TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
CINTA MASA KECIL HAIDAR



Di sebuah restoran ternama tampak dua sahabat saling bercengkrama. Bram Pratama dengan Harun Gamatha.


Harun Gamatha adalah seorang pebisnis handal. Ia menguasai bisnis properti dan mall di dunia. Harun adalah pria yang penuh ambisi. Sedari tadi ia terus membicarakan peluang bisnis yang ada.


Bram terkadang hanya menimpali beberapa ide yang menurutnya kurang kompeten. Mereka tidak hanya berdua. Bram mengajak Kanya istrinya begitu juga Harun yang membawa istrinya yang bernama Ravlina.


Para pria membicarakan bisnis. Sedangkan para wanita membicarakan tentang anak-anak mereka. Sebenarnya Kanya sedikit risih jika menyinggung tentang kehidupan anak-anaknya. Terutama menyangkut cucunya Raka.


"Oh ya, apa Raka sudah sembuh?" tanya Ravlina dengan mimik sedikit khawatir.


"Raka alhamdulillah baik-baik saja," jawab Kanya sambil menipiskan bibirnya.


"Maaf, aku bukannya menyinggungmu. Tapi, jaman sekarang banyak metode penyembuhan untuk anak penderita autism," jelas Ravlina sedikit tidak enak.


"Iya, aku mengerti, terima kasih. Tapi, Raka baik-baik saja, sekarang," balas Kanya dengan muka sedikit ditekuk.


"Ah ... maafkan. Tapi, bagaimana dengan Haidar? Aku tak menyangka dia masih bercokol di urutan teratas sebagai peraih pengusaha terbaik," ujar Harun mengalihkan pembicaraan.


"Ya seperti yang kau lihat, dia baik-baik saja," jawab Kanya tanpa minat.


"Oh ya, aku dengar jika sekarang ada perusahaan baru yang berkembang dalam bidang cyber?" tanya Harun sedikit antusias.


"Iya, sepertinya begitu," ujar Bram. Sepertinya ia sedikit ketinggalan berita tentang perusahaan baru.


"Iya, aku dengar-dengar lagi. Perusahan mendiang Tuan Hudoyo akan mengadakan rapat pemegang saham dan mengangkat CEO baru, yang ternyata adalah anak kandungnya sendiri yang masih berusia belia," jelas Harun lagi panjang lebar.


"Benar, aku dengar juga seperti itu. Tapi apa hubungannya dengan perusahaan cyber?" tanya Bram.


"Itu adalah anak perusahaan baru di bawah naungan PT Hudoyo," penjelasan Harun membuat Bram terkejut.


Pria itu sadar, dalam hati ia berkata jika usaha itu adalah buah pemikiran dari Terra. Gadis itu menguasai IT dengan sistem yang sangat canggih.


"Maaf aku datang terlambat, apa makan siang sudah selesai?" tanya suara lembut yang tiba-tiba datang.


Baik Bram dan Kanya hanya tersenyum melihat kedatangan gadis manis dengan balutan formal yang bermerk designer luar. Terkesan mewah dan glamor.


"Hai, sayang. Memang sedikit terlambat, tapi tidak apa-apa kan, Tuan Pratama?" ujar Ravlina kemudian tersenyum penuh arti.


"Iya silahkan. Ternyata kau sudah sebesar ini," ujar Bram terkekeh.


Gadis manis bernama Sevriana Gamatha itu tersenyum.


"Tentu, Om. Aku kan diberi makan oleh Mommy dan Daddy, jadi aku besar seperti ini," selorohnya.


Hanya Harun dan Ravlina yang tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban dari mereka. Sedang baik Bram dan Kanya hanya tersenyum.


"Hei apa kalian ingat, ketika kecil Haidar selalu mengikuti kemana Sev pergi?" tanya Ravlina mengingat masa kecil kedua anak mereka.


"Ya, mereka masih anak-anak. Dan Haidar memang sangat usil terlebih dengan gadis cengeng," timpal Kanya mematahkan argumen Ravlina.


"Ehm ... Aku ingat, Haidar pernah menyatakan cintanya," ingat Ravlina.


"Haidar masih terlalu kecil untuk mengetahui apa arti cinta saat itu," lagi-lagi Kanya mematahkan perkataan Ravlina.


Ravlina sedikit marah ketika semua perkataannya di patahkan oleh istri dari sahabat suaminya itu. Suasana jadi sedikit tegang.


"Aduh ... kenapa tegang sekali. Aku jadi tidak bisa menelan makanan enak ini," ujar Sevriana kikuk.


Kanya hanya mendengkus dan mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Wanita itu menetralkan emosinya yang sedikit terpancing akibat percakapan tadi.


"Jadi sebenarnya, aku dan istriku memiliki tujuan untuk mengajakmu untuk makan siang bersama, kami yakni memperkenalkan putri kami," jelas Harun dengan wajah berbinar.


Kanya sangat mengerti apa mau pria yang duduk di depannya itu.


"Sevriana ini, sudah menjadi seorang manager pengembangan di perusahaan luar negeri, ia dipindahkan ke kota ini untuk pengembangan anak perusahaan," jelas Harun dengan bangga.


"Oh ya, bagus itu," puji Bram sekedar basa-basi.


"Kenapa tidak kau tempatkan di perusahaan mu, Har?" tanya Bram kemudian.


"Aku nggak mau, Om. Kesannya mencuri kesempatan. Aku kan pengen dapat kerja hasil usahaku sendiri," potong Sev cepat.


Bram sedikit tidak suka akan attitude yang diperlihatkan oleh Sev. Kanya pun demikian.


"Wah ... anak-anak jaman sekarang sudah berani menjawab dan memotong pembicaraan orang tua, ya?" ujar Kanya sakras.


Sev bungkam dan seketika menunduk. Sedang Harun dan Ravlina sedikit kikuk.


"Ah ... jaman sudah berkembang. Mereka yang muda-mudi makin maju, jadi mereka tak canggung untuk mengungkap pendapat mereka," ujar Bram sedikit membela Sev. Pria itu masih tidak enak jika menyinggung perasaan sahabatnya.


Kanya menyenggol kaki suaminya. Matanya sedikit melotot memperingati Bram agar tidak memberi angin pada sahabatnya. Wanita itu sangat tahu, apa maksud perjumpaan ini.


Sayangnya, Bram kurang peka akan hal itu. Pria itu masih menghormati sahabatnya. Jadi ia mengabaikan pemikiran Kanya, istrinya.


"Apa Haidar tidak datang?' tanya Harun memecah kecanggungan yang ada.


"Mungkin dia sibuk," jawab Kanya acuh.


"Ma," Bram memperingati Kanya dengan suara pelan.


"Ck ... apa sih!" cicit Kanya tak terima.


"Maafkan istri saya. Dia kalo moodnya jelek ya seperti ini," ucap Bram tidak enak hati.


"Hahaha ... tidak apa-apa. Bukankah itu yang membuatmu mengejar-ngejarnya dulu. Gadis frontal yang blak-blakan dan sedikit bar-bar," ujar Harun mengingat kelakukan istri sahabatnya dulu.


Bram jadi terkekeh mengingat hal itu. Ia sangat tahu ketika mengenal Kanya, ada sedikit pertengkaran di antara keduanya. Bram sangat antusias dengan perjodohannya dengan Kanya waktu itu. Tapi, seiring waktu. Kanya dapat ia taklukan.


Kanya yang mendengar perkataan Harun sedikit merona, malu. Ia sangat ingat akan semua kelakuan masa itu.


"Aku sudah selesai makan," ujar Sev tiba-tiba.


"Ah sepertinya, Haidar memang banyak pekerjaan. Padahal kami ingin Haidar mengenal putri kami," ujar Ravlina sambil menipiskan bibinya.


"Oh ya, bagaimana jika kita jodohkan saja kedua anak kita, agar ikatan ini makin erat!' sebuah ide terlontar dari mulut Ravlina.


bersambung.


hayoo kira-kira diterima nggak ya perjodohan ini?


yuk dukung terus karya othor, tinggalkan jejak like, love and vote.


komen yang serruuu biar rame...