
Seruni memasak untuk suaminya, sudah dua hari ia telah sah menjadi seorang istri. Ia pun masih terkaget-kaget sendiri. Kadang, ia sempat beristighfar ketika mendapati suaminya keluar kamar mandi. Atau ketika habis malam pertama, ia juga terkejut mendapati dirinya tanpa busana dipelukan seorang pria.
"Sayang, aku suamimu. Kenapa seperti itu?" tanya David sambil tersenyum heran..
"Maaf, Mas. Aku tak percaya jika sekarang aku sudah menjadi istri," jelas Seruni.
David lalu memeluk dan mencium lembut istrinya.
"Percayalah, sekarang kau adalah istriku," ujar Dav mesra.
Seruni pun tersipu. Dav duduk dan memakan sarapannya. Nasi goreng dan telur mata sapi. Keduanya makan dalam keheningan..Kebiasaan pria itu yang disiplin.
"Oh, ya. Sayang. Bagaimana jika resepsi kita adakan setelah ulang tahun perusahaan. Tinggal tiga mingguan lagi kan?"
"Iya, Mas. Aku nurut saja. Kemarin, juga teman-teman ku belum banyak yang datang jadi, mereka akan datang ketika resepsi kedua," jawab Seruni.
Gadis yang sudah menjadi seorang wanita ini membereskan piring bekas sarapannya. Dav ingin membantunya. Tetapi, langsung ia larang.
"Biar, Mas. Ini adalah salah satu bakti istri pada suaminya," jelasnya.
Dav pun akhirnya membiarkan istrinya membereskan meja makan. Pria itu keluar rumah untuk duduk di teras. Sambil memandangi bunga-bunga yang di susun sedemikian rupa. Halaman rumah ini hanya satu meter saja. Di kelilingi pagar besi setinggi dua meter.
Orang-orang bisa melihat ke dalam halaman rumah. Begitu juga yang di dalam bisa melihat yang di luar.
"Selamat pagi ... wah pengantin baru .. udah di luar aja nih," sapa salah satu bapak-bapak yang hendak pergi bekerja.
"Pagi juga Pak..Iya, nih. Biar seger jadi mesti ke luar rumah!" sahut Dav ramah.
"Siap deh ... mari Pak!" pamit pria itu.
Dav pun masuk ke dalam rumah. Tak lama Seruni keluar dan hendak menyiram tanaman.
"Duh, pengantin baru ... bangunnya siang mulu nih!" ledek para ibu-ibu.
Seruni mengerutkan kening. Ia sangat yakin jika hari baru pukul 07.30.. Masih terlalu dini untuk dibilang siang.
"Gimana Neng, rasanya malam pertama?" tanya salah satu ibu sambil terkikik geli.
"Pasti enak yah. Secara suaminya bule ... jadi anunya gedong!" selorohnya tak sopan.
Seruni sebenarnya jengah dengan perkataan ibu tadi. Itu ranah paling pribadi. Tak baik jika diumbar. Seruni memilih diam.
"Ih, Mba Seruni malah diem aja!" protes ibu tadi.
"Cerita-cerita dong Mba ... kita kan penasaran, ya nggak ibu-ibu?" ujarnya lagi meminta pendapat.
"Maaf ya Bu. Saya tinggal dulu," pamit Seruni, ia telah menyelesaikan pekerjaannya.
"Huuu ... bilang aja mau kelonan lagi!" seru Ibu itu sambil mencibir.
Seruni masuk dengan muka ditekuk. Ia mengepalkan tangannya erat. Dav melihat raut istrinya yang menahan kekesalan.
"Sayang!' panggilnya.
Pria itu mendekat. Terdengar mulut Seruni yang mengucap banyak istighfar. Setelah ia berhasil menenangkan dirinya. Ia pun menatap sang suami dan tersenyum.
"Ada apa?" tanya Dav lembut.
"Tidak ada apa-apa. Mas jadi berangkat?" tanya Seruni melihat penampilan suaminya.
"Iya sayang. Perusahaan Kak Virgou sedang ada kasus korupsi..Semua dalang telah diketahui. Kini tengah dalam proses penyidikan KPK," jawab Dav.
"Aku tinggal sebentar ya. atau kau mau ikut dan bermain bersama anak-anak?" ajak Dav tiba-tiba.
"Emang boleh?" tanya Seruni polos.
"Astaghfirullah, ya boleh dong, Sayang!" jawab Dav gemas..
"Ayo ganti bajumu dan bawa beberapa baju ganti kita. Kita akan menginap jika perlu," Seruni mengangguk ia langsung mengerjakan apa yang diminta suaminya.
Dav menghela napas kasar. Tadi ia mendengar apa yang tetangga istinya katakan. Ia juga begitu marah, mendapati orang yang terlalu ingin tahu urusan pribadi orang lain. Terlebih itu masalah intim suami istri.
Pria itu pun keluar rumah hanya ingin mengetahui sejauh mana racun yang ada di sekitarnya.
"Eh ... pengantin barunya nongol ... duh enak ya, kelonan terus!" seloroh seorang ibu muda sambil terkikik. .
Juno datang dengan menggunakan jasa ojek daring. Pria itu membuka pintu pagar.
"Selamat pagi Tuan muda!" sapanya.
"Selamat pagi, Jun!" balas Dav lalu memberi kunci mobil.
Sebenarnya, ia tak masalah dengan daerah padat penduduk begini. Hanya saja ....
"Eh Jeng Asri, itu ****** kok dipamerin mentang-mentang lakinya udah pulang!" teriak ibu yang tadi menyapa Dav.
Juno sampai terkejut mendengar suara cempreng itu. Seruni meliburkan semua karyawan toko selama satu minggu. Ia akan kembali buka hari senin depan. Ia mengunci pintu dan Dav mengambil tas. Setelah mengunci pintu. Dav menyuruh Istrinya masuk ke mobil lebih dahulu. Juno menunggu tuannya masuk. Pria itu pun masuk mobil duduk di sebelah isterinya.
"Bang, ini kunci gembok pagar," ujar Seruni menyerahkan kunci pada Dav.
Dav memberikan kunci itu pada Juno. Pria itu mengambilnya. Lalu mobil itu keluar dari carport. Juno turun dan mengunci pintu pagar. Masih terdengar teriakan tetangganya itu.
"Mba Seruni. Pulang nanti bawa oleh-oleh ya!"
Mobil pun melesat meninggalkan rumah sederhana milik Seruni.
"Sayang. Kita pindah rumah yuk," ajak Dav.
"Kita bicarakan nanti, ya Mas," sahut sang istri lembut.
Dav pun mengangguk. Pria itu menaikan partisi yang menutup bangku supir dan penumpang belakang. Seruni sampai kaget melihatnya.
"Kenapa ditutup?" tanyanya.
"Biar yang jomlo nggak iri," jawab Dav menyindir pria yang tengah menyetir.
"Mas Juno jomlo?" tanya Seruni.
Seringnya pria itu dibawa oleh Dav. Membuat Seruni mengenalinya.
"Saya baru jomlo dua pekan lalu, Nyonya!" sahut Dav.
"Wah, patah hati dong," sahut Seruni.
Juno hanya tertawa lirih. Dav membuka partisi. Seruni memintanya. Tidak enak karena ada orang lain yang mesti dihargai begitu alasan wanita itu.
Butuh waktu setengah jam untuk sampai rumah Terra. Pria itu menitipkan istrinya. Terra memukul gemas Dav.
"Kamu pikir istrimu barang main titip-titip aja?!"
"Sayang ... aku dipukul!" rengek Dav pada istrinya.
Istrinya membelalak.
"Jika Kak Terra memukul mu, apa yang mesti aku lakukan?" tanyanya polos.
Terra tertawa mendengar kepolosan adik iparnya. Ia pun mengajak masuk, setelah Seruni mencium punggung tangan suaminya. Dav langsung pergi berangkat bekerja. Juno menemaninya. Anak-anak belum pulang sekolah.
Tak terasa, hari pun berganti. Seruni kembali pulang bersama suaminya. Ia harus kembali membuka toko kuenya. Juno diminta tinggal bersamanya, Seruni mengatakan ada kamar di dekat carport.
"Ada kamar mandinya juga kok di dalam," ujar Seruni.
"Tidak ah, saya takut jadi gunjingan tetangga," sahut Juno.
"Wah yang baru pulang bulan madu!' seru tetangganya.
Dav memutar mata malas.
"Mana nih oleh-olehnya!"
"Maaf, Bu. Nggak sempet beli," jawab Seruni. Ia lupa memang.
"Wih ... gitu deh kalo penganten baru mah ... ingetnya kelonan terus ... nggak ingat tetangga!"
"Sayang, masuk yuk!' ajak Dav.
Padahal pria itu berkata pelan. Ternyata pendengaran tetangganya mencapai beberapa kilometer herz.
"Cieee ... udah sayang-sayangan ... baru seminggu sih belum lima atau sepuluh tahun berikutnya! Ilang tuh kata-kata sayang!" celetik tetangga itu asal.
Dav menutup pintu agak kasar. Ia cukup marah mendengar perkataan tetangga racun itu.
"Kita harus benar-benar pindah, sayang!"
bersambung.
Iya ... pindah aja.
next?