TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
PULANG



Budiman meninggalkan cafe dengan langkah ringan. Entah kenapa ia akan merasa baik-baik saja, dan wanita itu tak akan pernah lagi mengganggunya.


Pria itu berjalan ke halaman parkir. Menaiki mobil sport terbaru. Bugatti Ciron warna hitam. Mobil sport yang baru saja dibelinya. Ketika memasuki mobilnya, dua pasang mata memandangnya berbinar. Felia dan Andita langsung meneteskan air liurnya. Mereka hendak mendatangi Budiman. Sayang, pria itu keburu melesatkan mobilnya.


Budiman memasuki jalan bebas hambatan. Dengan kecepatan 180km/jam, pria itu meninggalkan kota menuju sebuah wilayah pedesaan, tepatnya di kaki gunung B. Jalan beraspal mulus dilaluinya. Bahkan menanjak diterjangnya. Hanya dalam waktu satu jam, ia baru memelankan laju kendaraannya, ketika keluar dari jalan bebas hambatan itu.


Setelah itu ia pun mengendarai mobilnya dengan kecepatan 100km/jam. Hanya dalam waktu tempuh lima belas menit. Pria bertubuh tinggi 189cm itu sudah sampai di depan gerbang rumahnya.


Rumah dengan luas tanah tiga ratus lima puluh meter persegi itu, memiliki luas bangunan seratus tujuh puluh lima meter persegi. Seorang pria berusia tiga puluhan membuka pintu pagar yang tinggi menjulang, ketika mendengar suara klakson mobil tuannya.


Budiman membuka kaca. Melajukan mobilnya dengan sangat pelan. Lalu menyapa penjaga rumah bernama Taha.


"Malam, Pak!"


"Malam juga, Den. Akhirnya Den Samudera pulang juga," sambutnya dengan senyum lebar.


Taha langsung menutup pagar dan menguncinya, setelah mobil majikannya masuk ke dalam carport yang memang sudah dibuka oleh Taha dari tadi.


Pria itu berlari masuk rumah via pintu samping. Memanggil Inah, istrinya juga Ratri putrinya. Sepasang suami istri bersama anak perempuanya yang bekerja bersama Budiman selama satu tahun ini. Budiman memperkejakan mereka karena membutuhkan orang merawat rumah yang baru saja selesai direnovasi setelah ia beli dari seseorang.


Rumah bergaya minimalis bercat putih, dengan jendela besar di sisi kiri dan kanan pintu utama.


Inah dan Ratri menyambut tuan mereka dengan membungkuk hormat. Budiman berdehem membalas hormat mereka.


"Selamat malam, Tuan. Apakah saya perlu menyiapkan makan malam?" tanya Inah dengan kepala tertunduk.


Sedari tadi Ratri mencuri pandangan terhadap tuannya. Jantungnya berdegup kencang melihat ketampanan pemilik rumah ini. Gadis ini selalu berkhayal jika dirinya akan menjadi satu-satunya ratu di rumah ini. Tentu saja khayalan itu ia simpan sendiri, ibu dan ayahnya selalu melarang gadis itu bertindak semena-mena di rumah majikan mereka walau, si empunya tempat jarang pulang.


"Tidak perlu, Bik. Saya akan langsung istirahat. Kalian istirahat lah juga. Permisi," jawab Budiman datar.


Entah kemana senyum yang selama ini ia ulas ketika di rumah kliennya, Terra. Padahal pria ini merindukan rumahnya. Tempat tinggal yang ia beli dengan hasil jerih payahnya selama ini.


Rumah itu terasa sepi. Ia membayangkan, jika ada wanita yang menyambutnya dan memberinya senyum seindah nona kecilnya, Lidya. Membayangkan dirinya disambut dengan celotehan salah seperti tuan baby-nya, Rion. Entah mengapa malah wajah Karina muncul. Ia segera menggelengkan kepala mengusir bayangan indah itu.


"Tuan, anda tidak apa-apa?" tanya Ratri ketika melihat tuannya menggeleng.


"Tidak apa-apa, kau tidur lah!" titah Budiman tanpa melihat gadis yang kini menatapnya penuh dengan pesona.


Setelah punggung itu menghilang di balik pintu yang tertutup. Gadis itu meraba dadanya. Jantungnya seakan memburu, seperti habis lari ribuan kilometer. Wajahnya memanas ketika mendengar tuannya tadi menyuruhnya untuk beristirahat.


"Ah ... dia sudah mulai perhatian sama aku!" pekiknya kesenangan dalam hati.


Gadis itu nyari meloncat kegirangan. Untung saja ia menetralisir luapan gembiranya, agar tidak ketahuan.


Ratri pun langsung masuk kamarnya sendiri di bagian paling belakang. Jika Budiman tidak ada dan tentu tidak diketahui oleh orang tuanya. Gadis itu secara sembunyi-sembunyi tidur di kamar utama.


Kamar utama yang sekarang di tempati Budiman. Gadis itu selalu suka berkhayal, setiap malam ke kamar dengan corak abu-abu dengan jendela besar yang menghadap taman. Gadis itu datang mengenakan daster yang sangat tipis.


Ia sering "bermain" bersama tangannya. Seakan tuannya lah yang menyentuhnya penuh gairah. Bahkan dengan berani ia meneriaki nama pria itu. Beruntung kamar utama kedap suara. Jadi Ratri dengan bebas mengeksplorasi pikiran juga fantasi liarnya.


Beruntung tadi pagi, ia dan ibunya telah membersihkan kamar itu, walau ia yang terlebih dahulu masuk kamar dan memastikan tidak ada jejak yang ia tinggalkan akibat ulahnya semalam.


Ratri membaringkan tubuhnya. Kembali ia "bermain" dengan tangannya. Meracau lirih, mendesis.


"Budiman ... sayang ... aahh!'


Sedang di kamar utama, Budiman yang telah membersihkan diri, ia pun membaringkan tubuhnya. Ia sudah minta ijin pulang tadi.


"Tuan, Nona. Saya minta ijin pulang ke rumah dulu. Sudah tiga bulan ini, saya belum mengecek rumah," ijinnya.


"Berapa lama, Kak?" tanya Terra.


"Hanya sehari, besok saya akan kembali," jawab Budiman.


"Tapi, habis pulang janji ya, cerita semua," ujar Terra menagih janji.


"Baik, Nona. Saya akan menceritakan semuanya," janji Budiman sambil mengulas senyum.


Lagi-lagi tak bosan pria itu mengulas senyum. Ia sudah merindukan keluarga kecil itu. Pria itu akhirnya memutuskan sesuatu. Ia pun segera terlelap dan menyambut esok hari.


Pagi-pagi ia sudah memangil sepasang suami-istri juga putrinya. Mereka duduk di hadapan tuannya sambil menunduk. Budiman menghela napas panjang.


"Sebelumnya, saya minta maaf. Ini adalah gaji terakhir kalian," ujar Budiman dengan nada datar.


"Ma-maksudnya Den?" tanya Taha terbata. "Apa kami melakukan kesalahan?"


"Tidak-tidak. Kalian tidak ada yang salah. Tapi saya akan menjual rumah ini, dan alhamdulilah, sudah ada peminatnya," jawab Budiman buru-buru.


Tampak ketiganya begitu kecewa. Mereka sudah nyaman bekerja di rumah ini, terutama Ratri. Baik Taha dan Imah pasti berat, karena mereka harus mencari pekerjaan di tempat lain.


Melihat wajah ketiganya yang murung, karena memikirkan soal pekerjaan. Budiman pun sedikit menyesal. Tapi, tekadnya sudah bulat. Ketika ia merasa tubuhnya pulang ke rumah, tapi jiwanya tidak.


"Maafkan saya, Pak," ujar Budiman sedikit menyesal.


"Tidak apa-apa, Den. Ini adalah hak Den Samudera, kami hanya mengikuti jalan takdir kami," jawab Taha bijak.


Tiba-tiba ponselnya berdering. Nama, salah satu rekannya menelepon. Ia pun segera mengangkatnya.


"Halo, Wan!"


".....!'


"Ah, kebetulan saya ada nih, tiga asisten rumah tangga butuh pekerjaan cepat. Kamu bisa ke rumah sekarang buat jemput kalo mau," jawab Budiman dengan wajah cerah.


".....!"


"Oke, saya tunggu!" jawab Budiman langsung mengakhiri sambungan telepon.


"Pak, saya harap anda semua sekarang bersiap-siap. Alhamdulillah, Bapak dan Bibik nggak perlu lagi pusing dengan pekerjaan," jelas Budiman dengan wajah cerah.


"Salah satu rekan saya membutuhkan tiga orang untuk membersihkan rumahnya. Ia sama dengan saya, hanya saja ia jauh lebih sering pulang ke rumahnya," jelas Budiman lagi.


"Sekarang ia sedang dalam perjalanan ke sini," lanjutnya.


"Alhamdulillah, baik Den."


Mereka bertiga langsung mengepak semua barang-barang mereka. Tidak banyak. Hanya dua tas besar dan satu koper, dan satu tas ransel.


"Apa tidak ada barang yang tertinggal?" tanya Budiman.


"Tidak ada, Den," jawab Taha.


Ratri banyak diam. Ia hanya bisa menangis dalam hati. Ia akan meninggalkan semua kenangan indahnya satu tahun di rumah ini. Bayangan menjadi ratu satu-satunya pun musnah laksana debu.


Tak lama, rekan yang di maksud telah datang. Taha sudah membukakan pintu pagar. Ia pun kembali berjalan cepat ke dalam rumah.


Wanto Irawan, langsung menyuruh mereka masuki semua barang mereka ke bagasi mobil. Taha menyerahkan semua kunci pada majikannya. Budiman menerimanya.


Setelah kepergian ketiga asisten rumah tangganya. Ia pun segera menuju gerbang. Sepertinya Taha telah menutupnya kembali. Melihat gerbang sudah terkunci di dalam. Pria itu kembali masuk rumah.


Ia melangkah mengamati semua ruangan yang sebentar lagi bukan menjadi miliknya. Masuk ke kamar membuka ruang wadrobe. Di mana semua pakaian mahalnya tersimpan rapi.


"Maaf, Pak saya berbohong tentang terjualnya rumah ini. Jika saja putri Bapak tidak ...."


Budiman menghela napas dan menutup pintu. Ia sudah mengambil semua baju yang pernah menjadi fantasi mesum Ratri. Membungkusnya jadi satu di sebuah plastik kresek besar warna hitam.


Pria itu memisahkan pakaian dalam yang sempat dipakai oleh Ratri ketika berfantasi.


Sedikit bergidik. Ia memisahkan semuanya. Ada tujuh potong underwear yang ia lihat di CCTV.


Budiman mengeluarkan lagu pakaian dan celana yang sudah ia masukan begitu saja di tas kresek.


"Arrgh!" teriaknya frustrasi.


Ia pun menghela napas, kemudian mengecek kembali CCTV yang terpasang di kamar ini.


bersambung.


beeeh ... si Ratri ... untung Mas Pudi eh Budi baik ... ba bowu mas Pudi ❤️❤️❤️


next?