
Waktu berlalu begitu cepat. Tak terasa, anak-anak begitu cepat tumbuh. Bahkan, Budiman kini tengah menantikan anaknya yang ke tiga. Gisel tengah mengandung tujuh bulan. Samudera kini berusia enam tahun, putranya kedua bernama Benua berusia tiga tahun. Kini, jenis kelamin bayi yang ada di kandungan Gisel adalah perempuan.
Rion mencatat nama-nama adiknya. Ia sudah terbiasa dengan bertambahnya. pasukannya, sudah remaja tanggung. Tingginya sudah melebihi ibunya. Bahkan hampir menyamai Darren.
Kean, Cal, Arimbi, Satrio, Nai, Sean, Al dan Daud sudah kelas lima SD. Maisya, Affhan dan Dimas sudah kelas dua SD. Samudera, Dewa dan Dewi baru masuk kelas satu SD. Sedang Kaila, Rasya dan Rasyid baru berusia empat tahun.
"Ah lupa, Baby Ella, baru sudah tiga tahun, sama seperti Baby Benua," ujarnya lalu mencatat dua nama itu.
"Ma, Mommy Widya apa benar hamil anak kembar?" tanyanya.
"Iya, sayang. Jangan lupakan Mommy Karina, juga punya baby girl loh," jawab Terra sembari mengingatkan putranya.
Rion pun menepuk dahinya. Begitu banyak adik yang ia miliki jadi lupa nama-namanya. Ia ingat betapa sibuknya semua orang ketika mendengar Mommy Karina hamil di usia menjelang lima puluh tahun. Bahkan kelahirannya dilakukan secara normal.
"Baby Zeikha sekarang seusia Baby Benua kan Ma?"
"Iya sayang," jawab Terra.
Wanita itu sebenarnya juga berharap satu bayi lagi dalam kehidupannya, ia ingin sekali memiliki bayi perempuan. Tapi, hingga usia Rasya dan Rasyid empat tahun, ia belum juga hamil lagi.
"Ma, sebentar lagi Kak Iya tujuh belas tahun loh," ingat Rion.
"Ah, Mama sampai lupa!" Terra nyaris saja melupakan hari lahir putrinya..
Lidya masuk universitas kedokteran, kini baru menyelesaikan semester lima. Kegeniusan putrinya menjadi sorotan dunia. Di usianya yang belia, mampu mengenyam pendidikan kedokteran tanpa ada ketinggalan sedikit pun. Terra memprediksi usia delapan belas, Lidya sudah mendapat gelas S1 kedokterannya.
Bahkan Lidya kini memiliki forum untuk anak-anak korban kekerasan. Kelebihan gadis itu benar-benar mampu menyembuhkan luka mendalam orang lain. Walau ada beberapa yang tidak efektif.
"Itu karena dia nggak mau sembuh, Ma. Dia menolak untuk diobati. Biasanya, orang-orang seperti itu, cenderung ingin semua orang mengasihani dirinya," jelas Lidya waktu itu.
Gadis itu juga sering menghadiri seminar-seminar tentang bahayanya kekerasan terhadap anak-anak. Bagaimana, ia menyampaikan bahwa yang paling berbahaya adalah kekerasan yang dilakukan oleh keluarga mereka sendiri, terlebih itu kekerasan yang dilakukan oleh ibu kandung.
Bahkan pidatonya ketika didaulat sebagai pembicara anak, mampu membius semua audience. Kekecewaannya terhadap hukum bagi pelaku kejahatan terhadap anak-anak sangat lemah dan minim. Sedangkan trauma yang dihadapi anak itu akan mengikat mereka selamanya.
Terra juga ingat, betapa posesifnya, Haidar, Virgou dan Herman. Semua teman pria Lidya, mendapat ancaman dari tiga pria itu. Bart sampai memarahi ketiganya.
"Kau ingin mengikat semua laki-laki yang berkenalan dengan putrimu?!"
Khasya sampai bersorak kegirangan melihat para pria dimarahi. Bart yang sudah tinggal di Indonesia. Ia tak mau lagi pulang ke negaranya. Pria yang sudah hampir berusia sembilan puluh tahun ini, masih sehat.
"Abaikan pria-pria posesif itu!' ujar Bram. Mertua Terra juga suka memarahi putranya yang terlalu berlebihan.
"Percayakan pada Putrimu, Nak. Jangan terlalu mengekangnya. Mama, percaya jika Lidya bisa menjaga diri," ujar Kanya memberi petuah.
"Assalamualaikum!" Lidya datang memberi salam.
Gadis ini semakin cantik. Tingginya hanya 155cm dengan berat 45kg. Kecil dan mungil. Rambutnya panjang ikal dan kemerahan sebahu. Netra coklat pucat sama seperti Terra. Ia pun mencium mama dan adiknya.
"Kenapa kamu nggak bobo siang, Baby?' tanya Lidya pada Rion.
Lidya dan Darren masih memanggilnya Baby, padahal Rion sudah berusia empat belas tahun. Ia mengambil kelas akselerasi, tahun ini ia akan lulus dan mengambil perkuliahan bisnis tahun ini juga.
"Oh, ayolah Kak. Aku bukan bayi lagi seperti Benua," protes remaja itu.
"Kamu masih bayi di mataku, Baby," sahut Lidya tak mau dibantah.
"Kakak, nggak mau ada alasan. Pergi tidur!' titahnya lagi.
"Ma, Iya istirahat dulu, ya," pamitnya juga sambil menguap.
"Iya, sayang," sahut Terra.
Ia akan membuat pesta kejutan bagi putrinya nanti. Ia akan membicarakannya pada Darren dan Haidar.
"Ah, sama semuanya. Mereka akan marah kalo nggak diajak kerjasama," ujarnya bermonolog.
Hari pun berganti. Terra benar-benar menyiapkan semuanya. Ia dibantu, oleh para ipar dan mertua juga kakeknya. Begitu juga para pekerja di rumah. Kebetulan sekali ulang tahun Lidya jatuh pada hari Minggu sedangkan kemarin adalah hari jadi Darren yang ke dua puluh dua tahun. Pagi-pagi buta, Darren dan Rion membantu ayah dan ibunya menghias rumah.
Tidak ada pesta hingar bingar. Dengan berkumpulnya semua anak-anak saja sudah melebihi dari kata ramai. Terra sudah memesan makanan dari jauh-jauh hari. Para pengawal juga ikut membantu persiapan pesta.
Pengawal-pengawal wanita itu masih itu-itu saja. Setelah mereka usai masa dinas, mereka keluar dan bekerja kembali bergabung dengan pasukan yang dikomandoi Budiman. Bahkan rata-rata semuanya sudah menikah dan memiliki anak lebih dari dua.
Herman dan Virgou juga datang pagi-pagi sekali. Budiman akan datang siang hari. Ia masih harus ke perusahaan membantu istrinya menangani beberapa proyek dan kerjasama.
Bart hanya duduk memberi perintah. Pria itu seperti Boss. Rumah Terra tambah besar. Kolam renang di perkecil luasnya. Terra membangun kamar dan ruangan lagi di bagian belakang.
Ruangan sudah dihias, makanan sudah disiapkan. Bahkan kue juga sudah ada. Tinggal menunggu tuan putri bangun bersama adik-adiknya.
"Sayang, tadi aku tak mendengar Lidya mengaji. Apa mungkin dia sedang halangan makanya bangunnya sedikit siang?" tanya Haidar pelan.
Terra melihat kalender yang tergantung di dinding dapur. Ia pun menghitung. Tanggal siklus putrinya beda dua hari. Kini ia tengah menstruasi, berarti Lidya juga baru mendapat haidnya hari ini.
"Sepertinya, iya sayang. Kita tunggu saja, siapa duluan yang bangun," jawab Terra.
Lidya keluar dari kamarnya karens merasa sunyi. Biasanya sang ibu akan ribut jika ia bangun kesiangan seperti ini.
"Ma ... Pa!" panggilnya.
Mendengar suara, adik-adiknya yang keenakan tidur setelah sholat subuh pun. ikut terbangun. Keenam bocah keluar dari kamarnya.
"Bemamat padhi Tata Iya," sapa Rasya.
"Selamat pagi, sayang. Turun yuk, kok kayaknya sepi," ujar Lidya.
"Ma ... Pa!" panggil Nai.
Rambut bocah perempuan itu seperti singa. Lidya sampai tertawa melihatnya. Ia pun merapikan rambut adiknya itu. Ketujuh anak beda usia itu pun turun. Lalu terdengarlah suara.
"Barakallah fii umrik Putriku!" sambut Terra.
Lidya pun tertegun. Ia pun terharu. Bergegas ia pun turun.
"Hati-hati sayang. Kau sedang menggandeng adikmu!" peringat Khasya.
Lidya melambatkan langkahnya turun tangga. Setelah semuanya aman. Baru lah ia berlari memeluk ibunya. Wanita yang paling berharga dalam hidupnya.
"Mama ... makasih, Mama .. makasih Papa!"
bersambung.
barakallah fii umrik Lidya
next?