
Hari berlalu. Sudah satu minggu Putri menjadi istri seorang Jacob. Ia sudah menjadi seorang wanita. Demian makin lengket dengan Lidya. Pria itu sudah mengetahui apa itu permainan yang menjadi tantangan pria itu.
Sore ini, Demian bersama Jac. Jac menjemput istrinya. Gio, Felix dan Hendra masih bersikap sama, datar. Walau tak seposesif awal. Putri dan Lidya keluar. Wajah gadis itu tersenyum lebar setelah melihat kedatangan Demian.
"Nggak sama Daddy, Bang?" tanya Putri.
Jac tersenyum dan merengkuh bahunya. Pria sangat mesra dengan sang istri. Hal itu membuat Lidya dan Demian iri.
Saf dan Aini keluar bersamaan. Kali ini, Aini tak membawa kedua adiknya bekerja. Ia telah membayar seorang asisten rumah tangga, untuk membantunya.
"Duh, yang pengantin baru. Bikin iri yang jomlo aja, nih!' sahut Saf sebal.
"Makanya, nikah Bu bidan," sahut Putri enteng.
"Ih ... nikah sama siapa? Kucing?" sungut Saf keki.
Lidya terkekeh. Aini terkikik geli. Dua gadis itu langsung merangkul lengan Saf manja.
"Bu, besok bawain makanan lagi dong," rengek Lidya dan Aini bersamaan.
"Ah, sejak kapan aku punya anak gadis sebesar ini?" protes Saf mencibir.
"Ih, pangsit rebus Ibu enak," rengek Lidya lagi.
"Bosen makan itu terus! Besok aku mau bawa balado jengkol!" sungut Saf.
"Ih, Ibu jahat!' cebik Lidya.
'Ih, kamu tambah cantik kalo lagi kesel gini. Bener nggak Tuan Starlight?" tanya Saf menggoda.
"Dia cantik dengan ekspresi apa pun, Bu bidan," jawab Demian menatap Lidya dengan pandangan memuja.
"Ah, aku terjebak di antara pria bucin. Yang satu, masih malu-malu ngungkapin perasaannya,' celetuk Saf.
"Hah? Siapa Bu?' tanya Lidya penasaran.
"Nih," jawab Saf sambil melirik Aini.
"Sama siapa?" tanya Putri kini penasaran.
Aini mencubit keras pinggang Saf, hingga mengaduh.
"Ah ... aku diciwit loh!" adunya.
(Diciwit\=dicubit. bhs. Jawa).
"Ibu nyebelin!" rajuk Aini sambil mengerucutkan bibirnya.
"Aduh-aduh ... bibirnya minta dicium sama Mas Gio ya?" ledek Saf keceplosan.
Lidya dan Putri terkejut. Mereka tak menyangka jika salah satu rekan kerja, menyukai pria pengawal Lidya. Saf menatap dua perempuan beda status pernikahan itu.
"Ada apa kalian?" tanya Saf.
Aini menunduk. Ia menggenggam erat lengan Saf, seakan takut dan malu bersamaan. Safitri tak mengetahui hubungan Aini dan kakak dari Lidya, sebelumnya. Sedang Gio makin salah tingkah.
"Kalian ada apa ini?!" sentak Saf akhirnya gusar.
Lidya dan Putri menggeleng. Keduanya tersenyum. Saf memicingkan matanya.
"Hei ... sudah. Toh, Kakakmu dan Dokter Aini memang tak berjodoh. Jadi, biarkan Dokter Aini mencari kebahagiaannya," tegur Demian.
Lidya mengangguk tanda mengerti.
"Oh jadi itu ceritanya!" celetuk Saf.
Aini menyembunyikan wajahnya di bahu gadis yang tinggi besar itu. Ia sangat malu. Safitri bisa menilai perasaan seseorang hanya dengan melihat dari gelagatnya saja. Makanya, kemarin ketika bersama keluarga Lidya. Gadis itu tak melihat adanya perasaan tertinggal antara Darren dan Aini.
'Sudah, ayo pulang. Aku sudah rindu masakan istriku!" sahut Jac.
"Ck ... alasan!" cibir Demian kesal.
Gio menatap Aini yang masih setia menyembunyikan wajahnya di bahu Saf. Tinggi gadis itu hanya sebahu bidan itu, Sedang Lidya di bawah dadanya. Semuanya pun pergi dari rumah sakit. Safitri sudah menempati rumah baru yang ia cicil.
"Sayang, apa kita nggak kepikiran untuk membeli rumah di dekat perumahan dekat Bu bidan?" tanya Jac menyarankan.
"Eum ... tapi, Abang kan nggak bisa ambil rumah di sini, sebelum sepuluh tahun," jawab Putri.
"Ya, pakai atas namamu, sayang," jawab Jac.
"Jangan pikirkan yang belum terjadi. Ingat, itu bisa jadi doa!" tegur Saf.
Putri tertegun mendengar hal. Itu. Jac langsung menatap istrinya.
"Apa yang kau pikirkan, sayang?" tanyanya lembut.
"Tidak ada. Benar kata Ibu, aku nggak boleh pikirin macam-macam. Jika Abang tak keberatan, besok aku mau ajukan KPR di tempat yang sama dengan Aini dan Bu bidan," jawab Putri yakin.
Jac tersenyum lalu mengangguk. Demian menggeleng kepala.
"Kau lupa jika kau memiliki fasilitas rumah dan kendaraan jika satu bulan setelah menikah, Jac? Bahkan di Eropa kau sudah memiliki mansion sendiri juga tiga unit di tiga penthouse berbeda," celetuk pria itu mengingatkan.
Jac menepuk keningnya. Hanya tinggal tiga minggu lagi, ia menunggu untuk mendapat fasilitas itu.
"Wah, enak yang nikah trus dapat rumah sama kendaraan," celetuk Saf.
"Aku harus nikah sama CEO kalau gitu!" lanjutnya berkeinginan.
"Bu bidan sama CEO Darren saja," sela Aini tiba-tiba.
"Ah, terlalu ganteng. Takut makan hati, karena sibuk melototin cewek-cewek yang memandang Ata' Dallen penuh pemujaan," sahut Safitri enggan.
"Cinta kita rumit juga ya," celetuk Demian.
"Kita? Mas Dem aja keles, Aku baik-baik aja tuh sama Bang Jac. Iya, kan Bang?" sahut Putri lalu merangkul erat lengan suaminya.
"Ck ... kau keterlaluan!" sahut Demian kesal.
Putri menjulurkan lidah dan menarik kelopak mata bawahnya meledek Demian.
"Semangat ya, Mas. Lidya itu adalah tuan putri kesayangan semua keluarga. Dia adalah mataharinya mereka. Kau akan tau, ketika nanti sudah dekat dengan keluarga Lidya," sahut Putri.
Demian menatap gadis yang bermata sendu. Mata yang sama ketika ia lihat ketika usianya masih empat belas tahun, sedang Lidya waktu itu baru berusia tujuh tahun.
"Eh, sudah sampai parkiran nih!" celetuk Saf membuyarkan lamunan Demian dan Lidya.
"Andai aku sudah punya SIM. Aku yang bonceng kamu, sayang," ujar Jac penuh penyesalan.
"Tidak masalah, Bang," ujar Putri.
"Kok kesannya aku nggak gagah ya duduk di belakang?" ujar Jac ketika menaiki motor ninja istrinya.
"Udah, jangan berisik. Ayo peluk yang erat. Takut kamu jatuh, terus diambil kucing lagi," seloroh Putri.
"Sayang!" tegur Jac, tapi ia memenuhi keinginan istrinya, memeluk erat pinggang ramping Putri.
"Halah ... mau tapi malu!" sindir Lidya.
"Iri? Bilang Boss!" seru sepasang pengantin baru itu.
Putri melesatkan motornya. Saf juga menaiki motor besar miliknya,
Lidya melambaikan tangan pada Demian, begitu juga sebaliknya. Semua pun pulang.
Sampai rumah, Demian melihat ayahnya tengah asik dengan ponselnya. Pria itu sudah mendapatkan tambatan hatinya. Seorang guru taman kanak-kanak yang hobi membuat kue. Demian telah berkenalan dengan wanita itu.
Ting! Ponsel Demian berbunyi, satu pesan singkat datang dari nomor gadis pujaan hatinya.
(Mas, Baby bertanya kesediaanmu untuk memenuhi tantangannya?).
Demian langsung membalas. Pria itu sudah membaca dan melihat permainan itu.
(Iya, saya siap kapanpun. Untuk mendapatkan restu, apa pun kulakukan, sayang.)
Di tempat berbeda, pipi seorang gadis merona ketika mendapat balasan dari pria yang menawan hatinya semenjak usia anak-anak.
Ya, Lidya masih ingat tatapan pria itu masih sama ketika mendatanginya karena tak sengaja menakutinya karena berpakaian badut.
"Mas, semoga kita berjodoh dan menikah," harap gadis itu dalam hati.
bersambung.
aamiin ...
next?