
Nina baru saja masuk. Tanpa salam. Terbiasa seperti itu. Tiba-tiba, ia diteriaki ibunya.
"Nin, habis ganti baju, kamu masak nasi sama gosok baju ya!"
"Iya Bu!" sahut Nina sambil mengelus perutnya yang sedikit lapar.
Beruntung tadi Putri memberinya kue buatan ibunya. Ada rasa sesal kenapa ia tadi meludahi Putri yang selalu baik padanya.
"Bedain baju, Kak Gina ya, itu Ibu belinya mahal!" titah sang ibu lagi.
Nina sudah ada di kamarnya, ia harus cepat mengerjakan apa yang diperintahkan sang ibu. Agar, ia bisa makan dan mengerjakan pekerjaan lainnya. Sedangkan sang Kakak. Jangan tanyakan, remaja berusia lima belas tahun itu kini sedang merawat tubuhnya dengan lulur.
Nina memasak nasi terlebih dahulu. Sesudahnya ia memilih baju-baju yang bagus milik kakaknya. Ia sedikit bingung. Yang mana yang bagus, karena semua sama. Dari pada nanti dimarahi. Ia pun bertanya pada Ibunya yang kini tengah mengeringkan cat kukunya.
"Bu, baju Kak Gina yang bagus yang mana lagi?" tanya Nina.
"Gitu aja kok kamu nggak tahu sih. Itu loh yang gaun panjang warna pink sama gaun pendek warna biru," jelas Ivi tanpa melihat putrinya.
"Tapi, tadi nggak ada gaun itu. Semuanya kaos Bu," jawab Nina lagi sambil mengingat.
"Ya, udah kalo nggak ada. Setrikanya yang hati-hati. Mahal semua itu!" sahut Ivi masih enggan menatap putri bungsunya.
Nina pun akhirnya mengerjakannya. Dengan penuh kehati-hatian ia menyetrika semua baju yang rata-rata adalah milik kakaknya Gina. Ayahnya pun pulang. Bunyi mobil ternyata tidak didengar oleh Ivi.
Nina baru saja menyelesaikan semua setrikaan. Ia mengusap peluh. Burhan masuk. Lagi-lagi tanpa salam. Nina yang tahu ayahnya datang langsung memasak air untuk membuat kopi sang ayah.
Burhan, hanya menatap putri bungsunya. Entah mengapa, ia melihat tubuh Nina sedikit kurus. Nina meletakkan kopi di atas meja tamu.
"Nih, Yah, kopinya," ujar Nina.
Gadis kecil itu sudah terbiasa. Tanpa ucapan terima kasih. Burhan menyeruput kopi itu.
"Kopinya sedikit manis. Lain kali kurangi gulanya!' tegur Burhan.
"Iya, Yah. Maaf," cicit Nina lirih.
"Eh, Ayah sudah pulang. Yah, lihat deh Ibu baru mewarnai kuku, bagus nggak Yah?" Ivi langsung memamerkan kukunya.
"Bagus," sahut Burhan datar.
"Ayah sudah pulang!" sambut Gina antusias.
Kini ibu dan kakaknya saling bermanja pada Burhan. Ingin sekali Nina bergabung di sana. Tetapi, Ivi menatapnya.
"Kamu masih di situ? Udah mandi? Sana mandi dulu!" titahnya kemudian.
Nina pun berlalu dari sana. Terdengar olehnya suara manja sang kakak yang ingin dibelikan ponsel pintar yang baru.
"Bu, kok Ayah lihat, Nina agak kurusan ya?" tanya Burhan mengingat tubuh putri bungsunya.
"Gimana nggak kurus. Orang dia makan itu milih-milih, Yah," jawab Ivi sedikit mengeluh kelakuan putrinya itu.
"Oh, ya sudah, Ayah mau makan. Lapar," ujar Burhan lalu melangkah ke meja makan.
Ivi kelabakan. Ia lupa memasak hari ini, karena sibuk mengecat kukunya. Ia pun tidak menyangka jika sang suami pulang sedikit cepat.
"Ah ... Yah, kita sekali-kali pesen makanan aja sih. Kayaknya enak deh makan ayam geprek Ponsu," ujar Ivi.
"Ya, sudah pesan yang untuk empat porsi, pisahkan sambalnya!" titah Burhan.
"Ayah akan mandi dulu," lanjutnya kemudian.
Pria itu pun pergi ke kamarnya untuk bersih-bersih. Ivi langsung memesan makanan yang ia inginkan tadi.
Pesanan sudah datang. Semuanya kini ada di meja makan. Burhan menatap piring yang ada di hadapan Nina. Hanya nasi dan lalapan serta tepung ayam saja.
"Mana ayam buat Nina. Kenapa hanya tepung saja?" tanya Burhan.
"Ah, tadi katanya ayamnya sisa tiga porsi. Lagi pula Nina nggak begitu suka ayam. Iya kan Nin?"
Burhan setengah tidak percaya. Tetapi, ia membiarkan putri bungsunya memakan apa yang dihidangkan tanpa keluhan.
Usai makan, Nina pun merapikan semuanya. Lagi-lagi Burhan menanyakan kenapa Gina tak membantu adiknya yang masih kecil mencuci piring.
"Oh, kasihan Gina, tadi dia yang cuci baju," sahut Ivi.
"Cuci baju kan pake mesin, Bu," ujar Burhan.
"Sudah, Ayah istirahat saja. Biar Nina menyelesaikan semuanya," ucap Ivi lalu menggiring suaminya ke kamar.
Nina pun selesai mencuci piring. Mengusap matanya yang basah. Ia sangat doyan ayam goreng, suka sama ikan goreng suka semua makanan yang enak.
Namun entah sejak kapan sang ibu mulai memilih makanan yang harus ia makan dan tidak. Padahal, ia merasa tidak melakukan kesalahan apa-apa.
Nina masuk ke kamarnya. Mencoba meredakan tangisannya. Isakan pilu pun terdengar lirih. Nina menaruh bantal menutupi wajahnya. Ia yakin walau ia mati tak ada yang peduli padanya.
"Mungkin aku dikasih makan biar tetap hidup agar ada yang bisa masak nasi dan gosok baju Kakak ... hiks ... hiks."
Nina pun tertidur dengan bantal yang menutupi mukanya. Pintu perlahan terbuka. Sosok tegap menatap tubuh kurus yang tertidur. Masih terdengar isakannya.
Burhan membuka bantal yang menutupi wajah putrinya. Mengusap pipinya yang basah dengan air mata. Perlahan pria itu mencium kening Nina.
"Maaf kan Ayah dan Ibu ya, Nak," ujarnya parau.
"Sejak kapan anak kita tidak suka makan ayam goreng?"
Ivi terdiam.
"Lalu ini kerjamu seharian? Mengolesi kukumu, menyuruh anak usia sembilan tahun menggosok baju dan memasak nasi?!" Ivi masih terdiam.
"Jangan kira Ayah tidak tahu Bu. Ayah sengaja memasang kamera pengawas di beberapa titik yang ibu tidak ketahui. Selama ini, Nina lah yang bekerja mengurusi rumah. Ibu terlalu memanjakan Gina," ujarnya lagi.
"Besok, Ayah akan bawa Nina pergi. Biar dia menemani Ibuku. Di sana dia akan dimanjakan oleh sepupunya," putus Burhan kemudian.
"Tapi, Nina sekolah," ujar Ivi.
"Tidak apa-apa, biar Ayah yang akan mengurus kepindahannya!" sahut Burhan lalu pergi meninggalkan istrinya.
Ivi menangis. Ia memang membedakan kasih sayang antara putri pertama dan putri bungsunya. Alasannya klise. Gina berusia remaja. butuh perhatian ekstra agar tidak mencari kepuasan di luar sana.
"Nina masih kecil, ia belum butuh perhatian ekstra."
Itu lah alasannya. Ia memberi tanggung jawab lebih pada anak bungsunya dan mengimbangi anak sulungnya yang beranjak remaja.
Mengikuti trend mode ibu-ibu gaul agar Gina tak minder ketika bersamanya. Ivi jadi rutin manicure padicure. Makanya agar perawatan maksimal ia limpahkan pekerja memasak, menggosok pada Nina.
Soal makanan, Ivi memang tak pernah memberinya makanan enak. Entah kenapa, ia merasa terlalu banyak pengeluaran. Toh, kulit tepung tadi masih ada rasa ayamnya. Pikirnya sayang jika dibuang.
Pagi datang. Burhan menepati perkataannya. Ia membawa semua baju Nina dalam koper besar. Sang nenek sudah antusias dengan kedatangan cucu kesayangannya.
Nina memang anak paling kecil dari seluruh keluarga. Gadis kecil itu sangat antusias. Ia bahagia tinggal bersama orang-orang yang menyayanginya nanti. Hari ini adalah hari terakhirnya sekolah.
"Ayah, nanti mampir beli kotak bekal di toko Baba Ashiong ya," pintanya antusias.
"Buat apa?" sergah Ivi tidak suka jika Nina suka minta-minta barang tidak berguna.
"Tidak masalah. Kita nanti mampir ya," putus Burhan.
Gina sudah siap dengan seragam sekolahnya begitu juga Nina. Burhan telah memasukkan koper Nina di dalam bagasi.
Mereka pun berangkat ke sekolah. Tanpa salam dan cium tangan. Sudah terbiasa seperti itu.
Nina membeli dua kotak bekal warna merah hati dan warna putih. Setelah mengantarkan Nina. Burhan baru mengantarkan Gina.
Sampai kelas, gadis kecil itu terus tersenyum. Lidya datang. Nina langsung memeluknya.
"Kamu kenapa, Nin?"
"Aku bahagia, akhirnya, besok aku tinggal sama Nenek yang sayang sama aku," jelasnya.
"Oh ya, takut lupa!"
Nina pun mengambil sesuatu dalam tasnya. Lalu memberikan kotak bekal warna putih untuk Lidya.
"Ini untuk kamu. Besok, aku sudah pindah sekolah. Jadi ini hadiah perpisahan kita," ujarnya sambil menyodorkan kotak itu.
"Ini bagus sekali," puji Lidya dengan mata berbinar.
"Makasih ya, Nin," ungkap Lidya tulus.
"Sama-sama," sahut Nina lalu tersenyum.
Bel pelajaran pun dimulai. Riani menatap senyum yang terus mengembang di pipi Nina. Ia pun lega. Mungkin masalah muridnya itu sudah selesai.
Bel istirahat berbunyi. Seperti biasa. Putri tak berhenti berbuat baik pada Nina. Walau dikasari berkali-kali. Ia masih saja menawari teman sekelas Lidya itu makanan yang dibuat ibunya.
Kini, dari bibir Nina bukan lagi hinaan atau umpatan kata kasar. Ulasan senyum lebar ia berikan pada Putri. Ia pun menerima makanan yang ditawarkan sahabat Lidya itu dengan senang hati.
"Nih, kotak bekal dari aku!" ujar Nina memberi kotak bekal warna merah hati.
Putri berbinar melihat kotak itu. Itu adalah kotak bekal impiannya. Ia sedang menabung uang jajannya untuk membeli kotak bekal itu.
"Ini, buat aku?" tanyanya tak percaya.
"Iya, itu buat kamu. Kenang-kenangan dari aku. Soalnya besok aku sudah nggak sekolah di sini," sahut Nina menjawab keraguan Putri.
"Kamu mau pindah ke mana Nin?" tanya Lidya sambil memakan pangsit goreng yang tadi dibawa Putri.
"Ke kota B. Ke rumah Nenek," jawab Nina ikut memakan pangsit.
"Wah jauh ya. Trus kita nggak ketemu lagi dong?" ujar Putri sedikit sedih.
Nina begitu terharu. Ia sangat menyesal telah kasar pada Putri. Padahal teman seusianya itu tak pernah berbuat jahat padanya. Nina hanya iri. Entah apa dia iri, Nina sendiri tidak tahu. Ia tak bisa mengungkap itu.
Tak terasa bel akhir pelajaran sekolah pun berbunyi. Nina memeluk Putri dan Lidya Keduanya menangis berpisah dengan teman uniknya itu. Burhan menjemputnya. Ia sudah mengurus kepindahan putrinya.
Di sana. Sang nenek menunggunya dengan wajah gembira. Bahkan sepupunya yang sudah dewasa telah membelikannya banyak mainan. Mereka semua menyayangi Nina.
bersambung.
terkadang, seorang anak itu tak mampu mengungkapkan apa yang ia rasakan. Orang tua lah yang harus banyak mengerti.
Dunia anak itu berbeda dengan dunia orang tua mereka. Jadi jangan paksakan anak untuk mengerti keadaan orang tua.
next?