TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
TA'ARUF 2



Jika kemarin Dav membawa anak-anak Terra. Sore ini dia membawa anak-anak Virgou. Makin terpana lah Seruni dengan Si kembar Kean dan Cal yang bermata biru juga Kaila. Hanya, Affhan dan Maisya saja yang bermata sana dengan kakek mereka yakni coklat tua.


"Jadi ini anak-anak siapa?" tanya Ya'i Gustaf ketika melihat anak-anak bule itu.


Semua anak-anak memang berlaku manis. Mereka selalu sopan dan manja dengan Seruni yang memang sayang dengan anak-anak.


"Ini anak-anaknya Kakak saya, Virgou yang kemarin datang ke sini," jawab Dav dengan senyum lebar.


"Ini yang pertama kembar, Muhammad Keanu Putra Black Dougher Young, sama Muhammad Calvin Putra Black Dougher Young. Ini juga kembar sepasang. Namanya Maisya Putri Black Dougher Young dan Ali Affhan Putra Black Dougher Young dan si bungsu ini Kaila Asyun Putri Black Dougher Young," ujar Dav memperkenalkan semua anak-anak kakaknya itu.


"Mashaallah ... ganteng-ganteng dan cantik-cantik," puji Nyai Hadijah semringah.


Kaila yang gembul tampak asik memakan kacang di toples yang ada di atas meja.


"Bante Peluli eh Peluni ...!" panggil balita itu.


"Iya, Sayang," sahut Seruni sambil memeluk balita montok itu gemas.


"Eundat ada tue tah?" tanya gadis kecil cantik itu.


Karena kemarin bersama Rasya dan Rasyid. Seruni kini mulai memahami sedikit bahasa Kaila.


"Ada banyak ... Baby Kaila mau kue apa?" tanya Seruni lalu mencium gemas pipi merah chubby Kaila.


"Mau yan banat ... mawu pawa setolah!" jawab Kaila antusias. "Taya Pasha tama Achid padhi padhi pawa tue banat."


Seruni mengangguk. Ia akan membawakan banyak kue untuk bekal mereka besok dan dibagikan pada teman-teman bocah-bocah lucu tersebut.


Malam menjelang. Semua sudah pulang bahkan Maisya tertidur di pangkuan pria sepuh itu. Rumah kembali sepi. Sepasang suami istri itu menatap wajah murid yang selalu kurang beruntung dalam mencari jodohnya. Kesabaran gadis itu masih diuji ketika Seruni dalam hitungan jam akan menikah justru batal karena calon suaminya mengejar mantan kekasihnya.


Walau dengan penuh rasa malu yang luar biasa, Seruni tetap mempersilahkan para tamu untuk menikmati hidangan. Selesai pesta, bukan permohonan maaf diterima oleh gadis itu. Orang tua dari pengantin pria malah minta ganti rugi atas batalnya pernikahan. Mengambil semua uang dalam kotak. Bahkan, Gadis itu masih berhutang karena kurang.


Tak ada yang membela gadis malang tersebut. Bahkan sepasang suami-istri sepuh ini juga tak bisa menolong sang gadis. Ya'i Gustaf yabg seumur hidupnya selalu berprasangka baik pada sesama, tak bisa membela Seruni. Terlebih Nyai Hadijah. Wanita tua itu juga memiliki tutur kata yang lembut, tak sedikit pun ia bisa menyakiti orang lain dengan kata-kata.


"Tidak apa-apa, Nak. Cicilah utang itu. Mungkin, Allah ingin kau membersihkan seluruh hartamu," ucap Hadijah saat itu.


Tak ada yang bisa gadis itu lakukan kecuali pasrah. Ia membayar sisa uang untuk pesta. Seruni ikhlas melakukannya, ia pun menganggap sama dengan apa yang Nyai Hadijah katakan. Allah menginginkan kerelaan hati gadis itu sekali lagi.


"Mudah-mudahan ini adalah semua jawaban dari kesabaranmu, Nak," ujar Gustaf mengelus kepala Seruni yang terbungkus hijab.


"Aamiin, Ya'i," sahut Seruni mengamini perkataan guru ngajinya itu.


Kini gadis itu sudah merebahkan dirinya di ranjang. Memejamkan mata. Menjauhkan hati dari semua tipu muslihat dunia.


Sedang di tempat lain..Dav baru saja menyelesaikan shalat sunnah nya. Pria itu gencar meminta Allah memudahkan semua urusannya meminang gadis pilihan hatinya.


"Segala daya upaya, hanya kehendak Allah lah yang jadi."


Terra melihat adiknya tengah duduk di balkon. Mata pria itu menerawang jauh. Wanita itu mendekat David berdiri di sisinya. sambil menumpu tangan pada besi pembatas.


"Udara sudah mulai berembun. Kurang baik untuk kesehatan," ujar Terra.


Dav menghela napas panjang. Pria itu masih bergulat dengan pikirannya. Ada saja yang menjadi pertimbangan.


"Dav, setan akan gencar menggoda ketika manusia akan mengalami dua hal. Yaitu pada saat


pernikahan dan kematiannya," sahut Terra menepuk pundak adik sepupunya itu.


Dav langsung beristighfar. Semua ketakutan-ketakutannya ia coba hilangkan. Benar kata Terra. Setan tak menyukai pernikahan dan ketika kematian, setan akan langsung mendekati agar manusia keluar dari ketaatannya pada Tuhan.


"Makasih Kak," ujarnya.


"Ayo, masuk. Sebelum Mas Haidar menemukanmu galau seperti ini," ajak Terra.


"Kenapa mukamu suntuk begini?"


"Ck ... aku ngantuk, tinggal dulu ya," ujar Dav langsung ngacir.


"Hei ... kau mau kemana!' sentak Haidar masih ingin menggoda adik iparnya itu.


"Mas ... sudah ah. Ayo, bobo!" ajak Terra.


"Hayuu ...!" sahut Haidar semangat empat lima.


Sore hadir kembali. Pria itu lagi-lagi kini ke rumah Seruni untuk menjalani ta'aruf. Kali ini pria itu membawa anak-anak Herman.


Lagi-lagi,. Gustaf sangat heran. Anak-anak siapa lagi yang dibawa oleh calon suami Seruni ini.


"Ini bisa dibilang adik-adik ku, Ya'i. Mereka adalah anak-anak dari paman Kakak perempuan saya Terra," jelas Dav.


David menjelaskan jika Herman menikah di usianya ke enam puluh dua tahun.


"Jika Ya'i ingin bertanya lebih, mungkin bertanya pada yang bersangkutan. Karena saya tidak memiliki kuasa untuk menjelaskannya," ujar Dav dengan nada tidak enak.


"Jadi ini namanya siapa saja?" tanya Ya'i Gustaf akhirnya.


Pria sepuh itu memutuskan untuk tidak terlalu jauh ingin tahu seluk beluk keluarga David. Ia yakin, jika semuanya adalah orang baik. Terbukti dari tingkah laku anak-anak yang sopan. Bahkan mereka semua busa mengaji dengan baik.


"Saya, namanya Satrio Adhi Putra Triatmojo," jawab Satrio memperkenalkan dirinya.


"Saya Arimbi Aisha Putri Triatmojo," kini giliran Arimbi yang menjawab.


"Saya Dimas Baskara Triatmojo," Dimas maju memperkenalkan diri.


"Atuh Pewa puci!" Dewa menyahut.


"Atu Antena Pewi!"


"Athena sayang. Bukan Antena," ralat Dav.


"Biya matsutna Ipu," ujar Dewi sambil mengangguk.


"Ini yang pertama kembar sepasang Lalu lahir Dimas kemudian lahir sepasang lagi," jelas Dav sambil tersenyum.


Kini dua balita itu sibuk menggelayuti Nyai Hadijah. Perempuan sepuh itu juga tak berhenti terkekeh mendengar celoteh Dewa dan Dewi yang salah.


"Mashaallah, jadi usia mereka semua tak jauh beda ya?" tanya Ya'i Gustaf.


"Iya Ya'i," jawab Dav. "Bahkan mereka satu sekolah."


"Bersiaplah, karena besok, aku akan membawa mereka semua dan menjadikannya satu," ujar Dav pada Seruni.


Gadis itu mengangguk. Ia akan menampung semua anak-anak ini. Bahkan kini, Dewi meminta untuk mengajarinya bikin kue.


"Bante Peluli .. eh Beluni. Pewi mawu pelajan bitin the don."


Maka, dengan senang hati, gadis itu akan mengajari gadis kecil itu.


bersambung.


nah kan ... sibuk.


next?