
Kembali tim dari Wedding organizer menanyakan perihal dekorasi apa sudah fix atau mau ditambah berikut dengan segala makanan dan souvenir. Terra menyerahkan semuanya pada calon mertuanya, Kanya.
"Kamu juga mesti menentukan, sayang. Ini hari bahagia kamu!" ucap Kanya sedikit kesal karena Terra seperti lepas tangan masalah pesta.
"Mama kan tau sendiri mau nya Te gimana. Malah hanya akad trus sama pengajian biasa, nggak pake resepsi besar-besaran," saut Terra enteng.
Kanya hanya bisa mendengkus pasrah. Memang benar. Pesta mewah ini adalah idenya. Terra tak mau ambil pusing dengan segala dekorasi dan sebagainya. Gadis itu menyerahkan semuanya pada, ibu mertuanya.
Tadinya, Kanya ingin memakai tradisi adat Jawa. Namun langsung ditolak oleh Terra. Ia tak suka acara siraman-siraman atau diribetkan dengan segala macam adat yang membuatnya pusing.
"Ma, bener kan kalo pesta di gedung paling lama tiga jam?" tanya Terra lagi.
"Kenapa emangnya. Kamu udah nggak sabar mau bobo bareng sama anakku?" celetuk Kanya kesal.
Terra mendapat jawaban seperti itu langsung mematikan sambungan telepon. Kanya yang sadar akan ucapannya. Langsung menepuk dahinya. Calon menantunya, ngambek.
Bram yang mendengar celetukan istrinya yang asal itu, langsung menegurnya.
"Ma, kok ngomong kayak gitu sih?"
"Abis kesel. Masa, nggak mau bantu mikir sama sekali sih. Ini kan hanya sekali seumur hidup!" pekiknya membela diri.
"Ma. Mama tau kan Terra anaknya seperti apa. Dia sudah jelaskan alasannya dulu menolak acara resepsi besar seperti ini!" Kanya hanya terdiam. "Anak-anak masih dalam masa trauma yang belum sembuh!"
Wanita tau sekali. Kenyamanan ketiga anak Terra menjadi prioritas gadis itu. Ia tak mau anak-anaknya mendengar perkataan buruk dari para tamu.
Tiba-tiba Haidar mendatangi kedua orang tuanya dengan wajah kesal setengah mati. Matanya memandang tajam pada sang ibu. Kanya hanya bisa menghela napas.
"Ma. Terra sampai nangis loh!" seru Haidar kesal. "Kenapa sih, Mama ngomong kek gitu sama Terra??"
"Mama ...," Kanya tak bisa membela diri. Ia tahu dirinya salah.
"Ma, kalau gara-gara ucapan Mama sampai Terra membatalkan pernikahan ini. Aku akan bawa lari Terra dan menikahinya secara sirri!" ancam Haidar.
"Emang Terra mau gitu?' tanya Bram usil.
"Ck ... ah ... Papa! Terus gimana niih!" pekik Haidar frustrasi sambil mengacak rambutnya.
Kanya mencoba menelepon calon menantunya kembali. Dua kali ia telepon, dua kali tidak tersambung. Baru sambungan ketiga Terra mengangkatnya.
"Sayang, maafin Mama ya," ungkap Kanya langsung dengan nada memohon.
"Mama ... ini Oma!" teriak Lidya.
"Ah, kukira Terra yang angkat," gumamnya..
Haidar dan Bram menunggu. Kanya masih mendengar derap langkah entah dari mana. Kemudian suara merdu sedikit serak itu terdengar.
"Assalamualaikum, Ma."
"Wa'alaikum salam, Te. Sayang, maafin Mama ya. Mama tadi nggak ...."
"Iya, Ma. Te ngerti kok. Maafin Te juga ya," ungkap Terra.
"Iya sayang. Maafin Mama sekali lagi ya, Mama terlalu memaksa kamu," lagi-lagi Kanya meminta maaf.
"Iya, Ma. Te hanya ikutin apa mau Mama saja," saut Terra lagi.
"Ya sudah. Mama akan kurangi jamnya jadi dua jam paling lama," saut Kanya.
"Nggak usah Ma. Setelah Te pikir-pikir, tiga jam juga nggak bakalan cukup buat menghadirkan semua tamu. Grandpa bilang. Ia juga mengundang koleganya yang kini berada di negara ini, Ma," jelas Terra panjang lebar.
"Ya, sudah kita genapi saja jadi enam jam ya, satu jam nya hanya untuk bercengkrama dengan keluarga besar," usul Kanya.
"Iya Ma, Terra terserah Mama aja, gimana baiknya," jawab Terra.
"Baiklah sayang, jika begitu. Sekali lagi maafkan Mama ya," ucap Kanya sekali lagi meminta maaf.
"Iya, Ma. Assalamualaikum!"
"Wa'alaikum salam."
Sambungan telepon berhenti. Kanya, Bram dan Haidar bernapas lega. Wanita itu kini harus berhati-hati dalam berbicara pada menantunya itu.
Kanya kembali menelepon bagian ballroom tempat diselenggarakannya resepsi. langsung membooking tempat satu hari penuh alias dua puluh empat jam nonstop.
"Alhamdulillah, Terra mau maafin Mama," ucap Haidar lega. "Hampir saja aku culik dia dan menikahinya paksa."
Plak!
Haidar mengaduh. Kanya memukul punggungnya kesal. Haidar hanya bisa nyengir kuda.
"Bilangin Iya ah ...!"
"Haidar!" pria itu terkikik geli.
Maka jeweran ditelinga pun tak bisa Haidar hindari.
"Ampuun, Ma!" pekiknya kesakitan.
"Hentikan mengusili, Mamamu Haidar!" peringat Bram.
Haidar langsung mengatup kedua tangan di dada. Jika sang ayah sudah memberi ultimatum padanya, ia tak bisa berkutik.
"Oma!"
"Raka, sayang!"
Kanya langsung merentangkan tangan menyambut cucu kesayangannya. Karina mencium pipi ibunya dan menyalim ayahnya.
"Apa ada yang bisa aku bantu?" tanya Karina.
"Ah, kebetulan. Mama ... bla ... bla!"
Kedua wanita itu langsung mengobrol tentang susunan acara. Sedang Raka langsung diajak bermain oleh Om juga kakeknya.
Sedangkan di rumah Terra. Bart dan keluarga sudah datang lagi sedari menginap dua hari di mansion Virgou.
"Benpa!' sambut Rion dengan senyum manis.
"Hi, Baby. Oh ... i miss you so much!"
"Ba bissyu mo mac!" ucap Rion mengikuti.
Bart tertawa. Ia pun langsung mengajari Rion.
"I - miss - you."
"Ba - biss - syu!" ikutnya dengan suara garang.
"I!"
"Bai!"
"Grandpa!' Virgou menyudahi perdebatan antara kakek dan cucunya.
"You're so adorable!" (Kamu menggemaskan sekali!) ujar Bart lalu mencium gemas pipi gembul Rion.
"Atit!" teriak Rion murka.
Plak!'
Satu tamparan mengenai pipi, Bart.
"Baby!' pekik Terra memperingati.
"It's okay it was my fault, not this baby!" (tidak apa-apa, aku yang salah, bukan bayi ini!) aku Bart membela Rion.
"Hei, bayi sini kamu!" panggil Virgou dengan wajah galak.
"He ... wowang. Pa'a mamu!" saut Rion lebih galak.
Virgou tertawa terbahak-bahak melihat wajah garang Rion. Ia pun mencium lembut pipi bulat itu.
"Ba bowu, Baby," ungkap Virgou.
Rion hanya diam tak menjawab ungkapan Virgou. Mata polosnya menatap iris biru yang memandanginya.
"Mama ... wowang imi biat-biat Ion mototot!' adunya.
bersambung.
Masha Allah ... Rion!
next?