
Semua anak senang. Mereka semua bernyanyi. Para tetangga senyum-senyum sendiri mendengar nyanyian para bayi yang memaksa berbicara.
Ditya didatangi teman sepengajiannya.
"Ditya ... main yuk!" ajak mereka.
Ditya menoleh pada Samudera, Benua, Bomesh, Domesh dan Sky. Radit tentu ikut kakaknya.
"Papa, boleh ajak mereka main nggak?" tanyanya pada Haidar.
Pria itu mengangguk. Haidar membiarkan anak-anak berbaur dengan siapapun. Ia meminta beberapa pengawal untuk mengawasi anak-anak. Felix, Hendra dan Juno yang menyanggupinya. Mereka mengikuti tuan mudanya bermain.
"Pita bawu pain pa'a, Ata Pitya?" tanya Sky sangat antusias.
''Main gatrik!" jawab bocah lelaki itu.
"Pain pa'a ipu?" tanya Domesh ingin tau.
"Nanti, lihat dulu ya," ujar Ditya.
Gatrik atau Tak Kadal pada masanya pernah menjadi permainan yang populer di Indonesia. Merupakan permainan kelompok, terdiri dari dua kelompok. Permainan ini menggunakan alat dari dua potongan bambu yang satu menyerupai tongkat berukuran kira kira 30 cm dan lainnya berukuran lebih kecil (Wikipedia).
"Kamu bawa siapa aja, Dit?" tanya salah satu bocah laki-laki yang usianya enam tahun.
"Bawa saudara, Bang Hendro!" jawab Ditya.
Bocah lelaki bernama Hendro itu bertubuh tambun. Ia mengangguk tanda mengerti.
"Nih, lubang kemarin masih ada. Siapa mau jadi anggota saya!" ujar Hendro unjuk tangan.
"Saya sama, saudara-saudara saya, jadi ada ..." Ditya menghitung saudaranya.
"Ada enam, jadi bertujuh dengan saya!" lanjutnya.
"Saudara kamu kan belum ngerti mainnya," sahut salah satu anak laki-laki berpakaian kaos olah raga yang sudah Kumal dengan celana pendek.
"Nanti juga mereka tau cara mainnya," ujar Ditya yakin sambil menatap enam saudaranya nya.
Radit, Samudera, Benua, Sky, Domesh dan Bomesh mengangguk. Mereka tentu akan belajar cepat. Kelompok Hendro terlebih dahulu bermain.
Samudera mengamati cara mainnya. Tongkat kecil itu dilempar menggunakan tongkat panjang. Kayu kecil melayang di udara.
"Radit, tangkap itu!" teriak Ditya.
Rion menyusul adik-adiknya. Rupanya remaja itu penasaran dengan apa yang dimainkan oleh adik-adiknya itu.
Radit menatap benda kayu melayang di udara. Ia menadahkan tangannya.
"Hup!"
Pluk! Kayu jatuh ke tanah. Sedikit lagi tertangkap oleh Radit. Terdengar keluhan kecewa dari mulut kakaknya.
"Maaf, Mas!" ujar Radit menyesal.
"Sudah, apa bisa kau lempar dari sana?" Radit menggeleng.
Ditya mendatangi adiknya. Yang lainnya masih mengamati apa yang dilakukan oleh Ditya.
Bocah lelaki itu membidik kayu yang melintang di atas lubang tadi. Ditya melempar kayu itu. Hendro tampak menutup mata, ia takut kayu intinya kena dan mereka kalah.
Syuut! Pluk. Sedikit lagi kayu kecil itu mengenai tuannya. Hendro dan timnya bernapas lega.
"Aah!" seru Ditya kecewa.
Rion makin semangat dengan permainan yang baru ia lihat itu. Felix dan Juno pun sangat antusias.
Hendro kembali memukul. Ia melempar sedikit kayu kecil dan memukulnya kuat-kuat. Sayang, kayu kecil itu tak terpukul.
"Aahh!" pekiknya kecewa.
Tim Hendro kalah. Mereka bergantian. Kini giliran tim Ditya yang bermain. Ditya sebagai ketua kelompok lebih dahulu bermain. Jika nanti mereka kalah. Tim lawan akan bergantian tapi, anak buah yang bermain sampai jumlah anak habis jika tak berhasil memukul tongkat di permainan terakhir, baru kembali ketua yang bermain, begitu seterusnya sampai ada yang menang.
Ditya melempar kayu sejauh-jauhnya. Hendro melihat anak kayu yang melayang di udara. Sky meniup-niup seakan membuat anak kayu itu terbang lebih jauh agar tak tertangkap.
Gedebuk!
"Aduh!"
Hendro terjatuh karena kakinya terserimpet kaki sendiri. Kayu itu terjatuh di tanah.
"Kamu nggak apa-apa Bang?" teriak Ditya khawatir.
Beberapa temannya menolong. Tadinya Felix dan Juno hendak menolong tapi, anak-anak itu jauh lebih sigap.
Syuut! Pluk! Lagi-lagi tak kena. Ditya bernapas lega. Kali ini dia mengambil anak kayu dan melakukan hal yang sama. Melempar dan memukul anak kayu tersebut.
Tak! Kena! Anak kayu melayang jauh. Salah satu anak mencoba menangkapnya tapi tak bisa. Mereka kembali melempar kayu tersebut, tapi kali ini Ditya harus memukul balik kayu tersebut agar tak masuk gawangnya.
Hendro melempar anak kayu itu kuat-kuat.
Tak! Kayu terpukul oleh Ditya. Hendro menghela napas kecewa. Timnya kalah satu nilai. Ditya mengatrik anak kayu itu tiga kali sejauh mungkin. Hendro kena hukuman.
"Mau gendong belakang atau jalan engkle?" tanya Ditya.
"Gendong deh!" Hendro memilih hukuman menggendong.
Hendro berjalan menggendong Ditya. Samudera, Sky, Benua, Bomesh dan Domesh juga digendong punggung oleh anak buah tim Hendro. Sky senang bukan main digendong punggung. Rion mengerti cara bermainnya.
Tim Hendro kembali bermain. Didin yang menjadi pemainnya saat ini. Ia melempar kayu jauh-jauh. Samudera yang sudah tau cara bermain menangkap dengan mudah kayu itu dan melemparnya tepat mengenai induk kayu yang menjaga benteng.
Tim Hendro kalah telak. Ia berjabatan tangan pada Ditya. Ia tak menyangka jika timnya kalah.
"Kalian hebat. Padahal baru aja main satu kali langsung menang!" pujinya.
Felix dan Juno bertepuk tangan pada Hendra yang mengaku kalah dan bersikap sportif. Ditya masih perhatian pada lutut bocah lelaki itu yang lecet.
"Ah, nggak apa-apa. Cuma lecet," ujarnya santai.
Mereka pulang dengan peluh bercucuran. Baju mereka kotor bahkan kini tanpa alas kaki. Sepatu mereka lepas tadi ketika bermain. Karena semua anak melepas alas kaki mereka.
"Assalamualaikum!" seru Samudera memberi salam.
"Wa'alaikumussalam!" sahut semuanya.
"Mashaallah ... kotornya kalian!" tegur Seruni melihat pakaian anak-anak.
Semuanya tersenyum lebar. Netra mereka berbinar karena bermain dan menang.
"Ayo, mandi dulu!" ajak Aini pada anak-anak.
"Mommy, Bomesh padhi pain palatik woh!" adunya semangat.
"Palatik?" Maria tak mengerti.
"Gatrik, Mom," sahut Ditya meralat ucapan Bomesh.
"Oh, gatrik," Maria tentu tahu mainan tradisional itu.
"Mainan apa itu?" tanya Terra tak tahu.
Maria pun menjelaskannya. Terra mengangguk tanda mengerti. Rion lalu mengajak para pengawal untuk bermain di rumah nanti.
"Om, kita main yang tadi yuk, di rumah!"
"Oteh Tuan Baby!" sahut Felix setuju.
Demian penasaran. Ia pun mencari tahu lewat google apa itu gatrik. Setelah tau, ia pun akan senang memainkan permainan tradisional itu.
Usai mandi, anak-anak kembali lapar. Mereka meminta makan pada Aini.
"Mami Baini, pinta matan ... Spy lapan!"
"Hei, nggak boleh gitu ngomongnya!" tegur Nai.
"Telus padaimana Ata' Nai?" tanya Sky seperti gemas.
Nai berdecak. Gadis itu gemas dengan nada pertanyaan Sky.
"Mami, kami lapar, boleh minta makan? Begitu, Baby," ujar gadis itu mengajari.
"Mami ... tami lapan ... poleh pinta matan?" ulang Sky dengan tatapan jernih tanpa dosa.
Aini gemas dan mencium Sky. Semua anak juga minta dicium. Dengan senang hati wanita hamil itu mencium semuanya.
"Ini makanannya," ujarnya sambil menyerahkan piring berisi nasi dan lauk pauknya.
"Telima tasyih Mami Baini!" seru empat perusuh plus Samudera bersamaan.
"Sama-sama, baby!" sahut Aini dengan senyum yang terus menghiasi wajahnya.
bersambung.
ah ... anak-anak.
next?