
Dua hari sudah Terra dan ketiga anaknya berada di mansion keluarga Pratama. Gadis itu ingin pulang ke rumahnya sendiri.
Sebenarnya Kanya masih ingin Terra bersamanya lebih lama. Wanita itu merasa kesepian, dan anak-anak Terra adalah obat kesepiannya.
"Sayang, tinggallah lebih lama," pinta Kanya sedikit memelas.
"Ma ... bukannya Terra nggak betah tinggal di sini. Tapi, kasihan orang-orang di rumah. Juga kasihan Darren sekolahnya jauh belum lagi dia harus sekolah agama, terlalu lelah, Ma," ujar Terra memberi pengertian.
Kanya hanya bisa menghela napas. Benar apa yang dikatakan gadis itu. Orang-orang yang bekerja di rumah juga butuh perhatian Terra. Memang untuk sekolah Darren ada supir yang antar jemput sejak mereka tinggal di mansion. Tapi, letaknya memang sangat jauh, butuh waktu satu jam lebih jika tidak macet.
"Ya sudah. Tapi, kalian sering ya main ke sini jika libur panjang," ujar Kanya sendu.
"Iya Mama sayang," rayu Terra kemudian mencium pipi Kanya dengan sayang.
"Ayo, aku antar. Sekalian ambil mobil ku yang ada di rumahmu," ajak Haidar.
Pria itu turun dari lantai dua. Memakai baju kasual warna hitam yang melekat di tubuhnya. Hingga otot perut dan dadanya tercetak jelas.
Terra yang melihat itu langsung membuang muka untuk menyembunyikan rona merah di pipinya. Sedang Kanya hanya mencibir putranya yang menggoda Terra.
"Ngapain kamu pake baju kayak gitu? Pamer?" ledek Kanya.
"Ck ... apa sih, Ma. Ini kan baju biasa," sangkal Haidar datar.
Bram juga turun kali ini, ia memakai kemeja warna biru laut, dengan celana bahan kain warna abu-abu, jasnya ia sampirkan di tangan.
"Ma, pasangin dasi dong," pintanya pada Kanya sambil menyerahkan dasi warna abu-abu dengan garis miring warna biru.
Rambut Haidar dan Bram yang licin dan rapi nampak terlihat segar. Belum lagi bau parfum yang membuat kesan maskulin begitu menguar dari tubuh mereka.
Baik Kanya dan Terra sama-sama menelan saliva ketika melihat pesona kedua pria tampan.
"Wah ... Tate dan Om Idal danteng banet," puji Lidya dengan gaya cadelnya.
Netra gadis kecil itu berbinar memandang dua pria yang benar-benar sangat tampan pagi ini. Haidar langsung menggendong Lidya dan menciumnya. Rion tak tinggal diam, bayi montok itu memanyunkan bibirnya pada Haidar.
Pria itu tertawa melihat kelakuan bayi lucu itu. Kemudian mencium samping bibir Rion yang tengah berada digendongan Terra.
Cup
Terra membelalakkan mata ketika sebuah kecupan juga mendarat di pipinya. Rona merah langsung menyeruak dari leher, pipi hingga kupingnya. Haidar terkekeh melihatnya.
Darren hanya tersenyum melihat ibunya menahan malu akan kelakuan om nya. Pria kecil itu juga sangat tampan dengan seragam sekolahnya.
Bram mencium kening Kanya. Tadinya ingin menyasar ke bibir merah sang istri. Namun baru saja menurunkan wajahnya, Kanya langsung memalingkan wajah. Menolak dicium bibirnya.
"Ma," panggil Bram heran.
"Ada anak-anak," bisik Kanya sambil melotot pada sang suami.
Bram tersenyum. Pria itu lupa jika ada mata-mata suci yang memperhatikannya. Bahkan kelakuan Haidar tadi cukup membuat kedua anak Terra tersipu malu, kecuali Rion, karena bayi itu memang belum mengerti dengan kebucinan para pria di sini.
"Ya sudah, ayo kita berangkat. Darren harus sekolah kan," ajak Bram kemudian.
Setelah aksi cium mencium di teras. Bram menaiki mobil Maserati warna hitam bersama sang sopir. Haidar memakai mobil Terra karena mobilnya ada di rumah gadis itu.
Sejurus kemudian, ketika mobil-mobil itu sudah pergi. Kanya menghela napas. Ia kembali kesepian. Wanita itu berjalan masuk. Hari ini, jadwalnya memanjakan diri ke spa langganannya.
Darren diantar sampai gerbang sekolah. Pria kecil itu turun membawa ranselnya, begitu juga Terra dan Haidar.
Lidya turun dan pindah ke kursi depan. Setelah Darren mencium tangan Terra dan Haidar. Pria kecil itu langsung berlari menuju kelas karena bel mulai berbunyi.
Terra kembali duduk dengan Lidya dan Rion berada dipangkuan. Haidar menjalankan mobil menuju kediaman Terra.
Hanya butuh waktu lima belas menit saja, mereka sudah sampai. Pak Deno membuka pagar ketika melihat mobil majikannya membunyikan klakson.
Haidar membuka kaca, memberi salam pada pria berusia tiga puluhan itu. Deno menanggapi dengan senyum lebar dan menjawab salam dari kekasih majikannya.
Terra turun bersama dengan dua anaknya. Haidar juga turun. Tidak ada kesan romantis di antara keduanya. Karena memang mereka berdua adalah manusia kaku dan setengah kulkas.
(Othor tepok jidat lihat kelakuan dua insan yang jatuh cinta ini).
"Mas nggak langsung kerja?" tanya Terra ketika melihat Haidar masuk rumah bersamanya.
"Nggak, aku mau minta kopi buatan kamu dulu," ujar Haidar lalu duduk di sofa ruang keluarga.
Terra meletakkan Rion. Bocah itu langsung merambat berjalan. Sedang Lidya juga langsung mengambil mainan yang ada di pojok ruang.
"Jagain adiknya Iya!" titah Terra.
"Iya, Mama!" sahut Lidya langsung menggandeng Rion menuju pojok ruang di mana letak mainan berada. Haidar hanya memperhatikan mereka agar tidak melakukan hal yang membahayakan.
Lima menit kemudian Terra membawa secangkir kopi dan meletakkannya di meja. Matanya terus mengawasi dua bocah yang sedang bermain. Seperti biasa Rion dengan keahlian melemparnya dan Lidya sibuk menjadi ibu bagi boneka-bonekanya. Gadis itu menurunkan bokong tanpa melihat. Hingga.
"Eh!"
Terra berada dipangkuan Haidar. Pria itu langsung memeluk tubuh ramping gadis itu dan menyandarkan dagu ke bahu Terra.
"Hais!" Terra risih dan sedikit memberontak.
"Ssst .. diamlah ... biar seperti ini dulu," pinta Haidar pelan.
Jantung Terra berdetak kecang. Jujur, ia juga ingin bermesraan dengan kekasihnya. Tapi, gadis itu takut jika tindakan mereka terlalu jauh.
"Sayang. Nikah, yuk!" ajak Haidar. "Biar bisa lebih dari ini."
Lagi-lagi rona merah menyeruak. Belum sempat gadis itu menjawab. Tiba-tiba ponsel Terra berdering. Gadis itu sedikit meminta ruang pada kekasihnya. Karena Haidar enggan mengurai pelukannya.
"Sebentar. Aku ada telepon masuk!" pintanya memohon.
Dengan helaan napas kesal. Haidar mengurai pelukannya. Ponselnya kembali berbunyi setelah tadi sempat berhenti. Terra masih dipangkuan Haidar.
"Halo assalamualaikum,"
".....!"
"Benar dengan saya sendiri," jawab Terra sedikit tegang.
Haidar merasakan ketegangan Terra. Pria itu juga penasaran siapa pagi-pagi begini menelpon kekasihnya.
"Baik Pak, saya akan ke sana sekarang," ujar Terra kemudian mengucap terima kasih dan salam lalu memutus sambungan teleponnya.
"Ada apa?" tanya Haidar menatap wajah Terra yang shock.
"Tadi dari kepolisian. Katanya mereka ingin melaporkan sesuatu perihal jenazah Ibunya ketiga anak ini," jelas Terra. "Te di suruh ke sana."
Gadis itu menyandarkan tubuhnya ke dada pria yang memangku nya. Gadis itu mengeratkan diri mencari kenyamanan. Haidar membiarkan apa yang ingin dilakukan oleh kekasihnya. Malahan pria itu senang jika Terra bermanja dengannya.
"Mas ..." Terra mengusap pipi Haidar.
"Hmmm!" saut Haidar.
Belum sempat Terra bicara tiba-tiba kemesraan mereka diganggu oleh hadirnya dua bocah lucu, Lidya dan Rion yang langsung naik pangkuan Terra yang berada di pangkuan Haidar.
Pria itu meringis sedikit menahan berat. Terra merasa kasihan melihat kekasihnya keberatan.
"Hei, ayo turun dulu, kasian Om Idal keberatan," ujar Terra.
"Enggak kok, nggak berat. Latihan," elak Haidar dengan muka memerah.
Terra tetap kekeh, mengangkat dua bocah yang tertawa ketika melihat Haidar tersiksa dengan kelakuan mereka.
Cup
Terra menghadiahkan kecupan singkat di bibir Haidar, kemudian buru-buru melarikan diri dari pangkuan pria itu. Sedang Lidya dan Rion masih menggelayut di tubuh Haidar. Pria itu tertegun sebentar, kemudian tersenyum melihat sosok yang menciumnya tadi tengah memberikan intruksi pada bik Romlah.
Bersambung ..
Wih .. udah berani cium ya, Terra 😅