
Juni tengah beberes rumah. Tampak empat bayi tengah bermain dengan Romlah. Rion juga ada di sana..
Juni meraba perutnya yang berlemak..Wanita dengan bobot 60kg dengan tinggi tubuh 150cm. Ia dulu pernah nyaris memiliki anak. Tetapi, musnah karena keguguran..
Sebuah kesalahan yang ia lakukan sebelum pernikahan. Pria menolak bertanggung jawab. Ia pun menggugurkan kandungannya karena malu.
Sayang. Kejadian itu membuat ayahnya murka dan mengusirnya dari kampung. Ia pergi menuju rumah pria yang menyuruhnya aborsi. Tetapi ia malah menemukan fakta jika pria itu malah menikah dengan wanita lain.
"Dia mengandung anakku," begitu kata pria itu.
Juni marah. Ia juga mengatakan jika ia hamil anak pria itu.
"Aku juga hamil anakmu, tetapi kau malah menyuruhku menggugurkannya!" pekiknya marah.
"Itu salahmu sendiri! Kenapa kau mau!' elaknya untuk mengakui kesalahannya.
Juni pergi dengan semua luka di hati. Andai bisa memutar waktu. Ia akan hidup dengan seorang anak walau tanpa suami. Ia tak bisa lagi hamil akibat aborsi yang ia lakukan.
"Jun!" panggil Ani.
"Ah ... i-iya Mba!" sahutnya gugup.
"Ngapain kamu liatin Den Rion kek gitu?' tanya Ani curiga.
"Nggak ... saya nggak liatin Den Rion kok!" bantahnya cepat.
Ia pun bergegas melakukan pekerjaannya. Setelah usai, wanita itu pun berlalu dari sana. Ani hanya bernapas lega. Ia sedikit menyesal berpikiran buruk pada wanita yang baru saja bekerja selama dua bulan ini.
"Mesti diperhatiin terus. Aku jadi khawatir ngeliatin dia merhatiin Den Rion kek gitu," ujarnya waspada.
Juni ke gudang belakang untuk menyimpan barang-barang. Ia menatap sekeliling. Ada beberapa kamera pengintai di sana. Ia pun melanjutkan pekerjaannya.
Sedang di paviliun. Salah satu penjaga menatap satu layar yang tidak berfungsi. Mencoba beberapakali menon-aktifkan layar. Tetap sama saja, tidak berfungsi.
"Sepertinya kamera layar delapan belas harus diperbaiki," ujarnya bermonolog.
"Man!" panggilnya pada rekan sekerjanya.
"Yup," sahut pria yang namanya dipanggil.
"Kamu coba cek kamera nomor delapan belas. Sepertinya error!" Pria yang tadi dipanggil pun melihat.
"Oh iya. Ntar, saya cek!" ujarnya lalu bergegas ke lokasi.
Kamera tersebut dekat gudang dan kolam renang. Ia membawa tangga dari gudang dan mencoba memperbaikinya.
"Cek monitor delapan belas. Apa sudah normal cek!" ujarnya melalui headset bluetooth yang ada di telinganya.
"Cek monitor delapan belas belum berfungsi!"
"Kalau begitu mesti diganti cek!"
Parman pun membongkar kamera dan mencopotnya. Lalu membawanya ke paviliun.
"Wah, nggak ada stok cadangan kamera pengintai di paviliun. Coba tanya komandan Budiman. Apa beliau menyimpannya?"
Selama menghubungi Budiman. Rion tengah asik bermain di halaman belakang. Adik-adiknya sedang berada dalam box mereka. Romlah menjaganya.
Juni yang sedang ke gudang menyimpan beberapa barang, diikuti oleh Rion. Balita itu penuh dengan keingin tahuan yang tinggi.
"Bik Jun, ngapain?" tanyanya.
"Lagi beresin barang, Den," jawab Juni tanpa melihat balita itu.
Rion pun melihat wanita itu sedang menyusun barang-barang di lemari. Rion makin masuk ke dalam. Balita itu melihat bola yang selama ini dia cari.
"Oh, telnyata ada di sini toh!" gumamnya pelan sekali.
Juni yang memang tidak melihat Rion masuk menutup pintu. Ruangan yang tadi terang mendadak gelap. Rion terkejut. Balita itu pun mulai berteriak.
"Buka!" Rion berusaha menggapai gagang pintu. Sayang pintu terkunci. Balita itu tak bisa membukanya.
Ruangan gelap dan pengap. Rion mengingat sebuah kejadian masa lalu. Ia sangat ingat, kala itu ibu kandungnya merasa pusing mendengar tangisannya. Wanita itu baru saja memukuli kakaknya hingga pingsan. Sedang Lidya memeluk Darren dengan penuh ketakutan.
Wanita itu membawa bayi itu ke dalam lemari kayu lalu menutupnya. Gelap dan pengap. Rion mulai pucat. Ia berusaha kuat untuk keluar dari ketakutannya.
"Mama, buka pintu!" teriaknya lagi.
Keringat dingin mulai mengucur. Ia pun mulai menangis. Balita itu masih terus berusaha memukul pintu dengan segenap tenaganya.
Sayang, lambat laun tenaganya melemah. Ketakutannya menguasai dirinya. Napasnya mulai sesak.
"Mama tolong Ion!" pekiknya lemah.
Tubuh montoknya perlahan terkulai lemas di lantai yang dingin. Sedingin lemari kayu di mana Firsha pernah menaruhnya di sana.
"Mama tolong Ion," ucapnya lagi berbisik.
"Mama ...."
"Mama ...."
Matanya perlahan mulai berat. Balita itu sudah dikuasai oleh ketakutan. Air matanya tak berhenti mengalir. Mulutnya terus memanggil ibunya.
"Ma ... ma to ... long .. I .. on ...," semakin lemah suaranya.
"Ma ... Ma ...!"
Tiba-tiba pintu terbuka. Seraut wajah yang ia panggil datang dengan wajah panik. Rion tersenyum lalu tak sadarkan diri.
"Baby!" pekik Terra langsung menangis.
Flash back.
Satu jam yang lalu, Terra begitu gelisah. Di kantor ia tak fokus sama sekali. Ia pun akhirnya pulang tanpa pamit. Rommy sampai bingung dibuatnya. Budiman dan Lukman yang mengawal pun sedikit heran melihat kliennya pergi terburu-buru.
"Mana kunci mobil!' titahnya.
"Saya yang menyetir!" ujar Budiman.
Budiman. menyerahkan kunci.
"Jika kalian ingin ikut, silahkan siapkan jantung. Jika tidak sanggup silahkan naik taksi!" ucap Terra dingin.
Semuanya ikut. Lukman duduk di belakang. Sedang Budiman di samping kliennya. Terra memasang sitbelt. Menghidupkan mesin auto sport. Mobil sport baru milik Terra hanya ada dua puluh di dunia. Wanita itu membelinya karena kecepatannya juga bisa menampung lebih dari dua orang.
Dengan kecepatan tinggi. Terra menjalankan mobil sportnya. Semua disalip laksana balapan mobil. Lukman hanya bisa memegang kursi sedang Budiman sangat santai. Andai tadi Terra menyuruhnya cepat seperti ini. Ia pasti bisa melakukannya.
Mobil sampai hanya lima menit. Bayangkan jarak ribuan kilometer dan biasa menempuh hingga satu jam perjalanan dilibas dengan cepat.
Ia segera lari ke dalam rumah. Melihat semuanya aman terkendali. Ia melihat empat anaknya sedang memainkan kaki mereka. Ia pun bernapas lega. Tetapi, kenapa hanya empat.
"Baby!" panggilnya berteriak.
Budiman langsung beraksi memeriksa di mana balita itu. Ia pun langsung ke taman belakang. Mencari di BraveSmart ponsel. Ia menggeleng.
Perlu waktu, sedang ia tak tahu jam berapa Rion menghilang, tapi apa salahnya mencoba. Ia pun mengecek.
"Nona, Tuan Baby ada di gudang!"
Terra dan Budiman langsung berlari. Wanita itu histeris karena berusaha mendobrak pintu kayu itu.
"Jangan, Nona. Tuan Baby bisa terluka!' peringat Budiman.
Romlah tergopoh-gopoh menyerahkan kunci. Dengan tangan gemetar Terra membuka pintu dengan kunci. Berkali-kal pula kunci itu jatuh.
"Tenangkan diri, Non," ujar Romlah ikut panik.
"Bismillahirrahmanirrahim!" pintu terbuka.
Sebuah pemandangan mengenaskan terjadi. Rion sudah tergeletak lemas dengan wajah pucat. Balita tampan itu masih tersenyum.
"Mama," panggilnya dengan suara yang amat pelan.
Melihat Rion tak sadarkan diri. Terra histeris bukan main. Wanita itu menangis tersedu-sedu.
"Baby, ini Mama, Nak. Bangun, sayang!"
"Non, kita bawa dia dulu ke ruang terbuka!" ajak Budiman juga tak henti meneteskan air mata.
Tubuh Rion yang panas dan bergetar hebat. Tanda ketakutan. Terra yakin jika sesuatu yang mengerikan pernah dialami balita kesayangannya ini.
"Baby, ini Mama, Nak ... sayang!" panggilannya dengan tersedu.
Haidar juga pulang dengan cepat. Perasaannya juga tidak enak semenjak tadi. Rupanya apa yang ia takutkan terjadi.
"Sayang!" panggilnya.
"Mas ... Baby pingsan ... hiks ... hiks!"
Keempat bayi juga menangis ternyata mereka merasakan apa yang kakaknya rasakan.
"Ata'Ion ... Ata' Ion!"
"Te!" sebuah suara mengagetkan.
Virgou datang bersama istri yang hamil dan dua anak kembarnya. Keduanya bermaksud untuk mengajak anak-anak berenang bersama. Terra menangis.
Virgou melihat Rion tergelak dengan tubuh bergetar di tangan Terra langsung berlari dan mengambil Rion dari pelukan Terra.
"Aku sudah panggil Dokter," ujar Haidar dengan suara tercekat.
"Baby ... baby ... ini Daddy, Nak!" panggil Virgou.
"Kita taruh dia di ranjang dulu. Tenangkan anak-anak mereka semua menangis," ujar Haidar yang masih waras.
Pria itu menahan semua emosinya. Ia ingin menghajar semua orang yang lalai di rumah ini. Hanya untuk menjaga anak satu seperti Rion saja. Semuanya tidak sanggup.
Budiman langsung menuju paviliun. Menjejerkan para pengawal yang tak berani satu pun membantah atau menatapnya.
Bug! Bug! Bug!
Pukulan dan hantaman berkali-kali dilayangkan pria itu pada lima puluh orang yang berjaga. Semuanya tak berani membalas. Darah menetes di sela-sela bibir mereka yang robek.
Belum habis Budiman memukuli mereka. Virgou datang pun juga menghajar mereka semua habis-habisan. Jika saja Budiman tak menahan laju kakak dari kliennya itu. Mungkin urusannya akan panjang.
Dokter datang memeriksa Rion.
"Sepertinya Rion mengalami traumatik kembali. Satu peristiwa mengerikan pernah dialaminya. Makanya ia begitu ketakutan," jelas dokter. "Tidak ada yang perlu ditakutkan. Hanya saja tenangkan dia beri kekuatan dan yakinkan jika bersama anda dia terlindungi."
Dokter pergi. Terra memeluknya erat. Dokter telah memberinya sirup turun panas. Sekarang suhu balita itu pun mulai turun.
"Baby ... sayangku," panggil Terra menciumi Rion.
Puspita juga melakukan hal sama, ia memeluk Rion dan menciuminya. Walau keduanya masih sesengukan . Mereka bernapas lega Rion tak harus dirawat di rumah sakit.
Darren dan Lidya pulang bersamaan. Gadis kecil itu masuk siang, makanya bisa pulang bersama kakaknya.
Melihat adiknya pucat, membuat Darren dan Lidya menangis.
"Nak, apa kau tahu kejadian apa yang menimpa adikmu dulu?" Darren menggeleng dengan air mata yang meleleh.
"Mungkin. waktu itu Darren pingsan karena habis dipukuli, jadi nggak tahu apa yang terjadi ... hiks ... hiks ... maafin Darren ya, Ma," ujarnya menyesal.
Terra pun sedih mendengarnya terlebih Puspita. Ia pun langsung memeluk pria kecil itu. Memberinya kasih sayang yang melimpah.
Rion kembali ceria, balita itu cepat sekali pulih dari trauma. Terra berkali-kali menciumnya, semuanya juga. Herman datang setelah mendengar kabar jika Rion terkunci di gudang.
"Wah ... semua sayang Ion ... I love you ... ba bowu semuanya ..."
bersambung.
ba bowu pu Ion ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
next?