
Sehari setelah kelahiran Lidya dan Safitri. Kini giliran Gisel. Budiman pulang ke rumah, mendapati ayah dan ibunya menenangkan sang istri yang juga mulai mulas.
"Mashaallah. Aku jadi lupa sama istriku yang juga tengah hamil besar!" pekik pria itu sambil menepuk dahinya.
"Gisel aja lupa, mas," sahut wanita itu sambil meringis.
"Kita ke rumah sakit ya," ajak Fery dengan wajah cemas.
Beruntung Samudera, Benua dan Sky tengah berada di mansion Virgou. Ketiga jagoan Budiman itu tak mau berpisah dengan para saudaranya yang menginap di sana.
Fery dan Mia membantu menantunya. Mia sudah menyiapkan semua keperluan Gisel. Budiman menelepon salah satu anak buahnya.
"Aku telepon Reza untuk membawa mobil, aku sudah kelelahan jika memaksa menyetir, takut terjadi apa-apa," Gisel mengangguk.
Selama tiga hari, Budiman nonstop antar jemput keluarga Terra. Beruntung ada Gio yang membantunya. Makanya tenaganya sudah nyaris habis.
Tak lama Reza datang dengan sepeda motor milik Safitri. Memang motor itu dihibahkan oleh Saf pada pengawal karena tak ingin kuda besi kesayangannya nganggur dan rusak.
"Sudah siap?" tanya Reza.
Budiman menyerahkan kunci. Ia duduk bersama istri dan ibunya di tengah sedang di depan Reza dan Fery. Butuh waktu dua puluh menit mereka sampai rumah sakit lagi.
Virgou yang baru saja turun dan memesan makanan, mengerutkan kening ketika melihat Budiman. Tapi begitu Gisel turun, baru lah ia menepuk dahinya.
"Astaghfirullah, aku lupa adikku juga tengah mengandung!'
Pria dengan sejuta pesona itu lari mendekati adiknya. Para gadis nyaris histeris melihat betapa gagahnya pria itu.
(Virgou masa sekarang)
"Sayang," panggil pria dengan sejuta pesona itu.
"Maaf kan aku, aku ...."
"Gisel juga lupa Kak, santai aja," potong wanita pirang beriris biru itu.
"Sudah, jangan banyak bicara, ayo kita ke ruang Bidan Saf!" ajak Fery.
"Astaghfirullah!" tiba-tiba semuanya beristighfar. "Saf kan baru melahirkan!"
"Iya, mana baru kemarin lagi lahirnya," sahut Virgou panik.
"Kalian bawa saja, biar aku tanyakan pada pihak rumah sakit, semoga bisa digantikan!" ujar Virgou memberi saran.
Semua mengangguk setuju. Budiman tadinya hendak menemani Kakak iparnya itu.
"Apa yang kau lakukan. Sana, istirahat!" bentak Virgou.
"Tuan ...."
"Ck ... apa perlu aku pukuli dirimu?" ancam pria beriris biru itu kesal.
Budiman sangat salut dengan tenaga monster dari Dougher Young itu. Tak jika salah semua orang menjulukinya demikian.
Budiman menyusul istri dan ayah ibunya. Reza menemani Virgou menuju ruang pendataan.
"Tapi, dokter kandungan semua sibuk mengurusi pasiennya, kami di sini memang kekurangan tenaga medis untuk melahirkan," jelas staf data.
"Lalu bagaimana, apa menantuku harus bangun dan membantu kelahiran adikku?!" teriak Virgou murka.
Muka para staf ketakutan melihat kemarahan Virgou. Selama tiga hari ini, ia memang sudah diambang batas kelelahan, hingga terkadang ia tak dapat mengontrol emosinya. Reza langsung menenangkan atasannya itu. Lalu membawanya.
"Tak ada cara lain, Tuan!" ujar pria itu.
Virgou tampak lemah. Ia pun berjalan gontai menuju lantai paling atas di mana Saf berada dengan menggunakan lift.
Virgou menelepon Terra menggunakan BraveSmart ponsel. Karena hanya benda itu yang bisa digunakan di ruang tertutup seperti lift dan pesawat udara.
"Assalamualaikum Terra. Gisel mau melahirkan, ia sudah menuju ruang persalinan!"
"Wa'alaikumussalam ... mashaallah ... kita akan kehadiran bayi lagi?" seru Terra di seberang telepon.
"Iya alhamdulilah! Hanya masalahnya tak ada yang bisa menggantikan posisi Saf, kita kekurangan tenaga medis kandungan!"
"Ma, Bommy mau lahiran juga?" terdengar suara Saf.
"Iya, sayang," terdengar suara Terra tak enak.
"Jangan khawatir. Saf bisa kok menanganinya!"
Jawaban Saf membuat Virgou dan Terra sesak napas. Masalahnya, wanita itu baru saja melahirkan tiga kepala bayi.
Pria itu keluar dari lift bersamaan dengan Reza. Tapi, Saf mengatakan tidak apa-apa. Wanita itu menotok dirinya sendiri. Ia tak mungkin membiarkan Gisel melahirkan seorang diri. Terutama catatan medisnya ada di tangannya.
"Semoga Sisca bisa membantu," harapnya.
Wanita itu mengenakan baju OK, Sisca membawanya. Perawat cantik itu sampai meringis melihat bidannya bergerak.
"Ya Allah ... kok jadi linu sendiri?" ujarnya.
Terra mengangguk. Saf meninggalkan semuanya bahkan ia juga sudah memerah susunya. Jadi Darren tak kesulitan menangani bayi mereka.
Ketika sampai di ruang persalinan. Virgou sudah ada di sana menenangkan adik sepupunya.
"Kita lihat pembukaannya dulu, ya!"
Gisel merebahkan diri dan mengangkat kakinya di tumpuan. Saf sudah menggunakan sarung tangan karet dan mulai memeriksanya.
"Sedikit lagi ya," ujarnya.
"Apa kita induksi saja, Bu bidan?" ujar Sisca memberi saran.
Saf menggeleng. Ia tak pernah mau merangsang agar kelahiran cepat. Kecuali jika pembukaan tidak berkembang sedang ketuban sudah pecah, mungkin itu ia lakukan.
Gisel mulai mengerang kesakitan. Virgou mengusap peluh adiknya penuh kasih sayang. Safitri menatap keduanya. Ia jadi ingin dimanja oleh pria yang mestinya kakak iparnya itu.
"Daddy, kemarin Saf belum dicium sama daddy!" rengeknya manja.
"Benarkah begitu?" tanya Virgou.
Saf mengangguk. Pria tampan itu merentangkan tangan. Wanita itu tersenyum lalu menghampiri dan menenggelamkan diri pada pelukan hangat itu.
"Thanks Dad!"
"Sama-sama, sayang," sahut Virgou mengelus kepala wanita itu.
"Ck ... manja," ledek Gisel disela ringisannya.
Saf menjulurkan lidahnya tak peduli. Wanita itu meraba perut Gisel dan sedikit memberi rangsangan agar bayi bergerak. Di sana Gisel kesakitan luar biasa.
"Daddy, Saf sengaja menyakitiku!" teriaknya mengadu.
"Mana ada begitu! Ini biar Bommy cepat melahirkan!" sahut Saf tak terima.
Sisca hanya mengelus dada. Kemarin ketika menangani kelahiran Lidya juga sama persis. Safitri memarahi adik iparnya sedang sang adik mengadu pada pria dengan sejuta pesona itu.
Gisel merasakan panas pada area bawahnya. Pinggangnya merasa mau patah, Sisca meletakan selang oksigen untuk membantu pernapasan wanita itu. Saf meminta Gisel mengatur napas.
"Pembukaan sudah sempurna, sekarang atur napas!"
Gisel mengatur napasnya. Wanita itu mengejan ketika Saf memberi perintah. Begitu terus, hingga terdengar lah tangisan bayi.
"Wah, bayinya cantik sekali!" puji Sisca ketika langsung membersihkan bayi itu sedang Saf menangani ari-ari dengan mengguntingnya dan membersihkan sisa isi perut Gisel.
Budiman terharu. Keinginannya mendapatkan putri terkabul. Wajah Budiman tercetak jelas pada bayi cantik itu. Hanya saja rambutnya pirang seperti ibunya.
"Assalamualaikum Baby Fathiyya Ocean," sambut Budiman.
"Tumben namanya panjangan dikit?" ledek Saf.
"Ck ... kan cewek," jawab Budiman sebal pada adik iparnya itu.
Terra dan lainnya kini berada di ruang perawatan Gisel. Ruangan itu sama dengan ruang Lidya dan Saf.
Safitri sudah beristirahat lagi. Pihak rumah sakit memberinya penangan ekstra.
"Oh, bayimu cantik sekali, Gisel," puji Terra.
Wanita itu menggendong Baby Fathiyya. Semuanya meminta maaf karena nyaris melupakan Gisel yang juga tengah mengandung.
"Nggak apa-apa, Gisel aja baru ngeh ketika sampai rumah, perut kok kram," ujarnya sambil terkekeh.
Kini Rion kembali mencatat nama semua anak.
"Baby Al bara, El Bara, lalu Baby Aisyah, Maryam dan Al Fatih lalu Fathiyya!"
"Wah, sudah setengah halaman sendiri!" serunya lagi.
bersambung.
assalamualaikum Baby Fathiyya!
next?