
Rapat proyek dilakukan. Pembahasan tentang siapa yang akan mengisi supplier dan perusahaan mana saja yang ikut serta dalam tender besar ini hadir.
Tania hadir penuh dengan jumawa. Ia datang tanpa berkas penting. Ia hanya mengusung nama perusahaannya tanpa mengusung produk atau pemberian dana pada proyek. Ia sudah membayar dengan tidur bersama kepala proyek selama dua hari.
"Jika dapat dana kucuran proyek, aku bisa membayar sebagian utang pada debitur dan bank. Pengolahan jasa sampah menurutku tidak begitu buruk," gadis itu tersenyum penuh arti.
"Sampah proyek. Mereka tentu tak berpikir untuk mengurusi sampah bukan?" ujar gadis itu senang.
"Rapat dimulai!" sebuah suara wanita mendominasi.
Tania mengenal wanita itu. Sekretaris pria itu sudah mengumumkan jika rapat akan segera di lakukan.
"Selamat pagi, Tuan dan Nyonya sekalian. Perkenalkan Saya adalah Nyonya Laila Harmono istri dari Harmono. Mohon maaf, saya akan mengambil alih pimpinan karena banyak laporan kecurangan pada suami saya!" ujar wanita cantik penuh karisma itu.
Tania terbelalak. Gadis itu tidak percaya jika pria yang ia kencani kemarin akan diganti. Banyak perusahaan yang sudah membayar lebih pada proyek ini mulai ketar-ketir. Laila akan mengusut tuntas semua perusahaan yang terlibat penggelapan dana proyek.
"Baik, sekarang silahkan perwakilan perusahaan untuk mempersiapkan wakilnya," jelas wanita itu.
Darren memperkenalkan Sean maju. Pria itu benar-benar menyiapkan adiknya untuk maju sebagai kompetitor. Lalu, pria itu juga menyiapkan Cal sebagai CEO perusahaan cyber untuk penanggulangan data perusahaan. Sedang Virgou mempersiapkan Kean dan Al yang menangani struktur baja. Herman menyiapkan Satrio dalam penanganan sampah dan limbah proyek. Sedang Haidar memperkenalkan Rion sebagai wakilnya dalam penanaman modal besar.
Beberapa perusahaan menawarkan sumber daya manusia. Juga beberapa penanganan masalah ganti rugi tanah menjadi acuan rapat.
Laila mengangguk puas. Ada delapan perusahaan yang besar ikut andil proyek ini. Bahkan mereka juga tak segan menggelontorkan dana yang terlanjur digelapkan oleh kepala sebelumnya.
"Saya berjanji akan mengembalikan dana proyek yang sudah digelapkan secepatnya!" seru Laila berjanji.
Tania kalah telak. Gadis itu tak mampu memberikan review bahkan ia tak memiliki wakil apa pun untuk mengukuhkan proposalnya.
"Ini tidak bisa terjadi. Saya sudah rugi banyak di masalah proyek ini!" tekan gadis itu tak terima.
"Rugi apa, Nona?" tanya Laila gusar.
Wanita itu bukan tak mengetahui sepak terjang suaminya dengan gadis cantik dan seksi ini. Bahkan tadi ia sempat merasa minder ketika melihat kecantikan Tania.
"Aku tak mengira kecantikanmu tak menunjang kecerdasanmu, Nona!" sindir Laila begitu berani.
Kini, wanita itu bisa berkata dengan begitu percaya diri. Gadis seksi itu bukanlah tandingannya.
"Jaga bicaramu, Nyonya. Tuan Harmono sudah berjanji padaku memberikan sebagian kecil proyek ini!" teriak Tania tak terima.
"Janji? Janji apa Nona. Suamiku tak mengatakan apa pun ketika semua kebusukannya terbongkar dua hari lalu. Jika kau mau, susul dan tagih janjinya di penjara!" hardik Laila marah.
Tania terdiam. Kegagalannya dalam proyek ini pasti akan cepat tersebar. Perusahaannya pasti masuk audit bank. Ia akan kehilangan seluruh kerja kerasnya selama lima tahun belakang ini.
"Ini tidak mungkin!" teriak Tania tak percaya.
Laila tak peduli. Wanita itu memilih meninggalkan ruang rapat. Tania yang gelap mata, mengambil pisau kecil dari tas nya. Lalu menyerang Laila dengan dua kali tusukan.
"Mati kau!" teriaknya.
Jleb! Jleb!
"Aarrghh!"
Laila roboh bersimbah darah. Kejadian begitu cepat. Terlebih banyak peserta yang sudah mulai pulang dan minimnya penjagaan membuat Tania leluasa melukai Laila.
"Hei! Hentikan!" bentak salah satu penjaga yang mendengar teriakan.
Tania yang gugup langsung membuang begitu saja pisau kecil yang ia gunakan untuk menyerang Laila. Gadis itu lari dan menggunakan kekuatan terakhirnya untuk mendorong dua orang petugas yang hendak menyergapnya.
"Hentikan perempuan itu. Dia melukai Nyonya Laila!" teriak para petugas keamanan gedung.
Darren dan lainnya terkejut. Ia tak menyangka akan ada penyerangan terhadap istri dari ketua proyek. Budiman dan Gomesh langsung bertindak. Kedua pria itu mengejar Tania melalui tangga darurat.
"Baba ikut!" teriak Satrio.
Remaja itu paling suka dengan perkelahian. Hal itu membuat Herman tak suka. Sebagai ayah tentu tak ingin terjadi sesuatu hal buruk pada putranya.
"Jangan macam-macam!" bentaknya.
Satrio merengek pada Virgou yang malah memandanginya horor. Remaja itu mengerucutkan bibirnya.
"Biarkan pada yang sudah terlatih ya, Baby," ujar Darren menenangkan adiknya itu. Haidar hanya mengelus dadanya. Ia bersyukur seluruh keluarganya sudah keluar dari ruang yang mengerikan.
"Tania tertangkap oleh Baba dan On Gomesh, Pa," lapor Rion ketika para pria itu meneleponnya.
"Baik. Suruh serahkan ia pada polisi. Bagian keamanan sudah menelepon ambulance dan menangani penusukan pada Nyonya Harmono," jelas Haidar.
Benar saja. Tak butuh waktu lama, ruangan diberi garis polisi. Senjata ditemukan di sekitar lokasi penusukan tak jauh dari korban.
Luka Laila juga tak begitu parah. Tapi, wanita itu sangat shock dengan kejadian cepat tadi. Tania langsung meringkuk dalam tahanan. Ia memanggil beberapa pengacara untuk membuat ia bebas bersyarat. Sayang, bukti terlalu kuat, bahkan tangannya masih ada noda darah Laila.
"Maaf, Nona. Pihak kepolisian menolak BAP yang anda ajukan dan tidak memberikan uang jaminan!" lapor pengacara gadis itu.
Tania, kini memakai baju khusus tahanan. Tuduhan pembunuhan berencana dan tuduhan berusaha melenyapkan nyawa orang lain.
"Nona, perusahaan anda sudah diaudit oleh Bank," ujar pengacara lagi.
"Tolong urus perusahaan. Katakan, nilai omset perusahaan melebihi utang!" titah gadis itu.
"Maaf, Nona. Kelakuan anda menyerang Nyonya Laila membuat omset anda jatuh dan tak mampu mengangkat utang," jawab pengacara dengan nada menyesal.
"Berengsek! Lakukan sesuatu. Nilai tanah dan bangunan tak berimbas dengan apa yang kulakukan!" bentak gadis itu.
Pengacara hanya bisa terdiam. Pria itu melakukan tugasnya. Soal harga saham memang perusahaan gadis itu dinyatakan bangkrut. Tapi, nilai tanah dan bangunan tergolong tinggi. Pihak Bank tak bisa mengabaikan itu.
"Saya akan lakukan yang terbaik untuk menyelamatkan perusahaan anda, Nona!" sahut pengacara.
Tania menyandarkan tubuh di dinding dingin penjara. Kasusnya begitu cepat bergulir. Senjata yang ia gunakan terlalu kecil untuk dikatakan bisa membunuh Laila. Tapi penyerangan yang ia lakukan pada wanita itu. Tak bisa lepas dari hukum.
"Kenapa begini?" tanyanya lirih.
"Aku sudah menyerahkan seluruhnya pada proyek ini. Bahkan menjadi pemuas napsu laki-laki itu selama dua bulan penuh," keluhnya.
Ia mengernyit sakit. Dadanya seperti teriris belati. Ia sudah tak memiliki apa-apa lagi. Berharap hukum tak terlalu berat ia jalani.
"Mudah-mudahan aku masih diberi kesempatan untuk bebenah diri," gumamnya penuh penyesalan.
bersambung.
nah ... kan ...
hai Readers ... ba bowu ❤️😍 othor hanya satu up lagi nih.... belum sembuh benar.
next?