
Lidya benar-benar mengalami ngidam yang sedikit menyusahkan dirinya. Padahal dulu ayahnya lah yang mengidam semua adik-adiknya.
Seperti saat subuh menjelang. Lidya sudah tergolek lemas di kamar mandi. Ia baru saja mengeluarkan semua isi perutnya walau hanya berupa cairan bening.
"Sayang," panggil Demian khawatir.
Pria itu memijat tengkuk istrinya. Lalu tubuh Lidya ia gendong ke ranjangnya.
"Sayang," panggil pria itu lagi sambil mengusap peluh yang ada di dahi sang istri.
"Kenapa bukan aku saja yang mengalami ini? Aku iri sama papa yang mengalami trimester pertama semua anak-anaknya Itu bukti jika papa bucin banget sama mama," keluh Demian.
"Itu tidak ada hubungannya, sayang," ujar Lidya lemah.
Wanita itu mengusap rahang tegas suaminya. Ia beruntung dicintai pria tampan itu. Demian tak pernah mengeluh, selama dirinya mengidam. Bahkan tengah malam buta ia akan terbangun jika istrinya muntah atau merasa haus atau pun lapar. Demian sebisa mungkin selalu ada untuk istrinya.
"Maaf ya, jika kehamilanku merepotkanmu," ujar wanita itu penuh sesal.
"Astaghfirullah, apa yang kamu bicarakan sayang!" seru Demian tak suka.
"Kau istriku, anak yang ada di dalam sini adalah hasil perbuatanku!" lanjutnya sedikit emosi.
Lidya tersenyum. Ia segera meminta maaf. Demian mengecup bibirnya.
"Sayang, aku belum kumur," rengek wanita itu.
"Aku tak peduli sayang. Biar aku merasakan sisa muntahan yang ada di bibirmu," ujar pria itu sambil mengusap bibir yang basah akibat perbuatannya.
"Ternyata masih manis walau ada pahitnya sedikit," gurau Demian.
Lidya merengek manja pada sang suami. Beruntung ia berada di ruang suaminya. Wanita itu bisa membayangkan jika ada di rumah ibunya. Ia sangat yakin semua pasti heboh dan khawatir jika mendengar dirinya muntah hampir setiap hari dengan waktu random.
Lain Lidya lain juga Safitri. Wanita itu memang mual setiap pagi. Tapi, keahliannya menotok saraf ia pergunakan agar tak mengganggu aktivitasnya.
"Sayang," rajuknya pada sang suami.
Mereka kini berada di rumah Terra. Saf sedikit manja semenjak subuh, ia belum membantu mertuanya menyiapkan sarapan untuk semua orang. Terra tak pernah keberatan. Ia juga pernah hamil, walau Haidar yang mengidam untuknya.
"Ada apa sayang?" tanya Darren lalu memeluk istrinya yang merajuk..
"Mau sama Baba ke pasar beli semangka," jawab wanita itu manja.
"Kok sama Baba sih? Nggak sama Abah aja?" tawar Darren.
Pria itu memanggil dirinya Abah. Ia ingin beda panggilan sendiri.
"Tapi, anak kita maunya Baba, sayang!" rengek Safitri.
"Baik lah. Aku telepon Baba ya!" ujar Darren mengalah.
Saf begitu senang bukan main. Entah kenapa hari ini ia ingin ajudan suami dan mertuanya itu menemaninya ke pasar.
"Halo assalamualaikum, Ba! Maaf mengganggu subuh-subuh!"
"........!"
"Gini Ba, istri Darren pengen ditemenin sama Baba ke pasar beli semangka," ujar Darren hati-hati.
"......!"
"Bener, Ba ... nggak apa-apa?!" serunya dengan senyum lebar ketika mendengar jawaban Budiman.
"......!'
"Iya Ba. Saf akan langsung bersiap dan menunggu!"
Sambungan telepon pun selesai setelah Darren mengucap salam.
"Sayang, bersiap lah. Baba akan datang sebentar lagi," titah pria itu dengan senyum terpatri.
Saf senang bukan main. Ia sampai terpekik mendengar kesediaan pengawal ibu mertua dan suaminya itu.
Wanita itu sudah bersiap dengan pakaian sederhana. Sebuah celana training dan kaos longgar. Ia memakai hijab instan. Sesuai permintaan sang suami untuk menutup auratnya semenjak menikah dengan Darren.
Terra tengah menyiapkan sarapan. Hari ini semua anak bangun pagi. Nai membantu ibunya. Ia akan masih harus masuk mengejar para profesor untuk tanda tangan makalah dan persoalan koasnya kemarin.
"Pagi Ma, Dik!" sapa Saf dengan ceria.
"Pagi sayang," sahut Terra.
"Pagi Kak!" sahut Nai.
"Maaf ma, Saf nggak bantuin mama. Tadi mual banget," ujar Saf dengan nada menyesal.
"Tidak apa-apa, sayang. Ini mau kemana? Kok rapi banget?"
"Mau ke pasar beli buah semangka," jawab Saf.
"Loh kok nggak berangkat sekarang? Nanti habis loh!" sahut Terra mengingatkan.
"Nunggu Baba. Saf pengen dianterin Baba!" rengek Saf manja.
"Oh, apa Baba nggak keberatan?" tanya Terra pada Darren.
Tak lama Budiman datang bersama Gisel dan tiga putra dan juga kedua orang tuanya. Gisel menginginkan makanan dari Terra tapi ibu mertuanya yang harus menyuapinya.
"Kenapa ngidammu aneh sekali Gisel?" tanya Haidar ketika duduk di kursi makan.
"Ya, pengennya gitu, gimana Kak?" jawab Gisel santai.
"Pau mih Bommy, suta panet nelbain olan!" sungut Sky dengan mata mengantuk.
"Astaga aku diprotes putraku sendiri?" seru Gisel tak percaya.
Terra terkekeh. Saf menggandeng Budiman. Ia sudah bergayut manja pada pria itu.
Keduanya keluar dari rumah. Mobil Lidya masuk, Gio ditelepon wanita itu pagi-pagi sekali.
"Baba mau kemana!" teriak Lidya.
"Mau ke pasar sama Saf," jawab pria itu.
"Ikut!" teriak wanita mungil itu.
Saf dan Lidya berebut duduk di depan.
"Aku yang duluan panggil Baba!" rajuk Saf tak mau kalah.
"Baba lebih sayang Iya!" sahut Lidya santai.
Tentu saja Budiman mendahulukan nona mudanya. Saf sampai cemberut sepanjang perjalanan ke pasar. Lidya tersenyum penuh kemenangan.
Budiman merasa tak enak pada Safitri yang cemberut padanya. Lidya santai ketika turun dan di dahulukan oleh pria itu.
"Baba nyebelin!" gerutu Saf kesal.
Budiman hanya bisa menghela napas panjang. Saf meminta semangka, pisang dan anggur. Budiman yang membayarnya. Sedang Lidya meminta buah apel malang dan strawberry.
"Baba, bayarin ini dong!" pinta Lidya dengan nada manja.
Dengan senang hati ia membayar belanjaan nona mudanya. Saf lagi-lagi ngambek.
"Tuh kan, giliran Lidya aja yang minta bayar. Baba senyumnya lebaaarrr banget!" protes wanita itu kesal.
"Giliran Saf yang minta ... nggak ada senyum sedikitpun!" lanjutnya mendumal.
Lidya tertawa lirih mendengar keluhan kakak iparnya. Ia menang banyak hal. Saf masih duduk di belakang dan Lidya berada di sisi Budiman.
"Assalamualaikum!" salam Saf dengan suara lemah.
Wajahnya masih terlipat dan bibir yang mencebik kesal. Darren dan Demian memang belum pergi ke kantor. Mereka menunggu istri-istri mereka. Haidar dan lainnya sudah pergi dari tadi.
"Hei, kenapa mukanya cemberut begini?" tanya Dar sedikit terkekeh melihat wajah lucu istrinya.
Saf hanya diam. Sedang Lidya senyum penuh kemenangan. Budiman yang serba salah. Tapi, ia memang lebih mendahulukan Lidya, sang penyejuk hatinya ketimbang Saf.
"Sayang!" panggil Terra bingung.
"Ah percuma ngadu. Pasti semua juga belain Lidya!" sungut Saf kesal.
"Nggak ... Mama nggak akan gitu!" tekan Terra.
"Kalo Iya, salah. Mama pasti marahin Lidya!" lanjutnya.
Mata Safitri berbinar. Ia mendapat dukungan. Wanita itu mengadu kelakuan dua orang yang kini menunduk. Terutama Budiman.
"Baba nggak sayang Saf!" rengek wanita itu di akhir aduannya.
Terra memeluk Saf. Ia meminta wanita itu harus banyak stok kesabaran. Lidya acuh dengan yang terjadi.
"Sayang, minta maaf sama Kak Saf!" pinta Darren lembut pada adiknya.
Lidya menunduk. Ia memang sudah keterlaluan pada kakak iparnya, tapi itulah ngidamnya hari ini, ingin mengerjai Safitri.
"Maafin Iya ya, kak!" cicitnya manja.
Saf yang memang hanya merajuk di bibir saja, ia pun mengangguk. Wanita beriris abu-abu itu tentu memaafkan adik ipar kesayangannya. Keduanya berpelukan.
Usai bebersih dan ganti baju. Mereka berdua turun. Keduanya saling bergandengan tangan dan melempar senyum. Budiman pun lega dan tak lagi merasa bersalah.
"Baba, Saf masih marah sama Baba! Baba nggak sayang sama Saf!"
Budiman pun hanya bisa bengong mendengar tuduhan istri dari tuan mudanya itu. Gisel acuh ia masih setia membuka mulut ketika Mia menyuapinya. Sedang Fery menjadi penonton saja.
"Ih ... tenapa syih peupelti anat tesyil!" protes Benua.
"Biya ... nalah-nalahin Ata' Penua, Spy, Ata'Domesh syama Bomesh!" sahut Sky.
Ternyata dua bayi itu mengamati kelakuan kedua kakak perempuannya itu.
bersambung.
marahin Sky!
next?