TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
KEGENIUSAN TERRA DAN DARREN



Waktu berlalu hari berganti. Kini hari besar, sebagian perkantoran libur. Terra membawa ketiga anaknya ke perusahaan miliknya.


Terra berada di perusahaan cyber miliknya. Sudah dua bulan perusahaan itu berjalan dan pemasukan juga keuntungan dari perusahaan itu makin besar. Terlihat banyaknya perusahaan lain yang membeli chip untuk keamanan data perusahaan mereka.


Di sebuah divisi perakitan ponsel untuk mempermudah kinerja pemegang keamanan data. Terra berjalan menyusuri ditemani oleh salah satu manager pengembangan, bernama Dahlan.


"Ponsel ini, juga mencakup pergerakan kamera pengintai di sekitar masing-masing gedung perusahaan. Jadi cakupannya hingga lima kilometer dari perusahaan yang berdiri."


"Jika disatukan berarti seluruh kamera pengintai berada dalam pengawasan kita dong?" ungkap Darren spontan.


Dahlan terkejut akan tanggapan Darren. Sungguh, ia tak menyangka jika penjelasannya tadi ditangkap oleh anak berusia delapan tahun. Dahlan menatap atasannya yang tersenyum bangga.


"Maaf," cicit Darren.


"Tidak apa-apa. Kau boleh bertanya dan mengungkapkan apa pun yang kau inginkan," ujar Terra meyakinkan Darren.


Mendapat persetujuan dari ibunya, membuat pria kecil itu tersenyum, kemudian mengangguk.


"Yah ... benar tadi, kata Dik Darren. Kita menguasai semua kamera pengintai jika di satukan. Makanya kami memotong monitor masing-masing peusahaan, agar tidak menggangu obyek vital negara," jelas Dahlan lagi.


Tiba-tiba Terra terbesit ide.


"Kenapa kita tidak bekerjasama dengan pemerintah. Bukankah mereka juga memiliki data-data penting yang sangat dirahasiakan. Saya dengar, beberapa hari lalu pemerintah sempat kebobolan walau tidak begitu parah."


Dahlan terbengong. Cakupan pikiran gadis yang menjadi atasannya itu di luar ekspektasinya. Pria berusia dua puluh lima tahun itu menggaruk pelipisnya dengan telunjuk.


"Kita akan ajukan proposal bila ingin begitu," ujar Dahlan kemudian.


"Baiklah. Besok kita adakan rapat untuk mendata kembali para managerial," ujar Terra singkat.


"Masukkan dalam agendamu juga agendaku, katakan pada Pak Rommy." titah Terra yang ditanggapi anggukan oleh Dahlan.


Pria itu langsung menjalankan apa yang dititahkan atasannya. Menelpon Rommy yang menjadi asisten pribadi Terra mengatakan agenda yang mesti dia siapkan besok.


Darren menatap antusias pada layar pergerakan manusia. GPS yang terpasang pada ponsel masing-masing masyrakat terdeteksi di layar itu.


"Kenapa warnanya sama?" tanya Darren.


"Maksudnya?" Dahlan kembali bertanya.


"Iya, kenapa aktifitas orang-orang di layar berwarna sama? Tidak ada penunjukan mana masyarakat sipil, dan mana aparat keamanan. Jika kita bisa memindai, bukankah itu lebih mudah, hingga semua grafik situasi jelas?"


Pernyataan Darren membuat Terra begitu gembira. Gadis itu menjadi sangat antusias dengan pendapat putranya itu, hingga lagi-lagi gadis itu memiliki ide brilian yang melengkapi ide sebelumnya.


"Kau genius sekali, sayang," puji Terra senang.


Darren hanya tersipu mendengar pujian dari ibunya. Betapa hatinya kini tumbuh bunga-bunga yang bermekaran. Sedang Lidya dan Rion yang berada dalam kereta dorongnya hanya bisa diam tidak mengerti apa yang mereka lihat.


"Mama ... itu tipinya lusyak ya? Kok syuma galis-galis am buyet-buyet aja dambalnya?" tanya Lidya ketika melihat layar yang tadi Darren lihat.


"Itu bukan televisi, sayang tapi itu adalah layar monitor pendeteksi aksi massa," jelas Terra.


"Penyetedek ... apa Ma?" Terra tertawa.


"Mama, cucu,"


Terra langsung mengambil botol yang ada dalam tas di bawah stroller. Kemudian menyerahkan botol itu pada Rion, yang langsung dihisap dengan kuat. Tampaknya bayi montok dan tampan itu haus.


Terra melihat jam di layar ponselnya. Sudah waktunya makan siang. Gadis itu pamit pada Dahlan dan mengucap terima kasih telah menemaninya. Darren masih ingin di sana sebentar. Pria kecil itu penasaran dengan aktifitas orang-orang yang merakit ponsel.


"Ma, Darren boleh nggak ngerakit ponsel Darren sendiri?" tanyanya.


Terra menatap wajah polos yang memohon padannya. Sedikit ragu, akhirnya gadis itu mengangguk. Darren langsung ke bagian perakitan. Pria kecil itu mengamati satu persatu. Sementara Terra meminta Dahlan menyiapkan benda-benda yang dibutuhkan untuk merakit sebuah ponsel.


Setelah mendapat benda-benda yang diinginkan. Pria kecil itu masih bertanya pada para pekerja yang sedang merakit. Rupanya ada bagian yang ia tanyakan.


Setelah mendapat apa yang ia mau. Darren mendatangi Terra. Gadis itu mengajak putranya ke ruangan kantornya. Dengan antusias Darren membawa satu kotak penuh alat-alat yang akan dia rakit sendiri nanti.


Setelah makan siang dan sholat dhuhur. Terra dan ketiga anaknya masuk ke ruang kantor pribadi Terra. Menyiapkan meja, memasang solder dan menyalakan komputer. Lidya dan Rion sudah tertidur. Terra membawa mereka ke kamar pribadi yang ada dalam ruangan tersebut. Setelah meletakan dan memastikan keduanya aman, Terra baru meninggalkan mereka dengan pintu terbuka.


Setelah itu, ia menemani Darren, untuk merakit ponsel yang pria kecil itu inginkan. Gadis itu sedikit penasaran, apa yang ingin dilakukan oleh putranya.


Sepanjang perakitan, Darren menjelaskan apa saja yang ada dipikirannya. Pria itu menciptakan sebuah alat di mana alat itu bisa terhubung oleh pihak keamanan tanpa diketahui oleh musuh. Bahkan ia mulai menciptakan warna-warna sendiri untuk pergerakan itu.


"Ma ... bagaimana jika kita ciptakan sebuah alat yang mengontrol pergerakan GPS. Jadi para penjahat kita acak hingga mencelakai temannya sendiri?!" sebuah usulan brilian dari Darren.


"Tentu saja, bisa sayang. Kita harus punya data yang konkrit untuk meretas pergerakan mereka. Dan Mama memiliki data itu. Emm ... bukan memiliki sih, kita bisa mencuri secara on the spot. Itu lebih mudah dan sangat aman," jelas Terra.


Akhirnya selama dua jam. Perakitan ponsel canggih yang Darren inginkan selesai. Mereka berdua tertawa puas dengan kerjasama mereka.


"Ponsel ini kamu mau beri nama apa sayang?" tanya Terra.


"Namanya adalah BraveSmart ponsel. Kita bisa jual ini pada anak-anak konglomerat yang hidupnya tidak aman, Ma. Kita bisa menjualnya secara tersembunyi karena ponsel ini tidak boleh ada yang tahu kecuali keluarga atau anak itu sendiri," lagi-lagi ide Darren membuat Terra berdecak memuji.


"Kita akan pikirkan itu, ya sayang. Sekarang ponsel ini jadi milik kamu," ujar Terra.


"Benar, Ma?" ungkap Darren antusias.


Terra mengangguk dan langsung mendapat pelukan dari Darren.


"Makasih, Ma."


"Sama-sama, sayang."


bersambung.


duh otak apa air ya ... encer begono.


yuk dukung terus karya othor.


hanya sedikit sedih sih. Klik lovenya ada 2000 lebih pembaca. tapi klik like hariannya nggak pernah nembus seribu.


Tapi, tidak apa deh. othor tetap ngucapin terima kasih banyak sama semuanya. baca terus serial Terra yaa.