TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
MASA PUBERTAS DARREN



Darren tengah menikmati bekal makan siangnya. Pria kecil yang kini mulai beranjak remaja ini sudah mulai membuka diri. Banyak anak gadis yang berebut perhatiannya, bahkan ia pun mulai tertarik dengan lawan jenisnya.


Semenjak ia bermimpi aneh dua hari lalu, dan membuat ia mengompol. Darren membaca artikel tentang akil baligh. Mimpi anehnya yang membuat seluruh syarafnya bekerja. Bahkan kini ia terangsang karena mimpinya waktu itu.


Darren ingat ketika ia terbangun dan celananya basah. Ia ingin mengadu pada Haidar tetapi ia malu. Maka itu ia mengadu pada ibunya.


"Ma, Darren mimpi sampai ngompol, Ma," adunya suatu pagi.


"Ngompol?" tanya Terra sedikit keras.


"Sssstt!" Darren meletakkan telunjuknya di bibir. Ia malu.


Terra pun mengajak putranya ke dalam kamar miliknya. Darren memperlihatkan sprei agak sedikit basah. Wanita itu menyentuh dan membauinya. Darren mencegahnya.


"Mama, jorok ih!"


Terra terkikik. Ia pun merasakan jika itu bukanlah air seni yang keluar tetapi Spermatozoa. Anak laki-lakinya sudah masuk akil baligh.


"Kamu sudah besar sekarang. Lihatlah, tubuhmu makin tinggi. Jakunmu sudah ada. Mama yakin, ketiakmu sudah ditumbuhi bulu begitu juga area bawahmu itu," jelas Terra.


Wajah Darren memerah. Ia malu setengah mati. Terra mendudukkannya di pinggir ranjang.


"Sayang, dengar Mama, Nak," ujarnya kemudian.


"Karena Darren kini sudah besar. Berarti tanggung jawab Darren bertambah. Yakni, Mama, Lidya dan Naisya. Jika kamu nanti memiliki anak perempuan, ia juga menjadi tanggung jawab kamu nantinya," jelas Terra.


"Nah, setelah ini, Mama harap, kamu lebih berhati-hati lagi dalam bergaul terutama dengan anak perempuan. Batasi tingkah lakuku. Ingat, kamu juga punya adik perempuan. Kamu tentu tidak mau terjadi hal-hal buruk pada adik-adikmu nanti kan?" Darren menggeleng.


"Nah, mulai sekarang, Kamu harus jaga diri kamu, juga martabat keluarga ini. Mengerti?"


"Mengerti Mama," sahut Darren.


Terra mencium lembut kening putranya itu. Ada ketidak relaan dari diri Terra jika, Darren kini sudah beranjak remaja.


"Tapi, Darren masih anak Mama kan?" tanyanya lugu.


"Tentu sayang. Kamu masih anak Mama. Selamanya!" sahut Terra menjawab tegas pertanyaan putranya itu.


Darren mengerti sekarang apa yang di maksud Mama menjaga pertemanan. Kini usianya sudah empat belas tahun. Ia tengah kuliah di universitas milik kakeknya Bram. Mengambil jurusan IT dan bisnis. Ia menjadi salah satu mahasiswa termuda.


Banyak mahasiswa yang berusia dewasa mempengaruhi jalan pikirannya. Darren yang lugu pun mulai mengenal apa namanya pacaran, ciuman bahkan hubungan intim. Semua ia ketahui dari mahasiswa-mahasiswa itu.


"Tidak apa-apa untuk sekedar tahu. Tapi, kamu tahu dosanya berzina, mabuk dan lain sebagainya kan?" sahut Terra ketika Darren memberitahu ketika teman satu kampus memperlihatkannya video porno.


Terra selalu bertanya pada anak-anak perihal apa yang mereka dapat di tempat mereka menempuh pendidikan. Makanya, tak aneh jika Darren memberitahu semua yang ia lakukan di kampus.


"Mama, bisa kau bohongi. Tetapi Tuhan melihat semua yang kau lakukan!"


Satu petuah Terra yang masih dipegang teguh oleh Darren sampai sekarang. Kini, ia lebih banyak berkumpul dengan dewan rohis keagamaan di kampus. Menjadi anggota rohis.


Hal itu membantunya menjauhi hal-hal buruk yang ia dapati dari sembarang teman. Cukup tahu saja.


"Dar!" panggil salah satu teman kampusnya.


Darren baru saja menutup kotak bekalnya yang baru saja habis isinya. Ia pun menoleh ke asal suara.


"Apa?"sahutnya.


"Prabu?"


Darren pun mendatangi teman sekampusnya. Ia tak tahu siapa itu Prabu.


"Prabu itu siapa?"


"Dia anak most wanted di sini," ujarnya. "Ayo lah gue anterin Lo!"


Darren kuliah tidak satu jurusan bersama empat sahabatnya, Cello, Ferry, Genta dan Keno. Cello, mengambil fakultas hukum, Ferry bidang otomotif, Genta dan Keno di bidang kedokteran.


Darren pun mengikuti teman sekampusnya tadi. Mereka pun sampai di sebuah tanah lapang di bawah pohon akasia.


Sosok tinggi dengan wajah tampan, di kelilingi empat pria dan satu wanita. Wanita itu terus menempelkan tubuhnya pada sosok tinggi dan tampan itu. Darren sampai mengernyit melihatnya.


"Ini dia Darren, mahasiswa termuda di kampus ini," sahut pria yang membawanya tadi.


"Oh, jadi kamu Darren ya?" Darren pun mengangguk.


"Perkenalkan gue Fabian Arsendo Winata, putra tunggal dari keluarga Winata. Seorang pengusaha kaya raya," ujarnya memperkenalkan diri.


"Darren Putra Hugrid Dougher Young!" sahut Darren memperkenalkan diri.


Wanita yang menempel pada Fabian berkali-kali curi pandang pada Darren. Remaja kecil itu memang belum terlalu memperlihatkan wajah pria. Peralihan dari anak-anak menjadi remaja. Wajah imut dan tanpa dosa itu masih melekat kuat di wajah Darren.


"Karena kamu termasuk anak yang berpengaruh. Bagaimana kamu ikut kelompok aku. Tenang aja, di sini kamu akan belajar tentang banyak hal, surga dan dunia," sahut Fabian angkuh.


"Wah, sepertinya menarik. Boleh saya pikir-pikir dulu?" pinta Darren.


"Oke, aku beri waktu dua hari. Jika lewat. Maka kamu akan berhadapan langsung denganku!" ancaman pun menyertai ucapan Fabian.


Fabian Arsendo Winata, pria berusia dua puluh dua tahun ini merupakan mahasiswa semester tiga. Semestinya ia sudah berada di akhir semester, tetapi, karena sesuatu hal ia mengulang satu semester lagi.


Ayahnya adalah pengusaha properti yang cukup besar. Perumahan real estatednya menjamur.


Darren kembali ke kelasnya. Ia mengambil tas dan mengecek isinya. Masih lengkap dan tidak bertambah. Mata kuliahnya sudah habis lima belas menit lalu. Ia tak ada lagi kelas. Haidar menghampirinya.


"Pulang?" ajaknya.


Darren pun mengangguk. Haidar merengkuh bahu sang putra. Remaja kecil itu masih suka dimanja oleh kedua orang tuanya. Bahkan ia membiarkan dirinya dicium oleh ibunya di depan semua teman kuliahnya ketika mengantarkannya ke kampus.


"Dih, anak Mommy!"


"Anak manja!"


Ledekan demi ledekan tak ia gubris sama sekali. Bahkan ia senang.


"Nggak apa-apa lah. Kan yang sayang ibu gue sendiri bukan ibu Lo!" sengit Darren membela diri.


Kini ayah dan anak itu pun pulang dengan pandangan iri semua mahasiswa di sana.


bersambung.


next?