
Rion tengah asik mengerjakan tugas gurunya ketika sedang istirahat, ia baru saja menghabiskan bekalnya. Murid kelas dua ini begitu fokus hingga tak memperhatikan situasi. Hingga tiba-tiba.
Brak! Gedebuk! Suara orang jatuh dan terdengarlah tangisan anak yang jatuh itu. Tentu saja Rion kaget dan menoleh pada anak yang terjatuh.
"Rion kenapa kamu menjatuhkannya?" tuduh salah satu murid yang baru datang.
"Eh, aku?" tanya Rion menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, kamu kan yang jatuhin dia!" tuduh murid berjenis kelamin perempuan itu dengan mimik muka serius..
Rion terbengong. Ia melihat jarak antara teman yang jatuh itu dengan dirinya ada tiga meja, karena pria kecil itu duduk di depan paling pojok dekat meja guru.
"Kamu nuduh saya, ada bukti nggak?" tanya Rion gusar.
"Loh, hanya kamu satu-satunya yang ada di kelas ini ketika Andre jatuh!" jelasnya berapi-api.
"Saya adukan ini ke guru!" ucapnya langsung pergi meninggalkan Rion dan Andre yang masih sesengukan.
Rion tak bergerak dari tempat duduknya. Ia melihat kamera pengawas. Tentu dia akan lebih punya bukti jika dia tak bersalah. Ia menatap geram pada Andre yang sama sekali tak mengatakan apapun bahwa ia jatuh sendiri. bocah lelaki itu masih sesekali terisak karena bokongnya sakit.
Guru datang dengan wajah kesal. Ia sedang beristirahat dan mengobrol sesama rekan seprofesinya.
"Apa benar kamu menjatuhkan Andre, Rion?" tanya Bu guru.
"Tidak!" jawab Rion tegas.
"Tapi, Mira melihat kamu menjatuhkan Andre dari kursinya!" sahut Bu guru geram.
"Dia berbohong! Dia hanya lihat Andre jatuh saja, bahkan saya tidak bergerak dari tempat duduk saya!" tekan Rion tetap pada pendiriannya.
"Bohong, Bu. Saya yakin jika Rion menjatuhkan Andre karena hanya ada dia di sini!' sahut Mira jiga membenarkan tuduhannya.
"Sekarang gini deh. Di ruangan ini ada kamera pengawas. Tentu ada kan rekamannya lima belas menit lalu!" seru Rion mengingatkan gurunya masalah kamera.
"Tentu saja. Kita akan lihat kalo kamu yang jatuhin Andre!" tekan Mira keukeuh dengan pendiriannya.
"Maaf, Bu. Saya jatuh sendiri, Rion nggak melakukan apa pun," ucap Andre membela Rion.
"Jangan ketakutan gitu dong Ndre, bilang aja kalo kamu itu dijatuhin sama Rion!" ucap Mira.
"Kamu punya masalah apa sih sama Rion, Mir?" kini Bu guru paham jika Mira tak melihat langsung kejadian sebenarnya.
Bahkan gadis kecil itu bersikukuh pada tuduhannya pada Rion. Mira seperti memiliki kekesalan pada teman sebayanya itu.
"Demi Tuhan, saya melihat jika Rion menjatuhkan Andre dan mengancamnya!' pekik Mira menjadi.
"Mira. Kau tahu jika berbohong itu dosa!" tegur Bu guru. Tuduhan Mira berubah pada Rion.
"Saya nggak berbohong Bu. Saya lihat Rion mengancam akan menjatuhkannya lebih keras lagi jika mengadu!"
"Mira, cukup!" bentak Bu guru.
"Kamu makin ngaco nuduh Rion. Satu, jarak Rion dan Andre sangat jauh. Jika Dia memang menjatuhkannya. Rion tentu memiliki waktu untuk kembali ke tempat duduknya!" bela Bu guru.
"Lagi pula jika kamu berbohong. Ibu akan benar-benar menghukum mu!" ancamnya lagi.
Mira menangis perlahan. Sungguh, ia memang sangat kesal dengan teman sekelasnya itu. Terlebih, sikap Rion yang begitu angkuh di matanya. Rion tak pernah berinteraksi dengannya. Bermain seperti teman lainnya. Bu guru menghela napas panjang.
"Mira, lain kali jangan suka memelihara kebohongan ya. Karena ketika kamu berkata benar, tidak ada satu pun yang percaya padamu," jelasnya menasehati.
Mira menunduk. Rion hanya menatap temannya itu dengan tajam. Ia jadi sangat kesal dengan namanya perempuan. Dalam benaknya, hanya ibunya saja yang paling mengerti dirinya.
Mira minta maaf pada Rion. Bocah lelaki itu hanya mengangguk tanpa minat. Bu guru hanya menggeleng kepala melihat betapa arogan muridnya itu.
Sedang di kantor. Widya kini berhadapan dengan Rosena. Dua gadis cantik yang sama-sama pintar.
"Jauhi Gabriel, jika tidak ingin kau menyesal!" ancam Rosena.
"Apa kau berkaca gadis kertas. Kau tidak sebanding dengan Tuan Gabriel!" seru Rosena meremehkan.
"Saya tidak bisa melarang Boss untuk menyukai saya!" sahut Widya angkuh.
"Kau!" bentak Rosena geram.
Ia melayangkan tangannya hendak menampar Widya. Tapi, tiba-tiba, tangannya terhenti di udara. Rosena kesal karena niatnya tertahan.
"Siapa yang bera ....!"
Muka Rosena tiba-tiba pucat. Gadis itu membelalak sempurna seakan-akan bola matanya akan keluar dari sarangnya. Ia menelan saliva kasar.
"Tu ... tuan," cicitnya ketakutan.
"Berani-beraninya kau mengangkat tanganmu untuk menyakiti kekasihku, Rosena!" tekan Gabriel geram.
Wajah pria itu mengelam. Sorot matanya menusuk, aura intimidasi menguar melihat gadisnya hendak disakiti. Gabe bukan pria kasar pada lawan jenis, tetapi jika miliknya diganggu. Ia akan menghabisi siapapun itu, tak terkecuali perempuan.
"Apa hakmu mengatakan keburukan pada gadisku, Rosena? Kau memiliki nyawa sembilan kah, di ragamu?" tanyanya dingin.
Lengan Rosena yang dicekal sudah berdenyut, sakit. Jika, ia memaksa memberontak. Maka tangan itu akan patah, dibuat Gabe.
"Mas," panggil Widya yang juga ketakutan melihat amarah pria itu.
Netra Gabe menatap binar resah pada sang gadis pujaannya. Ia pun langsung sadar untuk tidak berbuat kasar di depan sang kekasih hati. Pria itu melepas cengkraman tangannya, lalu memeluk Widya yang ketakutan.
"Sayang, maaf ... maaf," ungkap Gabe penuh penyesalan.
Rosena ternganga. Ia kalah telak. Namun, gadis tak tahu diri itu malah makin menggila.
"Tuan, apa sih bagusnya dia? Dia itu hanya pengurus kertas tak penting ... dia ...."
"Rommy!" pekik Gabe memanggil asisten pribadinya.
"Saya Tuan!"
"Pecat wanita itu dan blacklist dia selama dua tahun!" titah Gabe dengan mata tajam.
"Siap, Tuan!" Rommy langsung menarik Rosena dari tempat itu.
Seperti tersihir ketika mendengar perkataan Gabe. Rosena hanya bisa mengikuti Rommy tanpa perlawanan.
"Mas," panggil Widya masih ketakutan.
"Ssshhh ... sudah, jangan pikirkan apa pun. Oke!" pinta Gabe sambil mengurai pelukannya.
Kedua mata saling menatap. Widya dapat melihat kenyamanan dari pandangan pria yang dicintainya. Wajah keduanya makin lama makin dekat. Hingga satu inci lagi bibir itu akan benar-benar tertaut.
"Tuan saa ... ah, maaf saya akan kembali nanti," ujar Aden langsung berbalik.
Baik Gabe dan Widya langsung terkekeh. Gabe akhirnya mencium kening sang gadis. Widya memejamkan matanya, menikmati kenyamanan dari.ciuman prianya.
"Sepertinya, kita harus segera menikah agar tidak ada yang mengganggu lagi," ucap Gabe terkekeh.
Widya hanya tersipu malu mendengar perkataan kekasihnya. Ia pun melepas pelukannya. Gabe pun mengurai pelukannya. Widya kembali ke meja kerjanya. Gabe menyusul Aden ke ruangannya.
"Ih, kok aku kepingin ciuman sih!" umpat Widya mesum.
bersambung.
eeeh ... othor aja belum loh 🥺
next?