
"Ata' Dallen?" tanya Saf bingung.
"Ehem ... itu saya," jawab Darren malu-malu.
Aini yang melihat itu senang bukan main terlebih Lidya. Walau, pada akhirnya ia merasa menyesal merasakan hal itu.
"Oh ... Ini namanya siapa?" tanya Saf tak memperdulikan Darren.
Semua terbengong. Sosok pesona Darren terlewat begitu saja di mata gadis yang kini memandang gemas bayi-bayi di pangkuannya. Tubuhnya yang bongsor memungkinkan Saf untuk memangku empat bayi sekaligus.
"Atuh manana Spy, imi Ata' Penua ... imi Ata' Pamudla, Imi Ata' Domesh, imi Bomesh!" jawab Sky sambil menunjuk saudara-saudaranya.
"Spy?"
"Namanya Sky, Bu bidan tapi dia belum bisa bilang itu," jawab Lidya.
Saf mengangguk tanda mengerti. Rion memanggil adik-adiknya.
"Hei, ada Kakak Ion di sini!"
"Ah, Ata' imi manana Ata' Babitli ... pati padhi Ata' Iya pandhilna Pu pidan. Yan beunel yan mana?" tanya Bomesh bingung.
Samudera turun dari pangkuan Saf, lalu baru Domesh. Mereka mendatangi kakaknya yang baru saja datang.
"Ata' Babitli ... pahu tah entau beulpedaan antala buna dan tumban?" tanya Bomesh.
Haidar membelalakkan matanya begitu juga Darren. Terlebih Terra dan Gisel. Gomesh sedang bersama sang Istri membeli beberapa barang.
"Baby," tegur Terra.
"Eum ... Ata' Babitli eundat Pahu?" ujar Safitri mengikuti bahasa bayi.
"Talo buna ipu Ata' Babitli ... talo tumban itu atuh," jawab Bomesh malu-malu.
Safitri benar-benar gemas bukan main. Gadis itu mencium pipi bulat bayi itu. Sky tak mau kalah. Ia juga menggombal.
"Ata' Babitli ... pahu tah entau jita atuh talo syudah beusal ... atuh atan jadhi wowan bebat!'
"Oh ya?" tanya Saf dengan mata berbinar.
"Biya ... jadhi wowan-wowan yan atuh sayan atan pahadia, seupeulti tamu," ujar Sky sambil menggoyang tubuhnya.
Safitri tertawa tertahan. Terra dan Haidar terlebih Gisel hanya bisa menepuk dahinya. Entah dari mana bayi-bayi itu bisa menggombal seperti itu.
"Bu bidan, mereka jago nyanyi loh," ujar Aini menyela.
"Oh ya?" tanya Saf.
Aini mengangguk antusias.
"Ah, itu ada panggung, mau tampil?" ajak Saf.
"Bawu!" teriak semua bayi.
Sky, Domesh, Bomesh, Benua dan Samudera, mengikuti Safitri ke panggung. Terra menatap Darren dan Aini. Mereka seperti biasa saja, tak ada masalah.
"Dar!" panggil Terra sangat pelan.
"Ma, nanti kami akan bicarakan," janji Darren.
Aini meminta dua adiknya mengikuti Safitri.
"Ikut sana, sama Bu bidan!"
Dua kakak beradik itu berlari menyusul Safitri dan lainnya. Semua menaiki panggung. Gadis itu meminta gitar pada panitia. Ia pun duduk di antara anak-anak, sambil mengambil mik.
"Satu-satu ya nyanyinya, gantian," ujar Safitri.
Rion seperti santai. Ia senang jika ada yang bisa menangani para bayi. Tak lama anak-anak lainnya datang. Mereka ikut memeriahkan panggung karena melihat semua saudaranya ada di atas panggung.
"Halo, ini siapa aja?" tanya Saf sambil menyodorkan mik ke depan mulut para anak-anak satu persatu.
"Keanu!"
"Sean!"
"Nai!"
"Calvin!"
"Satrio!"
"Maisya!"
"Arimbi!"
"Dimas!"
"Affhan!"
"Kaila!"
"Al!"
"Daud!"
"Rasya!"
"Rasyid!
"Dewa!
"Dewi!"
Safitri terperangah melihat banyaknya wajah mirip. Ia yakin jika mereka semua kembar.
"Mashaallah ... kalian bisa buat kesebelasan ini!" seloroh gadis itu.
"Mommy, Daddy, Papi, Mami!"
Semua melambaikan tangan padanya. Safitri melihat Virgou. Ia mengerutkan kening.
"Bayo ... pita banyi!" pekik Domesh sudah tak sabar.
"Oke, mau nyanyi apa?" tanya Saf.
"Pintan teusil!" jawab Domesh yakin.
"Nggak bintang besar?" tanya Saf menggoda.
Semua bayi menoleh padanya.
"Memana ada pintan peusal?" tanya Samudera bingung.
"Ada," jawab Saf enteng.
"Bagaimana lagunya?" tanya Cal penasaran.
Saf memetik gitar lalu ia bernyanyi tentu dengan nada yang salah.
"Bintang besar ... di langit yang jauh ... hanya satu kelap-kelip aja ... aku nggak ingin, bertang ... eh ... bertang ... ah tebrang ... ck ...."
Semua anak-anak tertawa terbahak-bahak.
"Pelban Ata' Babitli!" ralat Benua.
Semua yang menonton tertawa terbahak-bahak. Wajah Aini sampai kaku dibuatnya.
"Terbang, Benua," jawab Ditya meralat.
"Biya matsutna ipu," ujar Benua lagi.
"Oh ... udah ganti toh?" tanya Safitri.
"Belum Kakak!" sahut semua anak-anak.
"Ah, Ata' Babitli pain musit aja ... pial Domesh yan banyi!' ujar bayi itu angkuh.
Safitri mengangguk tanda setuju. Ia memetik gitarnya.
"Pintan peusal ... eh teucil ... pi mamit yan pauh .. eh dauh ... mamap banat. Penbias antasa ... atuh pinin ... pelban pan belani ... bauh pindi ... pelempat tau beulada!'
Waktu berlalu para medis yang berprestasi pun sudah diberi penghargaan dan yang pensiun juga diberi sebuah reward juga penghargaan yang sama. Acara selesai. Semua anak pulang dengan gembira. Mereka melambaikan tangan pada Safitri. Virgou menatap gadis itu, dahinya berkerut.
"Mas, kok liatin gadis cantik, kek gitu amat!" tegur Puspita.
Virgou terkekeh, ia merangkul istrinya.
"Tenang cintaku. Aku hanya seperti pernah melihatnya, tapi entah di mana aku lupa," jawab Virgou.
"Ah, masa?" tanya Puspita tak percaya.
"Eh, ini bukan kamu banget deh," sahut Virgou memandang istrinya.
Puspita, langsung menggandeng posesif suaminya.
"Jika yang kau lirik gadis muda secantik dia, siapa yang tak cemburu," rajuknya manja.
Virgou mengusap kepala istrinya yang berhijab. Ia memang tahu jika Saf sangat cantik, terlebih iris abu-abu miliknya yang begitu membius siapapun yang melihatnya. Bahkan, tadi ia kedapatan Haidar juga menatap lekat gadis itu.
Aini dan dua adiknya ikut serta keluarga itu. Ia dan Darren akan berbicara mengenai kelanjutan hubungan mereka. Entah, kenapa, gadis itu jauh lebih nyaman dan santai ketimbang kemarin pas masih berstatus kekasih Darren.
Butuh dua puluh menit untuk sampai rumah Terra. Rumah yang sebenarnya membuat ia betah dan nyaman karena pembawa. si empunya tempat.
Radit dan Ditya langsung diajak bermain bersama Rion dan adik-adiknya. Sedang Aini dan Darren di dudukan bersama.
"Sebelumnya, saya meminta maaf pada semuanya. Karena sayalah yang sangat ingin hubungan ini berlanjut di jenjang yang serius," ujar Darren angkat bicara.
"Kami kemarin juga saling bicara masing-masing tentang perasaan kami. Jujur, ternyata perasaan itu bukan cinta melainkan rasa kagum saja satu dan lainnya," jelasnya lagi.
"Saya juga minta maaf, saya begitu lancang menerima lamaran kemarin, padahal ada sedikit ragu. Saya belum menemukan jawaban istikharah saya," kini Aini yang berbicara.
"Saya mengira jika, saya menerima lamaran, akan mendapat jawabannya segera, tapi ternyata tidak sama sekali," lanjutnya begitu gamblang.
Terra sebenarnya sangat kesal dengan keduanya, tetapi ini menjadi pelajaran untuk dia kedepannya. Agar lebih meyakinkan diri lagi. Terlebih usia mereka masih terbilang muda.
"Jadi kami memutuskan untuk menjalin persahabatan bukan yang lain. Saya harap, saya masih diterima sebagai keluarga di sini," ujar Aini dengan menahan malu.
Virgou dan Haidar menatap keduanya. Herman tidak hadir. Pria itu sedang ada di luar kota menghadiri rapat. Ia menyerahkan keputusan pada Haidar dan Virgou.
"Sebenarnya, ada juga yang akan kami bicarakan pada kalian berdua," ujar Virgou.
"Daddy tidak mendapat kuota pernikahan untuk kalian berdua di KUA atau kantor catatan sipil di seluruh kota ini," ujar Virgou.
"Bukan hanya itu, bahkan tempat, WO dan lain sebagainya penuh hingga enam bulan ke depan," lanjutnya.
"Setelah mendengar penjelasan kalian, dan semua kejadian ini. Kami merasa memang kalian tak berjodoh sebagai suami dan istri, tetapi sebagai saudara," lanjut pria itu.
Aini tersenyum mendengarnya, entah kenapa, ia begitu lega. Begitu juga Darren.
"Lain kali, jika kalian jatuh hati. Pastikan dulu rasa itu, lalu baru melangkah ke jenjang berikutnya," ujar Terra kini memberitahu.
"Iya, Ma," sahut keduanya.
"Eum ... boleh nggak Aini manggil, Mama, Papa, Daddy, Mommy, Baba?" pinta Aini penuh harap.
Terra mengangguk. Aini senang bukan main. Lidya yang mendengar batalnya pernikahan kakaknya sedih bukan main. Tiba-tiba pikirannya melayang jauh pada sosok tampan yang jauh di sana.
bersambung.
ah cinta memang serumit itu.
next?