
Terra menangis dipelukan Haidar. Sedangkan pria itu hatinya ikut teriris. Betapa berat beban yang dipanggul gadis ini sendirian. Ingin sekedar meringankan. Hanya sebuah pelukan saja ya g bisa ia berikan.
"Mama ...."
Terra seketika menghentikan tangisannya. Ia tak mau putranya kembali terluka melihat ia terpuruk seperti ini.
"Sayang ... sini, Nak," panggilnya pada pria kecil yang kini mendekatinya dengan linangan air mata.
"Mama sedih karena Darren dan adik-adik, ya?" tanya Darren lirih.
Terra menggeleng kuat. Hatinya dan pikirannya tak singkron. Baru saja ia terbakar emosi karena terlintas bayangan ayah dan simpanannya bercinta di kasur ini. Baru saja ia meradang akan kebejatan perbuatan ayah dan simpanannya.
"Mama ... hiks ... Darren dan adik-adik sudah menyakiti, Mama?"
Pria kecil itu ragu untuk langsung merengkuh tubuh yang selalu menenangkannya. Seakan tahu. Jika sosok yang dipanggilnya mama ini tengah bergulat dengan hati dan pikirannya.
"Te!" tegur Haidar. Pria itu tidak ingin kekasihnya mengambil sikap yang salah. Walau tahu, itu sangat berat.
"Mama ... jika kami memberatkan Mama. Antar kami ke panti asuhan saja, Ma. Darren ikhlas ... huuu ... uuu ... hiks!"
Tubuh Terra langsung tegang.. Napasnya sesak ketika mendengar ucapan dari Darren. Gadis itu langsung menarik tubuh ringkih pria kecilnya yang kini mulai gemetar.
"Sayang ... maafkan Mama!" pekik Terra menangis.
"Mama ... huuuu ... hiks ... hiks ... Mama ...!"
"Maafkan Mama, Sayang ... huuu ... uuu ...!"
"Ma ... Mama buka itu ... hiks ... hiks ...!" pinta Darren sambil menunjuk kepala tempat tidur.
Terra menggeser tubuhnya. Dibukanya kepala tempat tidur dan isinya adalah cambuk, rotan dan pengikat leher anjing. Terra membeliakkan matanya.
"Alat-alat apa ini Dar?" tanya Terra dengan suara tercekat.
"I-itu alat Tante untuk menyiksa Darren, Ma ... hiks!"
Terra membekap mulut dengan kedua tangannya. Haidar menahan napas ketika melihat alat-alat itu.
Terra langsung merengkuh kembali tubuh Darren yang mulai panas dan bergetar, seakan ia harus mengingat satu memori kelam.
"Hentikan sayang. Jangan dilanjutkan!" pinta Terra.
Darren menggeleng. Napasnya satu-satu. Ia sesengukan.
"Jika, Ayah pergi. Darren akan dipukuli. Entah itu dengan cambuk atau rotan ... hiks ... hiks!'
"Sayang ... hentikan!"
"Pernah suatu malam. Ayah pergi setelah bertengkar dengan Tante. Leher Darren diikat dengan itu dan disuruh melolong, agar Tante mau menyusui Rion ... huuu ... uuu ... hiks ... hiks!"
"Sayang hentikan ... huuuu ... hentikan. Mama mohon!" pinta Terra sambil mencium kening Darren.
"Sayang ... dengar, Darren minta apa, sama Mama, hmm? Biar Darren melupakan itu semua!?'
"Darren nggak minta apa-apa. Darren hanya mau sama Mama ... huuuuu ... Darren maunya sama Mama!" tangis Darren pecah.
Terra menangis memeluk tubuh pria kecilnya yang kini gemetar. Perlahan kesadaran Darren pun hilang.
"Sayang!" teriak Terra.
"Kenapa, Sayang?" tanya Haidar.
"Darren pingsan lagi!"
"Ayo kita ke rumah sakit!' ajak Haidar langsung sigap.
Sungguh Haidar menahan semua emosi yang kini nyaris meledak, ketika mendengar cerita dari Darren.
"Iya, Non!"
"Bibik di rumah jaga anak-anak ya. Saya mau bawa Darren ke rumah sakit," ujar Terra.
Bik Romlah mengangguk. Tapi, baik Lidya dan Rion menangis ketika melihat Terra ingin pergi.
"Mama itut ... Mama!" teriak Lidya.
Mau tak mau. Terra membawa mereka dibantu bik Romlah. Mereka bergegas ke rumah sakit.
Sampai sana. Darren kembali ditangani oleh dokter Abraham.
"Kenapa tidak dilanjutkan sesi psikolognya?" tanya dokter Abraham.
"Setiap dia mengingat kejadian yang mengerikan Hasilnya ini, Dok," jawab Terra sambil terisak.
"Hmmm ... baiklah. Biar Darren tenang. Tubuhnya mengalami dehidrasi berat. Traumanya sangat mengguncang psikisnya. Hingga nyaris mengakibatkan gagal fungsi hati," penjelasan dari Abraham membuat Terra limbung. Beruntung. Haidar ada di sisinya.
Pria itu langsung mendekap tubuh yang nyaris jatuh itu. Wajah Terra pucat mendengar hal itu.
"Anda harus menjaga kesehatan juga. Di sini Anda harus kuat. Dampingi Darren dalam pemulihan traumanya. Hilangkan sikap ego anda jika tak mau kehilangan Darren selamanya," jelas Abraham panjang lebar.
"Baik, Dok. Terima kasih," ujar Haidar mewakili Terra yang masih shock.
Setelah kepergian dokter Abraham. Terra menghampiri Darren yang terbaring lemah. Di tangan kanannya tertancap selang infus.
Mata sayu itu mengerjap.
"Mama ...," panggilnya lirih.
"Sayang," Terra menciumi Darren.
"Darren sayang Mama."
"Mama juga sayang sekali sama Darren."
Terra mengecup kening Darren. Membelai punggungnya hingga Darren kembali terlelap dalam kenyamanan.
Terra berpikir keras agar Darren keluar dari rasa ketakutannya. Setelah mempertimbangkan dalam-dalam. Terra berniat menjual rumah yang menjadi kenangan buruk putranya.
"Mama ..."
"Lidya ... ada apa sayang,"
"Duyu ... Iya pelnah liat Tata Dallen diputul pipina syampai beuldalah tlus nda banun-banun," adu Lidya dengan mata berkaca-kaca.
"Oh ya ... kapan?" tanya Terra dengan suara tercekat.
"Abish poto yang ada di luang tenah!"
Terra memeluk Lidya erat. Bahkan gadis kecil ini juga melihat kekerasan yang diberikan pada kakak laki-lakinya.
"Sayang ... sudah, jangan ceritakan itu lagi. Mama sakit mendengarnya. Mama nggak kuat ... hiks!"
"Mama ... huuu ... uuu ... tashian Tata Dallen, Ma ... hiks!"
"Sudah, sayang. Sini sama Om Idal," Haidar langsung menarik Lidya dan mendekapnya erat.
Pria itu menahan semua emosinya. Sungguh jika wanita yang diceritakan oleh gadis kecil kesayangannya itu ada. Sudah dipastikan ia akan menyiksa wanita itu hingga memilih mati. Sayang. Tuhan terlalu baik, hingga tidak ada siksa untuk wanita jahat itu.
Bersambung ...
ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜