TERRA, THE BEST MOTHER

TERRA, THE BEST MOTHER
SUGENG 4



Sementara di halaman parkir. Budiman tersentak karena ia tiba-tiba saja tertidur. Pria itu melihat jam. Sudah pukul 11.33. suasana kampus juga mulai sepi.


Budi langsung terbangun, ketika sadar jika klien yang mesti ia jaga belum menampakan diri. Pria itu langsung keluar dari mobil. Kemudian bergegas mencari setelah pintu mobil terkunci.


Ketika ia sedang ke kelas. Haidar juga baru saja keluar dari ruang rapat bersama para petinggi kampus. Ternyata ia sedang melakukan rapat koordinasi untuk pelaksanaan ujian semester bagi tiap tingkatan.


"Bud. Ngapain kamu?" pertanyaan bodoh keluar dari mulut Haidar.


"Nona Terra apa sudah pulang?" tanyanya.


Haidar membelalakkan mata. Ia tahu jika hari ini ada mata kuliah bisnis dan agrikultur selama satu semester, berarti hanya satu jam mata kuliah saja.


Pria itu melihat benda melingkar di pergelangan tangan kirinya. Sudah jam 11.35. mestinya gadis itu keluar dari pukul 08.10 tadi, karena mata kuliah itu pukul 07.00..


Haidar melihat Hanna keluar dari ruangan, ia tadi mengajukan cuti.


"Bu Hanna, apa lihat Terra?" tanya Haidar langsung.


"Tadi saya mengajar di kelasnya selama empat jam penuh, dia masih ada di kelas saya, Pak. Tapi, setelah itu saya tidak tahu lagi," jawab Hanna kemudian.


"Berarti sudah dua puluh menit lalu Terra keluar kelas. Ia tak mungkin nongkrong di mana-mana. Perpustakaan sedang ada perbaikan."


Percakapan Haidar berhenti ketika ia melihat sosok teman Terra.


"Hei, Poltak. Kau lihat Terra tidak!' teriak Haidar pada pemuda hitam manis itu.


"Tadi masih sama Pak, sekarang entah mana dia. Padahal mau kutraktir es kenyot, tapi tak nampak batang hidungnya di kantin," jawab Poltak dengan logat bahasa Bataknya.


Karena ada dua pria tampan yang kecarian Terra membuat Islah berang bukan main. Akalnya tidak berpikir jernih.


"Mungkin dia nyari mangsa lain," ucapnya pelan.


Haidar menatap Islah tajam. Perempuan itu langsung bergidik. Ia merapatkan mulutnya.


"Saya minta surat pengunduran diri anda besok!' titah Haidar langsung bergegas mencari kekasihnya itu.


Islah kini hanya bisa menyesali perbuatannya. Gelarnya sebagai pendidik tercoreng karena sikap kekanak-kanakannya.


Haidar langsung berlari ke arah gudang belakang. Entah kenapa. Perasaannya mengatakan jika Terra ada di sana. Sedangkan Budi mengikuti pergerakan Haidar. Ia percaya dengan insting laki-laki yang berada di sebelahnya ini.


Haidar sangat terkenal dengan insting juga nalurinya yang tajam. Juga tindakannya yang cepat, terarah.


Sedang di tempat lain. Terra yang sedang berusaha menenangkan dirinya. Tiba-tiba.


"Mama!"


Srep! Mata Terra nyalang seketika seraut wajah pucat dengan tatapan mata kosong hadir dalam ingatannya.


"Terra ... sayang ... ahh ... ini nikmat sekali ...," racau Sugeng mendesah. Pria itu merangsang dirinya sendiri.


"Mama!"


Terra menatap tajam pria yang sedang meliuk tari strip**s di depannya. Sugeng tersentak melihat tatapan nyalang Terra.


Tiba-tiba.


"Terra!"


Haidar langsung menendang Sugeng hingga terjengkang. Ketika Terra menendang tepat di ************ pria itu.


"Arrgh!!"


Bug! Bug! Bug!


Haidar sudah memeluk kekasihnya yang gemetaran. Sedang Budiman sudah menghajar habis wajah pria yang telanjang itu hingga wajahnya tak dikenali.


Budiman langsung memanggil rekan-rekannya untuk membawa pria mesum itu ke tempat rahasia.


Setelah menenangkan diri. Terra memberi tahu pada Haidar jika yang meletakkan ular dalam rumah adalah Sugeng.


Makin beranglah Haidar. Sedang Budiman sudah tahu siapa pelaku peletak ular tersebut. Hanya saja ia terlambat satu langkah untuk menangkap pria itu.


'Kakak bawa ke mana dia?" tanya Terra.


"Saya bawa ke markas, Nona," ujar Budi.


"Serahkan dia pada pihak yang berwajib. Bawa semua bukti," ucap Terra.


Budiman menggeleng. Ia belum puas menyiksa pria itu. Terra hanya menghela napas panjang.


"Ya, sudah terserah. Tapi, kalau dia mati dosa dia kakak yang tanggung ya," ucap Terra membuat Budi lemas.


"Baik, Nona akan saya serahkan dia ke kantor polisi," ujarnya.


"Ayo kita ke rumah sakit. Lidya, kan pulang hari ini," ajak Haidar sambil merangkul pundak gadis pujaannya.


Seandainya ia telat menendang Sugeng. Gadis ini sudah pasti akan membunuh pria mesum itu terlebih dahulu sebelum Budi melaksanakan siksaannya.


'Hmmm ... belaga nggak mau nanggung dosa. Tadi aja, dia hampir bunuh orang sama tendangannya,' keluh Haidar dalam hati.


Pria itu sangat ingat bagaimana Terra menendang tepat pada 'burung' langka milik Sugeng itu dengan sangat keras. Bahkan perut pria mesum itu Terra tendang berkali-kali.


Haidar menghela napas pelan. Mengecup pucuk kepala kekasihnya. Menenangkan tubuh yang masih gemetaran dalam rangkulannya.


"Aku ikut mobilmu," ucap Haidar.


"Mobil Mas masih di bengkel?' Haidar mengangguk.


Entah memang pikiran Terra yang begitu polos atau memang dia tidak tahu jika mobil dosen sekaligus pacarnya itu seperti show room di garasi mansion orang tuanya.


Namun. Gadis itu benar-benar polos. Ia tak pernah berpikir berapa kekayaan dari pria yang memacarinya itu.


Sedang di tempat lain. Pria bernama Sugeng sedang merintih kesakitan di brangkar instalasi gawat darurat. Berkali-kali mulut pria itu berteriak ketika pihak medis mengobati luka di wajahnya.


Bahkan, dokter harus melakukan operasi untuk pengambilan gumpalan darah di perutnya.


"Maaf Pak. Anda haru melakukan kastarasi. Salah satu skrotum anda rusak!" ujar dokter.


"Apa itu?" tanyanya sambil mengerang.


"Emm ... Anda harus dikebiri, Pak!" jawab dokter.


Sugeng terdiam. Ia menggeleng kuat. Tiba-tiba.


"Tidak!!" ia menjerit dan langsung tak sadarkan diri.


bersambung.


hai gaes mohon maaf atas keterlambatan Sugeng 3.


Karena mandek di review seharian. Ternyata isinya ya ... begitu deh.


Di sini othor cuma menggambarkan sosok Terra.


Jika para readers yang berada di posisinya. Tentu tidak akan bisa berbuat banyak kecuali menjerit ketakutan. Dan jeritan itu malah disukai oleh pelaku dan bisa membuat *******.


Di sini othor hanya menceritakan pengalaman pribadi othor sendiri. Bagaimana bersikap pada penjahat yang memiliki orientasi menyimpang seperti Sugeng ini.


Pikiran harus tenang. Jika bisa hanya melewati saja tidak menggubris itu malah lebih baik. Karena penjahat itu tidak akan kembali lagi pada kita. Berbeda jika kita teriak, penjahat itu akan kembali lagi karena mendapatkan kepuasannya.


makasih... tetap dukung karya othor.