
Pesta makin meriah. Banyak tamu penting hadir di antaranya, para kolega bisnis, baik dari pihak, Bram, dari pihak Bart maupun dari pihak Terra dan Haidar sendiri.
Herman datang lagi-lagi bersama seorang perempuan yang sama. Perempuan itu terus mengikuti Herman kemana pun.
"Ciee ... Paman ... siapa tuh?' ledek Terra.
"Ciee yang udah nikah!" balas Herman meledek kemenakannya.
Terra memberengut. Haidar tertawa melihat istrinya. Ia mencium punggung tangan Herman dengan takzim begitu juga Terra. Herman mencium kening kemenakannya lalu memeluk tubuh Terra erat.
Terra menenggelamkan dirinya ke dalam pelukan sang paman. Setelah sekian lama, akhirnya ia bisa memeluk kemenakannya.
"Selamat ya sayang. Semoga sakinah mawadah warahmah. Segala sesuatu harus dibicarakan dengan hati lapang dan kepala dingin. Lepaskan ego kalian dalam mengarungi semua masalah. Saling mengerti dan saling menyayangi," nasehat Herman panjang lebar.
"Iya, Paman. Jadi kapan Paman nikah sama dia?" tanya Terra sambil melirik wanita di sisi Herman.
Herman hanya mendengkus. Perempuan itu menyalami Haidar dan Terra. sedang Herman menyalami Bram dan Kanya.
"Yang sabar yaa. Paman Herman orangnya baik kok. Semangat!" ujar Terra.
Perempuan itu tersenyum. Ia pun menyalami Bram dan Kanya, lalu menyusul Herman.
Poltak datang bersama dengan istrinya. Mereka datang berombongan dengan teman-teman kuliah Terra yang lain. Mereka memberi sebuah bingkisan yang cukup besar.
"Ini jangan-jangan bungkusnya doang gede. Isinya cuma tissue lima rebuan!" tuduh Terra.
Poltak tertawa terbahak-bahak. "Ih, tau kalinya kau Ter! Memangnya kau ini cuma bisa netif aja sama orang!'
"Ya, kalo orang macam kalian perlu lah aku curigai," sela Terra sambil mencibir.
Haidar menggoyang kotak itu. Memicingkan mata.
"Sepertinya memang isinya tissue deh, sayang," ujar Haidar.
"Weee ... udah sayang-sayang nih yeee!' ledek semua mahasiswa yang datang.
"Kalian saya akan beri D!' ucap Haidar dingin.
Tawa lebar dan wajah penuh ledek tiba-tiba berubah pucat. Mereka langsung menghiba pada dosen mereka.
"Sudah sana. Mengganggu saja kalian!" usir Haidar.
Semua pun pergi dengan lemas. Terra hanya bisa menahan senyumnya. Ia juga tak mau dapat nilai jelek dari dosen yang mata kuliahnya sangat penting itu.
Haidar menatap istrinya yang melipat bibir ke dalam. Ia sedikit mengerang. Sungguh ia menanti malam. Walau kemudian bayangan itu sirna ketika mengingat ketiga anaknya. Ia hanya mendengkus pelan. Tapi, kemudian otaknya berjalan, menyusun rencana. Agar malam pengantinnya tidak gagal nanti.
Acara terus berlanjut. Artis-artis papan atas mengisi acara. Rion juga Lidya masih tenang di tangan Virgou.
Namun tiba-tiba Rion merengek meminta bersama ibunya. Virgou berusaha menenangkan bayi itu. Bukannya tenang, malah pria itu dipukuli.
"Baby, danan main putun-putun!" peringat Lidya.
"Mau Mama!' pekik Rion lalu menangis.
Mau tak mau Virgou mendatangi Terra. Gadis itu langsung sigap menggendong Rion. Romlah langsung memberi susu. Terra dengan telaten menidurkan bayi itu.
"Iya mau sama Mama juga?" tanya Terra sambil duduk.
Lidya merengek, gadis kecil itu lapar. Terra meminta tolong pada Ani untuk mengambilkan makanan. Lima menit kemudian satu piring nasi beserta lauknya pun berada di tangan gadis itu. Haidar membantu istrinya. Ia menyuapi Lidya. Para tamu dialihkan untuk segera menikmati hidangan.
Rion ternyata lapar juga. Ia pun ikut makan satu piring dengan kakaknya. Setelah makan. Piring diberikan pada salah satu petugas catering. Kedua balita itu pun tertidur dipangkuan Terra juga Haidar.
Terra menciumi pipi gembul Rion, sesekali mengigit pura-pura sambil geregetan. Ia gemas sekali dengan bayi montoknya. Haidar juga sangat gemas dengan tingkah absurd bayi itu.
Pesta berlanjut, tamu mulai berkurang. Tepat lima jam penuh Terra menghadapi berbagai macam orang dan pertanyaan. Gadis itu sangat lelah dengan orang-orang yang cari muka.
Sudah lima jam acara berlangsung. Terra sudah lelah. Sedang ketiga anaknya sudah tidur di kursi panjang pelaminan mereka. Ani dan Romlah dipanggil Terra untuk membawa anak-anak tidur ke kamar. Bram menyuruh salah seorang petugas hotel mengantarkan mereka ke kamar yang memang disediakan olehnya. Dua blok kamar sudah dibooking Bram untuk peristirahatan semua keluarga.
Virgou datang, ia menawarkan diri untuk menggendong Darren. Terra sedikit ragu. Darren adalah salah satu anaknya yang tak bisa disentuh oleh siapapun kecuali dirinya.
Namun, melihat bajunya juga yang tidak memungkinkan untuk menggendong Darren.
"Aku coba dulu," ucap Virgou.
Pria itu mengangkat Darren. Namun, Darren terbangun. Ia terkejut dengan wajah yang dulu pernah ditakutinya.
"Mama!' panggilnya.
Benar. Darren tidak bisa disentuh oleh siapapun kecuali Terra. Pria kecil itu menangis mencari ibunya.
"Sayang. Ini Mama, Nak," ucap Terra.
Darren langsung memeluk ibunya erat. Traumanya belum hilang. Virgou sedih. Pria itu begitu menyesali perbuatannya dulu. Terra mengusap punggung pria besar itu.
"Sudah ... sudah."
Terra terpaksa menggendong putranya. Haidar mengangkat gaun panjang istrinya. Mengantar Terra yang menggendong Darren.
Acara sudah dihentikan beberapa menit lalu. Mereka kini menuju kamar di mana kedua anak Terra berada. Di sana sudah ada Romlah dan Ani sedang Gina dan Deno menunggu rumah bersama beberapa bodyguard.
Budiman masih bertugas menjaga segala macam. Pria itu menjaga ketat keamanan sekitar lokasi pernikahan.
Setelah di kamar. Terra langsung membaringkan Darren di tempat tidur. Mengecup kening ketiga anaknya secara bergantian. Haidar juga melakukan hal yang sama dengan Terra.
Waktu berlalu. Kini keduanya merasa canggung di kamar. Terra dan Haidar sudah membersihkan diri dan memakai piyama.
Keduanya merebahkan diri di atas ranjang. Terra benar-benar gelisah setengah mati. Haidar juga tak tahu harus apa.
"Te kepikiran anak-anak, Mas," ujar Terra dengan nada khawatir.
"Mas juga," ucap Haidar.
Terra bangkit dari bebaringnya. Haidar menarik tangan gadis itu. Netra mereka saling tatap.
Malam itu. Terra melakukan kewajibannya sebagai seorang istri dan Haidar telah mendapatkan haknya sebagai seorang suami.
bersambung.
nggak ada adegan hot yaaa 😅ðŸ¤ðŸ¤
next?