TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
PASUKAN BERSAUDARA



"Mama nggak setuju!" tolak Terra.


Wanita itu menolak keinginan anak perempuannya untuk mengurusi pemuda bernama Kevin.


”Ayo lah, Ma!" pinta remaja cantik itu.


"Ini hanya masalah kecil. Mama nggak perlu main buang orang," ujar Nai sedikit kesal.


"Baby!" tegur Rion.


Nai terdiam. Tapi, ia juga punya solusi untuk mengatasi permasalahan ini sendiri. Sedang Terra terdiam ketiga putrinya menyinggung persoalan buang-buangan tersebut. Wanita itu pun mengerucutkan bibirnya.


"Ma, Pa, Daddy, Baba ... please, untuk kali ini saja," pinta Nai.


"Baiklah, Daddy akan membiarkan kamu menyelesaikan masalah ini ala kamu," putus Virgou.


"Makasih, Dad," ujar remaja cantik itu.


Terra sedikit keberatan. Virgou tetap pada pendiriannya. Haidar mengikuti apa perkataan dari kakak iparnya itu.


"Sudah, biarkan saja. Kita awasi dari jauh," ujar suami Terra itu.


Terra akhirnya mengangguk. Darren pun hanya mengikuti apa perkataan orang tuanya.


Ke esok paginya. Nai akan mendatangi Kevin. Gadis itu meminta Gomesh mengawasi dirinya secara sembunyi.


"Tapi, Nona Baby!" pria raksasa itu masih berat mengiyakan permintaan gadis itu.


"Om ... please," pinta gadis itu memohon.


"Ok, Om akan mengawasi tanpa kau ketahui," ujar Gomesh.


Nai tersenyum. Arimbi dan Daud tadinya ingin bersama saudaranya itu. Tapi, Nai melarang mereka.


"Kita akan tetap bersama, Nai!" ujar Arimbi bersikeras.


"Iya, kan dia nyerang kita bertiga," ujar Daud juga tak mau kalah.


Nai memberengut. Ia terus meminta dua saudaranya untuk tidak ikut campur urusannya.


"Please. Aku minta kali ini, biar aku yang urus masalah ini!"


"Nai, kita ini saudara satu kandungan, lahiran di hari yang sama!" tekan Daud.


"Kamu terluka. Aku juga terluka, karena kita makan di satu ari-ari yang sama!" lanjutnya.


Nai diam. Ia masih ingin menyelesaikan sendiri. Sean dan Al juga datang, mereka berdua telah minta ijin. Tak lama Kean, Cal, dan Satrio muncul. Makin lemas lah Nai.


"Kok jadi rame gini sih!" keluh gadis itu.


"Nai, kita ini saudara. Kamu maju, kita di belakang kamu untuk bersiap!" ujar Kean tegas.


Melihat kengototan saudara-saudaranya. Akhirnya mau tak mau Nai menemui Kevin bersama para saudaranya.


"Kevin!" panggil Nai.


Pemuda itu menatap gadis yang memanggilnya. Ia cukup terkejut dengan orang-orang yang wajahnya nyaris mirip semua itu. Bahkan ia terkejut jika dua di antara mereka ada yang bermata biru.


"Kamu bawa pasukan?" tanya Kevin meledek.


"Sayangnya iya. Kenapa? Kamu ngiri ya karena nggak punya saudara?" Nai balik meledek.


Kevin mengepal tangannya erat. Ia merasa dikeroyok.


"Lu mau ngeroyok gue?"


"Kaga ... kita nggak bakal ngeroyok Lo kalo Lo nggak macem-macem ama Nai!" sahut Satrio.


Remaja berkulit sawo matang itu bertubuh lebih tegap dan besar di antara lainnya. Cita-citanya yang ingin seperti Om Gomesh nya itu akan terwujud, ia sudah mulai melatih diri.


"Mau Lo apa sih Vin, neror gue?" tanya Nai penasaran.


"Yang ganggu gue pertama Lo. Yang nyangka gue gagu juga Lo ... yang ngeroyok gue juga Lo, bawa preman lagi!" sahut Nai tak kalah keras suaranya dari Kevin.


Pemuda itu menatap gadis yang kini berkacak pinggang padanya. Dua netra saling menatap. Nai dengan mata galaknya, sedang Kevin dengan mata keras kepalanya.


"Lu tuh cowok kan?" tanya Nai.


"Ya, iya lah!" jawab pemuda itu ketus.


"Masa Lo dendaman kek ngalah-ngalahin serial Mak Lampir?" sengit Nai meledek.


"Siapa tuh Mak Lampir?" tanya Kevin bingung.


"Itu ... ah ... udah lah. Sekarang gue nanya mau Lo apa?" seru Nai tak sabar.


"Gue mau kita pacaran!" jawab Kevin.


"Lah ... males amat!" tolak Nai langsung.


"Loh, kenapa. Gue ganteng, cerdas ...."


"Lo kaya raya nggak?" tanya Nai memutus perkataan Kevin.


"Iya, emang. Realistis dong. Cewe tuh butuh skincare, lipstik, baju, tas, sepatu ...!"


"Masa Lo nggak mau susah bareng cowok Lo?" tanya Kevin ngawur.


"Hello ... Lo nggak mikir ya. Emak ama bapak gue udah nyekolahin gue tinggi-tinggi, ngurusin gue sampe gede dan cantik. Tiba-tiba, Lo datang ngajak gue susah, giliran udah seneng, Lo nya selingkuh?" sahut Nai keki.


"Kebanyakan nonton FTV ikan terbang Lo!" sahut Kevin juga keki.


"Woi ... adu mulut dari tadi. Capek nih ngedengerinnya!" teriak Kean kesal.


"Jangan ikut campur Lo!" bentak Kevin.


"Eh banci, selama urusannya sama saudara gue. Lo bakal hadapin gue!" bentak Kean lebih keras.


Kean sama besar dengan Kevin.


"Hoaaam!" Satrio menguap lebar.


"Ck ... ini nggak ada berantemnya, ya Nai?" tanyanya.


"Lah, kemarin aku gampar, dia keliyengan sendiri," jawab Nai.


"Itu Gue belum makan!" elak Kevin menutupi malunya.


"Sekarang Lo udah makan belum?" tanya Sean kini sambil berteriak.


"Udah ... eh ... belum!" sahut pemuda itu.


"Ya, udah kita makan bareng, yuk!" ajak Daud akhirnya. "Gue juga laper!"


Kevin terdiam. Ia tadi pagi tak menemukan ayahnya. Ketika bertandang ke rumah ibu tirinya. Wanita itu mengatakan jika Richard tidak pulang dari kemarin pagi. Kevin pun pergi tanpa makan dan uang saku dari ayahnya. Setiap hari Richard selalu mengunjungi putranya itu dan memberikan uang dan makanan setiap hari. Soal rumah dan kebersihan Kevin termasuk orang yang rajin merawat rumah.


"Ayo!" ajak Al kini.


Satrio menarik pemuda itu. Kevin akhirnya pasrah. Semua mengajaknya makan di kantin. Kevin tak memilih karena Arimbi sudah memesan nasi soto dan air mineral kemasan untuk semua.


Kevin pun makan dengan sedikit lahap. Selama, makan. Pemuda itu memperhatikan satu persatu wajah belia di hadapannya. Ia hendak bertanya tapi semua tenang saat makan, tak.ada percakapan hingga makan selesai.


"Usia kalian berapa sih. Kok, keliatannya kalian masih anak-anak?" tanya Kevin.


"Mau lima belas tahun!" jawab semuanya kompak.


"Apa?" Kevin tak percaya.


"Lah, emang kita baru mau lima belas tahun," sahut Al enteng.


"Dah ah ... selesai percakapan basa-basinya!" putus Nai. Gadis ini ingin masalahnya cepat selesai.


"Gue nggak mau Lo neror gue terus. Masalah ini mesti selesai sekarang juga. Gue bukannya apa-apa. Bokap nyokap gue itu orangnya emosian. Gue takut Lo nya yang susah ntar!' lanjutnya panjang lebar.


Kevin diam. Sebenarnya ia hanya gengsi dan malu saja. Ia juga bingung dengan permasalahan sebenarnya.


"Kita damai ya!" pinta Nai mengulurkan tangannya.


Kevin akhirnya mengangguk dan menjabat tangan gadis itu. Ia juga sendiri malas jika berlama-lama meneror Nai.


"Oke, kita damai ya?" tekan Nai.


"Iya," sahut Kevin pendek.


"Bener nih. Lo kalo masih ganggu gue, Gue bakal lapor polisi nih!" ancam Nai.


Kevin pun dengan tegas mengatakan tidak akan mengganggu gadis itu lagi.


"Jadi udahan gitu?" tanya Satrio kesal. "Nggak ada berantem-beranteman gitu?"


"Ngapain pakai berantem kalo bisa dibicarakan baik-baik!" sahut Nai.


"Yaaah ... nggak enak kalo gini nih!" sahut Satrio kecewa.


"Dah ah ... aku bilang juga ngapain ikutan. Orang masalah sepele doang!" sahut Nai.


Akhirnya pasukan bersaudara itu pun membubarkan diri. Gomesh tenang karena Kevin tak akan berulah lagi. Pria raksasa itu pun memberitahu pada tuannya. Usai menelepon tiba-tiba Gomesh didatangi ibu kantin.


"Om Gomesh ... anak-anak belum bayar," ujar wanita itu. "Katanya Om yang bayar!


Gomesh garuk-garuk kepala. Ia sangat yakin ini kerjaan siapa.


"Naisya!" keluhnya.


bersambung.


nah kan ... yang Dateng serombongan sih ... hehehe


hai Readers ... maaf ya kalo dua hari ini othor up nya nggak tentu. trus cuma satu. Soalnya di rumah emak dan bapaknya othor sakit jadi sekarang othor juga ketularan.


minta doanya ya biar othor cepat sembuh dan update tiga episode lagi. makasih. Ba bowu ❤️❤️❤️


next?