
Hari berlalu. Kini, Aini tengah menunggu hasil dari identifikasi jenazah yang tak dikenali. Di sisinya Ditya dan Radit ikut bersamanya, keduanya duduk tenang. Para dokter dan perawat memberi semangat dan banyak hadiah pada dua anak itu. Aini sangat berterima kasih, walau ia merasa tak enak. Tetapi, ia juga bahagia, kedua adiknya banyak yang peduli dan sayang.
"Mba, apa seperti ini jadi yatim piatu?" tanya Ditya menatap uang yang ada di tangannya.
Ia tadi sudah menolak, bahkan menyembunyikan tangannya. Tetapi, semua orang menaruhnya dalam kantung dan pangkuannya.
Radit hanya diam membisu. Pandangannya kosong. Ia merindukan ayah dan ibunya.
"Keluarga Dono dan Marni?" panggil petugas.
"Ya, kami!" sahut Aini langsung berdiri.
Petugas memberikan amplop putih. Ia mengangguk.
"Dua jenazah teridentifikasi sebagai ayah dan ibu dua adik anda, Dok," jelas petugas.
Aini terdiam. Ia menatap dua adiknya yang juga menatapnya. Netra jernih itu sudah berkaca-kaca. Lidya dan Putri datang. Keduanya melangkah cepat. Info tentang keluarnya hasil DNA, begitu cepat tersebar. Aini, tak bisa bersembunyi dari semuanya. Ia memang harus berbagi.
"Kak!" panggil Lidya.
Aini hanya menatap rekan seprofesinya itu. Air mata menjadi perwakilan semuanya, jika jenazah sudah dipastikan adalah dua orang tua dari balita yang kini duduk dengan pasangan polos mereka.
"Innalilahi wa innailaihi radjiun!"
Putri dan Lidya menutup mulutnya. Radit kini mengerti jika sudah tak ada lagi dua orang tuanya. Walau bagaimanapun kelakuan ayah dan ibu padanya, ia sangat menyayangi keduanya.
"Mas ... kita jadi benelan nggak punya Bapak sama Emak?" tanyanya lirih.
Ditya diam. Ia juga tak bisa menghentikan aliran air yang datang dari pelupuk matanya. Lidya mendekati keduanya. Begitu juga Aini dan Putri. Lidya mengusap pipi basah dua balita itu.
"Hiks ... hiks!' Radit terisak tertahan.
"Mba, mau lihat Emak dan Bapak, Mba!' pinta Ditya lirih.
Aini menangis mendengarnya. Sungguh, keadaan paman dan bibinya tak akan bisa dikenali oleh kedua adiknya itu.
"Mba ... hiks ... mau ... lihat ... hiks ... Bapak sama Emak ... huuuu ... uuuu ... hmmm ... hiks!"
Aini dan Lidya memeluk keduanya. Putri pun ikut menangis tertahan. Semua tim medis bersedih dan mengusap punggung ketiganya.
"Yang sabar, ya," ujar mereka.
Profesor Rini tampak datang tergesa, berita itu cepat menyebar, Bahkan Kepala rumah sakit Profesor dokter Hamdan juga datang dan memberi kekuatan untuk Aini terutama untuk dua anak kecil itu.
"Ditya dan Adit mau apa?" tanya Rini.
"Nggak mau apa-apa ... hiks ... mau lihat Bapak sama Emak, aja ... huuu ... hiks!"
"Mba ...," rengek Ditya.
"Nggak bisa, Dek," sahut Aini dengan nada tercekat.
Semua menangis mendengarnya tangisan pilu dua bocah itu.
"Kenapa, Mba? Apa jenazah Bapak sama Emak nggak kelihatan bentuknya? Hiks ... hiks!" tanyanya sambil tersedu.
"Maaf, Dek," sahut Aini juga terisak.
"Huuu ... Bapak ... Emak ... huuuu ...!" Radit memanggil kedua orang tuanya.
Dua peti jenazah dikeluarkan. Darren datang bersama Budiman, lalu tak lama Demian dan Jacob juga datang. Lidya dan Putri yang mengabarkan mereka.
Darren sangat merasakan tersayat mendengar tangisan Ditya dan Radit. Budiman terasa sesak. Sedangkan Gio, Robert dan Juan yang menemani nona mudanya hanya bisa ikut tertunduk dala duka.
"Kita shalati jenazahnya," ujar Darren kemudian.
Dua peti didorong menuju masjid terdekat. Lidya, Aini, Putri, Radit dan Ditya mengikuti peti tersebut. Isak tangis mengiringi.
Demian ikut menyolatkan jenazah, begitu juga Jacob. Dan pengawal yang beragama Islam.
Para wanita dan anak-anak tidak diperkenankan. Tak lama, peti jenasah di masukkan dalam mobil ambulans. Lidya membawa Aini dan dua adik bersamanya. Putri mengendarai motor ninjanya. Sedang yang lain menggunakan mobil masing-masing.
Darren sudah mengurus semuanya. Sebuah pemakaman layak telah dipersiapkan Di tempat makam yang sama dengan ayahnya dulu.
Mereka semua turun di lokasi TPU. Juan dan Robert menggendong Radit dan Ditya. Walau mereka tadinya menolak. Tetapi, Lidya memintanya.
Ketika peti diturunkan. Radit berteriak.
"Bapak sama Emak culang! Kenapa ke sulga nggak ajak Adit ... huuuu ... uuu!"
Ketika tanah mulai ditimbun. Keduanya meronta dan menangis. Robert dan Juan mendekap erat balita itu. Kedua pria itu juga ikut menangis tertahan. Semua yang di sana ikut menangis. Aini bahkan nyaris pingsan jika saja, Lidya tak menahan gadis itu. Ia dan putri memeluk Aini yang histeris.
Setelah tanah sudah ditimbun, seorang ustad yang bertugas pun mendoakan kedua jenazah. Ditya dan Radit hanya memeluk erat pria-pria yang menggendong mereka. Mereka masih terisak. Juan dan Robert mengelus punggung keduanya. Aini, pun tak sadarkan diri. Darren mengangkatnya. Lidya sangat berusaha keras untuk kuat, ia nyaris terjatuh jika saja Demian tak langsung memapahnya. Budiman segera mengambil alih nona mudanya. Putri yang bingung harus apa. Ia juga sudah kepayahan dan tak tahu bagaimana ia akan mengendarai motornya.
"Saya akan mengantar anda ke rumah sakit lagi, Nona Putri!' sahut Gio.
Sedang Demian dan Jacob hanya bisa menggaruk kepala mereka masing-masing. Menaklukan pria-pria posesif di sekitar gadis idaman mereka, memang harus penuh perjuangan.
"Tenang, Jac. Sekarang mereka memang bertugas untuk melindungi. Sebentar lagi, kita akan menggantikan mereka!" tekad Demian sangat yakin.
Demian dan Jac memilih langsung pergi ke kantor mereka. Sedang, Aini dibawa ke rumah sakit.
Di sana para medis dengan sigap langsung memberikan penanganan pada ketiganya. Aini sudah sadar. Hanya tinggal Ditya dan Radit yang masih shock dengan semuanya.
"Dik, makan dulu, ya," pinta Darren pada Aini.
"Kasihan adik-adik juga, dari tadi belum makan," lanjutnya.
Aini memang tak boleh egois. Memang ia tak napsu untuk mengunyah makanan, tetapi jika ia tak makan, maka dua adiknya juga pasti akan menolak makan.
"Mba, suapin ya," ujarnya.
Ditya dan Radit menolak. Mereka masih dilanda kesedihan yang dalam. Aini mulai emosi.
"Makan dong Dek. Jangan membuat Mba susah!" tekannya sambil menangis.
"Kalau kalian sakit, gimana?" lanjutnya sedikit kesal.
"Makan, ya," ia menyuapi Radit terlebih dahulu.
Radit membuka sedikit mulutnya.
"Yang lebar bukanya!" bentak Aini.
Radit menangis mendengar bentakan Aini. Gadis itu nyaris membanting sendok yang ada di tangannya, jika saja Darren tak menenangkannya.
"Dik," tegurnya pelan.
Ia sangat paham dengan apa yang Aini rasa. Dulu, ibunya juga mengalami hal yang sama, justru lebih parah.
"Makan!" bentak Aini lalu menjejali mulut Radit yang kecil dengan satu sendok penuh makanan.
Radit tersedak. Ditya langsung menepuk-nepuk punggung adiknya, sambil menangis. Aini pun ikut menangis. Lidya langsung memberi pertolongan pad Radit dengan menekan pundak balita itu.
"Huueeek!"
Radit muntah. Lidya menampung muntahan dengan tangannya. Ditya menangis melihat adiknya seperti itu. Aini memeluk adiknya.
"Maafin, Mba .. hiks ... maafin, Mba .. huuuuu!"
Darren sangat sedih, ia memeluk gadisnya erat. Aini menangis dalam dekapannya, pemuda itu memberikan kenyamanan. Budiman sangat gusar dengan apa yang dilihatnya. Gio menyabarkan ketuanya itu.
"Kita memang sudah tua, Ketua."
Budiman berdecak kesal. Felix dan Juan hanya menahan senyum mereka. Budiman memandang horor keduanya.
"Jangan balas dendam, Ketua. Dulu, Tuan baby yang mengerjai anda, Ketua," seloroh Gio.
"Hais ... kalian!" gerutu Budiman kesal.
Kini baik Aini, Ditya dan Radit sudah makan dengan benar. Lidya menyuapi dua anak itu, sedang Darren menyuapi Aini.
"Ehem!" tegur Budiman.
Aini, langsung meminta makanan yang ada di tangan pemuda itu. Ia takut pada Budiman, sedang Darren hanya bisa menghela napas panjangnya.
"Baba," keluhnya.
"Apa!" saut pria itu datar.
bersambung ....
hadeh ... baba ... baba ...
next?