TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
MENCATAT NAMA



Semua heboh dengan kedatangan enam bayi di mansion Herman. Bram dan Kanya sudah ada di sana.


"Pokoknya nggak mau tau. Aqiqah nanti di mansion Kakek!" putus Bram.


"Iya, nanti kita ke sana semua," ujar Dav.


Kini Domesh sudah meninggalkan bahasa bayinya. Benua juga hanya tinggal melancarkan huruf er. sedang Sky dan Bomesh masih memakai bahasa kebesarannya itu.


"Ion catet semua nama babies loh," ujar remaja itu ketika memperlihatkan bukunya.


Bram terkekeh. Entah kenapa di matanya Rion adalah bayi gembul yang menggemaskan, usil dan suka sekali membuat orang tertawa.


"Kau juga bayi besar," ujarnya gemas.


"Ion bukan bayi!" rengek remaja itu kesal.


"Kau tetap bayi di mata kami!" putus Dav tegas.


Rion mengerucutkan bibirnya. Remaja itu semakin tampan di usianya mau sembilan belas tahun.


"Kakak Ion, Domesh, nanti kalo besal mau jadi sepelti kakak!" ungkap Domesh yakin.


"Jadilah dirimu sendiri baby," ujar Rion.


"Pemana padhi dili peundili ipu peulti pa'a?" tanya Bomesh tak mengerti.


"Jadi diri sendiri itu ya, seperti sekarang, tidak meniru siapapun," jelas Rion.


"Tapi kata Bu gulu, kita boleh kok mencontohkan hal baik dali olang lain!" seru Benua.


"Buktinya keteladanan losul halus kita teladani," lanjutnya.


"Ah ... kau makin cerdas baby," puji Rion bangga.


Semua mengangguk setuju. Semua bayi makin cerdas bahkan kini bertambah perusuh lahir di keluarga ini.


"Kita harus membuat propinsi baru!" kekeh Bram melihat betapa banyaknya keturunan.


"Ck ... seluruh keturunanmu saja kurang untuk semua perusahaan," sahut Bart.


"Tapi, jika terlalu banyak, kita pusing mengingat semua keturunan kita dad!" sahut Bram.


Bart mengangguk setuju. Ia akan membayangkan anak dari Dav yang baru satu. Ia membayangkan jika lebih dari itu. Ia tersenyum lebar. Keturunannya tak akan habis.


"Ini nama-nama Babies!" seru Rion lalu membaca tulisannya.


"Anak Daddy Virgou dan Mommy Puspita. ada Muhammad Keanu Black Dougher Young, Muhammad Calvin Black Dougher Young, Maisya Ainun Black Dougher Young, Affhan Ali Black Dougher Young, Kaila Afsyun Black Dougher Young, Muhammad Harun Black Dougher Young!"


Rion menghela napas panjang. Ia melanjutkan lagi bacaannya. Semua duduk mendengarkan.


"Nama babies Ayah Herman dan Bunda Khasya. Satrio Bima Triatmodjo, Arimbi Ayuning Triatmodjo, Dimas Baskara Triatmodjo, Dewa Ruci Triatmodjo dan Athena Dewi Triatmodjo!"


"Lalu Babies Papa Haidar dan Mama Terra. Darren Putra Hugrid Dougher Young, Lidya Pratiwi Hugrid Dougher Young, Rion Permana Hugrid Dougher Young, Naisyah Hovert Putri Pratama, Muhammad Narsean Hovert Pratama, Ali Narendra Hovert Pratama, Daud Narandra Hovert Pratama, Rasya Nerandra Hovert Pratama, Rasyid Nakendra Hovert Pratama!" lanjutnya. "Lalu Arion Nakendra Hovert Pratama dan Arraya Nerinda Hovert Pratama!"


"Wah ... banat setali anat Mama Teyya!" celetuk Azha sambil bertepuk tangan.


Terra gemas bukan main. Bahkan tak ada satu anak curiga dengan nama belakang yang berbeda. Ia pun tak peduli.


"Sekarang kita beralih ke keturunan selanjutnya ya," seloroh Rion.


Semua terkekeh mendengarnya. Mereka makin bangga dengan banyaknya keturunan mereka.


"Kita mulai dari Baba Pudi dan Bommy Gisel!" ujarnya, "Samudera, Benua, Sky dan Fathiyya Ocean!"


"Wah, namanya pendek jadi nggak susah ngapalin!" lanjutnya dengan senyum lebar.


"Lalu ke Papa Gabe dan Mommy Widya, Gabriela Putri Dougher Young, Sebastian Arthero Dougher Young, Billy William Dougher Young, Martha Aretha Dougher Young!"


"Masih mau lanjut?" tanyanya berseloroh.


"Lanjut!" teriak semuanya.


"Ion minum dulu .. Uma Saf, boleh minta minum," pintanya manja.


Saf menyorongkan gelas yang ia pegang dengan air di dalamnya. Rion meneguknya hingga tandas. Lalu melanjutkan lagi menjadwal semau bayi yang ada.


"Kita ke pasangan Papi Dav dan Mami Seruni, nama putranya Ali Razka Bartazha Dougher Young!"


"Kita lanjut ke nama keturunan selanjutnya!"


"Nama babies Abah Darren dan Uma Safitri. Langsung tiga euy, Aisyah Nabila Hugrid Dougher Young, Maryam Sabila Hugrid Dougher Young, Muhammad Al Fatih Hugrid Dougher Young!"


"Nama babies Mama Lidya dan Papa Demian, Al Bara Hasan Starlight, El Bara Harun Starlight!" lanjutnya.


"Trus kita ke bayi selanjutnya, Om Gomesh dan Tante Maria, Domesh, Bomesh dan Bariana!"


"Lalu ke Daddy Jac dan Mama Putri, Baby Aaima Khalisa. Kalo Papa Gio dan Mama Aini Muhammad Arsyad Putra Gotranda!”


"Sudah semua!" Rion bertepuk tangan.


Semua anak bertepuk tangan. Gio, Gomesh dan Jac terharu. Mereka masuk daftar keluarga ini. Padahal tidak ada hubungan darah sama sekali.


Usai menyebut semua nama bayi, Rion minta makan dan disuapi oleh Terra. Remaja yang sebentar lagi menjadi seorang pemuda itu masih manja.


"Lalu, mana kekasihmu baby?" tanya Bram pada Rion.


Remaja itu berdecak. Ia memang sangat sulit untuk jatuh cinta, tak ada wanita yang sesempurna kakak yang menjadi ibunya itu.


"Nggak ada yang kayak mama," cicitnya lirih.


"Ya pastinya nggak ada baby. Mama kan cuma satu," sela Darren.


"Ya, setidaknya mirip gitu sama sifat mama atau kek Uma Saf deh," sahut Rion.


"Ah, uma kenapa sih nggak nunggu Ion," lanjutnya sambil meledek kakak laki-lakinya itu.


"Eh, apa kamu bilang!" seru Darren tak percaya.


"Bercanda kakak," kekeh bayi besar itu.


Ia memang sulit, setidaknya ia mau istrinya seperti Lidya atau Safitri.


"Nanti juga bakal datang sendiri kok," ujar Seruni, " buktinya mami nggak nyari, jodoh mami datang sendiri!"


Dav mengangguk setuju. Seruni tak mencarinya, andai ia tak datang ke toko Seruni waktu itu. Tapi, itulah jika takdir berkehendak, Allah sudah menggariskannya seribu tahun sebelum penciptaan manusia.


"Eh ... iya juga ya, padahal Om Juno kan naksir duluan Mami Seruni, tapi ditikung sama Papi Dav!" sahut Darren.


Dav mencibir. Juno kini bertugas menjaga Rasya dan Rasyid ke sekolah bersama rekannya Wawan dan Rio. Pria itu masih betah melajang setelah perceraiannya.


"Nggak ada tikung menikung itu. Adanya memang Om Juno nggak berjodoh sama mami," sela Saf.


Semua mengangguk setuju. Usai makan siang para bayi dan ibu yang baru melahirkan sudah masuk kamar untuk istirahat.


Bram dan Kanya memilih pulang ke mansion untuk mempersiapkan aqiqah enam keturunan mereka. Karina dan suami serta anak dan cucunya sudah menginap di sana untuk membantu semuanya.


"Aqiqah kita laksanakan dua minggu lagi, jadi berapa kambing yang harus kita potong?" tanya Demian.


"Ada tiga laki-laki dan tiga perempuan. Jadi tiga kali dua itu enam tambah tiga jadi totalnya sembilan ekor kambing!" jawab Dav.


"Oke, sepertinya mansion Kakek Bram nggak muat deh," ujar Darren.


"Kita sewa gedung atau hotel Kakek!' usul Rion.


"Tapi, kakek udah siapin semua di mansionnya. Nggak enak," sahut Demian.


"Iya juga, tau tadi kita obrolin ini dari awal," sahut Herman.


Dominic hanya diam saja, ia menyerahkan semuanya pada keluarga itu.


"Ya, sudah kita di mansion kakek saja, tapi kita hanya undang anak yatim dan persoalan memperkenalkan Semua keturunan, kita adakan di perusahaan. Bagaimana?" usul Budiman.


"Wah, boleh juga itu. Kita bisa juga beramah tamah dengan para karyawan dan para wartawan!' cetus David.


Virgou mengangguk setuju, begitu juga Herman dan Dominic. Sedang para ibu, hanya mengikuti apa kemauan para pria.


Bersambung.


hai Readers ... sepertinya sesson tiga ini sudah tamat dan akan berganti di season yang ke empat berjudul "Sang Pewaris".


Next?