TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
PERNIKAHAN BUDIMAN DAN GISEL



Benar saja. Budiman langsung disuruh menikah cepat oleh Bart. Pria tua itu tak sabar melihat cucu perempuannya menikah. Setelah tiga tahun pernikahan Terra.


"Aku beri waktu satu minggu untuk mengurus semuanya. Jika tidak. Aku akan nikahkan Gisel dengan pria lain!" ancam Leon.


Budiman yang memang telah menyiapkan semuanya. Begitu tenang. Walau hatinya memaki kesal bukan main. Pria itu pun langsung wara-wiri ke dutaan besar Indonesia- Eropa, mengurus pernikahannya. Beruntung nama perusahaannya sudah ada di Eropa semenjak tiga tahun.


Budiman Samudera merintis karier setelah terjun menjadi pengawal pribadi di usia delapan belas tahun. Pria itu berkali-kali jatuh bangun untuk mengembangkan bisnisnya. Ia masih bekerja pada Suherman selama satu tahun. Dari pundi-pundi yang dikumpulkan ia pun membangun bisnis riteil bersama temannya.


Selama ia bekerja dengan Terra. Ia banyak belajar kepemimpinan dari wanita yang sebentar lagi menjadi kakak iparnya itu. Pria itu bekerja di balik layar. Seluruhnya ia percaya pada teman sekaligus sahabatnya yang kini sudah berpulang lebih dulu.


"Semoga kau tenang di alam sana, sobat," ujarnya mendoakan mendiang temannya.


"Sebentar lagi aku akan menikah, tanggung jawab ku pun makin besar. Bismillah, semoga semuanya lancar." lanjutnya.


Gisel pun membantu kekasihnya. Ia juga menyiapkan gedung, yang memang milik keluarga, makanan, dekorasi dan juga undangan. Hari ini mereka langsung fitting baju pengantin yang langsung jadi. Gisel tak mungkin meminta designer khusus untuk merancang gaun pengantin karena waktu yang diberikan ayahnya benar-benar mepet.


Setelah fitting baju. Mereka melakukan prosesi foto pra wedding. Berbagai gaya mereka lakukan. Budiman menolak ketika fotografer memintanya berciuman dengan Gisel.


"She's not my wife yet, I can't touch her intimately yet." (dia belum istriku. Aku belum boleh menyentuhnya secara intim). jawab Budiman tenang.


Akhirnya sesi foto pun hanya memperlihatkan jarak mereka yang berjauhan saling pandang dengan binaran cinta yang dalam.


Satu sesi foto pun usai. Gisel memilih beberapa foto utama sebagai pajangan di resepsinya nanti.


Hari berganti waktu begitu cepat berlalu. Berita pernikahan cucu dari pemilik kerajaan bisnis di Eropa menjadi topik utama pemberitaan semua media masa. Foto-foto mereka berdua yang tengah mempersiapkan pernikahan pun berhasil diambil oleh beberapa paparazi.


Ketampanan Budiman pun menjadi buah bibir. Pria misterius yang berhasil menggaet salah satu gadis terkaya di benua Eropa menjadi perbincangan publik. Mereka menerka-nerka seheboh dan semewah apa pesta pernikahan dari putri konglomerat, Leon Dougher Young.


Bahkan gedung yang menjadi tempat perhelatan pun sudah terlacak. Gedung paling mewah dan paling bonafid di Eropa. Hanya para pesohor negeri atau pengusaha yang memiliki akses gold yang bisa menyewa gedung ini.



Serba putih dan banyak bunga juga berwarna putih. Sangat sederhana tapi berkelas, elegan dan mewah. Bunga hidup itu di semprot setiap beberapa jam sekali agar tetap bertahan kesegarannya.


Terra dan keluarga tak bisa hadir. Waktu yang mendadak dan begitu singkat. Bahkan Virgou sampai mengamuk karena acara begitu cepat. Leon hanya tertawa menanggapi amukan Virgou.


"Apa kau gila! Bagaimana aku bisa ke sana dalam waktu sehari! Kau pikir waktu itu milikmu apa!"


Begitu lah amukan Virgou. Terra sangat sedih karena tidak bisa menyaksikan adiknya menikah. Anak-anak sekolah belum lagi ia harus mengajukan libur.


"Kenapa buru-buru sekali sih!" protes Terra.


Namun, Haidar tenang, ia bisa menerka semuanya. Terlihat dari gaya Dougher Young yang memang selalu ingin cepat. Virgou dan Terra contohnya. Kedua manusia itu tak sadar, waktu mereka menikah seperti orang diburu waktu.


Hari pernikahan tiba. Budiman gagah dengan setelan taxedo putih rancangan designer dunia. Pria itu duduk di depan wali perempuan. Leon berkali-kali mengusap air matanya. Ia berhasil menjadi wali nikah putrinya.


"Are you guys ready?" tanya penghulu yang menikahkan mereka.


Di Eropa tentu ada penghulu yang beragama Islam untuk menikahkan mereka berdua. Di sebuah kantor catatan sipil. Di sanalah akad nikah digelar.


Dua pria saling berjabat tangan. Dengan suara gemetar, Leon menyerahkan putrinya pada Budiman untuk dijadikan istri dengan mahar yang diminta Gisel.


"Saya terima nikah dan kawin Gisella Elizabeth Dougher Young binti Leon Christian Dougher Young dengan mas kawin dua ratus gram emas murni dan uang logam lima ratus rupiah dibayar tunai!" Budiman mengucap ijab kabul satu tarikan napas.


"Bagaimana para saksi, Sah?"


"Alhamdulillah ...."


Doa pengantin diucap. Gisel keluar dengan balutan gaun putih sederhana. Begitu cantik dan memukau. Ia digandeng oleh Patricia, ibunya.


Gadis itu pun mencium tangan Budiman setelah keduanya memakai cincin. Budiman pun mencium kening istrinya. Hanya raut wajah bahagia dari keduanya.


Tangisan terdengar ketika dua pengantin itu duduk bersimpuh pada ayah dan ibu Gisel. Gadis itu tak berhenti menangis dipelukan ibunya.


Patricia kini hanya bisa menyesali semuanya. Andai dulu ia tak begitu ceroboh. Leon tak akan menceraikannya. Tetapi, waktu tak bisa diulang. Leon sudah terlanjur kecewa dan mosi tidak percaya. Mereka pun berpisah.


"I'm sorry, honey. Hope you always happily ever after!" sebuah doa tulus tersemat untuk sepanas pengantin dari bibir Patricia.


Meita juga hadir di pesta pernikahan itu. Ia membawa suami barunya, bahkan ia pun telah memiliki dua anak dari suaminya. Ia sudah bahagia.


Pesta berlanjut. Terra dan semuanya telah mengucap selamat lewat video call. Bahkan Rion pun telah mengucapkan selamat, begitu juga Lidya dan anak-anak Terra lainnya.


Herman juga sudah melakukannya lebih awal. Begitu juga Virgou. Ia malah mengancam Budiman jika berani menyakiti adiknya.


"Aku akan menjaganya dengan nyawaku sendiri," sumpah Budiman.


"Aku pegang sumpahmu!' sahut Virgou dengan ekspresi dingin.


Pesta meriah terus berlangsung. Dua pengantin tak berhenti mengumbar senyum. Budiman pun begitu mesra pada istrinya.


"Sayang, apa kau ingin sesuatu? Kau belum makan dari tadi," tanya Budiman khawatir.


"Iya, aku sedikit lapar. Ayo kita makan," ajak Gisel.


Mereka pun makan salin menyuapi. Momen itu pun tak luput dari jepretan awak media. Berita ekslusif tersiar seharian penuh di layar kaca.


Waktu terus berlalu. Pesta sudah usai satu jam yang lalu. Kini sepasang pengantin tengah bergantian membersihkan diri. Waktu isya sudah lewat dari tadi. Kini keduanya tengah khusyu beribadah.


Usai salam, Gisel mencium punggung tangan suaminya dengan takzim. Sedang Budiman mencium kening Gisel. Ia meletakan telapak tangannya di pucuk kepala sang istri. Mengucap doa dan keselamatan.


Kini keduanya saling pandang dengan binaran cinta yang dalam. Budiman dengan bebas mengelus wajah cantik istrinya. Sedang Gisela menikmati sentuhan suaminya.


Keduanya beringsut ke atas ranjang. Bergelut nikmat dalam gairah cinta. Keduanya saling memagut, merintih dan melenguh. Mereka menyebut nama masing-masing dalam gejolak asmara.


Peluh kedua insan membanjiri tubuh polosnya. Budiman memacu cepat karena merasa waktunya.Sedangkan Gisel begitu pasrah, ia sudah melakukan pelepasan yang ke lima kalinya. Sedang Budiman belum mencapai orgasme pertamanya.


Masa itu pun datang. Budiman makin memacu diri. Hingga titik itu bertemu. Maka keluarlah semua ****** ***** memenuhi rahim Gisel.


Budiman ambruk di sisi sang istri dengan napas terengah-engah. Ia mencium kening Gisel lama. Mengucap terima kasih telah menjaga diri selama ini.


Sebuah persembahan kesucian seorang gadis pada suaminya. Pria yang halal menyentuhnya. Dulu beberapa teman wanitanya mengatainya perempuan purba. Tetapi ia bangga karena sang suami lah yang pantas mendapatkannya.


bersambung.


Perempuan yang baik adalah yang tau bagaimana ia menghormati dirinya sendiri.


next?