TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
MENCARI JEJAK



Deborah benar-benar dalam niatnya. Ia tak perduli dengan larangan ayahnya agar tak berurusan dengan Demian.


"Daddy peringatkan kau untuk tidak lagi datang ke tempat Demian!" tekan George sangat serius.


"Kau tak akan tau apa yang bisa ia perbuat pada keluarga kita. Tolong, jangan berbuat gegabah jika kau masih sayang pada ayah dan ibumu," pinta pria itu penuh harap pada putrinya.


"Aku tak akan mendatangi Demian lagi, Yah. i promise!" janji gadis itu.


'Aku hanya ingin mencari wanitanya!' ujarnya dalam hati.


"Baik, ayah percaya padamu. Tolong urus semua usaha ayah. Jika kau mengabaikan kami lagi ...."


"Aku tak akan melakukannya!" janji Deborah.


"Baik aku percaya janjimu. Sekarang, kau pergi lah ke Indonesia, ada beberapa perusahaan yang bisa kita jalin kerjasama, di sana," ujar pria itu.


Deborah mengangguk. Ia akan pergi bersama Celia, asisten pribadinya. Celia sudah bekerja cukup lama sebagai sekretaris ayahnya. Keduanya akan berangkat besok malam, dengan pesawat komersial kelas bisnis eksekutif.


"Persiapkan semua keperluan mu sendiri!" titah George pada putrinya.


Kini, Deborah tak dimanja seperti dulu. Ayahnya benar-benar membuat aturan keras, jika masih ingin ikut dengannya. Tiga bulan di Amerika bersama bibinya membuat ia tak betah.


Bibinya ternyata begitu cemburuan karena suaminya jauh lebih muda dari usianya sendiri. Hingga ada saja tuduhan yang dilontarkan perempuan itu padanya.


Hingga George memutuskan untuk mengambil kembali putrinya yang terus menerus mengeluh karena tak tahan.


Deborah harus benar-benar berubah sikapnya. Ia harus belajar mandiri. Walau ibunya masih memanjakan dirinya tapi tidak semanja dulu. Biar bagaimanapun Deborah adalah putri mereka satu-satunya.


Sementara Demian sedang melihat semua berkas kepengurusan Visa dan identitasnya. Pria itu akan pindah ke sebuah negara. Perusahaannya di sini akan ia serahkan pada Ferdinad, pria kepercayaannya. Pria itu bekerja selama bertahun-tahun dengannya.


"Aku serahkan kepemimpinan ini sementara di pundakmu!" tekan Demian.


"Siap laksanakan Tuan!" sahut pria itu lalu membungkukkan badan.


"Tiga atau lima hari lagi aku akan membuka anak perusahaan di Indonesia. Kita sudah mendapat semua perjanjiannya juga legalitasnya!" lanjutnya.


"Jacob, bagaimana dengan tempat tinggal, apa kau sudah mencarinya?" tanya pria itu lagi.


"Sudah Tuan. Kita tak bisa membeli rumah di sana, ada homestay yang diperuntukkan untuk kita. Lokasinya juga cukup dekat dengan anak perusahaan kita nantinya," jawab Jacob..


"Baik lah, tak masalah jika begitu. Kita ikuti aturannya. Lalu, siapa yang akan menjemput kita nanti di bandara nanti?" tanya Demian.


"Tuan Bondan, wakil kita di Indonesia yang akan menjemput kita nantinya, Tuan," jawab Jacob yang ditanggapi anggukan oleh Demian.


"Baiklah, kalau begitu," ujar Demian.


Pria itu kembali serius menyusun kembali semua berkas. Beberapa di antaranya sudah tersimpan dalam file laptopnya.


"Tuan, kita dapat membeli Flying internet di ketinggian 1800 kaki di koordinat 167," lapor Jacob lagi.


"Jadi kita bisa melakukan panggilan ketika kita di ketinggian paling tinggi itu?"


"Benar Tuan!"


Demian mengangguk mengerti. Selama lima bulan pengajuan pembelian titik internet di udara, akhirnya bisa ia dapatkan.


"Berapa lama kita bisa melakukan panggilan telepon internet?" tanya Demian.


"Sekitar sepuluh hingga lima belas menit, Tuan!" jawab Jacob.


"Cukup lama. Kita tentu tak lama-lama melakukan panggilan online di udara," sahutnya cukup puas.


Hari berlalu, kini Deborah sudah membawa banyak kopernya. Ia bersama dengan Celia, gadis itu juga membawa banyak barang walau tak sebanyak atasannya.


"Selamat malam Nona," sapa Celia yang hanya ditanggapi anggukan dari Deborah.


Mereka di antar oleh supir, George ikut menemani. Selama delapan belas jam mereka akan melakukan perjalanan. Mereka akan transit satu kali selama tiga jam di Bangkok Thailand.


"Hati-hati kalian di sana. Jaga prilaku dan batasan. Orang Asia memang terkenal dengan keramahannya. Tetapi jika mereka tersinggung. Mereka tak akan segan mengusir kalian dari negaranya," tekan pria itu memperingati.


"Baik Tuan!"


"Baik Dad!"


Deborah memberi pelukan pada ayahnya. Pria itu sedikit berat melepas putrinya. Ia sangat tahu tabiat Deborah, makanya ia jadi takut sendiri. Tetapi, ia berusaha mempercayai anak perempuannya itu.


"Celia, aku harap kau menjaga Nonamu!" titah pria itu lagi.


"Akan saya lakukan Tuan!" sahut wanita itu.


Celia menelan saliva kasar. Ia sangat tahu siapa atasannya ini. Keluarganya ada di sini akan bisa mendapat masalah besar jika ia berani macam-macam.


"Saya mengerti Tuan!" sahutnya tegas.


George akhirnya melepaskan putrinya mengemban tanggung jawab penuh. Ia berharap sang putri bisa membawa diri.


Pagi menjelang. Demian yang baru saja duduk dan membaca laporan, sudah melempar semua laporan-laporan itu ke lantai.


Aurora tak menjalankan amanahnya. Berkas-berkas itu memberi bukti, jika adik satu ibunya itu menghabiskan satu juta euro di meja judi.


Foto-foto didapatkan dari orang-orang yang memang ia suruh untuk mengikuti gadis bengal itu. Dugaan ayahnya memang benar adanya.


"Mom ... kenapa kau menikah dan menghasilkan parasit seperti itu!" teriaknya berang.


Tiba-tiba Jacob masuk dengan keringat di dahi dan napas menderu.


"Tuan!" panggilnya dengan suara terengah-engah.


"Tenangkan dirimu dulu, Jac!"


Jacob akhirnya menenangkan diri. Ia seperti orang kecolongan uang dalam jumlah besar.


"Tuan, Nona Deborah dalam perjalanan bisnis ke Indonesia. Ia baru saja berangkat tadi malam!" lapornya.


"Apa?!" pekik Demian tak percaya.


"Tapi tunggu dulu ...," Demian lalu berpikir.


"Deborah tak mengetahui tentang Lidya dan aku bukan?" tanyanya kemudian.


Jacob terdiam. Memang ia tak berpikir ke sana. Atasannya itu bercerita telah mengenalkan Deborah pada Lidya ketika statusnya masih pacaran dengan Deborah.


"Tuan yakin, Nona Vox tidak mengetahui semua itu?" tanya Jacob takut-takut.


"Arrghh!" Demian berteriak putus asa.


Pria itu langsung lemas. Ia memang takut jika Deborah mengetahui perasaannya pada Lidya.


"Tetapi, aku yakin jika Deborah belum mengetahui siapa Lidyaku, Jac!" tekan pria itu meminta keyakinan pada bawahannya itu.


"Saya tak menjamin itu Tuan," jawab Jacob pasrah.


"Ya Allah ya Rabb ... lindungi Lidya dalam segala marabahaya," doa Demian.


"Aamiin!" sahut Jacob.


Sementara di benua lain. Lidya sedang melakukan konseling terhadap pasiennya. Putri sebagai asistennya tampak begitu serius.


Selesai dari praktek di rumah sakit. Lidya mengajak sahabatnya itu ke rumah yayasan mandiri yang ia dirikan. Mereka berdua bertemu dengan Aini.


"Selamat sore Dokter Aini!" sapa Putri terlebih dahulu.


"Sore Sus. Mau kemana nih?" tanyanya.


"Kita mau ke rumah healing soul milik Dokter Lidya, Dok," jawab Putri.


"Wah, sama, saya juga mau ke sana," ujar Aini dengan senyum semringah.


Hari ini Aini tidak ada jadwal praktek di perusahaan Darren. Mereka menaiki kendaraan mereka masing-masing. Aini dengan motor maticnya, Lidya dengan mobil mewah berikut tiga pengawal yang mengikutinya ke mana pun. Sedang Putri menaiki motor ninja warna hijau-nya. Lidya sempat kaget dengan kendaraan besar sahabatnya itu.


"Kau naik ini?" tanyanya terperangah.


"Motor adik sih ini. Cuma dia ganti motor matic biar bisa boncengan sama pacarnya," jawab Putri santai.


Mereka pun berangkat ke tempat tujuan masing-masing.


"Ah ... andai aku boleh bawa motor kayak Putri," keluhnya pelan.


"Nona!" peringat ketiga pengawalnya.


"Ya ... ya ... ya!" sahut gadis itu sebal.


bersambung.


aih .. aih ...


next?