
Pria berusia dua puluh lima tahun itu tengah memegang beberapa berkas. Besok universitas miliknya akan menyelenggarakan sebuah seminar terbesar di dunia. Tajuknya juga tak main-main.
"Violence is not for children."
Beberapa narasumber juga didatangkan dari berbagai penjuru dunia. Ketika melihat hasil survey mengatakan jika ternyata negara konflik dan negara paling tinggi tingkat kekerasan pada anak bahkan kasus perkosaan terjadi pada anak di bawah umur dipegang oleh Inggris (data survey).
"Bagaimana persiapan semuanya?" tanyanya pada seorang pria tampan di sebelahnya.
"Sudah seratus persen siapa Tuan muda. Tinggal pelaksanaan saja," jawab pria bernama Jacob.
"Bagaimana dengan keamanan?" tanya Demian lagi.
"Semua sudah di atasi. Seratus kepolisian sudah dikerahkan bahkan kita juga memakai seribu bodyguard untuk membantu keamanannya," jelas Jacob.
Demian Starlight, ayahnya bernama Dominic Starlight dan ibunya bernama Sarah Huge. Dominic adalah seorang pebisnis yang sama nama besarnya dengan Bart Dougher Young. Ia juga memiliki bisnis yang memonopoli pasar sendiri di Eropa. Pria itu merupakan anak tunggal.
Demian mengembangkan bisnisnya dengan membangun universitas, rumah sakit juga perhotelan dan perniagaan serta mall. Pria itu juga memiliki bisnis properti dan tambang mineral batubara di Indonesia.
"Dear!" sosok wanita cantik datang dengan senyum mengembang.
Demian tersenyum dengan kedatangan wanita itu. Jacob langsung menunduk dan ia pun mengundurkan diri. Setelah kepergian pria itu. Keduanya pun berciuman.
Deborah Vox. Wanita berusia satu tahun di bawah Demian. Keduanya baru saja berpacaran tiga bulan lalu. Putri dari George Vox dan Angela Joe, pebisnis ternama di Eropa. Mereka dijodohkan, Demian merasa cocok karena karakter lembut Deborah.
"Apa kau sudah makan siang?" tanya Deborah perhatian.
Ini lah yang disukai Demian, perhatian-perhatian kecil dari gadisnya. Pria itu sekali lagi mencium cepat bibir gadisnya.
"Kita makan siang bersama?" ajak Demian.
"Well, aku hanya menemanimu saja, ya," ucap Debbie memohon.
"Aku sudah makan salad tadi," ia beralasan.
Deborah atau Debbie sangat menjaga penampilannya. Tubuhnya memang tinggi 170cm, sedang Demian 188cm. Keduanya sangat serasi jika dilihat bentuk dan ketampanan..
"Baiklah ... ayo temani aku makan," ujar Demian mengalah.
Keduanya pun mendatangi sebuah restauran. Demian makan sendiri,.sedang Deborah asik berselancar dengan ponselnya.
"Kau serius sekali, sayang," ujar Demian melihat kekasihnya begitu serius menatap ponselnya.
"Ya, aku sedang melihat beberapa artikel tentang perubahan iklim yang ekstrim beberapa hari ini," jawabnya.
Demian tersenyum. Satu lagi yang ia suka dengan Deborah adalah kecerdasannya.
"Lihatlah, beberapa negara mengalami kekeringan dan sebagian kebanjiran. Bagaimana nasib anak-anak di sana?" ujarnya prihatin.
Plus kebaikan juga empati gadis itu menjadi kesukaan Demian.
"Oh ya, lusa seminar diadakan. Apa kau mau ikut?'
"Maaf sayang. Daddy sedang mengadakan bazar amal di distrik perusahaan. Aku harus di sana," ujar Debbie dengan nada bersalah.
"Ah, baik lah. Itu juga penting," ujar Demian menutup sendoknya.
"Kau sudah selesai?" tanya Debbie. "Kenapa makanmu sedikit sekali?"
"Tidak apa-apa, hanya beberapa hari ini aku kurang napsu makan," jawab Demian tersenyum.
"Baiklah. Kau mau kemana lagi sekarang, apa masih mengecek pekerjaanmu?" tanya gadis cantik itu.
"Ya, seminar ini harus berjalan sukses, sayang. Jadi aku harus turun tangan sendiri agar semuanya lancar," pria itu sedikit bersalah karena tidak memiliki waktu bermesraan dengan kekasihnya.
"Ya, sudah. Aku juga tak bisa menemanimu kalau begitu. Aku lupa jika merencanakan sesuatu," jelas Debbie.
"Lagi pula. aku pasti tidak begitu berguna di sana, karena bukan passionku," lanjutnya lirih.
"Jangan berkata begitu, sayang," tegur Demian tak menyukai perkataan gadisnya.
"Maaf ... maaf," pinta Debbie lalu mencium pipi kekasihnya.
Demian mengangguk, lalu melepas rangkulannya. Menatap punggung kekasihnya. Ia tersenyum. Pria itu meraba dadanya. Ada yang aneh menurutnya. Ia tak merasakan debaran yang lain, yang kata teman-temannya bilang jatuh cinta.
"Apa aku benar-benar jatuh cinta?" pria itu masih meraba, tetapi ia memang menyukai gadis cantik itu.
"Ah ... jalani saja, cinta bisa tumbuh seiring waktu," ujarnya.
Tiba-tiba sosok wajah cantik melintas di pikirannya bahkan namanya masih terekam jelas. Lalu ia menggeleng.
"Tak mungkin aku bertemu lagi dengannya," sangkalnya bermonolog.
Pria itu masuk ke dalam mobil yang berhenti di depan setelah Jacob membuka pintu untuknya.
"Kita kembali ke Universitas, Jacob!" titah Demian.
"Baik Tuan!" sahut Jacob.
Pria itu menjalankan mobilnya. Sesekali melirik atasannya yang terpejam. Terlihat raut lelah di wajah Demian.
"Ada apa Jacob?" tanya Demian.
"Ah ... tidak apa-apa, Tuan. Anda seperti terlihat lelah sekali," jawab pria itu.
"Ya, aku memang lelah. Sebelum acara ini sukses, aku belum bisa tenang Jacob!" sahut Demian masih memejamkan matanya.
Jacob bungkam dan membiarkan tuannya beristirahat sebentar. Pria itu sebenarnya ingin mengatakan sesuatu.
"Ah ... nanti saja," ujarnya dalam hati.
Hari berlalu. Demian makin sibuk. Ia makin larut dengan acara seminarnya. Pria itu sangat ingin berhasil dan berkali-kali mengecek semuanya berjalan dengan baik.
"Bagaimana, apa narasumber sudah berdatangan?' tanya pria itu.
"Sudah Tuan. Mereka semua sudah menginap di hotel dengan fasilitas terbaik, mungkin hanya ada satu atau dua orang yang tidak menggunakan fasilitas itu. Bahkan menurut informasi yang saya dapatkan, narasumber ini menolak fasilitas penerbangan karena ia datang satu hari lebih awal dari jadwal, juga menolak penginapan karena ada kerabatnya yang tinggal di kota ini," jelas Jacob panjang lebar.
"Oh ya?" Demian cukup takjub dengan penjelasan asisten pribadinya.
"Oh ya Tuan. Kita juga akan mendapatkan tamu luar biasa, seorang dokter termuda akan menjadi narasumber kita," sahut Jacob memberitahu.
"Oh ya, benar kah itu?' tanya Jacob tak percaya.
Ia memang tak mengetahui siapa-siapa yang akan menjadi narasumber di seminarnya. Karena itu diurus oleh pihak panitia juga pihak universitasnya.
"Kau tau siapa dia?" Jacob menggeleng.
"Maaf Tuan," ucapnya penuh penyesalan.
"Ya .. sudah tidak apa-apa. lanjutkan pekerjaan mu," titahnya.
Jacob membungkuk hormat. Demian melihat ponselnya. Sepi. hanya ada satu pesan dari ibunya agar jangan lupa menjaga diri dan kesehatannya. Tiba-tiba ia merindukan kekasihnya.
Pria itu mencoba menelepon gadis itu. Tiga kali sambungnya terputus. Hingga kelima kali. Sebuah pesan terkirim.
(Maaf sayang, aku tengah berada di bazar selama tiga hari. Mungkin kita bisa bercengkrama lagi setelah semuanya selesai!).
Demian pun membalas pesannya.
(Iya, sayang ... maaf aku mengganggumu. Karena tiba-tiba aku merindukanmu)
Lama Demian menunggu balasan dari gadisnya. Hingga ia memasukan ponsel dalam sakunya. Setelah itu ia pun lupa jika telah berkiriman chat dengan kekasihnya.
Sedang di tempat lain, sosok gadis cantik tersenyum ketika melihat sosok tampan keluar dari kamar mandi dengan berbalut handuk di pinggulnya.
"Sayang ...," panggil gadis itu dengan suara serak.
bersambung.
eng ... ing ... eng ...
next?