
Lidya dan Darren benar-benar tak menikmati bulan madu mereka. Saf juga sama. Wanita itu sudah merengek minta pulang.
"Sayang. Kita pulang yuk," ajaknya.
"Kenapa sayang. Kita di sini bulan madu, menikmati kebersamaan kita. Nanti di rumah, kita susah buat sayang-sayangan kek gini!" sahut Darren.
"Ih, kan kita nggak tinggal satu rumah sama Mama. Apa Mas, masih ingin tinggal sama, Mama?" tanya Saf.
"Jujur, Mas masih ingin tinggal sama Mama. Mas, masih belum mau pisah sama Mama," jawab Darren murung.
"Apa Mas menyesal cepat dinikahkan sama Daddy?" tanya Saf takut-takut.
Darren menggeleng. Ia memeluk istrinya. Pria itu mulai mencium dan mencumbu Safitri. Wanita itu hanya pasrah dalam pelukan dan cumbuan suaminya yang kini makin mahir membangkitkan gairahnya.
Sedangkan Demian tak berhenti memeluk Lidya, istrinya. Wanita bertubuh mungil itu tenggelam dalam pelukannya.
"Sayang. Apa tetap ingin pulang?" tanyanya.
Lidya merengkuh tangan suami yang memeluknya. Ia menenggelamkan tubuhnya dalam pelukan Demian. Bahkan Lidya kini berani mengecup pipi pria yang menjadi suaminya itu.
"Iya, terserah Mas saja. Jujur, Lidya kepikiran sama adik-adik terutama Baby. Firasat Iya mengatakan jika mereka dalam bahaya besar," jawabnya.
Demian sangat senang memeluk tubuh istrinya. Hatinya berhenti dari rasa gelisah dan ketakutan. Pria itu seperti merasa dirinyalah yang dilindungi oleh istrinya itu.
"Sayang, aku mencintaimu," ujar Demian lalu mengecup sayang kening istrinya.
Lidya mencium bibir suaminya dengan berani. Demian tersenyum lebar. Pria itu pun mengangkat tubuh kecil istrinya dan membawanya ke peraduan.
"Kita pulang besok, ya," ajak Demian.
Lidya mengangguk senang. Wanita itu pun melayani permainan suaminya. Demian benar-benar dibuat mabuk akan pelayanan sang istri.
"Oh, sayang ... kau makin ahli sekarang," pujinya dengan napas menderu.
"Mas yang ajarin Lidya," jawab wanita itu memulai permainan.
Sementara di benua lain. Rion kini berhadapan dengan Terra ibunya. Wanita itu baru tau jika adik sekaligus anak kesayangannya itu masuk dunia hitam.
"Bisa jelaskan ke Mama?" tanyanya gusar.
Rion menunduk. Semua adiknya pun ikut berdiri di belakang Rion. Terra menganga. Ia tak percaya semua putranya mengikuti jejak kakaknya itu.
"Jangan bilang ke Mama, kalau kalian ikut jadi jagoan!" suara Terra meninggi.
Semua diam. Tak ada satu pun yang membantah perkataan Terra. Virgou, Haidar dan Bart tak mampu berkata apapun. Padahal Virgou ingin membela putranya.
"Te ...."
"Tidak Kak. Tidak!" elak Terra tegas.
"Dunia itu berbahaya sekali. Te, nggak mau terjadi apa pun pada mereka!"
"Tapi, Ion bekerjasama dengan kepolisian, Mama," sahut remaja itu.
"Justru itu lebih berbahaya lagi!" pekik Terra tak percaya.
"Apa kamu pikir polisi itu semuanya setuju dengan tindakan kamu, Baby!" lanjutnya dengan kekhawatiran tinggi.
Memang benar alasan Terra melarang semua putranya untuk terjun ke dunia hitam. Terra lebih suka, semua putranya lurus-lurus saja.
"Mama mohon. Jangan berkecimpung di sana. Itu berbahaya dan Mama tidak akan sanggup jika harus kehilangan salah satu dari kalian!" tekan Terra.
Rion hanya diam. Bart dan Virgou pun paham akan kekhawatiran Terra. Mereka juga tidak ingin keturunan mereka masuk ke dunia hitam. Tapi, Klan BlackAngel sudah terbentuk dan kini melebarkan sayapnya. Para anak buah yang terpencar sudah berkumpul kembali. Kepemimpinan Rion telah menjadi acuan para mafia lain untuk bekerjasama dalam aksi lainnya. Perebutan senjata ilegal kemarin membuat semua Klan menaruh rasa takut pada Klan terkuat dan kembali muncul.
"Apa kalian dengar Mama?" tekan Terra tak main-main.
"Jika kalian teruskan. Jangan salahkan Mama jika akan mengambil tindakan!" ancam wanita itu.
Ancaman Terra membuat Virgou dan Bart menatap wanita itu. Terra, melipat bibirnya. Ia nyaris keceplosan jika sektor D hancur akibat perbuatannya.
Pesta otak beberapa tahun lalu ketika perampasan data perusahaan Virgou yang dilepas di pasar gelap.
"Jangan bilang kehancuran sektoral D ada sangkut pautnya dengan dirimu!?" ujar pria beriris biru itu curiga.
"Mana mungkin lah, Kak. Sektor D dilapisi banyak hacker handal patrolinya juga tak main-main!" sahut Terra mengelak tuduhan Virgou.
"Terra!" panggil pria sejuta pesona itu.
Virgou bukan orang bodoh. Ia sangat cepat mengetahui sesuatu apa lagi gelagat adik sepupunya itu sangat mencurigakan. Bart pun baru tercerahkan. Haidar pun paham apa yang terjadi sebenarnya.
Rion dan adik-adiknya hanya diam menunggu. Rion tetap dalam pendiriannya. Dunia mafia sudah begitu menarik perhatiannya. Ia akan bekerja seperti Daddynya. Hanya terjun untuk menumpas para klan yang berurusan dengan keluarganya.
"Yang ngancam Kak Rion dan Sean belum tertangkap polisi, Mama!"
Tiba-tiba Kean bersuara. Remaja itu masih ingat akan bahaya yang mengincar saudaranya. Sedangkan Baba kesulitan untuk mengembangkan penyelidikan karena larangan dari kepolisian!" lanjut Kean lagi.
Terra dan Virgou teralihkan akan perkataan putranya.
"Maksud Ion masuk dunia hitam karena yang mengancam memakai kekuatan dari salah satu klan di sana, Mama," sahut Rion menjelaskan.
Terra diam. Ia memang sangat kecewa dengan pihak kepolisian yang bergerak sangat lambat tentang penyelidikan ancaman pada kedua putranya.
"Baba bilang jika peneror sudah tau jika kita melaporkan kasus ini ke polisi. Makanya mereka langsung mundur dan menunda semuanya," jelas Rion lagi.
Terra terdiam. Ia memang tak bisa melarang putranya masuk dunia hitam.
"Kenapa darah kalian disisipi Mafia? padahal Mama jauh dari kelompok berbahaya itu," sahut Terra.
"Oh .. realy?" tanya Virgou tak percaya.
Terra merengek manja pada kakaknya. Wanita itu ingin Virgou berada di pihaknya, melarang semua anaknya berkecimpung dalam dunia hitam.
"Sudah. Biarkan mereka berkecimpung di dunia itu Te. Kita tak bisa mengabaikan, kekuatan dan kekuasaan perusahaanmu sangat diminati oleh kaum bawah tanah. Terbukti beberapa tahun lalu ada yang menyusup dan ingin mencuri data perusahaan bukan?" ingat Bart pada kejadian ketika perusahaan Hudoyo cyber tech disusupi mafia.
Terra menghela napas panjang. Ia kalah suara. Wanita itu akhirnya mengangguk setuju jika Rion kembali memperkuat jaringan mafia.
"Tapi berhati-hati lah. Karena yakin, banyak musuh mengincar kalian. Sebisa mungkin jangan terjun langsung dalam semua bisnis ilegal!" Ujar wanita itu memberi saran.
Rion mengangguk. Remaja itu sudah tau apa yang harus dia lakukan. Ia menggunakan kekuatan Virgou yang masih ditakuti di dunia hitam itu.
"Jangan khawatir Mama. Ada Daddy yang jaga Ion," ujarnya santai.
"Jika ingin berkuasa. Kau harus menunjukkan kekuatanmu sendiri Baby. Kau harus buktikan jika kau adalah titisan Virgou Black Dougher Young!" saran Terra.
Rion mengangguk. Ia sudah menunjukkan kekuatannya kemarin. Lalu tiba-tiba.
"Assalamualaikum, Ma, Pa..Darren dan Lidya pulang!"
Semua menoleh arah pintu. Dua pasang pengantin baru sudah ada di sana dengan tangan terlipat di dada.
"Wa'alaikumussalam. Kok kalian pulang cepat?" tanya Virgou langsung menyambut empat manusia muda itu.
"Ya, tentu. Karena insting kami menyatakan jika di sini tidak baik-baik saja!" jawab Darren dengan tatapan tajam.
"Jangan bilang kau dengar semuanya?" tanya Bart.
Darren, Demian, Safitri dan Lidya mengangguk. Mereka mendengar apa yang terjadi di keluarga mereka.
"Kalau Baby bisa masuk dunia hitam. Darren ikut!" sahut pria itu.
bersambung.
nah .. satu keluarga memang mafia semua.
next?