TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
SURAT TERAKHIR BEN 2



Membaca amplop bertuliskan "Untuk Putriku, Terra.". Membuat Sofyan menyerahkan amplop berwarna biru pada kliennya.


Semuanya duduk memperhatikan seksama. Budiman tidak ikut masuk dalam ruangan Sofyan. Pria itu memilih berjaga-jaga di luar.


Dengan hati berdebar. Terra membuka amplop secara perlahan. Air matanya menggenang, hampir jatuh.


Kanya mengelus tangan gadis cantik itu dengan lembut. Memberikannya kekuatan.


Amplop terbuka. Terra membacanya dengan hati berdegup kencang.


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Hai, putriku cantik. Ketika kau membaca surat ini. Berarti ayah tidak ada di sisimu lagi.


Sayang.


Maafkan ayah, yang telah membuat hatimu begitu terluka. Andai ayah bisa mengulang kembali waktu. Ayah ingin memperbaiki semuanya. Ayah benar-benar sangat menyesalinya.


Wahai putriku, engkau lah permata hatiku. Engkaulah tujuan hidupku.


Percayalah, engkau adalah segalanya bagi ayah. Walau ayah sendiri yang merusaknya.


Wahai engkau pelitaku. Betapa sejuta rasa menyesal tak kan berguna bagiku yang mungkin kini sudah berkalang tanah.


Tolong jaga tiga adikmu. Mereka tidak bersalah. Ayah yang salah menghadirkan mereka untuk membebanimu. Tak henti-hentinya ayah meminta maaf untuk itu. Ayah yakin kau memiliki hati seluas samudera seperti ibumu yang cantik jelita itu.


Wahai permata jiwaku. Tidak ada yang bisa ayah sampaikan. Bahkan apa yang ayah tinggalkan untukmu, mungkin hanya penderitaan.


Lagi dan lagi ayah tak bosan-bosannya meminta maaf padamu. Hanya itu yang bisa ayah sampaikan.


Ayah sangat, bahkan teramat sangat menyesal lebih besar rasa sesal ayah padamu dari pada cinta.


Jika tangan ini mampu menulis jutaan kata maaf. Ayah akan terus menulisnya. Meminta maafmu.


Sayangku, buah hatiku. Ayah hanya ingin kau tahu, betapa ayah sangat mencintaimu, Nak.


Terima kasih atas semua pengorbananmu nanti dan selamanya karena menjaga tiga adikmu itu.


Terima kasih dan terima kasih.


Sekali lagi. Ayah sangat mencintaimu.


Salam sayang Ayah titip cium untuk ketiga adikmu.


wassalam ...


Ayah.


P.S. I love you my heart.


"Ayah ... huuu ... uuu ... ayah .... hiks ... hiks!"


Kanya ikutan menangis. Begitu juga semuanya. Mereka menghela napas panjang. Betapa berat beban gadis itu ke depannya.


Menanggung tiga anak hasil perselingkuhan mendiang sang ayah, yang harus dirawat dengan penuh kasih sayang. Terlebih ketiga anak itu mengalami trauma yang begitu berat akibat penyiksaan ibu kandung mereka.


"Ayah ... hiks ... hiks ... Terra sayang ayah ... hiks!"


Gadis itu masih setia menangis. Kanya terus memberinya pelukan hangat. Ia membelai punggung gadis itu yang sesengukan dengan lembut.


"Sayang. Sudah jangan menangis seperti ini. Ayah mu juga akan sedih," pinta Kanya sendu.


Terra menghentikan tangisnya. Haidar mengusap sayang rambut kekasihnya itu. Pria itu makin yakin akan keputusannya untuk menikah secepatnya dengan gadisnya ini.


"Mendiang Tuan Ben berkata jika Terra hendak menikah nanti, Saya harus menelepon seseorang yang menjadi wali sah dari Terra," saut Sofyan memecah suasana sedih.


Pria itu mengambil kartu nama. Sedikit mengernyit. Sebuah nomor seluler khusus luar negeri. Ben dulu pernah bilang bahwa ayahnya tinggal di benua Eropa.


Sofyan menekan akan yang ada di layar setelah memastikan jam di negara sana sudah pagi.


Nada sambung terdengar. Sofyan membuka pengeras suara agar semua mendengar. Sambungan terputus. Pria setengah baya itu mencoba menghubungi kembali nomor ponsel tersebut.


Lagi-lagi nada sambung terdengar. Hingga tiba-tiba.


"Halo who is this calling early in the morning?" (halo, siapa yang menelpon pagi buta begini?!) sebuah suara sedikit tinggi.


"Yes sorry, I am Sofyan the lawyer of the late Mr Ben Hugrid Dougher Young!" (iya, maaf. Saya Sofyan pengacara dari mendiang Tuan Ben Hugrid Dougher Young.) saut Sofyan.


"Wait!" (tunggu!) ucapnya.


Terdengar kepanikan di sana. Bahkan jika keributan yang luar biasa.Terra berdegup kencang. Baru pertama kali ia mendengar suara berat mirip dengan suara ayahnya.


"Hello. I am Bart Dougher Young father of Ben Hugrid Dougher Young. Is it true that my son has pass away?" (halo saya Bart Dougher Young ayah dari Ben Hugrid Dougher Young. Apa benar putra saya sudah meninggal dunia?) tanyanya dengan nada sendu.


"Right sir. Your son is pass away." (benar Tuan. Putra anda itu sudah meninggal dunia). jawab Sofyan menyesal.


Terdengar tangisan dan histeris di sana. Mereka sepertinya merasakan kehilangan. Terra merasakan kesedihan yang sama.


"Sorry Mister. Here is the daughter Mr. Ben," saut Sofyan.


"What! So I have a granddaughter from my son?" (apa! aku punya cucu dari putraku?) tanyanya tak percaya.


bersambung.


ouh ... kenapa mereka sepertinya tidak tahu keberadaan Terra putri Ben ya?


next?