar lagi adalah hari bahagia salah satu cucumu, tolong jangan katakan itu," pinta Terra dengan suara tercekat.


"Aku juga berharap, hingga Arraya menikah. Aku baru mau mati. Tapi, itu tak mungkin sayang," kekeh pria itu lagi.


"Tapi, aku berharap bisa menyaksikan Lidya menikah itu sudah cukup bagiku," harap Bart.


"Aamiin ... Te, berharap Grandpa, Papa, Mama dan Ayah sehat terus selamanya ... aamiin!" doa Terra.


bersambung.


Aamiin ...


tapi yang hidup pasti mati.


next?