TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
SEKELUMIT KISAH



Darren baru saja mengantarkan ketiga tamunya ke hotel tempat mereka menginap. Ia kembali ke perusahaannya. Tiba-tiba ia melihat seorang gadis mencoba menolong beberapa pengendara yang jatuh akibat jalanan licin. Terjadi hujan lokal tadi.


Pria itu menepi. Budiman yang mengikuti juga menepikan kendaraannya. Mereka keluar dari mobil membantu gadis itu menolong orang-orang yang mengalami pincang. Karena banyaknya korban berjatuhan. Jalanan macet. Polisi belum tiba ke lokasi. Para warga menghentikan laju mobil karena banyak motor yang berjatuhan.


Beruntung Darren menggunakan sepatu karet, jadi ia tak akan terpeleset. Gadis berkacamata, mengenakan hijab warna biru dan gamisnya kotor karena terkena becekan.


"Aaarrggh ... kaki saya!" pekik seorang ibu.


"Tahan ya Bu. Sepertinya kaki ibu terkilir," jelas gadis itu.


Setelah beberapa orang berhasil menenangkan diri. Sebagian.mereka pun kembali ke motor mereka yang dijaga oleh warga yang ikut menolong.


"Makasih Mba, Mas, Pak, Bu!" sahut para korban pada Darren, Budiman dan gadis itu juga para warga yang telah menolong mereka.


Hanya luka-luka ringan. Polisi datang setelah sudah aman terkendali. Mereka mengucap terima kasih karena telah membantu pekerjaan mereka.


"Makasih ya Pak, telah membantu," ujar gadis berkacamata itu sambil tersenyum.


Ada lesung pipit samar di sebelah kiri pipinya. Darren tertegun sejenak. Budiman memperhatikannya. Gadis itu pun kembali ke klinik yang tak jauh dari tempat itu.


"Pak maaf. Bapak kenal sama Mba yang tadi?' tanya Darren pada salah satu warga yang ikut membantu.


"Oh Neng Dokter Aini Citra," jawab warga. "Itu dokter baru Praktek. Masih muda, baru dua puluh tahunan sudah jadi dokter!"


Darren mengangguk. Ia membaca plat klinik yang ada di depan. Membaca nama beberapa dokter praktek. Tercantum nama "dr. Aini Citra." dokter umum dan sederet nomor ijin prakteknya.


"Tuan!" panggil Budiman.


"Baba," rengek pemuda itu.


"Kerjaan masih banyak Tuan muda!" tegur Budiman sambil memutar mata malas.


Darren mengerucutkan bibirnya. Pemuda itu pun menaiki kembali mobilnya lalu berlalu dari tempat itu diikuti oleh Budiman.


Sementara, Aini nampak baru keluar dari kamar mandi. Ia mengganti gamis dan hijabnya yang kotor karena terkena becekan. Setelah meletakan pakaian kotornya di plastik. Gadis itu membuka kacamatanya. Ia harus ke rumah sakit besar. Setelah praktek pagi di klinik ini. Ia harus melanjutkan pekerjaannya di sebuah rumah sakit Medica Pratama.


Dengan sepeda motor matic, ia pun pergi ke rumah sakit itu. Butuh waktu setengah jam untuk sampai rumah sakit. Ketika sampai ia langsung dihadapkan pada situasi sibuk.


"Dokter cepat tolong. Ada beberapa pasien yang mengalami kecelakaan dan sebagian ada di luar dan butuh pertolongan pertama!" teriak salah satu rekannya.


Dengan sigap gadis itu pun menolong para korban yang ada di lorong-lorong rumah sakit karena tidak tertampung.


"Dokter Lidya, bisa minta tolong. Kami kekurangan tenaga!" teriak salah satu dokter.


Lidya yang baru saja datang dan memang kosong jadwal langsung membantu. Selama dua jam mereka mengobati beberapa luka ringan bahkan luka berat. Banyak teriakan kesakitan dan tangisan. Lidya menenangkan mereka.


Akhirnya, semua bisa ditangani. Para korban kini sebagian sudah pulang karena hanya luka ringan sedang sebagian harus menjalani perawatan.


Aini menatap Lidya. Keduanya saling pandang dan lempar senyum. Lalu Gadis berkacamata itu pun memperkenalkan diri.


"Perkenalkan Dok, saya Aini, baru pindah dari puskesmas di desa B. Mengadu nasib di sini."


Lidya terkekeh. "Saya Lidya. Baru lulus dua minggu yang lalu."


Mereka pun bersalaman. Aini pun baru tahu jika Lidya adalah dokter termuda di dunia. Tadinya ia mengira dirinya lah yang termuda, menjadi dokter di usia dua puluh tahun. Kini usianya dua puluh satu, ia sudah jadi dokter satu tahun lalu.


"Dokter Lidya pasti genius banget. Secara dia juga ahli kejiwaan anak-anak," gumamnya memuji.


Sore hari Lidya pulang cepat, ia harus pergi ke lembaga mandirinya untuk memberikan treatmentnya. Gio dan Juan yang bersamanya sampai memperingati nona mudanya.


"Nona. Jangan terlalu lelah. Kesehatan anda jauh lebih penting."


"Iya Om Gio. Iya juga hanya sebentar untuk mengecek saja, kasian mereka juga butuh perhatian dari Iya," jawab Lidya.


Aini yang juga baru saja menyelesaikan prakteknya bertemu dengan Lidya.


"Oh mau ke jalan xxx," jawab Lidya.


"Saya tinggal di sekitar sana loh Dok. Mau mampir?" ajaknya.


"Wah ... terima kasih. Saya juga punya rumah di sana yang saya jadikan tempat pengobatan pasca trauma kekerasan ....."


Mereka mengobrol sambil berjalan. Lalu berpisah di kendaraan masing-masing. Selama dua puluh menit, mereka pun sampai ke tempat tujuan. Aini baru tau adanya rumah untuk penanganan anak-anak yang mengalami trauma pasca kekerasan. Aini yang juga sebagai dokter ingin ikut bergabung dalam lembaga mandiri itu.


"Tapi di sini nggak dibayar loh, Dok!" jelas Lidya takut-takut.


"Saya jadi dokter bukan cari uang kok Dok. Tapi, memang ingin membantu menjaga kesehatan masyarakat yang membutuhkan," jawabnya lugas.


Lidya pun tersenyum. Entah mengapa hatinya merasa jika gadis yang ada di depannya ini cocok untuk kakak laki-lakinya, Darren.


Usai ke tempat Lidya. Kini gadis itu menuju rumah sewa Aini. Lidya hanya sebentar. Setelah itu ia pun pulang karena memang gadis itu sudah berkali-kali ditelepon ayahnya.


Sedang Darren yang sudah pulang tampak ditekuk mukanya. Ia masih kesal dengan baba-nya. Haidar sampai heran.


"Kenapa dia?" tanyanya pada Budiman.


"Ada cewe cantik tadi. Terus dia ngambek karena aku suruh kerja, karena berkas numpuk," jawab Budiman.


Haidar hanya menghela napas panjang. Darren masih cemberut, tapi kemudian ia pun meminta maaf ketika Terra menegur pemuda itu.


"Nggak baik, marah sama orang tua!"


"Emang cantik ya, cewenya?" tanya Terra pada Budiman.


Budiman menunjukkan dua ibu jarinya ke atas. Menandakan best quality. Terra kemudian tersenyum. Kini Darren jadi malu setengah mati.


"Eh .. Ata' Sean, Ata' Sean ... ipu penata Ata' Dallen mutanya beulubah walnana?" tanya Kaila.


"Masalah hati," jawab Sean.


"Emana bati Ata' Dallen tenapa?' tanya Rasya ingin tahu.


"Yaa kalo nggak jadi kayu yang patah atau lagi ditumbuhi bunga bernama cinta," sahut Rion.


Darren mengempit leher adiknya dengan menggosok ketiaknya di hidung Rion.


"Mama ... kak Darren nih!' adu Rion. "Masa ngasih ketek ke Ion!"


"Wangi kan?' sahut Darren.


"Iya sih," jawab Rion lalu memburu ketiak kakaknya untuk dicium.


Darren sampai berlari. Rion menyeru pada pasukannya.


"Babies ... kejar Ata' Dallen dan kita gelitiki dia!"


"Biap Ata' Ion!" seru Rasya, Rasyid, Kaila, Samudera, Dewa dan Dewi bersamaan.


Darren pun sampai lari tunggang langgang. Sayang kemana pun ia lari akan tertangkap oleh pasukan Rion yang banyak itu. Pemuda itu sampai tertawa lemas karena s


digelitiki oleh para balita.


bersambung.


aih .. aih ...


next?