
Pagi-pagi, setelah semuanya sarapan. Rion ingin berenang juga Lidya. Frans dan Leon menemani kedua balita itu. Sedang Meita dan Patricia hanya bisa diam dan duduk di teras belakang, sambil menghirup udara segar.
Terra membuat kudapan ala Indonesia yakni, kue pukis. Tiga asisten rumah tangga membantunya. Tak lupa, ia juga membuat teh jahe untuk semuanya.
Bart yang baru merasakan betapa enaknya kudapan ala Indonesia, merasa senang. Pria itu berkali-kali memakan kue pukis dan nyaris menghabiskannya.
Dengan senang hati, Terra membuat lagi kue itu berikut menambah minumannya. Semua kebagian, bahkan tim pengaman pun kebagian.
Setelah lama anak-anaknya berenang. Terra sudah meneriaki ketiga anaknya untuk menyudahi aktifitas berenang.
Ketiganya berlari dengan bibir biru dan tubuh gemetar. Mereka tertawa dan minta dimandikan oleh ibunya.
Terra menggiring mereka ke kamar mandi dan memandikannya bersamaan. Darren tentu bisa mengurus dirinya sendiri setelah mandi. Lidya dan Rion, tentu Terra yang membereskannya.
Setelah semuanya rapi. Terra menyuruh Darren mengajak kedua adiknya bermain.
Haidar sedari kemarin selalu menelepon gadis itu. Pria itu dilarang oelh ayahnya mengganggu kebersamaan Terra dengan keluarga yang baru ditemuinya.
"Aku merindukanmu, sayang," ucap Haidar.
"Te, juga rindu semuanya," ucap Terra malu-malu.
Haidar sangat tahu, bagaimana kekasihnya membatasi dirinya. Pria itu pun menutup video panggilannya.
Setelah membersihkan diri. Gadis itu pun keluar. Bart memanggilnya. Menyuruhnya duduk di sebelah. Gadis itu pun menurut.
Terra menurukan bokongnya di sebelah Bart. Pria itu merengkuh bahu gadis itu. Menarik kepala Terra ke bahunya. Terra pun mengerti maksud sang kakek. Ia memposisikan diri untuk bergelayut nyaman pada Bart.
"Aku akan menceritakan perihal Ben, ayahmu," ujar Bart kemudian.
"Ben adalah salah satu anakku yang genius, kegeniusannya itu turunan dari nenekmu. Anak itu dari dulu, sangat baik hati, penurut dan tidak pernah membuat masalah sedikit pun."
"Semua nilai akademiknya juga bagus dan tinggi. Selalu meraih prestasi tertinggi dalam bidang apa pun. Ben adalah kebangganku."
"Hingga ketika ia beranjak remaja. Pikirannya makin tidak bisa ditebak. Ia mampu mendirikan sebuah sekolah khusus stuntman, seperti yang aku ceritakan tadi."
"Sedari remaja, ia sudah memiliki bisnis sendiri. Ia bahkan mampu mendirikan studio khusus perfilman laga. Membuat peralatan keselamatan para stuntman."
"Ayahmu sudah kaya raya tanpa uang dariku," ucapnya penuh kebanggan.
"Hingga suatu hari, adikku, maksudku Kakekmu. Kau tau aku punya saudara kembar laki-laki, meminta harta warisan dari mendiang buyutmu."
Bart menghela napas panjang. Kemudian melanjutkan ceritanya.
"Setiap hari, selalu ribut soal harta peninggalan. Padahal buyutmu sudah membagi rata semua harta warisannya. Kakekmu itu bernama Klark Edison Dougher Young, memiliki lima anak, dua laki-laki dan tiga perempuan. Dari kelima anaknya ia memiliki banyak cucu."
Terra sedikit mengernyit dengan nama itu. Ia merasa tak asing. Namun, ia memutuskan untuk tidak bertanya. Toh nama Virgou itu banyak di dunia ini. Pikirnya.
"Setiap hari datang meributkan harta. Membuat ayahmu pusing. Ia pun meninggalkan rumah begitu saja. Menyerahkan semua usahanya pada pamannya."
"Kami tidak tahu ia pergi kemana. Semua alat pelacak tidak berfungsi dengan baik. Bahkan, sepertinya, Ben merusak alat-alat pelacak kami dengan memasukkan virus. Aku baru sadar jika ia adalah seorang hacker ulung."
"Salahku, tidak lagi mau mencari keberadaanya yang seperti ditelan bumi. Aku lelah mencari dan membiarkannya. Berpikiran suatu saat ia akan kembali dan memberi kabar pada kami."
"Anak itu memang cerdas dan kuat. Hanya saja, ia lemah dalam mengambil keputusan. Ben lebih suka lari dari semua dan menyerah kalah."
"Makanya aku heran, bagaimana bisa ia menikah secara diam-diam, dalam ajaran kami. Seburuk apa pun istri kami. Harus kami terima. Itu sudah prinsip jika menikah. Tapi, jika tak mau terikat, ya jangan menikah."
Terra hanya menghela napas. Ia tak tahu bagaimana bisa ayahnya menikah dan berkhianat pada ibunya. Jika memang ayah sangat mencintai sang ibu. Tentu, tidak ada pengkhianatan.
"Mungkin ini sudah menjadi kehendak Tuhan, Grandpa," saut Terra.
"Ketiga anak itu harus hadir ke dunia, walau mereka melalui masa yang begitu kelam pada awalnya," jelas Terra lagi.
Bart mengangguk setuju. Ia begitu bangga akan pemikiran cucu perempuannya itu. Ia pun membayangkan hari-hari di mana Terra lalui itu sendirian.
"Kau hebat, Nak. Aku bangga padamu," puji Bart kemudian mencium kening Terra.
"Mama ... Ion mo oke-oke!" pinta Rion dengan memelas.
Terra menepuk dahinya. Namun, sejurus kemudian ia pun melakukan apa yang putranya inginkan.
Musik pun mulai. Rion memegang mik kemudian ia pun bernyanyi, lagu Twinkel-twinkel little star.
"Pinkel pingkel pistestal ... wow wawodel wa wu al ...."
Frans tersedak, Leon langsung membekap mulutnya. Terra sudah memberi tahu jika jangan ada yang tertawa ketika Rion sedang bernyanyi, jika tidak ingin dimarahi bayi montok itu. Hanya Patricia dan Meita yang tidak tertawa. Entah terbuat dari apa hati kedua wanita itu.
Musik kembali mengalun.
"Bimpel bimpel pitestal. Bow wawowel wa wu Wal ... baik on bestar im so baik. baik a baimon imdes spay ... Pimpel pinpel pitestal bow wa wowel ap up pal ...."
bersambung ...
ah sudahlah ... Terserah pada mu Rion ... othor nyerah ...
next?