
Hari pertandingan telah dimulai. Semua keluarga mendukung Darren. Bayangkan, Kakek, Oma, Paman, Bibi, Om, Tante, Kakak, Adik juga Mama dan Papa hadir untuk memberi dukungan, belum kedelapan anak kembar yang hanya beda beberapa bulan saja.
Satu blok berisi dua puluh kursi yang berada di tengah sudah terisi oleh mereka semua. Para wanita mengenakan gamis dan hijab sedang para pria mengenakan Koko, sesuai peraturan harus menggunakan pakaian sopan dan rapi.
Tentu saja keluarga Terra yang paling mencolok perhatian. Bukan karena dari jumlah mereka yang banyak tetapi wajah tampan yang menawan juga kecantikan bak peri, menarik perhatian para pendukung yang lain. Tentu saja mata biru Virgou dan Gisel menjadi sorotan. Semua memegang al-qur'an. Virgou selama ini belajar mengaji pada istrinya, kadang pada ayah dan ibu mertuanya. Jadi ia sedikit bisa membaca kalam illaihi yang bertuliskan arab itu.
Pembawa acara memperkenalkan diri. Pertandingan antar sekolah ini banyak mengundang para donatur termasuk stasiun televisi. Makanya banyak iklan dan ucapan terima kasih pada orang-orang yang telah memberi kontribusi besar pada acara ini.
Semua peserta diperkenalkan. Lalu ditanya alasannya mengikuti lomba. Semua menjawab sama. Memberi mahkota untuk kedua orang tuanya.
"Nah, kita perkenalkan ini, peserta paling ganteng karena bule sendiri. Namanya Darren Putra Hugrid Dougher Young. Benar begitu nyebutnya?" tanya pembawa acara bernama Arfan Basyim.
Darren mengangguk. "Panggilnya Darren, Kak Arfan!"
"Oke, Darren. Semua peserta alasannya sama ketika mengikuti lomba ini. Yakni memberi mahkota untuk kedua orang tua. Nah, Darren sama nggak kaya temen-temennya?" Darren menggeleng.
"Tujuan Darren ikut lomba untuk belajar, bukan cari pahala," jawabnya tegas..
Arfan terkejut mendengar jawaban pria kecil yang tingginya hampir sama itu.
"Eeh ... iya juga ya? Aduh, kak Arfan salah nanya kalo gitu," sahutnya terkekeh kikuk.
"Tapi, niat nggak memberikan mahkota untuk orang tua. Terutama untuk Ibu?" tanyanya kemudian.
Darren menatap ibunya yang duduk di barisan tengah. Arfan menatap sosok yang dipandang oleh Darren. Pria itu telah mendapat informasi dari panita tentang status Darren.
"Maaf nih, Ma. Manggilnya Mama kan ya?" Arfan memberi kode untuk Terra berdiri.
"Iya, Kak Arfan. Saya Mamanya Darren," jawab Terra ketika berdiri dan memegang mik.
"Ini maaf banget Mah. Kalau boleh ceritakan siapa Mama dan hubungannya dengan Darren. Denger-denger Kak Arfan. Mama sebenarnya adalah kakak dari Darren. Apa betul begitu?" tanya Arfan lagi.
Terra tahu ini adalah bagian dari intertaiment. Ia sedikit risih jika kehidupan pribadinya diumbar ke publik.
"Maaf, Kak. Saya rasa kehidupan pribadi saya antara anak-anak saya bukan konsumsi publik!"
Arfan sedikit tersenyum kikuk. Di telinganya menyuruhnya terus mengorek informasi. Tetapi, Terra sudah memberinya tanda keras jika kehidupannya bukan untuk diumbar atau diketahui banyak orang. Wanita itu mengembalikan mik dan duduk dengan ekspresi datar. Baru kali ini satu acara menjadi tegang. Karena ekspresi datar yang diperlihatkan keluarga Terra.
"Baik Mah. Makasih ya. Saya hanya menjalankan tugas," ujar pria itu kemudian.
"Nah sekarang, Darren apa sih arti Mama di hidup kamu?" tanyanya kini pada Darren.
"Bagi Darren, Mama adalah segalanya. Mama adalah malaikat yang Allah kirimkan untuk mencintai Darren dan semua adik-adik," jawab Darren lugas dengan mata berkaca-kaca.
"Ma. Darren akan memakaikan mahkota ini untuk Mama," ujarnya. "Inshaallah!"
Semua menyeka mata mereka yang basah. Pertandingan pun di mulai. Beberapa tahap dilalui. Darren lolos hingga tahap terakhir untuk hari ini dengan nilai tertinggi.
Terra tersenyum bangga. Bukan hanya Terra tetapi seluruh keluarga yang memiliki kekuasaan bisnis di kota juga bangga pada Darren.
Mereka pulang setelah acara selesai dan kembali lusa. Pertandingan akan berakhir di hari sabtu.
Hari terus berganti. Darren terus melaju hingga babak semi final. Tersisa empat anak dengan nilai tertinggi. Acara dimulai dengan pembaca ayat suci Al-Quran oleh salah satu peserta. Darren menjadi pembaca arti dari surah yang dibaca.
Lagi-lagi Darren mendapat nilai tertinggi. Berbeda tipis dengan salah satu peserta anak perempuan. Faisyah memang sangat pintar. Gadis kecil seusia Darren.
Pertandingan pun berlanjut. Darren dan Faisyah saling berebut nilai.
Pertandingan terakhir menyebut ayat berapa di surah berapa dan artinya apa. Bukan hanya itu. Peserta juga harus membuat satu ceramah dadakan dengan ayat yang dipinta.
Darren maju sebagai peserta terakhir. Sebuah ayat diperdengarkan sebagian. Darren melanjutkan ayat itu dengan bacaan yang baik dan benar.
"Itu surah apa dan ayat berapa?"
"Surah Keluarga Luqman ayat empat belas!" jawab Darren tegas.
"Tunggu ... sabar .... Yakin sama jawabannya?" tanya Arfan.
"Yakin!"
"Oke bagaimana para guru?"
"Jawaban ananda Darren. Benar!"
Semua tepuk tangan meriah. Terra bernapas lega. Lalu ketika mengartikan ayatnya. Suara Darren sedikit tercekat.
"Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu."
Tetes demi tetes air mata mengalir di pipi Darren. Terra sangat mengerti betapa terlukanya ia jika bercerita tentang ayah dan ibu kandungnya.
" ..... Sekali lagi. Bagi Darren. Mama adalah segalanya ...."
Pria kecil itu mengakhiri ceramahnya. Semua menangis bahkan Arfan ikut menangis dan memeluk Darren. Mengelus punggung pria kecil itu.
"Allah Maha Tahu segalanya. Pasrahkan saja Pada-Nya," Darren mengangguk.
"Mah ... makasih ya sudah merawat dan mendidik Darren sebagus ini," ungkap Arfan tulus.
"Sama-sama, Kak," sahut Terra tak kalah tulus. Ia begitu bangga pada putra sulungnya itu.
Acara pun selesai. Darren mendapat juara dua. Pria kecil itu bahagia sekali mendapat piala dan medali perak. Medali itu ia serahkan pada Haidar dan piala ia serahkan pada Virgou. Hadiah umroh ia serahkan pada Herman dan satu set peralatan shalat ia serahkan pada Bram dan Kanya.
"Untuk Mama, mana Nak?" tanya Terra pura-pura sedih.
"Untuk Mama adalah doa agar Allah memberikan mahkota itu untuk Mama!" jawab Darren penuh semangat.
Ia yakin jika ia terus berdoa dan berusaha. Allah pasti akan mengabulkan. Terra terharu, ia memeluk putranya erat.
Mereka pun pulang dengan hati gembira. Tidak ada raut kecewa karena mendapat juara kedua. Di hati Terra putranya tetap juara pertama selamanya.
bersambung.
Next?