TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
NEKAD



Terra sedang bersama, Sofyan, pengacaranya. Pria berusia nyaris kepala lima itu, tengah mendampingi Terra untuk mengajukan perijinan perluasan pengintai untuk BraveSmart ponsel ciptaan Darren. Selain itu, mereka juga mengajukan hak cipta untuk benda ajaib tersebut. Anak-anak ia tinggal di kantor bersama Romlah dan Ani. Ada Aden yang menemani mereka juga. Sedang Rommy masih berada di negara sakura.


Budiman dan sebagian tim mengikuti Terra, sedang sebagian lainnya menjaga anak-anak di kantor gadis itu.


Proses yang sedikit rumit dan berbelit. Membuat Terra sedikit emosi. Terlebih ada beberapa oknum meminta "uang pelicin" guna mempermudah urusan.


"Nggak mau, kalau nggak disetujui sekarang juga. Saya akan bawa karya saya ke negeri orang, biar kalian nanti kebakaran jenggot sendiri!"


"Ini paling lama lusa baru selesai perijinannya semua, Mba," akhirnya petugas perijinan itu berbicara.


Terra mengomel tiada henti. Haidar yang juga berada di tempat untuk mengurus beberapa perijinan bersama pengacaranya. Melihat Terra keluar ruangan dengan wajah cemberut.


"Sayang," panggilnya.


Terra menoleh. Setelah pria itu dekat dengan kekasihnya, Terra mengoceh tiada henti. Hingga membuat Haidar tertawa ia gemas sendiri.


Tiba-tiba pria itu menarik tangan gadis itu,. bergegas keluar gedung perijinan.


Sofyan yang sedang bersama kliennya itu tentu mengejar Terra yang ditarik paksa oleh Haidar. Bahkan pengacara yang ikut dengan pria itu juga mengejar kliennya. Budiman ikut juga mengejar, tapi tidak melaporkan apa-apa pada tim karena yang menarik gadis itu adalah pacarnya sendiri.


"Tuan muda Pratama!" seru mereka berdua.


Haidar terus menyeret gadis itu. Hingga ke bangunan sebelah yang hanya berjarak dua ratus meter. Sebuah bangunan bertuliskan KUA.


Ketika sampai di lobi bangunan tersebut. Haidar berteriak.


"Pak saya mau menikahi pacar saya. Sekarang!" pekiknya sambil menekan kata-kata terakhir.


Sofyan yang mendengar pekikan Haidar sangat terkejut dengan kenekatan pria itu. Ia terengah-engah ketika sampai lobi KUA.


"Kau gila, Tuan Muda Pratama! Apa kau mau kutuntut membawa lari anak gadis orang!" bentak Sofyan marah.


Haidar hanya meringis. Sedang semua pegawai KUA hanya menggeleng tingkah pria asing tersebut.


"Habis, Om, saya cinta banget ama dia. Mau langsung saya nikahin hari ini juga," saut Haidar tanpa rasa bersalah.


"Kau kira Terra gadis sembarangan apa!" Sofyan benar-benar murka.


Pria setengah baya itu mengusap wajah ya kasar. Baru kali ini CEO PT Bermegah Pratama melakukan tindakan diluar nalar pikirannya.


"Saya cinta banget sih, Om. Nggak usah pake pesta-pesta. Nikah langsung aja," ujarnya setengah memaksa.


"Kamu ini. Saya ini masih resmi jadi wali Terra setelah ayahnya meninggal loh!'' kini Sofyan tak dapat menahan kekesalannya.


"Saya nggak mau tau. Saya mau nikahin Terra. Sekarang!"


"Gunakan otakmu Haidar Pratama!' teriak Sofyan makin marah.


Haidar tak bergeming, sedang Terra seperti tersihir, mengikuti kemana saja langkah pria itu.


Dalam jangka waktu lima belas menit. Pria itu sudah tiba di lobi KUA dengan wajah gusar. Di belakang pria itu juga nampak wanita setengah baya yang setengah berlari mengejar suaminya.


Mendapati putranya yang tengah berdikusi pada salah satu petugas KUA dengan menggenggam erat tangan seorang gadis. Membuat ia mendengkus kesal.


Kanya yang melihat kekonyolan putranya. Marah bukan main. Ia pun dengan gemas mendatangi Haidar dan menjewer kuat telinga pria itu.


"Apa yang kau lakukan pada anak gadisku!" bentaknya.


Sebenarnya Terra malu bukan main dengan drama yang diciptakan oleh kekasihnya ini. Wajahnya memerah karena malu. Gadis itu ingin menenggelamkan dirinya ke tanah saat ini juga.


"Aku mau menikahi Terra, Ma!" pekik Haidar kesakitan.


"Kau ini menikahinya seolah-olah kau sudah menghamili gadis baik-baik ini!" teriak Kanya tak terima.


"Ma ... aku mohon, Ma. Nikahkan kami sekarang juga. Aku nggak rela dia selalu diapit oleh pria itu!" Haidar menunjuk Budiman dengan pandangan cemburu.


"Tidak bisa. Terra masih memiliki wali sah. Kamu nggak bisa nikahin dia begitu saja, Tuan Muda Pratama!" saut Sofyan dengan nada tinggi.


Terra juga semuanya kaget mendengar perkataan Sofyan barusan.


"Te masih memiliki wali yang sah?" tanyanya dengan pandangan tak percaya pada pengacaranya.


Sofyan akhirnya menghela nafas dan mengangguk. Pria itu menjelaskan pada kliennya itu jika, ia ingin menikah. Sofyan harus menghubungi seseorang.


"Mendiang Tuan Hudoyo memberikan saya sebuah kartu nama. Kartu nama itu ada di ruangan saya sekarang. Jika kau memang ingin menikahi Terra. Kita harus menghubungi orang yang dimaksud mendiang Tuan Hudoyo," jelas Sofyan lagi.


"Jadi belum bisa nikah sekarang?" tanya Haidar bodoh.


Sejak jatuh cinta pada gadis itu dan ingin sekali menikahinya. Pria itu sedikit "Korslet" otaknya.


"Belum, Tuan Muda. Belum bisa," jawab Sofyan sambil menggeleng.


Haidar akhirnya mengalah. Terra langsung dipeluk Kanya dan menjauhkan gadis itu dari genggaman putranya.


Hal itu membuat pria tampan dengan tubuh kekar itu protes.


"Mama, anakmu ini aku atau Terra sih!"


"Terra, mau apa kau!" sentak Kanya membuat Haidar akhirnya tak berkutik.


Mereka pun bersama-sama ke firma Sofyan berada. Untuk menelepon wali sah gadis itu.


bersambung.


hmmm ... kira-kira siapa ya wali sahnya?