TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
CINTA ADALAH KELUARGA



Terra menatap netra kosong putri kecilnya. Putri yang selama ini penyembuh luka hati orang lain. Namun, gadis kecil itu belum sembuh dari rasa traumanya selama ini.


"Sayang, Mama juga takut badut," ujarnya lirih.


Tetes demi tetes buliran bening mengalir membasahi pipi Terra dan wajah Lidya. Mata bening nan indah itu mengerjap.


'Iya harus kuat. Wanita jahat itu sudah tidak ada lagi. Ada Mama yang sayang Iya!'


"Lidya sayang, kembali, Nak..Mama butuh kamu," ujar Terra dengan suara tercekat.


"Papa, Kakak dan adik-adik juga. Semua butuh Lidya. Kembali, Nak!" sebuah suara berat mengisi.


Haidar memutuskan untuk ikut membimbing Lidya untuk keluar dari ketakutannya.


'Papa!'


"Sayang, bangun. Daddy, Ayah, Grandpa ... semua butuh kamu, Nak!" suara Haidar tercekat. Pria itu menahan tangisnya di bahu sang istri.


"Mama, Papa!" panggil Lidya lirih.


"Sa ... sayang!" panggil keduanya.


"Mamaa ... hiks ... hiks ... Pa!" Lidya memeluk dua orang yang ia cintai sambil tersedu.


Kedua orang dewasa itu pun menangis. Lidya telah kembali. Bart yang tak jauh berdiri langsung menghampiri dan memeluk ketiganya.


"Honey!" panggilnya.


Haidar dan Terra mengurai pelukannya. Lidya masih terisak. Bibirnya masih bergetar karena terisak. Bart menciumi pucuk kepala ketiga manusia beda usia itu.


"Kalian adalah hidupku," ujar pria renta itu.


Terra mencium pipi suami dan kakeknya. Lalu mencium Lidya. Mereka semua tersenyum. Lidya begitu bahagia. Ia berjanji tidak akan lagi ketakutan. Banyak yang menyayanginya.


"Mama, Iya lapal," ujarnya masih terisak.


"Ah, sayang, ayo makan, Nak," ajak.Bart kemudian ia menghapus pipinya yang basah.


"Gendong," pinta Lidya sambil mengangkat dua tangannya.


Haidar dan Terra nampaknya ingin menggendong gadis kecilnya. Akibat perbuatan mereka yang bersamaan membuat kepala mereka beradu.


"Aduh!" keluh mereka berdua kesakitan sambil mengelus kepala masing-masing.


Lidya tersenyum melihatnya. Ia sangat yakin ia akan keluar dari semua ketakutannya. Tidak ada lagi yang menjahatinya, tidak ada lagi yang tidak menganggapnya.


"Dulu, Iya rindu dicium Ayah, bertanya kapan Ayah memeluknya ... Kini, Iya selalu dipeluk Papa. Papa tidak pernah ragu bilang Iya adalah putrinya. Menciumnya di mana pun. Maaf, Ayah. Bukan Iya tidak sayang Ayah. Tetapi, Iya lebih sayang sama Papa," ujar Lidya dalam hati mengakui perasaannya.


Haidar menggendong Lidya. Terra berjalan di sisi pria itu. Bart sudah menunggu ketiganya di ruang makan. Virgou dan Herman bahagia Lidya sudah kembali. Terlebih Budiman dan Gomesh.


"Nona," panggil keduanya dengan binaran mata bahagia.


Lidya tersenyum manis pada dua pria tampan itu. Lalu membuat kiss dari jauh. Gomesh menangkap ciuman dengan dua tangan dan menaruhnya di dada. Budiman pun melakukan hal yang sama. Sedang Terra mengepal tinju pada keduanya di balik punggung sang suami.


Budiman dan Gomesh hanya tersenyum. Mereka tahu, sang ibu hanya bercanda. Virgou mengambil alih Lidya dari gendongan Haidar.


"My princess, kamu sudah kembali," ujarnya penuh haru. Ia menciumi gadis kecilnya.


Dari gendongan Virgou. Herman pun mengangkat dua tangan. Lidya kini berada dalam pelukan pria itu. Herman berkali-kali mencium kepala Lidya.


"Hei, sudah cium-ciumnya! Kita makan," ajak Bart.


Herman memangku gadis kecil itu. Pria itu menyuapi Lidya dengan tangannya. Gadis kecil itu pun makan dengan lahapnya.


Usai makan mereka pun bercengkrama di ruang tengah. Semua anak-anak mengerubungi Lidya. Mereka begitu khawatir tadi.


"Ata'Iya, padi pemata?" tanya Kean dengan wajah sendu. Semua mengangguk dengan ekspresi sama.


"Kakak, nggak apa-apa sayang. Kakak tadi hanya takut badut," jawab Lidya lembut.


"Iya, Kakak Iya takut badut. Tapi, sekarang kakak tidak takut lagi," jelasnya sambil tersenyum.


"Ata' palo ada badut ladhi Tlio batan putun dia, palna pudah bipin Ata' Iya patut!" ujar Satrio jumawa.


"Heem ... Cal mawu pempal Padut bawuh pe pulan!"


"Biya ... Kean judha puat om Padut mayis ... huuu .. huuuu ... beditu!" sahut Kean sambil mengubah ekspresinya.


"Sean batan puat padut binta pampun ... pyus mayis-mayis ... huuuu ... pampun!" Sean melakukan hal sama.


"Al ... judha! Pidat ada ladhi padut pan poleh satitin Ata' Iya!"


Daud hanya menggeleng. Ia tidak setuju dengan apa yang dilakukan oleh saudara-saudaranya itu.


"Pidat bayik ... ipu pidat bayik!"


"Kenapa tidak baik, Baby?" tanya Rion ingin tahu.


"Palo owang bahat ipu, balusna pita peldoa pial Allah buta bintu paubat," jelas Daud begitu bijak.


Terra tersenyum senang..Lidya juga senang dengan jawaban Daud. Arimbi hanya manggut-manggut sedangkan Nai asik memainkan bibir Puspita. Bayi itu minta pangku mommynya.


"Hayo, bobok siang!" ajak Terra lalu menyerahkan botol susu pada masing-masing bayi.


Semuanya pun mengambil botol itu secara berbaris rapi, Rion sudah menghabiskan susu di gelasnya. Lalu memimpin barisan. Darren membantu adik-adiknya menaiki tangga, begitu juga Puspita dan Khasya.


Lidya minta gendong Virgou. Dia mau bobo sama Daddy katanya. Tentu pria itu tak keberatan sama sekali. Herman pun menyusul istri dan anak-anaknya.


Haidar mengajak Terra ke kamar. "Kita bobo ciang juga yuk."


Terra hanya melirik Bart. Sedang pria itu hanya memutar mata malas. Leon, dan Frans pun terkekeh. Gisel akan pulang ke mansion ayahnya nanti.


Semua orang meninggalkan ruang tengah. Di sana masih ada, Bart, Frans, Leon, Budiman, Gomesh dan Gisel. Leon mengobrol dengan pria yang menjadi kekasih putrinya itu.


Sedang di kamar Virgou. Lidya tidur diapit oleh sepasang suami istri itu. Virgou mencium obat hatinya penuh kasih sayang. Puspita telah menyusui dua bayi kembarnya. Sedang anak-anak lainnya tidur di kamar khusus.


"Baby, jangan pernah takut pada siapapun. Keluarga Dougher Young itu tidak boleh takut, ia boleh takut sama hukuman dari Tuhan. Dosa besar dan berbohong pada kedua orang tua," nasihat bijak keluar dari mulut pria itu.


Virgou banyak berubah. Ia tahu, dirinya bukan orang suci. Karena dirinya juga ketiga anak yang tidak bersalah terkena imbasnya.


"Daddy akan membayar semua kesalahan Daddy di masa lalu untuk kebahagiaan kalian semua. Nyawa Daddy akan Daddy taruhkan untuk itu," sumpah Virgou dalam hati.


"Iya, sayang Daddy dan Mommy," ungkap Lidya sambil memejamkan mata.


"Kami juga sayang kamu, Baby," sahut Puspita tulus.


Sedang di satu kamar, di mana Terra dan Haidar berada. Mereka berdua melakukan olahraga siang di ranjang. Peluh bercucuran, ******* dan erangan meluncur dari mulut keduanya. Memacu adrenalin hingga ke titik kepuasan. Mereka pun terkapar kelelahan.


"Nanti malam olah raga lagi ya," pinta Haidar. "Mumpung tidak ada yang ganggu!"


"Ih ... dasar!" sela Terra dengan rona di pipinya.


"Mau, nggak?" tanya sang suami menggoda. Terra mengangguk.


"Yes!" Mereka pun berciuman.


"I love you," ungkap Haidar tulus.


"I love you too," balas Terra.


Bersambung.


Dah ... puas yaa ...


next?